Step On Me

Step On Me
Chef Dadakan



Gue kira Kava bakalan berhentiin motor bututnya di McDonald, atau apalah itu yang sekali makan setara sama UMR ibu kota. Siapa tau kan dia aji mumpung ada gue yang bisa dirampok.


"Loh, ini kan apartemenku?" Gue cengo sendiri waktu Kava dengan tanpa dosa ngacir masuk ke parkiran underground apartemen gue yang isinya mobil semua.


"Ngapain ke sini Kav?" Gue nanya lagi setelah dia matiin motornya.


"Makan, Bu. Kan saya minta makan," jawabnya enteng sembari melepaskan helmnya sendiri.


Gue ikut ngelepasin helm. "Makan mah di restauran. Ngapain kesini?"


"Ibu aja yang masak," Dia mulai ngadi-adi.


Mataku melotot, "Kamu mau dapur rumah saya kebakaran?" Gue kan gak bisa masak. Sayang dong sama nail art cantik aku, buat cebok aja gue ngati-ngati banget ini malah disuruh pegang pisau.


"Ayok, Bu. Saya udah laper ini!" Dengan seenak udel, Kava gandeng tangan gue terus bawa gue naik lift ke lantai lima. Dia pikir ini rumahnya? Gue aja yang punya rumah ogah nampung dia.


"Aku kan bilang gak bisa masak. Daripada kamu keracunan mending kita pesan makan diluar!" Gue masih berusaha melepaskan genggamannya.


"Saya maunya Ibu yang masak." Dia makin keras kepala.


Pintu lift terbuka. Apartemen gue cuma di ujung sana.


"Udah dibilangin aku gak bisa masak!"


Itu telinga apa tempurung kura-kura? Kurang jelas apa lagi kalimat gue?


"Ya udah saya pulang aja. Nggak jadi saya bisikin info tentang Pak Sandi." Kava udah balik kanan, tapi sebelum maju jalan, gue buru-buru menghadang jalan.


"Ya udah ayo masuk! Tapi aku nggak tanggung jawab kalau kamu masuk rumah sakit!"


Gue masuk rumah sendiri dengan mengendap-endap kayak maling. Secara kan gue tinggal gak sendiri. Semoga aja penghuni lain gak pada shock gue mulung genderuwo kelaperan.


"Ngapain Bu ngendap-ngendap. Ibu mau culik saya, ya?" suara Kava memecah konsentrasi gue.


"Mulut kamu belom pernah ditampol pake papan karambol?" Gue pelototin dia.


"Ditampol kenyataan sih sering, Bu. Lebih sakit." Dia malah curhat.


Kalimat Kava gak gue gubris. Gue sibuk celingukan cari tanda-tanda kehidupan dengan menghitung jumlah sepatu dan sandal di rak. Oke, kayaknya aman. Gea dan Nay belum balik, cuma ada sepatu pink norak punya Jelly.


Kebetulan deh, gue gak perlu repot-repot jawab pertanyaan tentang kehadiran jelangkung tak diundang ini. Kalau Jelly mah bisa gue kondiskan. Untung itu anak berat ditete doang otak ringan dijinjing.


"Jell!!" Gue teriak tapi gak ada jawaban, terus gue chek kamarnya. Ternyata dia lagi livestreaming sambil bergaya gak jelas didepan kamera handphonenya.


"Ayo satu lagi, bun, motif bunga lingkar dada 132 cm ini aku kasih 125 ribu oke kalau fix kodenya bunga 35 ambil cepet ya, bun, bentar aku skrinshutt!" Jelly berceloteh penuh semangat.


Gue geleng kepala, ini anak bener-bener serius dengan ucapannya untuk hidup mandiri. Dia gak mau lagi minta duit seperserpun ke bokapnya, its a good thing, right?


Ngomong-ngomong soal Kava, itu anak dengan sembarangan ngelepas jaketnya terus nyalain TV. Dia duduk gak pake adab, kakinya ngangkang lebar-lebar. Aduh, aduh, tonjolan apa itu di sana.


Ngaceng gitu kayak knalpot traktor.


Hello, sadar diri Kinan!


Gue pergi ke dapur, membuka kulkas hanya untuk menemukan emm... tidak ada bahan makanan.


Jelly si beban keluarga memang gak bisa dihandalkan, disuruh belanja disupermarket malah bikin konten. Pulang-pulang bukannya bawa bahan masakan malah bawa sampah endorsan.


"Saya tunggu di sini ya, Bu! Pelan-pelan aja kan belum terbiasa. Nanti sakit," teriak Kava dari ruang tengah.


Sakit apa coba? Gue gak ngerti jalan otaknya Kava.


"Kecipratan minyak sakit, keiris pisau juga sakit, nanti kalau nggak sanggup, bilang sama saya. Biar saya nyicil bimbing Ibu," Kalakarnya kemudian.


"Diem atau mulut kamu yang aku goreng!" Melihat kilatan marah di mata gue, Kava balik badan, konsentrasi lagi sama Upin Ipin yang sekarang udah punya rambut.


Setelah gue cek sekali lagi isi kulkas, ternyata di frezer masih ada frozen food yang bisa gue handle. Ada nugget dan juga sosis. Tinggal goreng selesai kan?


Meski mama gue punya katering tapi gue gak pernah belajar masak dari beliau, kalau cuma bikin omelet atau toast pake butter di pan sih gampang, ya.


Sesuai dugaan gue ternyata goreng goreng itu gak semudah itu pemirsah. Gue teriak panik sampai tiarap ke lantai gara-gara minyak panasnya terciprat kemana-mana. Mungkin wajannya habis dipake Jelly goreng ikan, pantas jadi liar gini.


"Aaaa... Kava tolongiiiin!" Di detik yang kritis itu, mulut gue cuma bisa manggil nama satu orang buat minta tolong.


Dan begitu Kava nongol, dalam sekejap dunia gue terkondisikan lagi. Ya gimana, aturannya dia yang jadi babu gue, bukan malah sebaliknya.


"Kalau mau goreng, apinya jangan gede-gede, kecil aja. Terus jangan dilempar. Dicemplungin satu-satu gini," Kava ngasih petunjuk sambil mempraktekan. Gak berapa lama, nugget sama sosis itu pun siap santap.


Sementara Kava nadahin ke wadah, gue ngecek tangan gue yang kena cipratan minyak. Tuh kan merah. Untung gak sampai berdampak pada luka bakar.


Kava genggam tangan gue lalu dibawa ke bawah wastafel. Air dingin yang mengalir bikin rasa panas di kulit gue memudar. Gue cuma berdoa semoga gak ada bekas lukanya.


"Gak apa-apa ini, nanti juga mulus lagi," Kava seperti tau pikiran gue.


"Beneran nih gak membekas?" Gue masih was-was.


"Iyalah. Kan gak akan ada yang membekas buat Ibu selain saya," lagi-lagi dia nyengir. Sebelum tangan gue ngegaplok kepalanya, dia lebih dulu kabur membawa hasil gorengannya ke depan TV.


"Bawain saya nasi ya, Bu!"


Dasar guguk.