
Sesampainya di rumah, gue dikejutkan dengan kedatangan seseorang. Mata gue sampai melotot saking gak percayanya, kok dia bisa tau alamat orang tua gue? Mana gak tau diri duduk di sofa ruang tamu sambil ngekepin setoples kue kering. Sudah ada secangkir kopi di meja, pasti dia sudah ketemu dan ngobrol-ngobrol sama mami.
Meresahkan sekali Kava ini, masa dia bisa muncul dimana aja, sih.
"Tamunya Kinan ya?" Papi duluan yang menyapa dan mengajaknya bersalaman
Kava seketika berdiri dan membungkuk dengan sopan. "Saya Kava, Pak. Dari Jakarta, maaf kesini gak ngabarin dulu."
"Gak apa-apa, tamu Kinan kan tamu saya juga. Kesini sendirian?"
"Iya, Pak. Sendirian."
"Sudah berkeluarga? Istri sama anaknya kok gak diajak?"
"Nah itu, Pak. Pengen sih saya punya anak pas masih muda gini, tapi ibunya yang gak bisa diajak kerjasama, masa sampe sekarang gak nongol-nongol orangnya." Kava beneran bisa bikin Papi gue terbahak-bahak.
"Sudah sholat belum? Saya ada sarung kalau mau pinjem." Papi dengan kalimat pancingan yang jadi andalannya.
"Sudah tadi mampir Masjid depan situ."
"Masjid apa namanya?" Papi gue ngetes genk.
"As Salam ya? Masjidnya cat ijo, belakangnya kebun kopi." Kava gak nampak curiga.
"Imamnya siapa tadi?" Astaga Papi gue.
"Pak Kholis, kebetulan waktu saya nanya alamat sini yang nunjukin Pak Kholis." Kava nambahin kalau dia tadi sempat nyasar sampai desa sebelah.
"Oh iya, iya. Pak Kholis temen pengajian saya." Papi gue semakin ramah. "Rumah di pelosok ya begini, susah dicarinya."
"Masih pelosok kampung saya, Pak."
"Di mana?"
"Banyuwangi."
Papi gue terang-terangan ngelirik gue, mampus. "Wah berani ya masuk wilayah Banten?" Canda Papi gue.
"Bissmillah aja, Pak. Dibukain pintu ya alhamdulillah enggak ya pulang lagi." Kava tertawa santai. "Kalah dupa menang doa."
"Iya, saya ngerti kok, karena biasanya sayup kudengar melodi cinta yang menggema." Kan, kan mulai deh Papi absurdnya. Sambil gue dirangkul dan bahu gue dicolek-colek.
"Bener, Pak. Maksudnya seperti itu, tapi kalo kupandang kerlip bintang nan jauh disana." Eh ditanggepin sama Kava.
Receh amat mereka, sampe gak ada kembaliannya.
"Sudah dibikinin minum? Oh sudah, oke silahkan dilanjut sama Kinan ya, saya permisi mau setor mula dulu ke nyonya." Papi gue permisi.
Sepeninggal Papi, Kava kembali duduk dan melanjutkan ngunyah kacang. Tanpa sedikitpun menghiraukan pandangan mengancam gue.
"Kacangnya enak, Bu. Masih anget, Mamanya Bu Okta yang bikin ya? Boleh dihabisin katanya." Dengan santainya Kava nawarin gue. "Mau, Bu?"
"Enak ya kayak dirumah sendiri?" Sindir gue sambil ambil posisi duduk.
Kava mengulas bibir. Njir, senyumnya ehm kayak le mineral, ada manis-manisnya gitu.
"Ngapain kamu kesini?" Tanya gue setelah berdehem sekali.
"Kasih ibu kejutan."
"Gue gak terkejut tuh?" Jawab gue sengak.
Kava tertawa kecil sembari mengambil sesuatu yang terbungkus tas kresek hitam.
"Selamat ulang tahun Bu Okta." Kava menyodorkan bungkusan itu. "Maaf kadonya gak sempat dibungkus."
Gue terima dengan terbengong-bengong. Gue lupa, astaga bener gue hari ini ultah. Padahal seminggu yang lalu inget banget, tapi hari ini gak samasekali. Bahkan Papi dan Mami gue aja gak ada yang ngucapin, temen-temen gue apalagi. Tapi Kava...jauh-jauh kesini...bawa kado....buat gue....dibela-belain nyasar demi bisa ngucapin selamat ulang tahun dengan tepat waktu.
