Step On Me

Step On Me
Kinan - Layangan Nggak Mau Putus



Gue gak sudi ngelepasin Kava. Gue pelukin terus sampai dia batal pipis. Pokoknya gak bakal gue lepasin, nanti dia ngilang lagi.


"Saya gak punya jurus shunshin no jutsu, Bu. Gak bisa ngilang kayak naruto," Terang Kava. "Punyanya jurus jaran goyang icikiwir asolole." Huhu... seneng banget denger nyap-nyapannya dia lagi.


"Buktinya kemarin kamu ngilang gak ada kabar!" Gue makin eratin pegangan gue di pinggangnya.


"Kan udah pamit toh, mau nganterin Mizan berangkat Akmil."


"Nganterin kok berhari-hari gak pulang? Emang Jakarta-Magelang kayak Bumi-Neptunus jaraknya?" Sewot gue.


"Kemarin ada insiden, jadi pulangnya ketunda," Alasa Kava.


"Insiden apaan?"


"Saya diculik." Muka-mukanya gak bisa dipercaya.


Gue ketawa garing. Nyindir ceritanya. Siapa juga yang mau sama dia. Udah makannya banyak, kere, ginjalnya juga meragukan kalau dijual, kecuali kalau ada tante-tante gatel yang kesengsem sama Kava. Dia kan sekarang ganteng. "Siapa yang mau nyulik kamu?"


"Ada, Bu. Sejenis royco-roycoan."


Gue ngernyit. Ngomong apaan sih ni anak.


Kava ngejelasin lagi. "Ada ibu-ibu dokter lagi hamil muda. Katanya saya mirip-mirip suaminya yang tentara dan lagi nugas ke luar kota. Terus saya disabotase. Pipi saya diunyel-unyel sama tangan saya suruh ngusep-ngusep perutnya yang lagi mlendung itu. Namanya ibu-ibu ngidam masak saya tega nolak sih."


Alis gue langsung menukik tajem. "Cantik gak?"


"Gimana ya?" Kava liatin genteng.


Gue ngegas. "Cantik gak!"


Dia nyengir. "Lumayan sih, Bu. Tapi masih cantikan Bu Okta kok. Tenang aja."


Langsung gue jambakin rambutnya. "Hiiish... genit kan!"


Kava menyelamatkan diri. "Posesif amat? Pacar juga bukan."


Gue langsung pelototin dia. Pakai ajian bola-bola mata sapi Nyi Blorong.


"Jadi Ibu udah mempertimbangkan jadi pacar saya?"


"Bilang gak siapa namanya? Cepet kasih tau aku siapa emak-emak jablay itu?" Gue ngancem sambil narik kerah lehernya Kava.


"Ada deh pokoknya." Kava berlagak ngitungin lubang sarang tawon di langit-langit.


Makin gue tarik kerahnya. "Namanya Kava! Siapa namanya?"


"Em... siapa ya?" Dia pura-pura amnesia. "Pokoknya sejenis royco-royconan."


"Ajinomoto?" Tebak gue.


"Bukan."


"Masako?"


"Bukan, Bu."


"Miwon?"


"Satunya lagi." Malah ngajakin permainan tebak kata.


"Sasa?"


Dia diem. Gue dapet satu jawaban.


"Jadi namanya sasa marisa heyhey?"


"Itu Caca."


"Ish, awas aja sasa marica aku kirim santet onlen." Gue lepasin tangan gue dari kerah Kava.


Dia usep-usep lehernya yang abis gue aniaya. "Serem amat?"


"Aku orang Banten. Jangan main-main."


"Saya orang Banyuwangi."


"Gak nanya!"


"Gak nanya ya udah." Kita punggung-punggungan.


Gue nengok duluan. "Kenapa kamu resign? Kerja dimana kamu sekarang?"


"Aku tanya dimana?"


"Gak tentu, pokok nguli kesana-kesini yang penting ada duitnya."


Jangan harap gue percaya gitu aja. "Nguli kok pake kemeja rapi begini?"


Dia nyengir. "Sekalian tepe-tepe toh, Bu. Sapa tau ada cewek yang kesengsem sama otot-otot saya."


Gue timpuk kepala Kava. "Lucu? Hah?"


Kava langsung mingkem. "Gak."


"Ngomong jujur sama aku. Kamu beneran ada kerjaan atau enggak?" Gue beneran khawatir ini loh. Biar gimanapun Kava masih harus nangung satu mulut buat dikasih makan. Mana hari gini cari kerja itu susah. Dia malah main resign gitu aja.


