Step On Me

Step On Me
Calon Suami Serep



Gara-gara teriakan dan pukulan membabi buta yang gue layangkan pada Kava, tetangga-tetangga sekitar pada nyamperin semua, mungkin mereka pikir sedang terjadi pertengkaran rumah tangga disini. Untung Kava bisa menjelaskan baik-baik kepada para manusia kepo itu.


Tapi gue masih kesal, lagi asyik menikmati pemandangan sawah taunya disuguhi yang lain, kan kepolosan gue belum sanggup menerimanya.


"Tadi diapain aja bu sama Mas Kava? Kok teriaknya kenceng banget?" Mata belo Lantang sampai melebar gitu.


"Gak diapa-apain!" Ini anak bukannya bantuin abangnya masak malah ngerecokin gue.


Kava membelakangi gue saat dia berkutat dengan masakan di dapurnya yang sempit. Gak bisa disebut dapur sebenarnya karena cuma ada kompor dan peralatan masak seadanya, wastafel pun gak ada. Kalau mau cuci piring dan cuci baju ya jadi satu di kamar mandi. Gue aja ogah deket-deket dapur karena takut ketemu tikus dan kecoa.


Jadi gue nunggu aja diruang tengah sambil nyemilin lemper, lumayan buat ganjal perut. Sementara Lantang kebagian bika ambon, tapi tetap aja kardus kuenya dikekepin sendiri macam gak rela bagi-bagi. Adik bungsunya Kava ini makannya emang banyak tapi badannya tetap kurus, gue malah curiga cacingan. "Beli dimana? Kok enak."


"Dikasih orang."


"Siapa?"


"Jangan dikasih tau, Lan." Kava nengok sambil megang pisau. "Bahaya."


"Kamu diem!" Setelah menghardik Kava, gue berbisik pada Lantang. "Dari siapa?"


"Kak Tasya."


"Hih." Langsung gue taruh lagi itu lemper gak bersalah terus gue bejek-bejek sampai hancur.


"Kok dibuang?" Lantang menatap lemper teraniaya itu dengan tatapan sayang.


"Dia sering ngasih kalian makanan, ya? Maunya apa, sih?" Gue gak bisa menyembunyikan kesal. Hampir gue rebut kardus kue itu tapi Lantang lebih gercep mengamankannya.


"Eh jangan, enak ini."


"Dibilangin juga apa? Gak bakal selamat itu jajanan." Gue denger Kava terkekeh dibelakang.


"Kava sini kamu!" Gue nengok sambil ngomel. "Ngapain sih, gak emaknya gak anaknya suka kirim-kirim makanan kesini? Kamu tuman sih minta gratisan mulu!"


"Lan, beliin kecap." Lah gue gak diwaro, kurang ajar.


Lantang beranjak dari kursi dan menghampiri abangnya. "Cewek kalo cemburu serem ya, Mas?"


"Sana beli kecap."


"Beli dimana?"


"Indomaret."


"Jauh, ah. Males." Lantang beralasan. "Diluar panas, nanti kulitku item."


"Berangkat atau lihaten nanti kalau ada orang kesini mau mungut kamu langsung mas kasihin gak pake mikir. Lumayan kan dapat duit." Ancaman Kava gak tanggung-tanggung.


"Tega, padahal aku sering bilang kalau uang masih bisa dicari tapi adek kayak aku kan gak bisa dicari." Lantang lanjut bicara. "Oh iya, mas. Kak Tasya tadi nitip pesen, kalo gak repot mas disuruh kerumahnya, katanya ada hal yang mau diomongin, pen—"


"Sshh!" Kava menyenggol lengan adiknya, menyuruhnya berhenti berbicara.


"Bisa apa gak? Nanti pasti aku terus yang ditanya. Aku bilang lagi ada tamu gitu aja, ya?"


"Kecap, Lan!"


"Tuhan, mengapa abangku berbeda." Lantang segera menyingkir untuk membelikan pesanan abangnya.


