Stuck With Poor Farmer

Stuck With Poor Farmer
Orang aneh



“Bangun,” ucap Januar sambil mengguncang tubuh Amber. Perempuan itu perlahan membuka matanya dan menatap sekitar. Sudah sampai ternyata, mereka sudah di terminal. “Ayok turun.”


Mengikuti pria berkumis itu dengan malas. Sampai Amber sadar, sampai kapan dia akan terus melangkah seperti ini? “Naik taksi kek, gue capek jalan mulu.”


“Gak ada taksi di sini.”


Mata Amber membulat seketika, tidak ada taksi? “Terus? Kita jalan gitu sampe ke gubuk lu?”


Januar menoleh dan menatap Amber dengan helaan napas berat. “Nanti kita naik angkot di depan.”


“Gak mau angkot! Gue maunya taksi! Gak mau ada orang asing.”


“Saya lagi gak punya uang. Jangan macem macem permintaan kamu.”


“Tapi gue gak mau naik angkot!”


Kini Januar sudah mulai bisa mengendalikan. Tinggal meninggalkan Amber di belakang, maka perempuan itu akan mengikuti langkahnya. Dan akhirnya masuk juga ke dalam angkot dengan tatapan yang menahan jijik. Matanya mengedar ke sekitar. Banyak bau aneh seperti dalam bus, juga orang orang yang berdesaakan. “Geser, gue gak bisa nafas,” ucap Amber pada suaminya.


Januar terus mencoba menahan Amber supaya tidak meledak dan membuat orang lain marah lagi. Hingga sampai di pinggir jalan tempat sebelumnya Amber mencari tumpangan, perempuan itu kembali berdecak kesal. Berjalan mengikuti Januar ke jalanan kecil. Sial sekali perkampungan ini berada jauh dari jalan raya.


Penampakan dari kejauhan, rumah kecil Januar berada di tengah sawah dan kebun, tapi tidak terlalu jauh dengan rumah jelek lainnya. Bahkan tidak ada jalan aspal di sana. orang orang berlalu lalang dengan jalan kaki atau naik sepeda.


“Ya tuhan, Nak. Ibu khawatir sama kamu. Kamu baik baik aja ‘kan?”


Mertuanya? Cih, Amber tidak sudi menyebutnya seperti itu. “Amber, ada yang luka, Nak?”


Amber memundurkan tubuhnya enggan disentuh. Ketika mendapatkan tatapan tajam dari Januar, Ibu Dyah langsung memberi isyarat supaya anaknya tenang. “Pasti capek ya? yuk istirahat dulu. kamarnya udah ibu beresin. Ibu juga beli meja rias baru buat Amber.”


“Ibu beli meja rias dari uang celengan? Kan Janu bilang gak usah dimanja ini anak.”


“Gak papa, ini uang tabungan Ibu buat menantu Ibu.” Beralih lagi pada Amber. “Yuk, masuk dulu. istirahat di kamar. Ibu bikini makan siang ya? pasti udah laper.”


“Jangan sentuh.”


“Iya, Ibu gak sentuh. Yuk ke kamar kamu dulu.”


Hanya ada dua kamar dengan gorden sebagai pintu, lalu kamar mandi, dapur dan ruang keluarga yang menyatu dengan ruang tamu. “Kalian miskin banget? Nyampe gak bisa ngasih ubin di sini?”


Ibu Dyah hanya tersenyum kecut. “Nanti kalau tabungan Ibu udah gede, kita pasangin ubin.”


“Rumahnya jelek,” gumam Amber. Namun dia lumayan terkejut ketika masuk ke dalam kamarnya. Bagian bawahnya sudah dilapisi oleh sejenis…… karpet plastic?  Kasurnya juga sudah diganti dengan springbed, di sana juga ada meja rias.


“Ibu bikinin makan ya?”


Meninggalkan Amber sendirian di dalam kamar, anak itu membuka lemari pakaian dan melihat baju baju vintage juga daster. Pasti bekas wanita tua itu saat muda. Membuka jendela, menatap luasnya kebun dengan Januar yang sedang mencangkul di sana.


Air matanya kembali menetes, Amber tidak mau seperti ini. Tapi dia harus meminta bantuan siapa supaya bisa menemukan kedua orangtuanya lagi?


“Kalau gue terluka, Nyokap sama Bokap bakalan nyariin gue gak ya?” bertanya pada dirinya sendiri seperti itu.


🌹🌹🌹


“Istri kamu lagi tidur.” Ibu Dyah mengatakan itu pada sang anak. “Tapi mau ibu bangunin, kasian takut lapar. Ini ibu udah bikin tumis dagin buat dia.”


“Gak usah manjain dia, Bu. Biarin aja.” mengatakannya seperti itu, melihat sang Ibu memasak daging sapi.


“Gak papa, istri kamu butuh adaptasi di sini. kamu jangan terlalu keras sama dia. Pasti dia kaget karena tiba tiba harus ada di sini.”


Januar tidak menjawab, dia menyusun alat kerjanya dan membuka capingnya.


