Step On Me

Step On Me
Digebrek



APA YANG GUE LAKUIN SEMALEM COBAK!!! Gak mungkin itu gue. Bukan! Itu cuma sekedar halusinasi aja. Gak mungkin kenyataan kan? Atau jangan-jangan gue kesurupan arwah penasaran penghuni daerah sini? Iya, itu penjelasan paling logis. Gak logis-logis banget sih sebenernya, maksa dikit.


Ada yang aneh waktu gue dalam kondisi setengah sadar tadi. Rasanya perut gue ada yang nusuk-nusuk gitu. Bendanya gedhe, kaku, dan silindris kayak empek-empek lenjer versi hulk dipompa nitrogen asli pertamina. Bukan di perut sih sebenernya, agak ke bawah dikit, sebelum garis batas hutan khatulistiwa. Empek-empek lenjernya aneh, ada serabut-serabutnya kayak bungkus rambutan. Menimbulkan sensasi gimana gitu yang bikin gue ngilu sendiri. Ini gue masih merem loh ya. Belum sadar betul benda apakah gerangan.


Payudara gue juga ada yang neken. Bayangin coba balon mlendung yang diteken sebuah papan bidang, pasti ngegganjel empuk-empuk gitu kan. Terus ada tangan keker ngelingker di badan gue. Eh apa? Tangan? Kok bisa ada tangan meluk gue? TANGAN SIAPA?


Gue buka mata. Ekspresi gue masih datar-datar aja. Di depan gue ada sepasang mata cokelat yang natap balik ke gue sama terkejutnya. Dia kedip-kedip sebentar. Pupilnya membesar dan jakunnya naik turun. Dalam hitungan ke tiga kami sama-sama teriak. "Aaaaa...!"


Ekpresi Kava sih yang paling ngakak. Polos banget kertas HVS aja kalah.


"Minggir, punya gue!" Kita rebutan selimut buat nutupin tubuh masing-masing. Gue kalah karena tenaga gue gak sekuat Kava. Dia lari keluar kamar cuma selimutan doang. Sementara gue nyomot bantal ala kadarnya buat nutupin bagian privat tubuh gue terus ngacir mengunci diri di dalam kamar mandi.


Cowok sialan! Kenapa gak mau ngalah, sih? Gue kan cewek, lebih butuh selimut karena aurat gue lebih banyak!


Gak kuat nahan malu, gue langsung menenggelamkan wajah ke dalam bak mandi yang udah gue isi airnya, berharap dinginnya air kran itu bisa membasuh ******** gue, eh salah, maksudnya ke-MALU-an. Ya itulah pokoknya.


Aduh-aduh, ini kenapa sisa-sisa rasa empek-empek lenjer masih menempel di dekat hutan khatulistiwa gue? Harus gue basuh pake air zam-zam sama tanah tujuh kali.


Udah sejam gue sabunan di dalam bathup. Sumpah, gue gak berani keluar kamar mandi. Tolong sewakan pembunuh bayaran biar gue koit sekalian. Lebih baik gue koit atau minimal amnesia lah daripada menanggung malu seberat dosa Dajjal kayak gini.


Tapi tolong ya, pembunuh bayarannya minimal secakep Lee Min Ho atau Ji Chang Wook biar gue bahagia dikit saat menghembuskan nafas terakhir. Dan juga jangan ditembak, nanti lama koitnya. Ada bolongan bekas pistol gitu di tubuh gue, kan jadi jelek ntar kalau arwah gue gentayangan. Jangan dilempar dari tebing juga. Remuk ntar muka gue yang cantik aduhai ini. Rugi kan skincare mahal-mahal. Dikasih racun aja kali ya? Sakitnya bentar terus dead. Paling gue cuma biru-biru doang kayak kartun India, Little Krisna. Lucu juga tuh.


Lagi asyik-asyiknya mikirin skenario pembunuhan yang estetik, pintu kamar mandi gue digedor. Padahal posisinya gue masih mandi air mata.


"Siapa?" gue tempelin kuping gue di daun pintu.


Kirain yang bakalan menyambut gue adalah suaranya Kava. Teryata bukan.


Indera pendengaran gue langsung disambut suara teriakan dan gedoran tanpa henti di daun pintu. Gak cuma satu orang tapi bejibun. Kayaknya kegiatan ronda satu RT jadi pindah ke kamar gue. Nada bass kicauan bapak-bapak, ditambah cemprengnya suara kentongan dan suling sunda, memojokkan gue untuk segera membuka pintu. Bahkan mereka ngancem bakalan mendobrak pintu kalau gue gak segera keluar.


Apa-apaan coba ini? Belum kelar ******** gue - maksudnya ke-MALU-an gue - sekarang ada satu masalah lagi yang menghadang. Perasaan gue bukan anggota DPR, kenapa mau dikeroyok massa? Apa salah dan dosaku coba?


"Ibu sudah berbuat asusila disini!" suara Pak RT bagaikan vonis hakim gono-gini.


