
Sebuah bus pariwisata dilengkapi AC, toilet, dan Wifi dua puluh empat jam telah terparkir di halaman depan, siap ngangkut para karyawan buat training di puncak. Sebagai koordinator acara gue dateng paling pagi sendiri. Ngecek semua detail biar gak ada satu pun yang kelewat. Di tengah kesibukan kesana-kemari, tiba-tiba Sandi nyamperin. Et et tumben inisiatif duluan?
"Karin?" Suaranya yang datar dan maskulin menggelitik telinga gue. Kapan sih, Sandi bisa manggil nama gue dengan tepat.
Abaikan, jiwa menel gue keburu bergejolak. "Ya, Pak?" Gue membalas dengan seanggun mungkin.
Sandi berdiri dengan kedua tangannya masuk ke kantong celana. Otot-otot hasil ngegym tiap hari itu nongol dari balik kaos putihnya. Celana denim dan kaca mata item melengkapi fashion minimalisnya hari ini. Tiap hari liat Pak Sandi pake kemeja, terus tiba-tiba sekarang disajikan Sandi versi casual dan boyfriendable banget kayak gini bikin otak gue oleng seketika.
"Em... saya mau nanya." Dia keliatan ragu-ragu gitu. Keliatan dari body languagenya yang gak setenang biasanya.
Di luar kendali, gue langsung nyelekop. "Iya Pak, saya mau!" Teriak gue penuh semangat.
Dia nyureng, gue juga ikutan ngernyit. Lah, kan Pak Sandi belum nanya apa-apa, gue udah kepedean aja.
"Mau.. apa?" Sandi nanya lagi.
Gue tengak-tengok, bingung sendiri jawabnya. "Em... enggak apa-apa, Pak."
"Saya denger kamu tinggal bareng Naira, ya? Selain dia, roomate kamu siapa lagi? sama beberapa roomate ya?" Lelaki itu mulai mengarah ke sebuah topik pembicaraan. Waduh, ngomongin tempat tinggal segala. Apakah dia berkeinginan ngapelin gue.
"Gea, Pak. Tapi mereka gak kenapa-kenapa, kok. Kalau bapak pengen ketemu saya, ya tinggal datang aja." Mulut jahanam gue makin ngaco. "Tapi kalau bapak risih, saya bisa ngusir mereka jauh-jauh, biar kita bisa berdu—"
"Cuma bertiga sama Naira dan Gea?" Sandi mengabaikan ucapan gue yang terakhir. "Ada kan satu lagi? Kira-kira seusia anak kuliahan?"
"Oh, itu mah sepupu saya." Gue anggap Jelly bukan roomate karena dia gak ikutan bayar sewa apartemen.
Tatapan Sandi makin serius. Aduh, kalau diliatin gini gue jadi makin salting. "Apa enaknya tinggal bareng-bareng, emang disana gak sempit? Kenapa diajakin pindah gak mau?"
"Siapa yang diajak pindah gak mau? Bapak ini nawarin saya atau gimana?" Gue udah kepedean.
"Bukan," Sandi menggeleng dengan tidak yakin. "Saya mau nanya pendapat kamu kalau gak keberatan, boleh?"
"Silahkan." Hati gue riang gembira, baiklah mari kita bikin percakapan ini lebih akrab. "Lo mau nanya apapun pasti bakal gue jawab iya, gue pantang nolak permintaan lo."
Sandi membasahi bibirnya sebentar sebelum ngomong, "Kalau roomate kamu, misal Gea atau Naira, atau siapa tadi satunya? Sepupu ya? Terus dia ngambek. Gimana cara kamu ngebaikinnya?"
Gue bukannya menyimak pertanyaan Sandi malah salah fokus sama bibirnya yang tipis, keliatannya sih menarik tapi gak setebel punya Kava yang kenyel-kenyel gitu kalau dicipok.
"Eh iya, gimana tadi?" Gue segera mengembalikan kesadaran. Please, jangan terlihat oon di depan calon imam, najis amat gue mikirin Kava mulu
"Kamu denger gak pertanyaan saya barusan?"
