Step On Me

Step On Me
Sidang



Gue langsung disidang sama Mizan dan Lantang.


"Mas saya diapain sampai benjol begini?" Mata belo Lantang menguliti gue. Ditambah lagi Mizan yang selalu membantah apapun alasan yang gue berikan.


"Gak gue diapa-apain, kok?" Masak ya gue ngaku habis *******, sih.


"Gak mungkin gak diapa-apain sampai klenger gini!" Mizan menyipitkan matanya penuh curiga.


"Udah-udah, aku gak apa-apa, kok." Kava yang masih kliyengan lagi ngompres kepalanya dengan es batu. Maksud hati ingin melerai perdebatan gue dan Mizan tapi apa daya, nyawanya aja belum genap.


"Ibu mukul abang saya pake wajan, kan?"


Gue membela diri. "Enak aja main nuduh!"


"Terus itu!" Mizan masih keras kepala. Dia nunjuk wajah kakak tertuanya. "Kenapa bibir abang saya bengkak kayak gitu?"


Hah? Eh, beneran bengkak dong. Tadi gue apain aja sih sampai nyonyor gitu? Lagi sibuk nyari alesan, Kava malah ngelirik gue sambil senyum-senyum. Anjir dia inget perbuatan *****-mencipok tadi, padahal gue berharap benjolan dikepalanya bikin dia amnesia.


"Mas Kava, lihat jari aku ada berapa?" Lantang ngetes dengan melambaikan tiga jarinya di depan muka abangnya itu.


"Sebelas." Jawab Kava asal.


"Wah parah. Mas Kava udah mesle otaknya. Aku nanti sama siapa kalo Mas Kava gila?" Lantang berlagak sendu.


Bocah tengik itu kena timpukan kompres es di kepala. "Ambilin aku es lagi."


"Alhamdulillah Mas Kava masih waras, ya Allah." Lantang menengadahkan tangannya mengucapakan syukur.


"Nasi goreng saya mana, bu?" Kava berkata kepada gue. "Gak kenyang saya kalau cuma dikasih makan bibir."


Gue mendelik memperingatkan Kava agar tidak kelepasan ngomong di depan adik-adiknya.


"Makan bibir itu apaan?" Lantang dengan polosnya.


"Bubur kali, Mas Kava ngomongnya typo." Mizan yang membenarkan.


"Oh iya masak, mari kita lanjut masak!" Gue segera beranjak ke dapur.


"Bu Okta masak?" Dua adiknya melotot gak percaya.


"Pantesan dapurnya berantakan," Lantang bisik-bisik ke Mizan yang ketawa miris.


"Siap-siap aja besok kita masuk koran. Diduga lalai, rumah kontrakan kebakaran sampai habis gak bersisa!" Lantang dengan seenak hati mengutip judul berita.


"Mending kalau kebakaran. Kalau mau lebih ekstrim lagi judul beritanya gini, Diduga keracunan makanan, seonggok pemuda ditemukan tergeletak kejang-kejang." Pemikiran Mizan lebih sadis ternyata.


Gue langsung merengut. "Aku bisa masak ya!"


Tapi kedua bocah itu memandang gue dengan skeptis. "Ah, yang bener?"


"Gue jamin enakan masakan gue daripada ondel-ondel Tasya Martusya." Salah gue bawa-bawa nama itu cewek, karena berujung gue semakin terbully.


"Enakan masakan mbak Tasya." Lantang mulai memperkeruh suasana.


"Tumben mbak Tasya gak ke sini, ya?" Mizan ngompor-ngomporin.


"Telepon aja, suruh bawain sayur sama lauk. " Kava juga ikut-ikutan.


"Mas aja yang nelepon, pasti langsung he eh he eh." Lantang menyikut perut abang sulungnya itu.


Melihat gelagat gak mengenakan itu, secepat kilat gue mencegah. "Kalian kira Tasya itu Gofood? Main telepon seenaknya?"


Semua mata tertuju pada gue. Lah sama, gue juga kaget sama reaksi diri sendiri.


Gue senyum kaku. "Em... maksudnya, ini kan udah malem. Masa nyuruh orang ke sini malem-malem, kan gak sopan "


"Mbak Tasya aja gak keberatan kok?" Lantang menginterupsi.


"Tetep aja gak etis kan?" Gue ngegas.


"Mbaknya juga ngapain ke sini malem-malem?" Sumpah, mulut lamis Mizan pengen gue remet-remet.


"Gak ngajak Kak Jelly lagi." Sambung Lantang.


"Cie nyariin Jelly." Gue ledekin aja.


"Mas Mizan, kok, yang nyariin."


"Kok aku?" Mizan melotot.


"Iya kan Mas Mizan yang suka nanyain Kak Jelly, toh. Tapi malah aku terus yang dicariin." Lantang meledek abang keduanya itu.


Tapi sebelum keduanya kembali beradu mulut, Kava segera mengambil tindakan. "Kalian jangan berisik, pusing aku dengernya." Tangannya sambil ngusep-ngusep bagian kepala yang benjol.


"Aku pesenin Gofood ya? Mau apa? Pizza, Seafood?" Gue udah siap dengan ponsel di tangan.


Sudah ketebak, Lantang yang paling haleluya. "Kerak telor, bakso granat, steak, sama bubble tea."


Gue senyum garing sementara mulut Lantang kena timpuk Kangmasnya.