
Bangun-bangun gue udah ngeringkuk di kamar. Iya, bekas kamarnya Kava yang udah beberapa hari ini gue pake bobok. Tangan gue masih melukin box ****** rasa durian ketika indera pedengaran gue menangkap suara wajan jatuh dari arah dapur.
Grompyang!
Jangan-jangan maling? Mata gue mendelik seketika dan nyawa gue langsung genap seutuhnya. Buru-buru gue cari HP buat telepon pak polisi. Di sini area kontrakan murahan. Sistem kemanan pasti kurang memadai. Pintu sama jendela bakal rusak dengan sekali congkel, memudahkan para pencuri melakukan aksinya.
Gue parno. Mana gue sendirian di rumah ini. Kalau nanti perampoknya ngeliat gue, terus tersepona sama kecantikan gue yang paripurna ini gimana dong? Bisa diperkosa di tempat gue. Apalagi ada sebelas sachet ****** rasa durian warisannya Kava. Ntar gue di gangbang lagi.
Gue sembunyiin kondomnya Kava di dalem BH. Biar gimanapun ini satu-satunya barang peninggalan Kava di rumah ini. Gue gak mau kehilangan sedikitpun. Harus dijaga dan dimuseumkan baik-baik. Habis itu gue ambil highheels buat senjata. Tumpul-tumpul gini-gini kalau buat nyolok mata auto buta. Sambil nunggu pak polisi datang gue mendendap-endap ke dapur. Itu dia malingnya! Lagi nyusruk-nyusruk lemari es gue. Kepalanya masuk ke dalam lemari es, cuma keliatan punggungnya doang.
"Kyaaaa!" Gue ambil jurus banteng menyerang godzila. Dengan tangan megangin highheels, gue lari kecil-kecil sambil jejeritan biar tetangga denger. Niat hati mau nimpuk kepala itu maling, tetapi waktu dia noleh, gue langsung ngerem mendadak.
Sosis siap makan di mulut Kava jatuh karena dia kaget liat gue siap nimbuk kepalanya pake sepatu. Roti di tangan kanan dan selai di tangan kiri juga berjatuhan ke lantai. Gue berhasil berhenti tepat di depan badannya. Mata gue kedip-kedip, dia ikutan kedip-kedip. Setelah beberapa detik, gue teriak lagi. "Aaaa... Kavaaa!" Higheels gue lempar ke belakang. Terus badan gue nyusruk ke depan dan gelantungan di tubuhnya. "Huhuhu... Kava kangen..."
Gue peluk erat banget cowok itu, pokok gak akan gue lepasin. Sekali-kali gue bolak-balik ngelusin pipinya buat mastiin bahwa itu beneran Kava. Semakin yakin semakin keras tangisan gue.
"Saya manusia loh ini, bukan pohon." Kava protes karena lehernya gue pake gelantungan.
"Kami menerima laporan dari Bu Kinan jika sedang terjadi tindakan pencurian di rumah ini!" Salah satu polisinya kebingungan mau nodongin pistolnya ke arah mana. Pasalnya di sini cuma nemu gue sama Kava. Mana Kava rapi banget pake celana panjang sama kemeja putih. Jarabf-jarang maling outfitnya begini, kalau maling uang rakyat mah beda lagi ceritanya.
Gue turun dari badan Kava. "Iya, Pak. Saya yang bikin laporan."
Pak polisinya nurunin burung, eh pistolnya, dengan bingung. "Katanya ada maling?"
Gue gigit bibir. "Iya, Pak."
"Mana malingnya?"
Gue nunjuk ke Kava. "Ini orangnya, Pak. Dia udah maling hati saya. Seenaknya aja ngeghosting anak orang. Dipenjarain aja dia, Pak. Meresahkan soalnya!"
Jangan ditanya detailnya, pak polisinya udah pada balik kanan bubar jalan.