
Nay, sekretaris Sandi lagi gak ada sewaktu gue udah sampai di atas, mungkin lagi keluar beliin Sandi sarapan atau pesanan lain yang ajaib. Pernah Nay cerita, si bos tiba-tiba minta disiapin layar proyektor gede buat nonton live streaming di Shoope. Pernah lagi disuruh ambil Cod-an daster sekodi. Buat apaan coba Sandi beli baju kebesaran kaum emak-emak Indonesia?
Tok.. tok.. tok...
Gue ngetuk pintu dengan cantiknya. Pake nada dasar F minor, berirama acapella, seperti rayuan pulau kelapa ciptaan Ismail Marzuki.
"Masuk!" suara berat Pak Sandi mempersilahkan.
Gue jereng senyum, lalu melangkah penuh keanggunan. Gak lupa gue benerin poni sekali lagi, duh gue merasa fresh banget macam strawberry baru keluar dari kulkas.
Tapi senyum gue gak berangsur lama, bukan wajah ganteng Sandi yang membalas senyum gue, tapi muka si dekil Kava yang baru semalam di make over. Aduh, gue hampir keseleo. Undercut sialan! Kenapa sih Kava harus ganteng dengan gaya rambut seperti itu.
"Pagi Bu Okta." Kava senyum lebar sementara Sandi sibuk membaca tumpukan berkas di atas mejanya. Dia sama sekali gak noleh ke gue barang sedetikpun.
"Kamu ngapain di sini?" Gue sambil nutup pintu.
"Saya kan baik mau menemani Bos Sandi disaat-saat terakhirnya." Lancang banget itu mulut. Tapi herannya Sandi gak marah. Dia malah tersenyum tipis mendengar candaan ampas itu.
Begitu gue sudah berdiri di hadapan Pak Bos, Kava mencondongkan tubuhnya ke gue lalu berbisik. "Ibu kok berangkat duluan ninggalin saya?"
"Pagi, Pak. Ini laporan yang Bapak minta." Gue gak waro omongan Kava. Fyi, Sandi lebih penting. Dia fokus utama gue hari ini.
"Taruh dulu di situ!" Pak Sandi masih enggan melepaskan pandangan dari berkas-berkas yang sedang ditekuninya itu.
Tengok aku dong, Pak Bos. Aku udah cantik imutable ini. Selera kamu banget, deh. Batin gue dalam hati.
Tapi Sandi cuma diem sementara gue berdiri termangu di sana, bingung harus ngapain.
"Buk, nanti makan siang bareng saya ya?" Kava masih semangat bisik-bisik ria ke telinga gue.
Gue nyuruh dia mingkem pakai bahasa isyarat.
"Oke, Karen." Pak Sandi akhirnya mendongak menatap gue, wih semangat empat lima gue bangkit ketika kita beradu mata.
"Kinan." Gue benerin, heran si bos gak hapal-hapal nama gue. "Iya, Pak?"
"Kamu boleh kembali ke ruangan kamu." Hah, segitu doang. Sialan. Masa dilirik aja kagak? Apakah aku kurang mempesona di matamu wahai Bapak Sandi yang terhormat.
"Tunggu apa lagi? Silahkan keluar dari ruangan saya."
Berdecih sebal, gue membalikkan badan.
"Oh ya Kinar," kalimat Pak Sandi bikin gue sumringah lagi.
Gue langsung balik badan. "Kinan, Pak."
"Jangan potong ucapan saya."
"Iya, Pak. Maaf."
Lelaki itu tidak langsung menjawab. Dia menutup pulpennya yang beberapa saat lalu dia gunakan untuk mencorat-coret kertas, lalu berdiri dari kursinya.
"Soal penampilan kamu..."
Mata gue berbinar, hati gue jedag-jedug siap dipuji. Akhirnya gue dinotice juga. Ayo, Pak. Bilang saja diriku cantik. Bilang daku ini tipe ideal Bapak.
"Kamu bikin mata saya sakit."
"Saya lebih prefer kamu berpenampilan seperti biasa. Kamu kepala HRD di sini. Harus terlihat berwibawa. Jangan norak seperti ini." Sandi menekankan kalimatnya dengan tegas. "Istilah kasarnya kamu harus inget umur kalau mau berpenampilan."
What? Setelah perjuangan gue merubah penampilan secara all out, Sandi malah marahin gue? Emang salah ya gue pake pink-pink gini? Jelas-jelas gue begini karena pengen nyenengin dia eh orangnya malah gak terima.