Tidak berapa lama, telur goreng campur tepung sudah terhidang didepan gue, lengkap dengan nasi panas dan sambal matah. Menggiurkan sekali sampai air liur gue ikut menetes, tapi sayang gue udah gak mood.


"Kenapa gak dimakan? Saya sudah capek-capek masak buat ibu masa gak dihargain." Kava duduk disebelah gue, dia  nanya baik-baik berhubung dari tadi gue abaikan.


Udah tau gue lagi down dan sakit hati gara-gara putus hubungan sama Sultan, eh Kava malah nambah-nambahin beban pikiran aja. Ya gimana gue gak gondok.


"Jangan rewel toh, bu. Bingung nanti saya." Dia dorong piring yang sudah berisi nasi dan lauk, udah diladenin tinggal nyuap aja sebenernya.


Jangan harap bakal gue sentuh, no way!


"Buka mulutnya...aaa." Taunya sendok yang disodorin Kava ke mulut gue biarin masuk.


Enak, apa laper, ya? Sampai gak kerasa suapan demi suapan gue kunyah dengan lahap.


"Mau nambah?"


"Terserah." Gue melengos.


"Ibu bilang terserah saya udah berasa di tengah jembatan sirotul mustaqim."


"Udah, aku kenyang." Gue tepis tangan Kava yang hendak nyuapin gue.


Kava meletakan sendok dan piringnya sebelum menatap gue dalam-dalam. "Ibu marah sama saya? Gara-gara Tasya."


"Aku marah sama keadaan yang bikin aku harus kehilangan calon suami dalam sekejab, gak ada hubungannya sama kamu apalagi Tasya Martusya cewek gebetanmu itu." Gue jawab dengan nada tinggi.


"Terus mau ibu apa sekarang?"


"Aku pengen nyari pengganti Sultan, aku gak bisa begini terus, atau aku bisa gila..." Gue menggeram dengan putus asa. "Aku harus cari cowok yang lebih qualified dari Sultan, aku gak peduli meski dapat jelek atau tua bangka sekalipun yang penting statusnya bukan suami orang dan cuannya banyak."


"Pak Santoso ayahnya pak boss bisa tuh jadi kandidat. Udah tua, duda, warisannya banyak, tinggal di kek dikit langsung innaillahi." Entah Kava bercanda atau sarkasm gue gak nangkap maksudnya.


Tapi begitu mendengar nama Sandi disebut, otak gue seperti dapat pencerahan. "Eh kamu dekat sama Sandi ya? Comblangin aku sama dia dong?"


"Saya disuruh nyomblangin?" Kava nunjuk dirinya sendiri.


"Iya, kan kalian dekat tuh, gak ada salahnya dong kamu ngebantuin aku. Sandi pasti punya titik kelemahan, kan? Kamu pasti tau tipe ceweknya Sandi, dia suka model yang gimana? Cewek pinter berkharisma kayak aku masuk kriteria gak?" Gue nyerocos dengan menggebu-gebu. Memang perlu perencanaan matang untuk mengejar Pak Bos galak satu ini, tapi patut dicoba karena Sandi sendiri merupakan bujangan paling most wanted seantero Jakarta. "Atau mungkin dia mendambakan wanita dewasa yang matang dan keibuan? Aku bisa kok jadi dua-duanya."


"Kenapa mesti pak bos sih, bu?"


"Punya saya lebih gede, tebel, legend, jago nyaplok."


Gue puter mata denger interupsi Kava, dia pacaran aja gak pernah sok ngebanggain diri. "Kembali ke poin satu dan dua, pewaris perusahaan. Gimana aku gak ngarepin Sandi coba? Ganteng, kaya, dijamin masa depanku tercukupi kalau jadi istrinya..." Gue berandai-andai. "Semoga aja mimpiku nikah sama pengusaha segera kesampean, amin."


"Saya juga pernah mimpi ketinggian, tapi gak jadi keburu dibangunin sama Mizan, udah pagi katanya." Celetuk Kava.


