Step On Me

Step On Me
Mami Gula



"Ke mall!" Gue berdesis. "Cepetan, ah. Saya gak betah disini, panas!"


"Saya makan dulu boleh, bu?" Kava nunjuk warung makan yang sekarang sudah agak sepi.


"Nanti disana, sekalian saya juga belum makan siang." Larang gue.


"Disini enak, bu. Boleh nambah lauk terus nasinya banyak...eh bu, kok saya ditarik-tarik kayak jemuran?" Kelamaan, keburu gue gak sabar jadi gue seret aja tangannya sampai ke parkiran.


"Nih, kamu yang bawa!" Gue lempar kunci kearah Kava yang langsung ditangkapnya dengan sigap.


"Siang-siang gini kok ngemol, sih, bu? Makan disekitaran sini aja, cari yang murah." Kava ngomong gitu sambil nyetirin mobil gue.


"Gue kan mau sekalian beli sepatu." Gue duduk disebelahnya, sambil ngutak-ngatik playlist lagu buat didengerin selama perjalanan.


"Kaki cuma dua buat ngapain beli sepatu banyak-banyak?"


Gue muter mata, emang semua orang kudu kayak dia punya sepatu cuma sebiji begitu dimaling bingung gak ada gantinya. "Bukan buat gue, kok."


"Buat mas pacar?"


"Bukan. Sultan gak level beli sepatu di mall, kudu di outlet resminya dia, mah." Gue malah curhat.


"Buat pacar ibu yang lain?"


"Cowok gue cuma satu!" Gue kasih lirik taja biar gak sekate-kate kalau omong.


"Lah saya gak dianggep?" Kava nunjuk dirinya sendiri. "Kirain selama ini saya simpenannya ibu? Gagal deh punya mama gula."


"Diem atau kamu saya turunin disini!" Gue ini masih mikir mau nyambangin mall yang mana. Soalnya bukan daerah gue, itungannya ini sudah masuk Kota Tangerang Selatan.


"Kok kamu tau ini mallnya?" Gue tanya waktu mobil yang dikemudikan Kava berbelok ke tempat perbelanjaan terbesar didaerah ini.


"Saya pernah nguli disini, dari masih rata sampai bangunannya berdiri tegak. Waktu awal-awal dibuka ngelamar jadi satpam tapi cuma dua bulan soalnya gajinya kecil, saya balik lagi kerja di proyek." Ini orang semua kerjaan dilakoni, heran gue.


"Ada counter hp gak disini?" Gue bergumam pelan.


"Ada. Ibu mau beliin saya handphone ya?" Kava melepas seatbealt begitu mobil sudah berhenti di basement. "Tadi sepatu, sekarang handphone, pasti ibu pengen nyenengin saya kan?"


Gue tinggal aja keluar mobil duluan, gak guna juga nanggepin ocehan Kava. Pokok niat gue baik tanpa ada niatan apapun, titik.


"Kenapa sih kamu? Nyengir mulu kayak orang gila..." Gue menengok kearah Kava yang jalan merendengi gue sambil tertawa lebar. "Ukuran sepatu kamu berapa?"


"Serius saya dibelikan sepatu?"


"Kamu mau kena sanksi kerja pake sandal butut kayak gini?" Gue lihatin kakinya, macam mau ke wc aja kemana-mana pake sandal jepit.


"Saya bisa beli sendiri, bu."


"Eh mana sih? Masuknya lewat sebelah situ, ya?" Gue ajak Kava puter balik ternyata pintu masuk ke tokonya disisi satunya.


Begitu kita masuk toko, mbak-mbak pramuniaga menyambut dengan ramah. "Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?"


"Sepatu buat cowok sebelah mana?" Begitu ditunjukan display-nya dibagian belakang, gue langsung ngacir kesana terus milih-milih sepatu yang cocok buat dipake kerja. "Kava sini, cepetan! Kamu mau warna hitam atau coklat?"


Kava nunjuk warna hitam. "Gak, ah. Bagus coklat...eh coba yang ini. Keren pake ini kalau celananya slimfit."


