Step On Me

Step On Me
Karma is Never Gone Wrong



Gue lagi ngetawain Naira karena nerima lamaran cowoknya yang berpenghasilan UMR. "Gak salah lo, Nay. Gajinya aja langsung habis buat bayar cicilan dan biaya hidupnya sendiri? Ntar mau dikasih makan apa lo?"


"Gue juga punya gawean kali, kalau cuma buat makan sebulan aja gaji gue lebih dari cukup, kok." Dalih Naira.


"Yang gue tanyain itu kesiapan calon laki lo, dia berani ngajakin lo nikah berarti dia kudu siap nanggung seluruh hidup lo, kan? Kalau dia gak ada kesiapan apa-apa ya sama aja kayak dia ngajak lo melarat." Gue pengen Naira berpikir logis.


"Gue cuma butuh komitmen dan gimana nanti usaha dia buat gue, kalau untuk urusan lain dan sebagainya masih bisa ditanggung bareng-bareng." Naira sok yakin. "Kan rejeki orang yang nikah itu bakal mengikuti."


"Lo gak pengen belajar dari pengalaman gue, Nay?" Gita nimbrung. "Sorry bukan gue meragukan cowok lo, cuma gue rada skeptis aja. Coba kurang berkomitmen apa Cahyo sama gue dulu? Manis banget janji-janjinya dulu sampai bikin gue mabok kepayang. Tapi liat ending kita kemana? Dia nikah sama cewek pilihan orang tuanya. Sedangkan gue? Ngenes! Padahal gue yang nemenin dia dari nol, gue selalu ada buat dia sejak statusnya masih di level pegawai rendahan sampai sekarang dia assement jadi manajer... harusnya gue yang ikut menikmati hasilnya bukan cewek yang baru dinikahinya itu!"


"Sabar, Ge, sabar." Naira bersimpati pada Gea yang kisah percintaannya gak semulus dirinya, apes karena bertemu cowok yang gak bertangungjawab.


Gue aslinya juga pengen ngakak, tapi kasian juga denger Gea curhat colongan begitu. "Dengerin tuh kata Gea. Komitmen kalau cuma sekedar diucapkan jatuhnya bullshit. Udah gak bisa dipake bayarin salon, gak bisa buat shopping, gak bisa bikin kenyang...terus kalau lo pengen jelong-jelong keluar negeri lo tetep butuh duit buat beli tiket pesawat dan booking hotel."


"Kebahagian itu cakupannya luas. Gak melulu harus dinilai dengan materi atau hal-hal yang lo sebutin barusan." Naira sok bijak. "Mungkin karena pemikiran gue beda sama lo yang berotak kritis dan realistis. Gue bahagia kalau bisa memiliki keluarga kecil gue sendiri, hal-hal sederhana yang mungkin lo anggap remeh tapi itu impian terbesar gue "


"Keluarga kecil yang dibangun dengan rasa cinta?" Cibir gue lagi. "Gak sesederhana itu, Nay. Ngajak cewek hidup susah bareng itu bukan goal yang bisa dibanggakan. Sama aja kayak dia gak siap pasang badan demi mengusahakan kebahagiaan kalian."


"Percuma debat sama lo, Kin. Lo punya target tinggi tentang pasangan lo, sedangkan gue lebih seneng menjalani dengan cara yang simple." Naira dengan sabar ngeladenin gue. "Gak ada yang salah dengan pilihan yang gue ambil, termasuk keputusan gue menerima lamaran Mas Tristan. Lo gak bisa memaksakan prinsip saklek lo ke semua orang, inget gue bukan lo."


"Habis gue gregetan sama lo, mauan aja diajak kere!" Gue makin julid. "Kalau gue jelas ogah, mending lajang seumur hidup daripada gue nyesel dapat suami gak berduit."


"Gue bilang apa tadi? Kita ini beda prinsip mau digaprukin kayak apa juga gak bakal masuk. Kalau kata gue, sih, sebaik-baik cewek itu yang mau diajak membangun hidup dari nol." Tambah Naira.