"Kamu kudu bantuin aku, Kav."


"Bingung saya sama bu." Kava menggelangkan kepala dengan prihatin.


"Tinggal bantu apa susahnya, sih? Harus mau pokoknya!" Gue paksa-paksa terus sampai Kava mengiyakan. "Kav? Tolongin aku masa kamu gak mau? Bantu aku deketin Sandi dong? Bisa, ya?"


"Iya, iya, saya bantu." Meski rada enggan gitu mukanya.


"Janji?" Gue todong terus.


"Janji." Dia anggukin kepala terus kita bikin janji pakai tautan kelingking.


"Oke, rencana pertama gimana? Sandi kan kayak sentimen banget gitu sama aku caranya lunakin hatinya dulu, deh. Biar dia merubah pandangan pribadinya itu, enaknya aku ngapain, ya? Apa perlu aku dukung semua kebijakan ngaconya itu? Biar pak bos luluh. Atau aku pepet aja kali ya, bodo amat kalo risih yang penting usaha dulu. Kalau seumpama aku ngotot nyamperin rumah pak bos etis gak sih? Nanti aku pura-puranya...." Gue memberondong Kava dengan banyak kalimat.


"Assalamualaikum." Diskusi penting gue dan Kava terganggu dengan kehadiran seorang perempuan yang hendak bertamu.


"Wallaikumsalam." Ketika Kava beranjak, gue ikutan melongok ke arah pintu. Cewek itu perawakannya mungil, pakai hijab dan mungkin seusia Mizan. Sedikit kecurigaan bergelayut di benak gue, jangan-jangan dia yang namanya Tasya ondel-ondel.


Gue gak kedengeran jelas mereka berbicara, tapi sayup-sayup gue menangkap suara manja cabe-cabean. "Mas Kava, ih. Bikin malu aja, habis mama bilang...."


Eh si ondel-ondel beneran. Gak tau kenapa kedatangannya yang gak diundang bikin ubun-ubun gue mendidih. "KAVA!!"


****


Gue berhasil nyeret Kava masuk sebelum cewek cringey itu mengutarakan maksud kedatangannya. Gak gue kasih kesempatan, tanpa ampun daun pintu langsung gue gebrak didepan mukanya. Gue gak suka, ya, kalau urusan gue sama Kava keganggu.


"Kamu pasti tontonannya bokep Jepang mulu sampai gak tau Lee Min Hoo, dia itu aktor Korea paling terkenal." Gue kesel karena Kava komen mulu waktu nemenin gue nonton drakor.


"Saya dua-duanya gak ngerti. Eh ngerti dikit lah, kalo Korea tuh ada Kim Jong Un, kalo Jepang ada Tsubasa sama Naruto."


"Goll!" Diluar berisik banget gara-gara Lantang dan beberapa temennya lagi nonton bola, makanya gue geser ke kamar Kava biar bisa nonton Netflix sambil tiduran.


"Kamu udah cari info tentang Sandi belum?" Gue memiringkan badan dengan kepala bertopang di sebelah tangan, dengan posisi seperti ini gue jadi lebih enak berbincang sama Kava.


"Baru tadi sore ibu nyuruh, udah ditagih aja. Gak sabaran banget, ya?"


"Kita kudu gerak cepat, Kav, yang incer Sandi banyak. Ih bego kemarin aku gak datang ke pesta ultahnya." Sesal gue. "Dia suka cewek seumuran, kan? Masa aku denger gosip Sandi tuh demennya sama cewek yang lebih tua? Pantes aja mantan tunangan Sandi peyot gitu mukanya."


"Nanti saya tanyakan langsung ke orangnya." Kava sambil nguap lebar, kayak udah ngantuk berat gitu.


"Jangan tidur dulu. Aku belum selesai omong." Kava juga gak gue bolehin kemana-mana, salah sendiri cerita kalau dikamarnya bersemayam mbak kunti yang suka cekikan. Gue ngwwanti-wanti jangan sampai keluar dari kamar tanpa ijin gue. "Kamu jangan ninggal kamar ini, Kav. Gelar tiker aja dibawah, awas kalo aku bangun kamu gak ada disini!"