Dih malah gue yang bingung nentuin modelnya, padahal sepatu cowok begitu-begitu aja bentukannya. Ada kali gue pelototin  puluhan sepatu yang terpajang di deretan rak-rak yang menjulang sampai ke langit-langit. "Kalau sama yang tadi bagusan mana?"


"Bagus yang tadi, lebih simpel."


"Kamu gak suka yang ini?" Gue maksa. "Ini bagus loh, kamu coba dulu makanya. Daritadi disuruh nyoba gak mau..."


"Cari makan aja, yuk." Ajakannya gue abaikan.


"Lepas gak sandal jepitnya?" Gue sodok-sodok kakinya pake ujung high hells gue.


"Aduh, sakit bu." Kava meringis kakinya gue injak.


"Pake gak!" Gue galakin sampai diliatin mbak-mbak yang jaga toko.


"Saya gak enak, bu."


"Kenapa gak enak? Kan saya sendiri yang mau, kamu tinggal nurutin saja apa mau saya." Gue sodorin dua sepatu berbeda model. "Kamu duduk sana, cobain dulu yang gak ada talinya,"


Dia nurut kali ini, dibawah paksaan gue akhirnya sepatu-sepatu itu berhasil dicobain di kakinya Kava. Oke, gue suka dua-duanya.


"Ukuran 43 semua, mbak." Setelah yakin pilihan gue cocok untuk Kava, gue minta ke pramuniaganya untuk dibuatkan nota.


Sambil nunggu gue liat-liat sandal cowok, kayaknya Kava lebih suka model jepit dibanding selop.


"Nyari apa lagi, bu?" Tau-tau Kava udah berdiri disebelah gue.


"Kamu mau sandal juga gak?"


"Iya, lah!"


"Ibu perhatian banget sama saya."


"Kamu gak usah besar kepala, saya cuma prihatin liat sandal jepit kamu, buluk banget kayak yang make." Gue sok gak peduli.


"Saya setuju dibelikan ini itu tapi kita deal-dealan dulu, gimana?"


"Deal-dealan apa?" Gue lagi nunduk ngecekin harga sandal, tulisannya diskon 20%, kalau harganya dibanderol 570 berarti...gue ngitung dalam hati.


"Ibu nengok sini dulu," Waktu gue nengok, muka kita deket banget. Tuhan, gue gelagapan dikasih tatapan seperti itu, sumpah damagenya gak main-main.


Gue kliyengan, gaes. Gue lumer, gue tumpeh-tumpeh, gue gak kuat gimana ini....


"Ap-apa, sih, Kav? Ka-kamu mau apa?" Gue bergerak mundur, tapi pinggang gue keburu ditahan Kava. Gils, pipi gue langsung panas. "Kav, apa-apaan—"


"Aku pengen jadi milik kamu." Kava tersenyum miring. "Atau gimana enaknya, terserah kamu aja. Jadi piaraan kamu juga gak apa-apa, dan sebagai gantinya kamu boleh injak-injak aku."


"What?" Gue linglung sampai lupa berkedip.


"Kamu suka banget suka mendominasi, suka nyuruh-nyuruh aku nurutin kamu atau kalau gak kamu marah...jadi gak ada pilihan lain selain aku menawarkan diri jadi simpanan kamu. Silahkan kalau kamu mau berbuat apapun, aku akan dengan senang hati ngeladenin kamu." Kava terus menatap gue dengan intens.


"Kamu jangan kurang ajar, ya!" Begitu gue tersadar terus gue dorong tangannya yang megangin pinggang gue sampai terlepas. "Berani-beraninya kamu bicara seperti itu pada saya!"


"Bercanda, bu. Gitu aja marah." Kava beralasan. "Tau ngeprank gak, bu. Seperti anak jaman sekarang dikit-dikit prank terus ujung-ujungnya klarifikasi."


"Bercanda kamu kelewatan, saya bisa laporkan sebagai tindakan pelecehan!" Gue gak suka dia bertindak kelewatan.


"Ibu gak akan setega itu."


"Mau coba?" Gue tantangin, siap-siap gue teriak manggil security atau kalau perlu nelepon polisi.


Tapi sampai sekian detik kemudian gue dan Kava hanya adu pandangan, gak ada pergerakan dari gue maupun dia.