“Kamu cukuran sana, kasian istri kamu nanti takut liat kamu. Itu kumis sama jenggot udah panjang. Mana rambut gondrong gitu, pantes aja dia gak mau sama kamu.”


“Januar mau ke rumah Pak RT, mau ambil beras raskin yang dibagiin.”


“Sekalian pergi ke tukang cukur.”


Ketika hendak menyentuh makanan di meja, tangannya dipukul oleh sang Ibu. “Itu buat Amber, kamu makan telur ceplok aja itu.”


“Gak, udah gak nafsu. Mau berangkat dulu.”


Ibu Dyah menggelengkan kepalanya heran, saat berbalik dia mendapati Amber yang baru saja bangun. “Nduk, sini makan dulu. Ibu udah buatin makan buat kamu.”


Jijik melihatnya, makanan apa itu? dengan berasnya yang agak cokelat.


“Makan dulu coba.”


“Mau minta uang,” ucapnya. “Mau ke alfamart.”


“Di sini gak ada alfamart, adanya juga warung biasa. Kalau mau ke alfamart harus jalan 30 menit dari sini.”


“Mana uang, mau minta uang,” ucapnya sambil merengek.


“Ibu gak pegang, Nduk. Udah abis beli bahan makanan. nanti Ibu bilangin ke suami kamu biar jatah kamu tiap harinya ya.” mengatakannya dengan begitu halus. “Emangnya Nduk mau apa? Ibu bikinin aja ya.”


“Gue mau pelembab, gue mau sunscreen, lisptik sama yang lainnya. Emang bisa dibikinin?”


Ibu Dyah tersenyum kecut. “Nanti bilang sama Januar ya. sekarang ayok makan dulu.”


Melihatnya saja benar benar tidak bernafsu. Amber menggeleng. “Gak mau, jijik liat nasinya.”


“Tapi ini bersih kok. Layak dimakan juga.”


“Mana Januar?”


“Dia lagi ke rumah Pak RT, lagi ambil beras.” Melihat Amber yang melangkah keluar, Ibu Dyah kembali bertanya, “Nduk mau kemana?”


“Gue gak akan kabur lagi,” ucapnya dengan malas. “Mertua gue lebih cocok jadi pembantu. Iyuh, lagian gue gak mau punya mertua kayak dia,” ucapnya dengan kesal sekali.


Melihat sandal yang dikenakannya beda warna, sudah kusam pula. Dalam langkahnya, Amber menyembunyikan tangannya dari sinar matahari karena takut hitam. Menunduk juga. Kemana tujuannya? Amber mencari tempat yang tepat untuk menyakiti dirinya sendiri supaya kedua orangtuanya datang.


Maamanya tidak pernah tega melihatnya terluka, jadi dia pasti dateng.


“Neng cantik, istrinya Januar ya? Mau kemana?” Tanya Ibu ibu yang sedang berkumpul di sana sambil mengelilingi buah kapol.


Amber hanya memutar bola matanya malas dan mengabaikan, menyebabkan gerombolan ibu ibu itu langsung bergosip seketika. Setelah Amber berjalan di jalan setapak, kini dia melihat pemukiman yang padat. Tidak ada rumah yang bagus di sini, orang orangnya juga kumal.


“Minimal kalau mau nikahin gue sama orang asing, harusnya sama cowok kaya,” gumam Amber seperti itu.


Hingga dia mendapati adanya sungai di sana. haruskah dirinya melompat? Atau gantung diri? Tapi Amber tidak mau tubuhnya terluka, tidak mau sakit dan juga tidak mau ada bekas lukanya. “Hiks,,, gimana dong?” dia mengdarkan pandangannya.


Hingga maniknya menatap seorang pria tampan, seperti blasteran orang barat. Gagah dan tampan, membuat Amber yakin kalau pria itu dari turunan kaya. Paasti dia sedang mengunjungi kampung miskin ini, begitu pikir Amber.


“Minimal nikahin gue sama cowok kaya plus tampan kayak gitulah,” ucapnya sambil membereskan rambut dan melangkah mendekat bersiap menggoda. “Mas ganteng, maaf ganggu. Mas nya mau kemana ini?” Amber berlagak centil dan mengedipkan matanya. “Bisa tolong saya gak, saya dibuang sama orangtua saya di sini. saya gak tau harus kemana ini. mas nya bisa bantu saya? Bantuin nyari orangtua saya dan bawa saya kabur dari orang orang gila di kampung ini.” sambil memelintir rambutnya. “Sama… hihi… Mas nya udah punya pacar belum?”


“Saya udah nikah, dan kamu istri saya.”


“Hah? Ih, Mas nya gombal ya.” Amber menutup wajahnya.


Januar menggelengkan kepala heran, stress! Pantas saja dibuang orangtuanya.


“Eh, Mas nya mau kemana? Aku ikut dong! Ayok kenalan dulu! hei! Katanya mau jadiin saya istri!” hingga tawa Amber mulai luntur ketika melihat Januar menuju rumah….. gubuk di tengah kebun.


“Januar, mana berasnya, Nak?”


“Nanti dianterin temen ke sini, Bu.”


Amber mematung, diam dan tidak bergerak di sana.


🌹🌹🌹