Step On Me

Step On Me
Dingin Dingin Mak Nyus



Gue research sebentar di sepanjang perjalanan tadi. Mencari tempat yang bagus buat acara gathering perusahaan. Salah satu pilihan gue jatuhkan ke Tirtaya resort and villa. Selain karena tempatnya yang luas, fasilitasnya juga memadai. Demikian juga layanan internet dan cateringnya, semua sudah diurus tinggal memantau saja. Letaknya nggak terlalu jauh dari titik kemacetan tadi. Pemandangan di sini masih asri dan alami. Segar udaranya adalah obat stres paling mujarab. Sayangnya, kabut yang cukup tebal dan rinai hujan di luar menghalangi indahnya pemandangan saat ini.


"Hatchuu...!" Kava bersin-bersin sejak tadi. Gue baru saja selesai observasi dan booking tempat. Hidungnya Kava udah merah dan meler. Ini pasti gara-gara kehujanan tadi.


"Kamu bersin-bersin terus?"


"Gak apa-apa, Bu. Hatchuuu.." Kava mengucek hidungnya.


"Gak apa-apa gimana! Udah sini," baru aja gue mau geret tangannya buat nyari teh anget, badan Kava terasa panas di telapak tangan gue.


"Kamu nunduk bentar!" perintah gue.


"Buat apa, Bu?"


"Udah buruan!" Banyak bacot nih orang.


Akhirnya Kava sedikit menekuk lututnya, membuat tangan gue bisa meraih dahinya dengan lebih mudah. Gue letakkan punggung tangan gue di sana dan dapat gue rasakan Kava sedang demam.


"Badan kamu panas!" tutur gue.


"Saya tau kalau saya hot, Bu. Gak usah diperjelas lagi."


Gue tabok punggungnya, bisa-bisanya di saat seperti ini masih bercanda.


"Kamu sakit Kava. Kita ke dokter!"


Gue baru balik badan, suara Kava menghentikan langkah gue. "Di sini mana ada dokter, Bu!"


Oh iya.


"Bentar, aku tanya orang dulu!" Gue keluar sebentar untuk mencari keberadaan manusia. Berdasarkan informasi yang gue dapet, satu-satunya pusat kesehatan di sini adalah puskesmas. Ada juga beberapa dokter praktek, tapi letaknya agak jauh. Apalagi hujan masih turun dengan deras. Kava mana bisa nyetir dengan kepala kliyengan kayak gitu. Gue juga gak berani mengemudikan mobil dengan kondisi hari yang udah gelap, mimim penerangan, dan jalanan licin karena hujan.


"Kav?" waktu gue balik ke mobil, Kava tampak lemas gak betenaga. Karena khawatir dia pingsan, gue panggil-panggil namanya berkali-kali. "Kav? Lo tidur? Kava? Jawab gue Kav?"


"Apa sih, Bu manggil-manggil?


"Mending gue yang manggil daripada dipanggil Tuhan." Gue siap-siap menjalankan mobil. "Kita gak bisa balik sekarang, kata bapak tadi ada pohon gede roboh ngehalangin jalan. Kamu gak apa-apa tidur di mobil? Atau kita cari penginapan?"


"Gak usah, Bu." Kava menggigil.


"Kalau kamu mati siapa yang mau ngurusin? Emang bisa kamu jalan sendiri ke kuburan?"


"Saya punya feeling umur saya masih panjang kok, Bu, soalnya dosa-dosa saya masih banyak." Di saat sakit kayak gini aja pedenya setinggi langit.


Gak jauh dari Tirtaya Resort and Villa, ada sebuah motel sederhana yang cukup nyaman buat berteduh dari hujan. Resepsionisnya juga baik banget nyedekahin gue obat penurun panas. Hujan hari ini emang gak tau diri. makin malam bukannya ada tanda-tanda langit cerah kembali, angin malah tambah kenceng dan petir menyambar di sana sini. Alhasil kita terpaksa pesen satu kamar biar ngirit. Jadilah gue sama Kava berbagi kamar yang sama.