"Oke. Gue cuma bisa bilang good luck buat lo." Cibir gue.


"Gue setuju sama, Nay. Tapi gua juga sependapat sama, lo, Kin." Gea mencoba menengahi. "Kinan pengen realistis, its fine. Gak ada salahnya mengutamakan azas kemapanan dan duit karena itu realitas yang gak bisa ditolak. Nay boleh saja berpikir sebaliknya, gak pengen muluk-muluk yang penting cukup. Analogi sederhananya gini, cewek butuh tas. Ada cewek yang cukup dengan tas yang dibeli di distro dengan harga ratusan ribu. Namun, ada juga cewek yang pengen punya tas dengan harga ratusan juta. Ini bukan siapa paling benar, tapi masalah perbandingan fungsi dan kecukupan."


"Gue heran aja sama Kinan. Lama-lama gue perhatikan dia bukan lagi realistis tapi menjurus matre." Naira nahan sanggahan gue dengan satu tangannya. "Bentar, dengerin gue dulu. Lo pasti gak terima disebut matre pake dalih andalan gak ada wanita yang mau diajak susah. Tapi satu hal yang perlu lo garis bawahi, matre dan realistis itu dua hal yang berbeda tapi gampang banget dibedakan. Matre itu tuntutan, realistis itu tentang kecukupan. Sedangkan lo sendiri gimana? Masuk kategori mana kira-kira? Lo puas gak dengan sekedar cukup?"


"Gue matre ke cowok gue sendiri yang jelas-jelas berduit. Gak mungkin lah gue matrein cowok miskin. Gosah ngada-ngada lo kalau bikin kesimpulan tentang gue!" Balas gue tajam. "


"Udah-udah, gak usah berdebat hal yang gak ada ujungnya. Lagian ini kabar baik, loh. Nay mau nikah, harusnya kita rayain bukannya ribut sendiri." Gea emang paling dewasa diantara kita.


"Gue udah selesai, kok." Naira beranjak berdiri dengan kesal. Sepertinya dia tersinggung dengan ucapan gue. "Gue cuma pesen satu hal sama Kinan, ati-ati sama omongan lo. Cara lo mengomentari cowok-cowok itu udah kayak paling hina hidupnya. Lo belum aja dapat karmanya."


Usai bicara seperti itu, Naira berbalik ke kamarnya. Gue biarin aja dulu, paling besok kita udah baikan lagi.


****


Parah nih mobil gue, baru masuk bengkel seminggu yang lalu tapi sekarang udah rewel lagi. Salah gue juga kenapa nekat beli mobil second hanya karena merk dan tampilan luarnya yang mulus nan kinclong. Gak taunya mobil ini menyimpan serentetan perkara pasca terendam banjir sampai kena atap-atapnya, jadi itungannya gue termasuk ketipu. Mentang-mentang gue cewek yang gak paham otomotif, seenaknya aja mereka ngejual mobil bobrok ini.


Mana suka ngadat kalau kelamaan dianggurin, ya masa harus turun mesin, sih? Ini mobil import, btw, harga onderdilnya pasti mahal banget, udah ah gue mau nangis aja. Padahal gue rela kuras tabungan demi memiliki mobil idaman ini. Nyesel gue gak dengerin saran bokap yang nyuruh beli mobil sesuai fungsi bukan cuma gengsi. Kalau udah terlanjur begini mau marah juga percuma.


Seandainya gue gak sayang sepatu, udah gue tendang ini mobil sialan. Kebangetan ngajak mogok ditengah-tengah kemacetan lalu lintas yang padat, terus sekarang gue jadi kena maki-maki orang yang perjalanannya terhambat gara-gara gue. Untung gue dibantu pak polisi untuk menghubungi layanan mobil derek biar mobil gue segera diangkut ke bengkel.


