Step On Me

Step On Me
Win-Win Solution Katanya



"Nih, pesenan kamu! Puas?" Gue buka tutup laperware itu di depan muka Kava. Udah gue tebak, wajahnya langsung sumringah begitu bau khas kemangi menguar menggelitik hidungnya.


"Apa ini? Opor ayam ya?"


"Hmm."


"Wih sudah pinter masaknya?" Kava ngendus-ngendus kotak bekalnya.


Kita lagi ada di rooftop kantor yang disulap jadi semi working area. Memanfaatkan seni modern tropis, atap perusahaan ini didekorasi sedemikian rupa menjadi perpaduan antara tempat yang pas untuk nongkrong sekaligus bekerja. Mengadopsi konsep interior yang diselaraskan dengan kebutuhan relaksasi pikiran manusia setelah jenuh bekerja, rooftop ini adalah tempat yang paling banyak dicari para karyawan yang mulai penat dan bosan akan pekerjaan. Ada juga yang diem-diem ketemuan sambil tukeran nomor HP. Malah pernah ada adegan *****-******* sebelum dipasang kamera CCTV.


Jangan mikir macem-macem dulu, gue sama Kava lagi ngomongin masalah kerjaan. Bukan kencan berdua.


"Gimana? Enak gak?" Pandangan gue gak lepas dari gerak bibir Kava yang mulai menyerutup sajen kuah kuning itu. Kenapa gue jadi deg-degan gini menanti penilaian Kava?


"Uuuuasin pol, Bu. Kebelet kawin ya?" Mulut bilang asin, tapi ayam dilahap habis seolah-olah gak ada yang aneh sama rasanya.


"Iya, kebelet kawin sama Pak Sandi," ujar gue menanggapi.


"Pak Sandi udah tiap hari kawin, Bu."


Mata gue langsung memincing. "Maksudnya?"


"Becanda, bu! Serius amat kayak Pak Penghulu." Dia ngeluarin ekspresi jahilnya.


Kurang ajar emang, gue udah hampir jantungan ini loh! Kirain dia punya pacar, atau kalau enggak celap-celup sama daun muda. Ulat kali ah?


"Udah belum makannya? Sekarang bilang ke aku gimana caranya biar Pak Sandi terkesima sama kerjaanku. Kamu tau sendiri kan aku habis disemprot di rapat kemarin? Katanya kamu punya ide?"


Gue bela-belain bikin opor dari subuh sampai tangan kuning semua ya demi ngejar ini. Awas kalau usaha gue jadi gak ada faedahnya.


"Sabar dong, Bu. Ini aja makannya belum habis. Liat, masih separuh nih nasinya. Atau Ibu mau suapin saya aja. Aaa..." Kava mangap sambil majuin mukanya ke gue.


"Mingkem." Gue pelototin tuh orang.


Tapi Kava maksa. Malah dia udah mindahin sendoknya ke tangan gue. Semena-mena banget.


"Saya punya ide loh, Bu. Dan Pak Sandi udah approve. Win win solution buat ibu, tapi suapin dulu, aaa..." dia membuka lagi mulutnya lebar-lebar.


Sialan, gue gak ada pilihan lain kan? Dasar Kava, marketingnya pinter banget. Pantes aja disayang Sandi, setiap kali ngejar tender proyek pasti dapat gak pernah gagal. Berarti bukan gue yang goblok karena gampang kemakan bujukan rayuannya?


Satu sendok nasi penuh dengan suwiran daging ayam dan bawang goreng siap meluncur ke mulutnya. O iya, jangan lupa lalapannya. Aaaa emmm... Kava ngunyah dengan riang. Gue berasa jadi emak-emak yang lagi nyuapin bayi gede.


"Nyos banget enaknya kalau makan disuapin Bu Okta. Besok-besok lagi ya?" dia ngoceh gak jelas dengan mulut penuh makanan.


Tapi gak ngefek. Kava masih memamah biak dengan cengiran bahagianya itu tanpa tersedak sama sekali.


Suapan demi suapan masuk ke mulut Kava. Sampai-sampai gak sadar nasi udah habis. Bibir tebel Kava belepotan minyak. Tangan gue gatel banget pengen ngelapin. Tissu mana ini tissue? Gak ada tissue, pakai tangan aja.


"Ibu gak takut kotor apa tangannya?" Ucapan Kava bikin kesadaran gue kembali.


Ya ampun! Apa yang baru aja gue lakuin? Gue langsung ngibrit ke wastafel, nyalain keran air terus cuci tangan pakai sabun. Kinan, lo beneran harus dirukiyan deh. Kayaknya ada jin iprit yang singgah di badan lo.


Tapi btw, bibirnya Kava lembut juga ya? Kenyal-kenyal alus gimana gitu. Dahlah, lupakan.


Gue balik badan dengan kagok, sekali lagi menghadapi Kava yang lagi mode kekenyangan dan senderan santuy-santuy.


"Hari sabtu ini ikut saya ya bu?"


"Kemana?"


"Survey lokasi."


"Lo ngajakin gue ke proyek? Ih males banget." Gue mencibir.


"Suudzon mulu?"


"Gak bisa gue, minggu ini mau pulang kampung. Jumat malam berangkat sampai minggu baru balik." Kata gue, gak ada yang urgent sih cuma gue emang lagi kangen rumah. Sudah 3 bulan gue gak setor muka ke bokap nyokap, takutnya mereka lupa sama anaknya ini.


"Ke Banten?" Pertanyaannya gue balas dengan anggukan. "Rumahnya di sebelah mana, Bu?"


"Banten itu luas tapi gak perlu Kava tahu dimana tepatnya kampung halaman gue.


"Oke, berarti dipending dulu acaranya." Kava mutusin sendiri


"Acara apa?"


"Acara nikahan kita." Alis Kava naik turun.


Gue dongkol asli.


"Eh ide lo apa tadi?" Gue nagih omongan Kava yang tadi. "Kata kamu win win solution? Berarti menguntungkan dong buat aku?"


Mengabaikan pertanyaan gue, Kava malah ngeloyor pergi sambil megangin perut. "Saya kebelet, duluan ya bu!"