"Gak boleh, bu, kalau bukan muhrim tidur bareng sekamar tuh."


"Siapa yang ngajakin kamu tidur bareng? Aku aja yang merem, kamunya melek jagain aku." Perintah cuma dibalas anggukan sama Kava. "Eh kamu kok bisa kenal Sandi dan bapaknya?"


"Pak Santoso dulu tinggalnya sekampung sama bapak saya, mereka sempat bersaing demi mendapatkan cinta ibu saya."


"Kalau aku jadi ibu lo, mending sama bapaknya San—" Buru-buru gue tutup mulut karena Kava ngeliatin gue dengan tatapan gak mengenakan. "Terus, terus?"


"Ibu milih bapak, terus lahirlah saya. Anak hasil kebocoran ******."


Gue mau ngakak tapi ekpresi Kava yang serius bikin gue mengurungkan niat.


"Sampai bapak saya meninggal, Pak Santoso deketin ibu saya lagi, tapi ibu gak mau karena pengen ketemu bapak di surga. Terus setahun kemudian ibu nyusul bapak dan ninggalin kita bertiga. Tadinya Pak Santoso mau adopsi Lantang karena waktu itu dia yang paling kecil, tapi saya gak mau pisah sama adik-adik. Hari itu juga saya langsung ajak kabur Mizan dan Lantang, saking saya takut mereka diambil."


"Terus sekarang kalian ketemu lagi? Gimana ceritanya?"


"Gak sengaja bu, waktu lagi kerja di proyek gak taunya pemilik tendernya itu Pak Santoso. Dari situ kita sering ngobrol dan lama-lama jadi deket, saya termasuk beruntung kerja sama beliau, orangnya ternyata baik, nyesel dulu saya sempat suudzon."


"Manfaatin tuh mumpung dekat sama bos besar. Minta rumah, kek, atau minta diangkat jadi direktur." Kayaknya gue salah omong, deh, habis gue liat muka Kava makin ditekuk gitu.


"Saya bukannya pamer, bu. Sudah sering saya ditawari banyak kesempatan oleh beliau, tapi bukan seperti itu yang saya cari."


"Kamu bego, sih."


Kava menggeleng. "Hidup itu gak melulu soal jabatan dan harta, bu. Pengalaman dan  kesempatan belajar jauh lebih penting, tinggal nanti bagaimana kita mewujudkannya. Saya orangnya gak suka berhutang budi karena suatu saat pasti diungkit-ungkit. Lebih enak menikmati jerih payah sendiri."


"Tapi hutang kamu banyak sama aku." Gue tekanin biar Kava gak makin bacot.


"Tenang, saya bayar lunas nanti pake mas kawin."


Gue mencibir. "Udah ah aku mau tidur."


"Tidur yang tenang, bu. Keluarga udah ikhlas."


"Mulut kamu sembarangan banget!"


"Bercanda, bu."


Meski Kava terus-terusan nguap dan matanya kerasa berat, tapi dia tetap nungguin di sisi tempat tidur sampai kemudian adiknya yang nomor dua nyelonong masuk kamar tanpa permisi.


"Mas?" Mizan dengan tatapan matanya penuh peringatan. "Jangan tidur disini."


Kava seperti membisikan sesuatu yang dibalas Mizan dengan pelototan tajam. Bodo, ah. Gue mau merem aja, ngantuk.


"Kenapa gak mas anter pulang aja, sih? Ngerepotin pake numpang tidur segala. Udah tau kontrakan disini sempit, malah seenaknya sendiri." Kalimat Mizan nusuk banget, seperti enggan menerima kehadiran gue dirumah mereka. "Bisa gak suruh berhenti ngerecokin hidup orang?"


Mizan, Mizan. Over protektifnya ngalahin polisi jaga demo. Kayak muka abang lo paling asyik di tongkrongan aja.