Step On Me

Step On Me
Kebawa Baper



Seumur-umur gue mengalami mimpi basah, pasti cowok yang jadi lawan ngeseks gue gak keliatan mukanya, tapi semalam tadi gue benar-benar spechless karena dikasih liat sejelas itu sampai ke sudut-sudut, ini aja cengiran khasnya masih terpatri di otak gue gak ilang-ilang.


Gue sampai kebangun dengan tubuh panas, ngos-ngosan, dan penuh keringat. Hella shit, kenapa Kava yang harus masuk ke alam bawah sadar gue dan bikin gue kebayang-bayang tubuh berototnya, padahal gue samasekali gak lagi mikirin itu orang.


Mikir sih enggak, ya. Cuma bertanya-tanya aja, kemana dia semingguan ini sampai gak nampak batang hidungnya. Sejak kapan itu, kita udah gak pernah ketemu apalagi berkomunikasi, pernah gitu sekali gue misscall nomornya pake handphone Jelita tapi gak aktif.


Aneh aja gitu, biasanya kita suka papasan entah sengaja maupun gak sengaja, tapi sekarang dia macam hilang ditelan bumi. Eh ini gue gak nyariin ya, tolong digaris bawahi. Urusan gue banyak, ngapain juga gue mesti bingung perkara Kava ngilang, gak banget deh.


"Mas Kava belum pulang dari kemarin. Gak tau kemana orangnya gak bilang." Mizan yang bukain pintu, dia seperti sendirian dirumah sementara Lantang gak keliatan kemana.


Demi apa gue pulang kantor mesti datengin kontrakan Kava dulu, bukannya langsung balik ke apartemen. Teniat perjuangan gue, mobil gue tinggal didepan gang terus masuk kesini naik ojek, mana orangnya lagi gak ada kan jatuhnya percuma.


"Kenapa gak ditelpon?"


"Nelpon kemana? Handphone-nya aja lagi diservice." Mizan berbeda dari kedua saudaranya, raut mukanya selalu serius dan datar banget kalau diajak omong.


"Rusak?"


"Iya, habis jatuh terus kena LCD-nya. Gak tau bisa dibenerin atau gak." Mizan lanjut berbicara. "Ada pesan? Nanti saya sampaikan kalau orangnya pulang."


"Uhm gak deh. Ini aja buat kalian." Gue tadi mampir beli ayam bakar, gue kasih aja ke Mizan terus pamit pulang berhubung Kava juga gak ketauan kapan baliknya.


Mizan bilang makasih, dan sebelum gue pergi dia sempat nanya gini. "Eh, nama kakaknya siapa?"


"Okta."


"Oh? Okta-Okta yang itu?" Mizan mengamati gue lebih lekat. "Maksud saya yang suka bawain kita makanan, yang kemarin beliin baju sama tas?"


Gue balas tersenyum, padahal gue gak minta disebut nama waktu ngasih barang buat adik-adiknya Kava. Iseng aja waktu nemu kaos-kaos cowok di mall gue beliin selusin buat mereka. Harga tasnya juga gak seberapa, pokok bisa dipake ke sekolah atau kuliah.


"Ibu pacarnya Mas Kava?" Tembaknya langsung tanpa basa-basi.


"Bukan!" Balas gue cepet.


"Tapi kalian deket kan?"


"Biasa aja, sih."


Mizan seakan gak puas dengan jawaban gue. "Bener nih gak ada apa-apa diantara kalian?


Gue hela nafas dalam-dalam. "Hubungan kita cuma sekedar atasan dan bawahan, gak kurang gak lebih. Dibilang temen aja bukan."


"Kalau gitu mending ibu gak usah ngasih-ngasih kita lagi, deh. Bukannya gak suka tapi alangkah baiknya ibu jaga perasaan abang saya."


"Kava terima-terima aja waktu saya nitip sesuatu buat kalian, terus apa masalahnya?"


