
Ketika Januar menyentuhnya, Amber merasa menjadi wanita yang paling berharga. Dia melakukannya dengan sangat lembut. Bahkan Amber begitu berharap untuk kedepannya lagi dirinya akan bisa mendapatkan kebahagiaan bersama dengan Januar. Meskipun mustahil bisa bahagia tanpa uang, mungkin Amber akan mulai memaknai hidup dengan sisi yang lain.
Hidup bukan tentang hanya uang, meskipun uang adalah segalanya. Tapi Amber untuk sekarang akan mencoba menjadi seorang istri yang baik, menjadi seorang hamba Tuhan yang baik.
Mengingat Bagaimana dirinya tidak pernah mengingat Tuhan, Amber tertawa sendiri. Dan itu berhasil membuat Januar membuka matanya, menatap Amber dengan kening yang berkerut.
"Kenapa kamu ketawa?"
"Kenapa udah bangun?"
"Orang kamu berisik dari tadi. Tangan kamu juga nggak bisa diem." yang mana membuat Amber sadar dan segera menarik tangannya kemudian terkekeh.
"Maaf ya nggak sengaja cubit-cubit perutnya habis lihat banget." ingin terbuka dengan Januar, tidak lagi menyimpan perasaannya seorang diri. Januar cukup terkejut dengan Amber yang tidak lagi menutupi perasaannya, tidak lagi terlihat egois dan menjunjung tinggi harga diri. Membuat Januar menarik Amber ke dalam pelukannya.
"Makasih buat semalam."
"Makasih juga udah bisa bikin aku tidur di tempat yang kayak gini lagi."
Mendengarnya saja Januar sudah miris karena merasa tidak bisa menjadi suami yang baik untuk Amber. Menyadari perubahan raut wajah sang suami, Amber langsung berkata, "Jangan mikirin apa-apa, kalau aku juga bahagia sama kamu. Meskipun lebih bahagia kalau ditambah ada duit sih."
Januar terkekeh mendengarnya. "Ayo kita siap-siap makan ke bawah."
"Emang udah termasuk include sarapan ya?"
Saat Januar mengangguk, senyuman Amber tidak bisa ditahan. Sudah lama dia tidak memakan makanan yang begitu enak. Makanan yang berkelas yang selalu dia rindukan. Begitu Januar menawarkan untuk Amber mandi terlebih dahulu, perempuan itu malah berkata. "Mandinya bareng aja lah, ngapain kita buang-buang waktu."
Sesuai dugaan Januar, kalau di sana Amber menghabisinya dengan mencium bibirnya secara tergesa-gesa. ********** hingga akhirnya mereka kembali melakukannya.
Ini begitu nikmat, Amber menyukai bagaimana Januar menumbuk titik Terdalam dan membuatnya mendesah dengan kuat. Sensasi baru yang dia rasakan tidak bisa Amber tahan. Dia begitu menyukainya, sampai-sampai dirinya yang duduk di atas sang pria dan bergerak dengan lincah.
Pada akhirnya, selalu Amber sendiri yang kewalahan. Dia menarik nafasnya dalam dan menatap sang suami yang kini sedang membasuh tubuhnya di shower.
"Ayo kamu juga harus bersih-bersih." membawa ember yang sebelumnya berendam di dalam bak mandi.
Yang mengejutkan lagi untuk Amber, saat dirinya hendak memakai pakaian yang sama, Januar mencegahnya. Pria itu mengatakan, "nanti bakalan ada orang yang nganterin baju ke sini."
"Kayak orang-orang yang punya duit aja suka minta dianterin baju."
"Kebetulan aja punya temen yang punya toko di sekitaran sini, jadi saya minta ganti baju."
Oh." Amber hanya berkata demikian, lagi pula pakaiannya kotor karena semalam jadi dia tidak mempermasalahkan dan tidak menanyakan hal tersebut lebih dalam lagi. Hanya menunggu sampai akhirnya pakaian itu datang.
Amber cukup terkejut dengan merek pakaian yang di pesankan oleh Januar. Ini adalah pakaian yang mahal. Tapi Amber tidak percaya, dia yakin kalau pakaian ini adalah produk KW.