"Bisa diulang gak?" Gue negakin badan sambil cari alasan. "Maaf gak fokus, tadi gue belum sarapan. By the why, kenapa lo nanyain roomate gue? Ada salah satu dari kami yang bikin lo tertarik, ya? Bukan Nay kan pastinya?"
Gue harus mengantisipasi, siapa tau musuh gue ternyata sedekat nadi. Meskipun Nay kandidat paling memungkinka karena saban hari ketemu Sandi, atau Gea yang sudah menjadi bestfriend enemy dengan gue semenjak kali pertama kali kita ketemu. Pokok gue harus tetap waspada. Namanya juga persaingan, gak memandang teman atau saudara.
"Lupakan roomate kamu, itu cuma perumpamaan." Sandi buru-buru meralat, tumben loh dia ngomongnya muter-muter. "Gini aja, kalau misal adik kamu ngambek enaknya diapain?"
"Adiknya kelas berapa dulu, nih? SD? SMP?"
Sandi memijit-mijit kening. "Agak gedean dikit."
"Tapi itungannya masih kicik, kan? Itu mah gampang. Lo kasih aja kesukaannya. Kalau adek sepupu gue dulu demennya dijajanin album korea gitu, tapi sekarang anaknya udah gede jadi selain kpop dia juga suka barang branded. Ehm lo gak sekalian nanya kesukaan gue apa?" Pancing gue.
Sandi malah gak fokus. "Hah, sejak kapan suka Kpop?"
"Siapa? Adek gue? Iya, dia suka NCT biasanya Jaehyun. Tapi kalau gue sukanya...elo." Gue blak-blakan. "Terus kalau gue nih ya, misal nih If we date, gue bakal banyak cerita random sama lo. Ngebahas hal-hal gak penting, gue juga bakal sering ngajarin lo gombalan yang lucu, dan ngajakin lo tanam kaktus."
Gue udah serandom itu, Sandi malah mengguman sendiri sampai gue gak bisa denger secara jelas. "Kalau barang branded mah udah sering."
"Apanya yang sering? Lo sama gue? Iya sih, sering-sering ngobrol gini emang asyik ya?" Gue nyelipin rambut di belakang kuping dengan sok anggun. Pasang ekspresi secakep mungkin. Lagi tebar pesona, tiba-tiba Kava muncul dari belakang Sandi.
"Tumben berduaan? Nanti kalau ada hati yang tersakiti gimana?" Kava langsung ngerangkul leher Sandi, lagaknya macam sok kenal sok deket gitu. Kedatangannya merusak kebersamaan manis gue bareng calon imam. "Bu Okta ayo naik, nanti kita ketinggalan bus." Dengan sengaja dia nyenggol Sandi ke samping, biar bisa melompat naik dan narik tangan gue masuk kedalam bus.
"Oke, makasih Kimar," Ucap Sandi singkat sebelum membalikkan badan. Yah, Pak Bos gak ikut rombongan. Dia pergi naik mobilnya sendiri, sedih gue melihat punggung Sandi yang berangsur menghilang dari pandangan.
"Sama-sama, San." Udah telat jawabnya, gue juga lagi mode pasrah. Menyayangkan kesempatan yang lagi-lagi gak bisa gue manfaatkan dengan baik. Kenapa sih, setiap kali gue berduaan sama Sandi selalu saja diinterupsi Kava.
"Dari intonasi suara, helaan napas, dan ekspresi wajah kakak ini, kita bisa tau seberapa berat cobaan hidupnya." Dengan gak tau dirinya congor Kava mangap seenaknya.
"Kenapa sih lo selalu nongol disaat yang gak tepat? Emang gak bisa ya lo pura-pura jadi cecek dulu gak usah ganggu gue!" Gue geram dan buru-buru melepas genggaman tangan Kava.
Selesai ngomong gitu, gue langsung jalan duluan mencari tempat duduk. Karena Gea dan Nay berada di Bus satunya, terus gue ogah deket-deket Kava, terpaksa gue duduk sebelahan sama Moniq.