"Selamat ulang tahun ya, doanya sama kayak tahun kemarin." Kava mengulang sekali lagi, tapi kali ini tangannya menggengam tangan gue
"Taun kemarin kita kan belum kenal!" Gue tarik kembali tangan gue, jangan lama-lama nanti tuman.
"Sesuai dugaan, ibu gak terharu jauh-jauh saya samperin, pantes aja ibu sudah menjual hatinya kepada iblis." Kava menyeruput kopinya keras-keras. "Di buka dong kadonya."
"Kalo saya bonceng naik motor lebih enak pake tas ransel, toh?"
Gue gak paham maksudnya, jadi gue tunggu kelanjutannya.
"Tangan Ibu bebas meluk saya." Ngomong kayak gak ada beban
Gue lempar itu tas langsung kena mukanya.
"Sabar saya, bu. Sesabar le mineral yang kalo di warung selalu dibilang aqua."
"Kok lo gak ngajak Sandi kesini? Harusnya lo tau dong hadiah ulang tahun yang bikin gue seneng itu apa?" Kalimat gue kejem banget, ya. Sampai mental Kava langsung kena.
Gak tau dapat ilham dari mana, Kava nelepon nomor Sandi yang langsung diangkat sama yang bersangkutan. "Ya?"
"Bos, ada yang minta diucapin ulang tahun nih." Kava to the point."
"Siapa?"
"Sama orangnya langsung aja, Bos." Kava nyodorin handphonenya ke gue.
"Sandi?" Gue takut dikerjain Kava ini, ini beneran Pak Bos diseberang sana?
"Ya?"
Gue berdehem kecil untuk membersihkan kerongkongan, "Gue Kinan, Manajer HRD. Remember me?" Gue memutuskan untuk menanggalkan sikap resmi, biar kita bisa lebih akrab gitu.
"Happy birthday. Semoga panjang umur dan sukses selalu " Singkat, padat dan jelas, itulah Sandi.
"Thank you." Sumpah tangan gue keder banget.
Gue tunggu balasannya tapi hening, Sandi seperti gak ada keinginan ngajak gue ngobrol atau basa-basi gitu. "Eh, lagi dimana?"
"Rumah."
"Gue boleh main ke rumah lo, gak?" Gila, ternyata gue bisa senekat ini.
"Ngapain?"
"Main aja, boleh ya?"
Sandi bergumam yang terdengar seperti, oke.
"Oke?" Gue memastikan.
"Ya."
"Beneran?" Gue bertemu mata dengan Kava.
"Ya. Tentuin aja kapan waktunya."
"Nanti gue telepon lagi, ya? Ke nomor ini?"
"Ya."
"Lo baik banget.......Halo? Sandi? Halo?" Percuma, Sandi langsung mengakhiri telepon itu, tanpa pamitan apalagi basa-basi.
Tapi oke, ini termasuk proges luar biasa. Dibanding kemarin-kemarin waktu dibantuin bukannya kemajuan malah kemunduran.
"Udah? Seneng?" Kava kembali meminta handphonenya.
"Seneng lah masa enggak!" Gue kibasin rambut. Meski sebenarnya gak puas tapi gue kudu pura-pura bahagia di depan Kava.
"Cuma gitu doang seneng? Wah Ini mah pola pikirnya yang kena." Kava ngajak ribut. "Tanggapan Pak Bos kayak gitu
Gue alihkan pembicaraan dengan membahas harga tas. "Mahal gak ini? Jangan buang-buang duit, kamu kan masih punya tanggungan nuntasin Mizan."
"Lumayan, Bu."
"Habis dong gaji kamu?"
"Udah biasa, Bu. Gajian saya udah kayak proklamasi, ditunggu dengan seksama lalu hilang dalam tempo yang sesingkat-singkatnya." Kava menepis tangannya diudara dengan gaya meremehkan. "Kalau saya cuma ngandalin gaji, udah dari dulu tidur di kolong jembatan. Tenang aja, Bu. Selama saya masih punya kaki dan tangan, duit bisa dicari."