"Sayang. Mobil aku mogok, nih. Kamu bisa jemput aku, gak?" Gue coba telepon Sultan yang kebetulan lagi di Jakarta, sekali-kali gue pengen ngerepotin dia. Coba liat bagaimana tanggapannya, kalau dia memang sayang gak peduli hujan sekalipun pasti gue disamperin.


"Posisi lagi dimana?" Sultan bertanya dari seberang sambungan.


Gue udah kesenengan, terus gue nyebutin lokasi spesifik lengkap dengan kode-kode kalau gue ngarepin dia banget, taunya Sultan malah ngomong begini. "Masih deket sama kantormu, kan? Balik aja kesana terus pesen Grab atau biar cepet, minta antar temenmu pulang."


"Kamu gak kesini?" Gue sambil lirik kanan-kiri. Beneran mati gaya berdiri sendirian di trotoar tanpa tau mesti ngapain. Risih ketika berpapasan dengan berbagai jenis manusia yang berlalu lalang di sekitaran gue. Padahal belum tentu juga mereka lagi merhatiin gue tapi bawaannya perasaan gue udah was-was aja. Takut nanti gue diapa-apain orang jahat, takut diajak ngobrol sama anak-anak iseng, takut ketemu orang gila. Sebaiknya Sultan segera jemput gue, atau gue bakalan ngamuk.


"Aku lagi ditengah-tengah meeting, gak bisa kalau disuruh cabut sekarang. Nanti aku kesana jam sepuluh kalau kamu mau nunggu." Gila aja, pukul sepuluh masih beberapa jam lagi, gue keburu jadi pepes disini.


"Sejak balik kamu belum luangin waktu buat aku, loh. Masa aku minta jemput sekali ini aja kamu gak mau?" Gue seakan gak percaya denger jawaban Sultan.


"Kamu tau sendiri kesibukan aku bagaimana, aku ngurus 2 perusahaan. Kerjaan aku banyak, kalau kamu cari pacar cuma buat dijadiin supir mending kamu cari yang lain." Sebelum gue sempat membalas, Sultan kembali bicara. "Aku tutup, nanti kalau sudah selesai meeting aku telepon kamu."


Beneran ditutup tanpa repot-repot menanyakan kondisi gue sekarang. Sultan memang manis dalam perkara duit atau ketika merencanakan kencan yang romatis. Tapi diluar itu Sultan seperti sosok yang berbeda. Dalam segi kepekaan dan perhatian, Sultan minus banget. Dia gak pernah mau ngertiin kesulitan gue, gak suka hal yang bertele-tele, gak mau direpotkan dengan perkara yang bukan urusannya.


Bener-bener cowok yang gak punya hati. Okelah dia orang sibuk, tapi masa sih gak khawatir samasekali, apa gak mikir ceweknya bakal kenapa-kenapa dijalan kalau gak segera ditolongin.


Biasanya setelah bikin gue kecewa begini, Sultan bakal datengin sambil bawain gue hadiah yang mahal. Tapi kali ini merasa cukup, gue muak dengan ketidakpeduliannya. Sultan nyuruh gue cari yang lain, gak masalah gue akan ladenin apa maunya.


"Ge, lo dimana?" Gue telepon sahabat gue itu dengan nada memelas.


"Baru aja masuk tol."


"Tol mana?"


"Ke Bogor, nenek gue opname. Kenapa lo?"


"Gak jadi. Lo ati-ati aja dijalan. Salam buat nenek lo."


"Oke." Lalu sambungannya diputus. Berikutnya gue telepon Naira, tapi gak diangkat. Sepertinya dia masih marah sama gue. Ya udahlah, emang takdirnya gue disuruh pulang sendiri bukannya ngompreng di kendaraan orang.


Baru gue menginjak terasnya, pintu minimarket itu terbuka dari dalam dan gue langsung bertatap muka dengan Kava. Rupanya dia baru membeli kebutuhan bulanan seperti minyak goreng, shampo, sabun, dan sebagainya. Sudah gajian rupanya, bagus deh.


"Loh ketemu disini. Mau beli apa, bu?"


"Saya cuma mau neduh."