Jadi ceritanya gue digebrek sama bala-balanya Pak RT. Jamaah satu masjid lengkap dengan sarung abis subuhan, kupluk hitam putih, dan kentongan maling pada ngelirik ke arah gue. Mereka lagi giat-giatnya menyusur keamanan dan ketertiban daerah sekitar. Sambil bawa-bawa dalil Pak Ustad, mereka gak akan mentolerir ada pasangan mesum kumpul kebo di daerah sekitar mereka. Makanya mereka suka razia penginapan dadakan kayak gini. Takut kena azab kalau membiarkan perzinaan terjadi, gitu katanya. Padahal siapa yang zina? Gue kan niatnya cuma nolongin Kava doang, zina dari mana?


Lagian Kava ngapain gegoleran di depan pintu cuma pake selimut doang? Bajunya belum dipake lagi. Mana mukanya melas gitu kayak perawan abis diperkosa. Waktu Pak RT naik ke lantai dua kan jadi langsung dicurigai. Sekarang kita ditodong buku nikah buat membuktikan kalau gue sama Kava gak lagi kumpul embek.


"Ada hubungan apa kalian?"


"Lah bukannya Ibu sama anak?" gantian Kava yang klarifikasi. "Kita suami istri, Pak."


"Mana buku nikahnya?"


"Em.. buku nikah ya, Pak? Ada Pak di Jakarta. Saya ambilin dulu ya Pak nanti saya ke sini lagi?" Gue lagi mencoba berkompromi. Dari pada gue diarak satu kampung terus dikawinin paksa, mending gue pura-pura udah sah sama Kava. Lagian, kalau gue jujur apa iya dipercaya? Hidup itu harus solutif.


"Nanti kamu kabur gak balik lagi!" Pinter juga Pak RT. Gak mempan dikibulin.


"Jaminannya dia deh Pak," gue nunjuk Kava. "Saya ikhlas Bapak mau ngapain dia kalau saya gak balik."


Bibir Kava langsung mengerucut protes, "Kok saya, Bu?!"


Gue langsung melotot memperingatkan dia bahwa panggilan ibu itu tidak lazim digunakan dua insan yang lagi ngaku-ngaku jadi suami istri.


"Bu?" alis mata Pak Rt melengkung curiga.


Kava langsung ambil sikap. "Iya, ibu dari anak-anak saya Pak RT." Dia cengengesan sendiri menikmati halusinasi yang lagi memenuhi kepalanya. Gak nyadar cengkeramannya di ujung selimut mlorot. Keliatan deh itu empek-empek lenjer. Untung di sini isinya bapak-bapak semua. Kok untung sih? Gue kan juga jadi ikutan liat. Aduh panas pipi gue.


"Cinta?" Kava meminta persetujuan gue. "Kamu masih nyimpen nomor penghulu yang nikahin kita? Coba telepon biar bapak-bapak ini percaya."


"Gak, sayang." Gue balas pakai kedipan.


"Aku langsung tremor denger kamu manggil sayang." Kava segera bertindak mengamankan situasi. "Jadi gini, Pak. Sebelumnya saya mohon maap. Kami masih pengantin baru, kalau bapak butuh bukti besok sebelum check out saya tunjukan. Soalnya istri saya ehm lagi hamil."


Dia kemudian bernegosiasi dengan alasan bumil aka gue lagi ngidam aneh-aneh sampai gak ngebolehin dia aka suaminya pake baju. Pokok segala alasan dia kemukakan dengan rumusan 'no one excuse ibu hamil' yang gak disangka-sangka berhasil mengelabui orang-orang ini.


Kava jereng deretan giginya yang rapi itu, kayak puas banget dia ngedrama pasutri sama gue. "Begitu Pak ceritanya. Mohon dimaklumi, ya. Ini pengalaman pertama saya ngurusin bini hamil, mohon bimbingannya."


"Oalah, lagi isi toh!" Para bapak-bapak itu langsung berubah ramah seketika. Gue acungi jempol deh sama kemampuan Kava bernegosiasi, pinter banget dia menyelesaikan kesalahpahaman ini.


"Emang suka gitu kalau istri lagi isi. Maunya aneh-aneh. Saya kira tadi pasangan mesum. Gimana, susah ya jadi calon bapak yang istrinya ngidam aneh-aneh? Cerita sini, saya banyak pengalamannya." Celutuk Pak RT.


"Laki-laki tuh begini, sayang sama istri. Kita sebut saja dia si tampan dan pemberani." Lah, Kava malah dirangkul sama para bapak-bapak itu sambil dipuji-puji. Diajakin ngopi, main gundu, sambil cerita masalah perbinian, peranakan, dan perburungan. Tentu aja dia dikasih waktu buat berpakaian dulu.


Akhirnya selesai juga drama penggrebekan ini, iya cuma begini doang, Kita gak jadi diarak atau dibawa ke kantor polisi akibat kelihaian Kava meyakinkan mereka kalau kita beneran suami istri. Entahlah, gue bingung ini mau ketawa atau pasang muka sedih.