Step On Me

Step On Me
Cupid Asmara



Tiga puluh menit sudah gue nungguin Kava. Harusnya gue udah leha-leha di rumah menikmati secangkir teh chamomile, kacang almond, dan drama korea. Tapi gara-gara cecunguk satu yang gak tahu diri itu gue masih harus celingukan ke sana kemari di depan kantor.


Gue : Aku samperin aja. Kamu dimana?


Kava Marketing : Gak usah bu, makasih tawarannya.


Gue : Mau dicolok lagi idungnya?


Kava Marketing : Bilang dulu. Jemput sini dong, Kava ganteng.


Gue : Bukan aku yang jemput kamu, tapi malaikat izroil!


Kava Marketing : Ibu diem di situ saya yang kesana.


Gue : Banyak orang gini. Tunggu di parkiran belakang aja.


Kava Marketing : Kalau ibu nunggunya di parkiran belakang, batal aja bu.


Hish! Sekate-kate ini orang kalau ngancem.


Gue : Ya udah buruan. Keburu rame orang.


Kava Marketing : Saya suruh pelan-pelan tapi ibu suka yang gusra-gusru.


Kava Marketing : Gak papa deh, saya kadung berkomitmen buat nyenengin mami gulaku tersayang


 


Daripada darah gue makin tinggi, chat Kava gak gue bales lagi. Sabar Kin, sabar... demi meraih sesuatu yang tinggi emang jalannya gak mudah. Kudu rela bersusah-sudah dan tahan banting agar kelak gue bisa menjadi Nyonya Sandi yang gemilang.


Kava dateng dengan motor bututnya di saat pintu depan lagi penuh dijejalin orang-orang yang mau balik kantor. Otomatis, keberadaan kendaraan yang suara mesinnya bikin kutu telinga pada tepar dan asep knalpot yang membumbung keluar meracuni bumi itu jadi pusat perhatian. Dengan gak tau diri, Kava berhenti di depan gue, bunyiin klakson, terus naikin kaca helmnya.


"Bu Okta, ayo!"


Shit! Semua mata jadi tertuju ke gue. Kava apa-apaan, sih?"


Gue nutupin muka pake tas sebelum ngacir ke boncengannya. "Udah cepet jalan!"


Gue gak mau ya besok ada rumor aneh-aneh di kantor. Mau ditaruh dimana muka gue kalo digosipin sama knalpot resing ini.


"Dipake dulu helmnya, Bu. Nanti disemprit pak polisi." Masih dengan muka songongnya lelaki itu menyodorkan helm coklat yang selalu ready di jok motornya. Itu pengaman kepala emang khusus buat gue ya, gue larang siapapun make biar rambut gue gak ketularan bau.


"Ribet!" Baru mau gue ambil, tangan Kava lebih cepet. Dia makein helm itu ke kepala gue sampai terdengar bunyi klik.


"Pengaman itu penting, Bu. Kalau bocor nanti jadi anak." Dia terkekeh sambil mengembalikan posisikan diri menghadap kemudi motor. "Nah gini kan cakep."


"Naik beat dimana cekepnya?" Dengus gue.


"Gak beat gak sweet, kakak."


Gue cuma bisa dengan desisan kecil. Duh, susah banget sih naik motor ini. Gue sampai harus pegangan bahunya dulu buat nangkring. Tapi ngomong-ngomong, bahunya kekar juga ya. Apakah kabar yang lain juga sama kokohnya?


"Dont duduk jauhan gitu, bu, because so dangerous for you nanti you terjengkang terpelatuk dan terjatuh dalam luka dalam, nanti saya yang repot."


Karena ogah bersentuhan jadi gue tarik ujung jaket barunya. Kemarin gue beliin via online, sebagai ganti jaket lama dia yang udah gak karuan baik warna dan bentuknya. Gue tuh gak bisa ngeliat Kava dengan tampilan lusuh bawaannya pengen gue urus mulu.


Apa? Bacanya pelan-pelan biar gak salah paham. Yakali gue rela dijemput cowok jelmaan jamet. Halu boleh, goblok jangan.


"Awas, saya mau ngebut nih, ibu pegangan yang kenceng!" Lagi-lagi si burik cari kesempatan. "Kalau gak kenceng motornya gak jalan sampai besok,"


"Ini udah kenceng!" Gue ilang kesabaran. Anjlok sudah pasaran gue begitu banyak karyawan yang ngeliat gue dibonceng naik kaleng rombeng, sama Kava lagi.


"Bukan gitu, Bu." Kava narik tangan gue dan dipaksa melingkar di pinggangnya. "Nah, gini baru bener. Inget Bu, pengaman itu penting kalau gak mau kebobolan."


Seandainya tangan gue gak dikunci, udah gue jitak helmnya. "Buruan gas!" Gue mengerang sebal.


"Siaaap!"


Kami pun melaju menerobos jalanan padat ibukota, dengan lihai motor yang dikemudikan Kava meliuk-liuk diantara mobil-mobil yang terjebak macet.


"Kita mau kemana, sih?" suara gue terbang-terbang tertiup angin.


"Ke pelaminan, Bu?"


"Kamu ngomong apa berak?" Tangan gue tarik dari pegangan Kava sebelum gue tambahin gini. "Jangan lewat jalan muter, nanti keburu hujan!"


"Cewek gak pernah tau asyiknya pacaran naik motor sambil hujan-hujan, padahal romantis tau, bu. Cowoknya nyetir ceweknya kesamber petir."


"Kalo cowoknya kamu jadinya bukan romantis, tapi ironis." Bales gue ketus.


Tapi Kava anteng-anteng aja. Gak ketrigger sama sekali.


"Kava potong rambut dong." Gue tarik-tarik ujung rambutnya yang menyembul dari balik helm. Gak suka banget cowok gondrong, kata gue jadi mirip Caca Handika.


"Biar apa potong rambut?"


"Ya biar cake...ehm rapi." Gue berdehem sekali. "Peraturan di perusahaan kan jelas, rambut karyawan laki-laki harus pendek dan rapi."


"Mau bilang ganteng aja gengsi."


"Dih, gantengan juga mantan aku."


"Iya udah masih gantengan mantannya ibu dikit, tapi banyakan saya."


"Bahas potong rambut aja, jadi kemana-mana, sih?" Gue memutar bola mata. "


"Bu, saya minta makan dong!" Kava mulai berulah. "Kalau gak dikasih, saya mengundurkan diri jadi cupid asmara ibu sama Pak Sandi."


Gak tau malu bener genderuwo satu ini. But, it's okay. Cuma sepiring makan gak akan bikin gue bangkrut.


"Ya udah kita mampir dulu beli makan. Terserah dimana."