"Kalau gak ada, Ibu mau ngerjain saya? Oke, saya mau, dikerjain semaleman juga gak apa-apa saya kuat!"


"Kava!" gue gregetan beneran. "Ini bukan saatnya bercanda!"


Liat raut serius gue, Kava gak jadi cengengesan. "Ada kok kerjaan. Masih bisa buat makan tiga kali sehari, bayar utang buat masukin Mizan ke tentara, nyekolahin Lantang sampai lulus kuliah, sama nafkahin Bu Okta kalau emang Ibu mau."


Tuh kan, susah bener diajak ngomong serius.


"Emang kamu kerja dimana?"


"Di kantor."


"Kantornya siapa?"


"Kantor orang."


"Ish, bisa serius dikit gak sih?"


"Ibu ini nanya, udah saya jawab loh. Marah-marah mulu saya kan jadi bingung gimana ngasih taunya." Dia protes.


"Terserah kamu ajalah, nanti kalau kamu butuh duit bilang aja. Nanti sambil aku cariin link lowongan kerja, kamu lebih suka kerja di lapangan apa di kantor?" Gue menambahkan. "Tapi masa kamu balik jadi kuli lagi sih, Kav? Ini beneran gue nanya, kamu balik kerja di proyekan lagi ya?""


"Ibu malu ya saya jadi kuli?"


"Bukan gitu, kalau nemu kerjaan yang enak ngapain cari yang susah sih?" Gue ajak dia berlogika.


"Buat saya nguli bukan kerjaan yang susah, malah menantang buat saya. Kalau kerja di zona nyaman terus kapan saya kayanya? Ibu kan demen yang krezi rich krezi rich gitu."


Gue berdecih. "Buat apa SK-II kalau cuma bikin bruntusan."


"Hah? Eskeitu? Es batu?" Kava gak paham.


Gue geleng kepala. "Gak, lupain aja." Terus gue balik pelukin Kava lagi. "Aku kan gak tega liat kamu nguli. Mana kerjanya berat tapi gaji gak seberapa, iya tau resiko pekerjaan tapi kamu kan bisa dapat yang lebih dari ini. Bukannya aku malu atau gimana-gimana, cuma aku gak tega aja."


Bukannya ditenangin, gue malah dicengin. "Gini ya rasanya punya bini? Sampai dikekepin mulu lakinya pengen kerja gak dibolehin."


Gue cubit perutnya. "Iiih, bisa serius gak sih?"


"Iya iya. Tenang aja, ngulinya saya beda sama kuli-kuli yang lain. Kan ngulinya saya ngulik-ngulik nafkah buat Ibu. Saya jamin Ibu masih bisa makan daging tiga kali sehari, ke salon tujuh kali seminggu, dan skidipapap tiga puluh malam dalam satu bulan."


Keren amat marketingnya, hampir aja kepincut. Eh, udah kepincut ding. Gue jewer bibir Kava, "Mulutnya!"


"Jangan ditarik, mulut saya cuma satu soalnya. Begitu juga hati saya, cuma satu buat kamu." Kava mengedipkan mata.


"Janji ya gak pergi-pergi lagi?" Gue kesengsem.


"Aku pergi kalau kamu..." Kava menggantung kalimatnya.


"Kalau aku selingkuh? Kalau aku tua?"


"Kalau gajah udah bisa cebok pake gayung."


Gue raup wajahnya. Ini anak sedetikpun gak bisa serius. Tapi gue kadung sayang banget gimana, dong? Beneran jatuh cinta sejatuh-jatuhnya pada laki-laki ini.


TAMAT


**


Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai tamat, tapi jangan khawatir kalau pengan tau lebih banyak kisah Kinan dan Kava boleh dilanjut di ********** (Bisa dibaca mulai Bab 20-21 ya) Serunya lagi, kalian yang mungkin tadinya pro Bu Okta nanti jadi berbalik kesel sama Kava. Gak percaya? Mampir dulu aja, dan buktikan gimana rasanya hati yang diaduk-aduk.


Kalian yang sudah menjajal lapak ********** boleh komen disini dong untuk berbgai testimoni, hehehe.


Oh iya lapak ini gak akan di hapus seperti Crush ya, jadi masih bisa dibaca-baca lagi kalau kangen, Byee see you again in another lapak!! 💃💃