Gue pengen protes, tapi keburu ditahan sama Kava. "Pak Bos, saya permisi dulu. Nanti siang saya kesini lagi. Saya ada ehm sedikit perlu sama Bu Okta."
"Ya. Kalian boleh keluar." Ucap Sandi sebelum kembali menunduk menghadapi berkas-berkasnya
Setelah pintu menutup dan memblokir Sandi dari pandangan, gue langsung melirik Kava. Jerangkong satu itu lagi sibuk menghindari tatapan tajam ekor mata gue. Dia pura-pura sibuk ngitungin telur cicak.
"Sini kamu!" Gue tarik kerah leher Kava menjauh dari pintu. Gue perlu space lebih lebar buat bikin perhitungan sama dia.
"Jangan BDSM saya, Bu. Kita main yang normal-normal aja," dia nyengir tanpa dosa.
"Kamu bilang Sandi suka pink? Kenapa dia malah kritik penampilan aku!" Gue tarik dasinya biar kecekek. "Kamu boongin aku, ya!"
"Aw... aduh.. Bu Okta... gak bisa nafas..." Kava minta dilepasin.
Gue longgarin cekekan gue.
"Saya boleh ngaku dosa gak, Bu?"
"Ngaku dosa apa?" Gue jawab dengan sentakan.
Dengan mencengir tanpa dosa, Kava berkata. "Sebenernya, tipe ideal Pak Sandi sudah berubah sejam yang lalu. Tapi insyaallah, tipe ideal saya tetap ibu."
Dua tanduk muncul di kepala gue. Demikian juga uap dan asap. Gue langsung meledak habis-habisan. "KAVAAAAA!!!"
Gue jambak, gue pukulin, gue dorong tubuh Kava sampai meringsek di atas sofa. Gue bener-bener kesel kali ini. Bisa-bisanya cowok itu ngerjain gue sampai di titik ini, dan yang lebih parah lagi, bisa-bisanya gue percaya gitu aja. Pokoknya gue gak mau tau. Gue mau bikin perhitungan sama ini cowok. Gue cakarin. Gue tarik-tarik bajunya sampai kita berdua sama-sama berantakan. Gue hilang kendali. Inilah gue yang asli, ganas, liar, dan berbahaya.
Srek.
Tiba-tiba pintu ruangan bos besar terbuka, menampakan Sandi yang tercengang melihat kondisi kami berdua
Kava terbaring di sofa, gue ada di atasnya. Kancing baju Kava lepas tiga. Dadanya terekspos sempurna. Rambut kami sama-sama berantakan. Tali tanktop gue keliatan. ************ Kava pas banget posisinya di bawah rok gue.
"Ck ck." Sandi berdecak saking gak bisanya berkata-kata.
Sadar apa yang sedang terjadi, gue langsung berdiri merapikan diri. Dalam hati gue misuh-misuh, ngimpi apa gue semalem bisa-bisanya sepagi ini sudah apes dua kali. Shit, shit, shit, harga diri gue auto rontok di depan Pak Bos.
Kava ikut berdiri. Dia benerin celana terus naikin resletingnya. Hah? Kapan resleting celana Kava turun? Sumpah, bukan gue yang berbuat!
Dasar kampret gak bisa mengkondisikan situasi. Ingetin nanti ronde kedua gue hajar sampai nyawanya menguap.
"Ada penjelasan?"
"Kami tidak berbuat yang seperti bapak pikirkan. Jangan salah paham, Pak. Bisa kok dicek di cctv." Gue meratap sambil tergagap-gagap.
"Sudah saya bilang saya gak mentolerir ada skandal di kantor. Kalau mau bikin acak-acakan, silahkan di tempat lain, tapi tidak di area kantor saya!" Hardik Sandi sebelum beranjak pergi.
Punggung Sandi belum sepenuhnya menghilang ketika Kava mencondongkan tubuhnya ke gue. Dia berbisik, "Mau lanjut acak-acak ruangan lain apa hati saya aja, Bu? Saya siap lillahitaala!"
Aaaaaargh! Gue teriak aja, bodo amat. Kenapa harus terjadi hal memilukan disaat gue sedang berjuang mendapatkan hati Pak Bos. Bukannya bikin doi terpesona malah dapat malu 7 turunan 8 tanjakan.