
Mata Amber masih tidak bisa berbohong, dirinya terkejut ketika melihat Darren melangkah pergi begitu saja meninggalkannya dengan penuh ketakutan. Tinggallah dia bersama dengan Januar yang kini duduk menggantikan posisi Darren.
"Tutup mulut kamu nanti lalat masuk," ucap pria itu sambil memberi isyarat kepada pelayan untuk datang. "Mau pesan apa?"
Amber yang masih linglung tidak menjawab sehingga Januar sendiri yang memilihkan menu untuk istrinya tersebut.
"Kenapa lu ada di sini?" bertanya begitu pelayan tersebut pergi.
"Jemput kamu lah apalagi."
"Lu bisa tahu kalau gue bakalan pergi ke sini?"
Januar menghela nafasnya dalam, dia menyandarkan punggungnya dan menatap tajam pada sang istri. "Sekali lagi Kamu kabur-kaburan kayak gini, kamu bakalan dapat piring cantik. Kalau ketiga kalinya kamu pergi, saya nggak akan nyari kamu lagi."
Bibirnya langsung melengkung ke bawah, kini kesedihannya menjadi bertambah. Darren tidak menginginkannya, pria itu menghinanya dan memberikan hinaan padanya.
"Emang bener ya orang tua gue bangkrut dan sekarang lu juga enggak tahu mereka udah di mana?"
"Keberadaan kamu di sini adalah yang terbaik untuk semua orang."
Hendak menanyakan sesuatu tapi lebih dulu teralihkan dengan menu yang datang. Amber kaget bukan main karena pria itu membelikannya steak dan juga beberapa makanan yang sangat dirinya sukai. Demi Tuhan harga nya pasti sangat mahal!
"Januar kayaknya lu nggak lihat harga deh pas pesan makanan ini." Amber mendekat untuk berbisik pada suaminya. "Ini pasti total harga makanannya sekitar satu juta lebih. Emang lu punya duit? Kenapa nggak tanya-tanya dulu sama gue?"
"Makan aja."
"Mana bisa gue makan Kalau nantinya bakalan berakhir di penjara karena lu enggak bisa bayar."
Januar terdiam sesaat sebelum dirinya mengatakan, "Dulu saya pernah kerja di sini, Saya pernah berhutang pada bos di sini dan beliau pernah bilang kalau saya boleh sesekali mampir ke sini sama makan gratis."
Helaan napas akhirnya keluar dari mulut Amber, tahu begini daritadi dia akan segera menghajarnya.
Tapi sayangnya hanya ada satu porsi steak yang sekarang sedang dipotong-potong oleh Januar. Tanpa diduga pria itu mendorong piringnya pelan, tepat dihadapan Amber berhenti. "Saya minta maaf karena saya kasar sama kamu, semua perkataan saya."
Mungkin ini memang hari minta maaf sedunia. Dua pria badjingan yang membuatnya pusing akhirnya menunduk dan minta maaf.
"Tapi saya juga butuh bantuan kamu, saya akan mencoba mengerti kamu. Pasti butuh waktu untuk beradaptasi, dan tolong cobalah terima semua yang terjadi."
Tidak disangka pria arogan seperti Januar menatapnya dengan penuh kelembutan. Disaat sebelumnya selalu menatap meremehkan, pria itu bahkan kini mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. "Buat kamu."
Sebuah kotak cincin yang terlihat murahan. Namun begitu Amber membukanya, dia kaget karena mengingat ini adalah cincin perhiasan yang dipajangkan dalam sebuah pameran berlian di Swiss. Yang harganya jutaan dolar, karya seorang seniman yang bahkan kabarnya tidak ingin menjual perhiasan ini karena butuh waktu 10 tahun untuk membuatnya.
"Ini cincin yang di Swiss kan? Kok lu bisa punya sih?"
"Itu hanya replikanya saja, dan saya yakin kamu pasti akan menyukainya meskipun hanya replika."
Keterkejutan itu seketika hilang dan digantikan dengan kalimat, "Oh pantesan, kalau ini cincin yang asli Ya mana mungkin. Pasti orang yang kaya banget yang bisa milikin cincin aslinya. Tapi nggak papa, gue suka."