"Masalahnya, nanti abang saya nanti kegeeran. Mau ibu tanggung jawab kalau Mas Kava sampai baper?" Perkataan Mizan bikin kernyitan gue semakin dalam. Katanya Mizan gak anaknya banyak omong lah ini gue ditanya-tanya mulu macam lagi diinterogasi.


"Kok saya yang tanggung jawab, niat saya baik bantu kalian. Diluar itu ya bukan urusannya saya." Sanggah gue.


"Saya berterimakasih atas kebaikan ibu pada keluarga kami, tapi saran saya sebaiknya gak usah dilanjutin sebelum semakin jauh. Apa gak kasian kalau abang saya sampai berharap lebih?" Mizan tampak serius dengan perkataannya. "Bukan kenapa-napa, bu. Saya yang gak terima kalau Mas Kava cuma dimainin sama ibu."


Gue mendengus, bocah ingusan ini ngewanti-wanti gue seakan abangnya bakal gue apa-apain. Tau apa sih dia tentang hubungan orang dewasa? Sok tua banget pikirannya.


Kalau masalah Kava baper atau gimana kan bukan urusan gue. Lah guenya aja gak ngapa-ngapain, ngasih sinyal tertarik aja kagak udah main nuduh aja.


****


Gue gak ngegubris kedatangan Sultan padahal doi lagi bersikap manis dengan bawain gue sebuket bunga dan coklat impor. Kebiasaan kalau habis berantem pasti ngerayu gue dengan hal klasik semacam itu. Sekalian dia mau ngajakin gue makan malam tapi gue tolak dengan ngantuk.


"Baru jam segini kamu udah mau tidur?" Sultan natap gue dengan ekpresi gak terima kalau kedatangannya sia-sia. Cowok gue terbiasa mendapatkan apapun keinginannya dengan mudah, jadi penolakan dari gue seperti menyentil egonya.


"Kamu masih marah?"


"Enggak." Gue menjawab sepatah-sepatah.


"Kurang penjelasanku kemarin? Kamu gak terima gara-gara aku cuekin kamu?" Tandas Sultan.


"Aku gak marah, yank. Beneran, deh." Gue sambil mainan handphone.


"Terus kenapa nolak aku ajak makan?"


"Aku gak lapar."


"Kamu cukup nemenin aku makan."


"Kamu pulang aja, ya? Aku beneram capek pengen tidur. Besok aja aku main ke tempat kamu." Usir gue dengan halus.


"Tuh kan, tuh...kamu ngambek gak jelas. Ini nih yang bikin aku gak suka punya cewek rewel kayak sikap kamu akhir-akhir ini." Sultan ngoceh panjang-lebar meminta gue untuk ngertiin posisinya saat itu tanpa sedikitpun menyesal akan perkataan tidak mengenakan yang dilontarkan pada gue tempo hari itu, "Perkara begitu aja dipermasalain? Dewasa dikit, dong! Kita ini sudah bukan abg lagi!"


"Kamu kali yang mempermasalahin, kok jadi aku?" Gue gak habis pikir.


"Kamu kenapa kayak males-malesan gitu sama aku? Jawab, Kin. Jangan alasan capek lah ngantuklah tapi aslinya gondok dibelakang, aku gak suka digantung kayak gini?" Sultan ngotot pengen menyelesaikan masalah kita pada hari ini juga.


"Oke, aku omong." Gue utarakan semuanya meski gak yakin Sultan bisa memahaminya. "Kamu sadar gak kalau aku butuh kamu disaat-saat tertentu, tapi sikap yang kamu tunjukan semacam aku ini gak penting buat kamu?"


"Gak penting gimana? Aku bela-belain kesini buat siapa?" So careless, gue sampai berbusa ngejelasin kalau perkaranya gak sesederhana ini.


Iya tau, gue lagi pacaran dengan orang yang punya pemikiran logis tapi egois, jadi wajar kalau dia selalu memandang remeh semua urusan yang berhubungan dengan gue. Mintanya dimaklumi tapi gak berlaku sebaliknya.


