
Sampai sejam kemudian, gue masih kepikiran dong. Selain dingin, Sandi nampaknya tipikal cowok keras dan dominan. Gue sanggup gak ya ngadepin dia. Taunya belum jalan sehari gue udah kena mental breakdance.
"Lagi ngelamunin apa, Bu?" kegiatan day dreaming gue diganggu oleh cengiran Kava yang udah nangkring di kursi depan gue dengan gaya nongkrong ala wartegnya.
"Kamu ngapain di sini?" Gue mengerutkan dahi.
"Disuruh Pak Cahyo, Bu." jawabnya santai.
"Hah? Jangan bilang kamu yang ditugaskan disini?"
"Hehe.. Iya, Bu. Saya ditugaskan jadi abdi Ibu dulu untuk sementara. Emang ya Bu yang namanya jodoh tuh gak akan kemana." Kava jereng gigi.
Gue speechless. Kepala gue jedug-jedugin di meja. Bilang ini hanya mimpi! Bilang gue cuma mimpi, please!!
"Bu, jidatnya kurang jenong ya? Itu udah bisa buat landasan pesawat terbang loh!"
Gue langsung berhenti jedugin kepala. Bukannya kebangun dari mimpi malah dapat benjolan di kening.
Jadi, gue bakalan stuck sama makhluk jadi-jadian ini sampai waktu yang belum ditentukan? Oh, tidak. Balikin aja gue ke perut Mama gue. Balikin!
"Kenapa tadi bengong?"
"Sandi." Gue menghela nafas kasar. "Tadi gue diamuk lagi waktu meeting. Maksud gue, kenapa cuma segini-gini aja hubungan kita? Kapan majunya? Kapan dia mau ngelirik gue? Paling gak kasih kek kesempatan untuk lebih mengenal gue, nunjukin ketertarikan atau apalah yang ada manis-manisnya gitu, bukannya tiap ketemu malah kena damprat mulu." Gue berkeluh kesah.
"Berat, Bu. Hubungan kedepannya gak jelas, pdkt juga masih anget anget tai ayam."
"Kava, gue serius ini!"
"Jangan mikirin Pak Sandi mulu, mending sama saya aja, jomblo, kece, ganteng, keren. Walau kadang sedeng tapi ngangenin."
"Kamu mau aku tumbalin proyek?" Dicurhatin juga, bukannya ngasih solusi malah promosi diri.
Kava makin ketawa. "Jadi ibu udah capek ngejar-ngejar Pak Sandi?"
"Bukan gitu." Gue buru-buru menepis. "Gue cuma kesel aja apa yang gue lakuin buat narik perhatian dia cuma jalan ditempat. Inget gak waktu aku nekat ngechat dia? Boro-boro dibales, dibaca aja enggak? Dua hari berturut-turut kena semprot, jangankan dilirik yang ada dia semacam dendam kesumat sama aku."
"Mundur aja, Bu. Daripada Ibu makin potek."
"Selain duit, gak ada alasan lain kenapa Pak Sandi begitu menarik di mata ibu?" Kava lagi bener ngomongnya. "Saya kalau jadi Pak Sandi pasti sakit hati, masa dari semua hal yang dimiliki ibu cuma lihat dari segi materi. Padahal Pak Sandi sendiri punya banyak sisi positif dalam dirinya yang gak kalah keren."
"Gue juga jatuh cinta sama Sandi kok. Gue terima dia apa adanya." Gue buru-buru ngeles.
"Cinta apa adanya. Ada perusahaannya. Ada rumahnya. Ada mobilnya." Sindir Kava.
"Daripada kamu? Mau apa adanya tapi ternyata gak ada apa-apanya!" Gue balas dengan berapi-api. "Sandi kalau gabut beli hotel, lah kamu? Paling banter ****** limaribuan."
"Yaelah, bu, cuma hotel doang, saya juga gak bisa." Kava selow aja gue hardik habis-habisan. "Jangan cuma ngarepin cowok tajir, bu. Mereka juga maunya sama cewek berkualitas. Kalo cuma buat 4646 doang kucing juga bisa. Kualitas diri naikin dulu."
"Kurang bagus apa kualitas hidup gue?" Gue gak terima.
"Pak Sandi kan belum tau, dan sekarang ini kesempatan ibu nunjukin kalau ibu emang mampu dan layak."
"Caranya?" Gue sangsi, masalahnya gue jadi susah percaya sama Kava. Sudah berapa kali coba dia bikin harga diri gue anjlok di depan Sandi.
"Sini saya kasih tau." Kava menyuruh gue mendekat. "Gak bisa ngomong keras-keras, ini rahasia."
Setelah ragu beberapa saat, gue lalu mendekatkan telinga. "Ngomongnya jangan deket-deket, gue gak budek!"
Kan gua udah bilang hari gini suara yg bisa dipercaya cuma Adzan, bukannya bisikan Kava yang gue terima melainkan kecupan singkat di pipi. Anjir, jantung gue berpacu dalam melodi.
Susah memang positif thinking sama ini makhluk, dan bisa-bisanya gue kejebak untuk kesekian kalinya. Otak gue yang cemerlang gemilang berkilau, jadi ngejeblak gara-gara kebanyakan bergaul sama Kava.
Tangan gue sudah terangkat setengah, namun dengan gesit Kava berhasil menahan sebelum tamparan itu kena mukanya.
"Sementara saya mikir rencana selanjutnya, gimana kalau kita jalan? Anggap aja sebagai pengalihan isu?"
"Bisa gak orang kayak kamu kalo napas ditahan aja gak usah dihembuskan lagi?"
"Mati dong saya?"
"Ya biar aja punah!" Pokoknya gue ogah dikadalin lagi. "Gue gak butuh pengalihan isu, tugas kamu cuma satu. Kawal aja gue sampai jadi istri sahnya Sandi!"