"Emang hujan?" Kava melongok untuk mengecek kondisi langit yang kelabu. "Ibu gak bawa mobil?"


"Kamu liatnya gimana?"


"Kenapa mobilnya?"


"Mogok." Kebeneran Kava disini, gue bisa nanya tempat makan yang rekomended disekitar sini. "Disini ada yang jual makanan enak, gak?"


"Banyak, bu." Jawab Kava setelah mengaitkan kantung belanjanya di motor. "Ibu pengen makan apa?"


"Hm." Gue mikir. "Mie, deh."


"Disebelah sana ada yang jual mie goreng jawa masaknya pake areng." Kava menunjuk arah sebelah kanan.


"Jauh gak?"


"Mau saya antar?"


"Gak usah, saya cari sendiri saja." Gue menolak, setelah memastikan gerimis berhenti gue lalu memutuskan berjalan menuju warung mie itu. "Eh, sebelah mana tadi, habis pojokan itu terus belok kiri, kan?"


"Ibu jalan duluan nanti saya arahin." Karena gue gak mau dibonceng, Kava milih ngintilin gue dibelakang sambil mengendarai motornya.


"Kamu ngapain ngikutin saya?" Gue noleh dengan muka tidak suka.


"Takut ibu nyasar."


Gue berdecak, biarinlah suka-suka dia. Sesampainya di warung yang jual mie dan nasi goreng, bisa ketebak kalau Kava tetap nunggu diluar sementara gue lagi memesan seporsi mie untuk dimakan ditempat. "Kecapnya yang banyak, pak. Gak usah pake sayur. Kamu mau gak?"


"Gak usah, bu."


"Buat adik-adik kamu?" Tawar gue lagi.


"Boleh kalau itu."


"Yang dibungkus dua, pak. Masing-masing tambahin telor ceplok." Gue masuk kedalam warung dan duduk disalah satu bangkunya yang terbuat dari kayu. Sambil menunggu pesanan jadi, gue nyemilin kerupuk sekedar untuk mengganjal perut.


"Katanya gak suka kerupuk?" Tiba-tiba Kava udah duduk disebelah gue.


Gue abaikan dan lanjut makan kerupuk berhubung sejak pagi gue cuma minum kopi, kopi, dan kopi.


"Bu, mi apa yang bikin pedih?" Pertanyaan Kava cuma gue tanggapi dengan angkat bahu sambil terus ngunyah


"Mi..nta kepastian dari kamu." Bisaan aja kaleng kerupuk.


"Kamu lagi kebanyakan micin?"


"Micintaimu sepenuh hati." Makin ngaco ini cowok.


"****."


"Ibu suka minum kopi, kan? Tau roti yang rasa kopi terus diatasnya ditaburi bubuk coklat gak, bu? Tira...apa bu namanya? Tira?"


"Misu?"


"Miss u too."


Gue muter mata, kan suka ***** dia kalau ditanggapi makanya gue mending diem daripada tambah emosi. Akhirnya makanan gue dateng. Aromanya yang mengepul bikin gue ngiler. Enak nih, nyantap panas-panas sambil gigitin cabe rawit utuh.


"Doyan pedes, ya?"


Lirikan galak gue gak bikin Kava menutup mulut. "Awas loh sakit perut."


"Diem atau kamu pergi dari sini!"


"Galak banget, bu. Takut saya." Kava tersenyum simpul. Bersamaan dengan itu datang serombongan pengamen cilik yang memainkan musik dengan peralatan seadanya.


"Sini. Sini." Panggil Kava ke mereka. Setelah merogoh kocek dan memberikan uang sepuluh ribu, Kava ikutan nyanyi sambil minjem kecrekan milik salah satu bocah pengamen itu. "Akang kendang kalau saya suruh muter, muter, ya.. emmuter emmuter emmaju emmaju emmundur, emmundur en nabrak."


Sumpah, gue sampai keselek gara-gara kelakuan absurdnya. "Kamu kenapa sih, Kav!"