"Bukan itu poinnya," Gue mendesah lelah. "Aku cuma butuh sedikit aja kepedulian kamu."


"Aku gak akan kesini kalau aku gak peduli sama kamu!"


"Waktu mobilku mogok dan aku terlantar dijalan, kamu khawatir gak sama aku?"


"Itu lagi, itu lagi! Useless banget ngebahas ini sama kamu?" Sultan menatap gue gak  "Asal kamu tau, Kin. Aku membawahi perusahaan gede yang tiap detiknya menghasilkan profit jutaan dollar, waktuku terbatas bahkan 24 jam gak cukup apalagi kalau cuma buat ngurusin mobil kami yang mogok. Tolong pahami ini, pacar kamu ini bukan orang sembarangan. Buat apa kamu punya nomor mobil derek, buat apa punya bengkel  langganan dan asuransi kendaraan kalau gak dijadikan solusi? Jangan ribet-ribet kenapa sih? Emang kamu kira ngerengek-rengek ke aku bisa bikin mobil kamu bisa jalan lagi?"


"Oh." Bibir gue membentuk huruf 'O'.


"Kamu boleh protes kalau aku terus-terusan cuekin kamu, tapi nyatanya enggak, kan? Sebagai gantinya sekarang aku disini buat kamu, tapi gimana tanggapan kamu? Gak menyenangkan banget aku liat-liat." Dengus Sultan.


"Udahlah, yank. Aku malas ribut."


"Kamu duluan yang ngajak ribut, aku inisiatif datang kesini buat kamu, ngajak kamu makan, bawain bunga... terus aku kudu gimana lagi? Berlutut di kaki kamu biar kamu puas?" Sultan itu cowok kaku dan semua-semua harus dibawa serius, sampai kadang gue capek kalau disuruh ngimbangin.


Kalau dipikir-pikir disetiap percakapan kita terasa begitu membosankan, lebih banyak Sultan mendominasi pembicaraan sementara gue harus betah menyimak. Kalau pun ada pembicaraan dua arah berarti tandanya kita lagi berantem dan ujung-ujung gue juga yang mengalah. Dia gak akan nyambung kalau diajak bicara hal yang sederhana atau ngobrol seru-seruan sambil bercanda, level humornya selangit. Nih ya, gue kasih duit segepok kalau bisa bikin Sultan tertawa lepas.


"Iya, iya. Gak sadar akunya ngajakin ribut gini. Maaf deh. Aku kayaknya lagi pms nih, lebay banget ya padahal kamu udah baik banget. Jangan marah ya, sayang?" Pada akhirnya gue yang mengalah. Gue gak bisa kehilangan Sultan apapun yang terjadi, sifat arogan dan semena-mena karena merasa sudah memiliki segalanya sudah terlalu melekat pada diri cowok gue, anggap saja gue deal dengan itu semua.


Sultan tipikal orang yang gak mau menurunkan standar ego atau membiarkan sisi berbeda masuk dan merubah seleranya. Alasan gue betah ya karena doi berduit dan punya masa depan yang pasti, apa lagi memang?


"Kamu bikin moodku rusak." Sultan membalas dengan ketus.


"Restaurannya belum di cancel, kan? Aku tiba-tiba lapar, nih. Kita keluar, yuk?" Gue alihin pembicaraan dan mencoba pasang muka seceria mungkin. Masa karena perkara mobil mogok aja kita bertengkar sampai putus, gak bisa gitu. Anggap saja ini misi menyelamatkan masa depan gue.


"Tadi bilang males?" Sultan mengomel panjang lebar selama gue dandan dan bersiap-siap. "Lain kali aku gak akan ngeladenin sikap kekanakan kamu, sekali lagi kamu ngambek gak jelas langsung aku tinggal!"


Tanpa banyak omong, gue gandeng lengan Sultan yang masih uring-uringan. Gue kecup pipinya lembut dan berkata. "Aku sayang kamu."