Memakai cincin itu dan tersenyum dengan begitu manis. Menusuk salah satu potongan steak. "Enak banget kayaknya ini kualitas premium deh. Gimana kalau mantan bos lu jadi bangkrut soalnya lu minta gratisan yang ini?"
"Santai aja, nikmati apa yang kamu makan." Januar memakan bagiannya sendiri. Sesekali tersenyum ketika melihat Amber begitu menikmatinya.
🌹🌹🌹
Dipikir-pikir Amber merasa malu karena dirinya malah berlari pada sang mantan pacar disaat sudah memiliki suami. Tapi saat itu Amber memang tidak diperlakukan dengan baik oleh Januar jadi dia mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri dengan kalimat itu.
"Oh iya gue penasaran banget apa yang lu bilang sama Darren sampe bikin dia diam?" masih dengan mulutnya yang penuh, Amber bertanya demikian.
"Bukan apa-apa."
"Dia takut soalnya saya ancam Kalau saya itu anaknya dukun, jadi bisa santet dia kapan saja."
Seketika membuat Amber tertawa kencang, bagaimana bisa pria itu bisa memiliki selera humor yang begitu baik. "Kok lu bisa kepikiran sih? Bilang kayak gitu?"
"Udah yuk kita pulang. Ini udah mau malam, nanti nggak kebagian bus."
Amber mengangguk mengikuti arahan Januar, dirinya bahkan tidak sadar sudah berlama-lama di cafe ini. Anehnya pula tidak diingatkan, padahal makanan sudah habis sejak tadi.
Jika dipikir-pikir style Januar terlihat urakan, tapi di saat yang bersamaan pula vibesnya mirip dengan preman.
"Lu mantan preman ya dulunya?"
"Pekerja kuli."
"Pantesan badannya gede gitu, nyeremin juga."
"Nggak semua pekerja kuli kayak gini. Emang ada yang seganteng saya?"
"Wah ternyata lu narsis juga ya, dari dulu diam diam aja."
Terus mengikuti langkah pria itu. Mereka berdua menunggu bus di halte, dan tidak lama kemudian bus itu datang. Keduanya duduk bersebelahan.
"Oh iya! Ibu lu di rumah sendirian dong?"
Diam-diam, senyuman Januar mengembang. Perempuan ini masih memiliki kepedulian meskipun butuh upaya untuk membangkitkannya.
"Ada kok yang nemenin."
"Sebenarnya dia sakit jantung ya?"
"Iya makanya agak was-was."
"Nggak mau dioperasi? Atau apa gitu?"
"Coba kamu bujuk dia supaya dia mau buat lakuin pengobatan." Januar tersenyum miris mengingatnya.
Karena bus ini tidak memiliki pintu yang bisa menutup, maka angin masuk begitu mudah. Terlebih lagi di luar hujan, percikkan nya mengenai Amber yang kebetulan duduk di dekat pintu.
Tiba-tiba saja sebuah jaket melingkupi tubuhnya. "Pakai ini biar kamu enggak kedinginan."
"Terus aku gimana? Lu juga kena kan?"
Daripada menjawab, Januar memakaikan sendiri pada sang istri. Menaikkan rel sleting sebelum akhirnya menggenggam tangan Amber.
"Kamu kedinginan."
Pipinya terasa panas, rasa dingin itu tiba-tiba hilang. "Pasti karena jaket," ucap Amber dalam hati menepis jantungnya yang berdetak dengan kencang.
Bahkan ketika mereka sudah sampai dan berjalan pulang, genggaman itu masih bertaut.
"Ibu, kami pulang," ucap Januar saat membuka pintu.
Sampai akhirnya mata Amber menangkap Ibu Dyah yang sedang tertawa dengan perawat yang dulu ada di puskesmas. Keduanya terlihat begitu akrab, dan itu menyebalkan bagi Amber.
Terlebih lagi ketika perempuan itu beranjak dari duduknya dan mendekati Januar. "Aa kok basah sih? Aa kehujanan?" bertanya dengan begitu lembut.
🌹🌹🌹