
Tadinya gue udah gede rasa waktu disamperin sesosok laki-laki ganteng ini, udah tampilannya perlente, kekar, mobilnya ferrari uh cucok. Dia minta waktu gue sebentar buat ngomong sesuatu yang penting dan langsung gue iyain dengan senang hati.
Terus anehnya dia udah tau nama gue, dimana gue kerja dan disinilah kita sekarang, saling berhadapan di meja cafe yang lokasinya gak jauh dari kantor gue. Namanya Andika, doi ngakunya berprofesi sebagai chef dan punya restauran sendiri.
Pikiran gue langsung optimis melihat kemapanannya, sampai udah mikir jauh mau pake adat mana buat resepsi nanti...ya kali aja gue bakal langsung dilamar sama dia. Bye Sultan, nyesel gak lo nyia-nyiain gue, emang enak dipacarin tanpa kepastian. Nih cowok gentle tuh kayak gini, gak pake muter-muter langsung to the point.
"Gue langsung aja ya?"
"Silahkan." Gue tegakin punggung dengan gaya seanggun mungkin. Pokok gue gak boleh terkesan ngebet, meski dalam hati udah pengen jerit. Kebayang gitu muka sumringah papi dan mami yang sebentar lagi akan gelar acara mantu anak bungsunya.
"Gue pacar Sultan. Sama kayak lo."
"Lo apa?" Mata gue terbelalak.
"Pacar cowok lo." Ulang Andika dengan kalem.
Oh ini toh namanya disambar petir di siang bolong. Auto gosong sampai sanubari gue pun berubah kelam. Tolong kasih tau kalau ini cuma mimpi.
"Sebenarnya...kita udah jalan lama bahkan sebelum dia kenal lo." Lanjut Andika.
Gue tanya baik-baik, pernah gak lo diduakan cowok? Rasanya pasti sakit diatas ingkar. Tapi itu semua gak seberapa dibanding yang gue alamin sekarang, double sakitnya. Gue masih oke kalau berhadapan dengan sesama cewek. Asli ini gak bohong, rasanya cekot cekot mantap, bahkan saking shocknya mau marah aja gue gak sanggup.
"Sebenarnya gue gak boleh bongkar rahasia kita ke elo, tapi gue harus ngelakuin ini biar Sultan sadar, dia gak bisa terus-terusan ngebohongin diri sendiri dan juga elo." Niat Andika sebenernya baik, gue kok tau maksudnya. "Lo cuma dijadiin tameng di depan teman-teman dan keluarganya. Sultan sudah belok sejak remaja, lo pikir gak aneh cowok mapan kayak dia gak segera nikah diumurnya yang sekarang?"
Mulut gue nganga lebar, masih berusaha mencerna fakta yang diungkapkan oleh Andika. Gue gak bisa denial karena Andika mempertontonkan foto-foto intim mereka yang bikin mata gue kebakaran.
Shit, shit, shit. Anjing. Tremor gue dihantam kenyataan.
"Kalian..." Akhirnya gue menemukan kembali suara gue.
"Pasangan gay? Yes, we are."
"Sudah berapa lama?"
"Sepuluh tahun."
"What?!" Ulu hati gue rasanya kayak dibetot.
"Lo gak percaya?"
"Bu-bukan itu maksud gue..." Suara gue bergetar seperti orang putus asa. "Sultan keliatan normal, dia....argh sialan gue gak ngerti!"
"Emang lo gak pernah curiga ya gimana orientasi cowok lo? Dia pernah cium lo dimana? Pipi? Kening?" Dengus Andika sembari menyilangkan tangan berbulunya di depan dada.
Salah gue, selama hampir 6 bulan gue menjalin hubungan dengan Sultan, gue selalu memandang dia sebagai objek calon suami kaya dan berduit. Never hard felling, gue tekan ego dan tutup mata akan ***** bengek yang lain hingga melewatkan detail sepenting ini. Yes, im so stupid and dumb. Bener kata Naira, gue terlalu materialistis ketika menilai seorang cowok.
"Gue gak bermaksud merebut Sultan dari lo, im so sorry. Seandainya gue tau gue pasti—" Gue gak bisa lanjut omongan karena Andika memotong.
"Nevermind, gue udah biasa diselingkuhin." Andika tersenyum getir. "Biasanya sama cowok lain tapi kali ini cewek. But...u're so kind, gue jadi gak bisa emosi sama lo."
Gue menggigit bibir dengan pikiran kalut, gue udah gak tau mesti berbuat yang bagaimana untuk mengeluarkan diri dari situasi ini, gue udah pengen meledakan tangis tapi gue tahan semampunya.
"Harusnya Sultan sendiri yang kesini buat beresin hubungannya sama elo, tapi cowok brengsek itu gak akan mau repot-repot nyelesein masalah yang dia buat sendiri, selalu gue yang maju...gue gak tau kenapa gue bertahan meski sering sekali dikhianati."
Gue paham betul akan ucapan Andika, Sultan terlalu manipulatif dan control freaking, dia bisa membuat partnernya itu meragukan kompetensi dirinya sendiri. "You must love him, right?"
"Yeah, i love him so bad. Gue sudah nemenin dia bertahun-tahun dan gue gak tau sampai kapan gue bisa bertahan."
"Its hurt for you?" Harusnya pertanyaan itu gue tujukan untuk diri gue sendiri. Sumpah nyeseknya sampai ubun-ubun, gue udah menggantungkan harapan tinggi pada Sultan tapi ujungnya harus berakhir dengan mengenaskan. Gak hanya terpukul tapi gue langsung down seada-adanya.
"No dear, dont worry." Andika memajukan badannya untuk menepuk pipi gue. "Kalau lo mau nangis, nangis aja. Cewek mana sih yang gak depresi begitu tau cowoknya homo?"
Gue menggeleng dengan cepat meski air mata gue udah menggumpal minta ditumpahkan. Bersimpati pada Andika tapi ternyata nasib gue lebih kasihan, miris banget.
Andika melirik keluar jendela sebelum berucap. "Gue harus pulang, lo mau bareng?"
"No thanks." Gumamam gue hampir tidak terdengar
"Are you sure?" Andika berdiri sembari mengamati raut muka gue yang kusut.
"Gue minta jemput anak buah gue aja, makasih tawarannya." Dengan susah payah gue mengulas senyum dan menyalami Andika.
"Tolong jauhi Sultan, gue mohon sekali sama lo." Pesan terakhirnya sebelum dia berlalu dari hadapan gue.
Sepeninggalnya, tubuh gue langsung limbung seperti gak bertenaga. Gue butuh pegangan biar gak tumbang, gue butuh seseorang yang sanggup membawa gue keluar dari sini secepatnya.
Gue cuma nangis dan mengasihani diri sendiri. Dengan tangan gemetar gue keluarin handphone dari dalam tas, gue pencet nomor yang nangkring paling atas pada log panggilan keluar. "Kav, kamu kesini sekarang."
"Dimana?"
"O'nell Cafe, cepet anterin gue pulang."
"Naik Grab aja, bu. Saya masih ditempatnya klien."
"Gunanya aku punya kamu buat apa kalo masih disuruh naik Grab!" Gue setengah teriak.
"Oke tunggu, 10 menit."