"Kenapa diliatin doang? Ayo pakai, kita harus sarapan terus langsung pulang. Kasihan Ibu di rumah."
"Oh iya. Kita juga bisa nggak beli oleh-oleh dulu buat ibu?"
Senyuman Januar terpatri ketika Amber mengatakan hal itu.
****
"Kamu mau makan sama apa? Mau aku bawain?" berubah mode menjadi seorang yang penurut pada suami cukup mengejutkan Januar apa lagi nada suara Amber yang menjadi Lebih lembut dari sebelumnya.
"Nggak papa ambil sendiri aja."
"Jangan jauh-jauh dari aku." Amber berucap demikian.
Yang langsung diangguki oleh Januar. Satu lagi yang membuat Amber heran. Bagaimana bisa Januar terlihat biasa saja. Dia juga makan dengan elegan seolah sudah terbiasa dengan semua ini. Tidak tahan akhirnya Amber menanyakan, "sebelumnya pernah kerja di tempat orang kaya atau gimana? Kayaknya kamu itu Udah terbiasa dengan hal-hal yang kayak gini."
Ketika Januar tidak menjawab dan terus saja makan, Amber merengek dan mengguncang tangan sang suami. "Mas ih aku nanya kamu."
"Emang sering gonta-ganti pekerjaan, jadi ya sering juga buat hal-hal yang kayak gini." mengucapkannya dengan nada yang terlihat ragu-ragu.
Karena Amber lapar, akhirnya dia memilih untuk makan saja. "Habis ini kita langsung pulang kan?"
"Iya langsung pulang aja."
"Makasih ya udah ajakin aku ke tempat yang kayak gini, aku suka banget. Ingetin aku ke masa-masa di mana sama Papa sama Mama. Ngomong-ngomong Kamu tahu nggak Mereka di mana? Seenggaknya kalau aku tahu mereka masih hidup, aku kayaknya bakalan lebih tenang."
"Mereka baik-baik aja kok. Hanya itu yang bisa saya bilang ke kamu."
Fokus Amber nyatanya tidak pada kalimat tersebut. "Coba deh ngomongnya jangan seformal itu lagi, kita kan suami istri. Udah pernah hubungan badan beberapa kali juga masak masih saya saya an terus."
Januar menatap tajam pada sang istri yang mengatakan kalimat itu dengan kencang. Dia melihat ke sekitar orang-orang menatap mereka berdua. "Jangan ngomong kayak gitu yang lainnya dengar nanti mereka berspekulasi yang aneh-aneh."
"Lah emang kenyataannya kita udah pernah tidur bareng." Amber menarik nafasnya dalam. "Coba bilang aku."
Aku."
"Ya lanjutin kalimatnya masa cuma sampai sana aja."
Kamu maunya kayak gimana?" Januar menarik nafasnya dalam.
Coba bilang aku sayang kamu."
Tanpa diduga Januar malah mengatakan. "Aku juga sayang kamu."
Yang mana membuat Amber tersenyum sendiri. "Cie yang udah mulai suka sama sang istri. Gitu dong dari dulu, jangan kepincut sama si Indah mulu. Udah Nikahin Aku, Kamu Milik Aku." Amber mengalihkan pandangannya, dia ingin menambahkan makanan. "Bentar ya aku mau ambil yang lainnya lagi. Mau dibawain?"
Kening Januari berkerut, melihat bagaimana Amber berubah begitu banyak. Pria itu terkekeh sendiri. "Aku udah suka, sayang sama kamu sejak lama." Begitu ucapnya.
Sampai seseorang datang mendekati Januar, membuat pria itu mengadah menatap sosok yang berdiri di dekatnya. "Pak Januar? Sebuah Kehormatan bisa bertemu dengan anda."
"Tidak jangan sekarang." Januar membalas jabatan tangan sosok tersebut dan memintanya untuk pergi dari sini sebelum Amber datang.
"Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan pada anda."
"Pergi," Ucapnya dengan nada yang datar.
"Maaf." Langsung melangkah pergi dari sana.