"Maaf, bu. Ini nota pembeliannya." Pramuniaga yang tadi kembali dengan membawa secarik kertas. "Kasirnya disebelah kanan, nanti barangnya bisa sekalian diambil disana."


Perhatian gue teralihkan, dengan canggung gue menerima nota itu. "Makasih, mbak."


Ketika melakukan pembayaran, gue gak nemuin Kava dibelakang gue. Rupanya Kali ini dia gak mau repot-repot ngintilin gue. Sampai kemudian gue bertemu lagi dengannya didepan toko, dia nunggu gue sambil sandaran santai dipagar pembatas.


"Sudah? Mau kemana lagi kita?" Tanya Kava tanpa merasa bersalah udah bikin gue kelimpungan beberapa menit yang lalu.


"Nih, bawa sendiri!" Gue lempar plastik berisi dua pasang sepatu ke dadanya dengan keras, sampai kedengaran bunyi bugh dan suara mengaduh yang bikin gue puas.


"Bu?" Kava manggil disaat gue berjalan beberapa langkah didepannya. "Saya gak suka Iphone, belikan samsung ultra note 20 kapasitas 512 aja tapi yang warna hitam."


"Itu harganya masih 20 juta, gila aja lo mau morotin gue!" Gue mendelik.


"Ya udah xiaomi aja seperti punya saya kemarin." Kava beneran gak bisa diajak omong serius. "Saya jual murah karena tau ibu tertarik sama saya."


"Udah jelek, gak tau diri lagi!" Dengus gue sambil lanjut jalan, gak lama Kava menyusul sambil tertawa puas.


"Alhamdulillah saya tim santuy, tapi sebenarnya saya gak jelek-jelek amat kok, bu. Cuma belom kesentuh pundi pundi kekayaan aja." Kava lalu mengedipkan sebelah matanya. "Kalau ibu gak suka saya bukan berarti saya jelek, loh. Cuma masalah selera aja."


"Kamu miskin, ya jelas bukan selera saya!" Bukan gue, kan Kava duluan yang bahas kekayaan.


"Saya masih punya amalan sepertiga malam terakhir buat doain ibu jadi istri saya." Kava gak ambil hati hinaan yang keluar dari mulut gue.


"Amit-amit, gak sudi!" Gue ketok-ketok jidat tiga kali biar mental semua omongannya.


"Terserah mau ngomong apa, yang penting ibu Okta cantik jodoh saya, titik."


"Banyak bacot." Gue tarik nafas dalam-dalam. Salah gue sendiri nyamperin dia kesini, jadinya kekesalan harus gue telan sendiri. "Dipikir saya senang digombalin kamu? Yang ada migrain saya makin nambah!"


"Memang mustahil saya bisa menyenangkan semua orang termasuk ibu, Tuhan saja dibenci setan." Kava punya selera humor yang gak biasa, suka garing tapi entah kenapa bisa bikin gue tertawa.


"Bisa diam gak?" Gue susah payah nahan samburan di mulut.


"Hidup bahagia bareng yuk, bu?"


Gue kasih kerlingan sadis yang akhirnya bikin Kava sedikit mengerem mulutnya. "Ya udah, saya diam daripada gak jadi dibeliin HP...yang lapar yang haus aqua mijon kacang kuaci permennya mas, mbak..."


"Bu, boleh nanya, gak?"


"Apa lagi?" Masih gue sengakin.


"Bu Gea sudah punya pacar? Dia mantannya Pak Cahyo itu bukan?" Kava bener-bener minta dikarungin, bisa-bisanya dia nyinggung cewek lain setelah beberapa waktu yang lalu jual diri sendiri demi jadi simpanan gue, yang bener aja, dong!


"Kamu ngapain nanyain Gea? Gak cukup kamu nyusahin hidup saya?" Gue ngegas karena gak terima, bukan karena cemburu, ya, sorry.


"Tenang, bu, tenang. Masih bisa dibicarakan baik-baik. Saya dilahirkan di dunia bukan buat nyusahin tapi untuk membahagiakan salah satu umat-Nya yang bernama Kinanti Oktavia." Cowok modelan Kava emang ngeselin tapi juga ngangenin meski gue gengsi mengakuinya. Mana kalau lagi senyum gak ada obatnya.