Jangan berpikir yang macem-macem loh ya. Ini murni gue mengamalkan sila kedua Pancasila. Kava udah teler gitu, masak ya gue tega menelantarkan dia. Kalau di kamar kan lumayan, dia bisa baringan sambil selimutan.


"Jangan pergi!" entah ngigau atau sadar, yang jelas Kava megangin gue kenceng banget. Dahinya keringetan. Matanya terpejam tapi gue bisa merasakan ketidaknyamanan di sana.


Karena kasihan, gue luluh. "Iya. Aku gak kemana-mana." Gue benerin posisi tiduran di samping Kava.


Cowok itu makin mlingsep ke deket gue. "D-dingin..." bibirnya membiru.


"Dingin?" Gue bergegas membenarkan selimutnya. Tapi badan Kava tetap saja mengigil.


"Dingin..." dia merancau lagi.


Gue panik. Padahal pintu dan jendela udah gue tutup rapat-rapat. Kava juga udah gue minumin obat. Gue periksa lagi suhu tubuhnya. Kali ini bukannya panas, tapi malah mendingin. Mulai dari ujung tangan dan kaki, semuanya terlihat pucat serta mati rasa.


"Kav? Kava?" gue tepuk-tepuk pipinya.


"Hhgh.." jemari Kava meremas ujung baju gue dengan lemah.


Oke, gue bener-bener panik sekarang. Jangan-jangan Kava kena hipotermia. Dia kedinginan sejak kehujanan tadi. Duh, bisa bahaya ini. Kalau keblabasan gimana? Pokoknya suhu tubuh Kava harus segera dinaikkan.


Gue mulai melakukan segala cara. Gue gulung tubuh Kava pake selimut berlapis-lapis, gue angetin pake kompres, gue kasih minuman panas, tapi hanya ada sedikit peningkatan.


Kuku gue terus tergerus karena gue gigitin sejak tadi. Liat Kava meringkuk gak berdaya kayak gini bikin gue makin ngerasa bersalah. Keadaan ini diperparah oleh situasi. Karena cuaca yang buruk, ponsel gue gak bisa menangkap sinyal. Mau keluar cari dokter pun cuaca gak memungkinkan. Aish, kenapa kami harus terjebak di sini dalam situasi seperti ini?


Oke Kinan, kamu harus tenang. Hal yang paling penting untuk saat ini adalah menyembuhkan Kava. Kalau sampai kenapa-kenapa sama Kava, bakal habis gue dicecar adik-adiknya. Gak kebayang udah anak yatim piatu terus kehilangan kakak, duh mikir apa sih gua?


Kira-kira apa yang bisa gue lakuin agar suhu badan Kava tetap menghangat? Sebentar, gue pernah nonton film tentang hipotermia. Dari film itu gue inget kalau sentuhan kulit ke kulit secara langsung bisa membantu penderita hipotermia untuk menaikkan suhu tubuhnya. Tapi ya masak gue harus nelanjangin Kava terus peluk-pelukan tanpa sehelai benangpun yang menempel? Yang bener aja! Gue mengacak rambut frustasi.


Gue lirik lagi Kava yang masih meringkuk. Badannya gemetar hebat karena kedinginan. Bibir dan telapak tangannya juga mulai memutih. Gue bener-bener nggak tega liat Kava seperti ini.


Bodo ah! Kalau Kava mati nanti gue juga yang ditangkap polisi.


Akhirnya gue melucuti pakaian Kava kemudian pakaian gue sendiri. Gak ada tempat buat malu. Meskipun gue bugil dari ujung ke ujung, tapi ini demi misi kemanusiaan. Gue merangsek ke dalam selimut tebal yang membungkus tubuh lelaki itu lalu merengkuh badannya. Hawa panas dari kulit gue lambat laun mengalir ke tubuh Kava. Sedikit demi sedikit, rasa dingin di telapak tangan Kava mulai memudar. Mengigilnya berkurang. Wajahnya terlihat lebih rileks sekarang. Hanya saja, bibir Kava masih sedikit membiru. Ada cara yang bisa gue lakukan untuk membuat bibir Kava cepat pulih. Gue pun memajukan wajah, lalu memangut bibir Kava dengan bibir gue.