
Tiga jam dua puluh tujuh menit lima belas detik tepatnya, gue nangis meraung-raung sampai eyeliner habis tak bersisa. Kava? Tuh anaknya lagi gue hukum berdiri dengan satu kaki di pojokan sambil jewer hidung biar mancungan dikit.
"Udahlah, Bu. Nasi udah jadi tumpeng. Buat apa ditangisin lagi?" Kava mencoba menghibur gue.
"Enak aja lo omong gitu!" Gue bentak dia, terus lanjut ngelapin ingus yang keluar. "Aku udah gak ada harganya didepan Sandi! Mau ditaruh mana ini muka, hah!"
"Ya taruh di situ, emang mau dimana lagi?" Sahut Kava dengan entengnya.
Memanfaatkan situasi dimana gue lengah dan gak memperhatiin, Kava menurunkan satu kakinya dan melepaskan jewerannya sendiri. "Jangan ngomong gitu, Bu. Harusnya harga diri saya yang hancur," celutukan cowok itu bikin darah gue mendidih.
"Kok jadi kamu?" Gue gak nyadar dia udah duduk di kursi depan gue.
"Gak inget apa, Bu? Resleting celana saya, siapa tadi yang nurunin? Saya harus gimana jelasinnya sama Pak Sandi?"
Gue kedap-kedip. Ini anak bisa-bisanya!
"Aku gak pernah nurunin resleting ya! Kamu aja itu yang bikin-bikin!" Jari telunjuk gue ngarah ke mukanya.
"Saya gak bisa bikin-bikin kayak gitu, Bu. Bisanya bikin yang lain. Em... bikin anak misalnya. Yuk, Bu? Kita bikin-bikin." Lagi-lagi, deretan giginya yang rapi itu dia pamerin.
"Hhh... Pokoknya aku gak mau tahu. Kamu harus jelasin sama Sandi. Aku nggak mau Sandi salah paham!" Kurang garang apa gue? Sampai Kava merem-merem kena damprat.
"Nyemprot, Bu," tegur Kava sembari meraup mukanya sendiri.
Hah, apa iya?
Gue berdehem terus balik duduk dengan elegan.
"Ibu tenang aja. Biar saya yang urus. Saya juga nanti yang jelasin kalau Sandi nanya macem-macem. Pokoknya semua aman, tentram, dan terkendali," Lagak Kava sok iyes.
Gue mencondongkan tubuh ke depan. "Emang kamu mau jelasin gimana?"
Dia langsung nyengir. "Mau tau aja atau mau tau banget?" Alisnya naik turun.
Kampret emang.
"Bilang gak?" Gue ngancem.
"Sun dulu, baru bilang," Dengan gak tau diri, Kava nepuk-nepuk pipinya.
Gue langsung begidik jijik, "Najis!"
"Ya udah kalau gak mau sun. Padahal dikit lagi berhasil."
"Berhasil dari mana? Gak liat tadi gue habis mempermalukan diri sendiri?"
"Lah tadi buktinya Pak Bos udah notice Ibu."
"Pak Sandi notice aku? Kapan?" Gue sampai majuin badan dengan tertarik.
"Harusnya ibu berterimakasih sama saya. Berkat kejadian barusan Pak Sandi jadi lebih mengenal Ibu. Dia sempat nahan ketawa, Bu. Mungkin mikirnya ibu ini lucu. Coba pikir, dari sekian banyak cewek di sekeliling Pak Bos, baru Ibu loh yang bisa bikin impresi tak terlupakan di depan Pak Bos."
Kava menjentikkan jarinya. "Ya jelas berfaedah lah, Bu. Kan Pak Sandi makin keinget Ibu terus. Itu pencapaian yang luar biasa loh."
"Oh gitu ya," gue mangut-mangut. "Terus habis ini aku harus ngapain?"
Kava menyenderkan punggung di kursi dengan tangan bersedekap dada. "Kalau mau dikasih tau, ada sajennya."
Emang setan ini anak.
Gue ikutan nyender di punggung kursi dan menyilangkan kaki. "Ck, banyak maunya. Kamu minta apa?"
Ujung bibir Kava langsung ketarik ke atas. "Kan saya udah bilang kemarin. Bikinin nasi goreng! Harusnya tadi pagi saya tagih buat sarapan tapi gak apa-apa saya kasih ibu kelonggaran 1 kali 24 jam."
"Ogah. Aku gak bisa masak!" Minta apa ajalah asal bukan disuruh ke dapur. Mending gue gesek kartu daripada suruh masak.
"Ya usaha dong Bu. Apa salahnya menyenangkan calon suami?"
Gue langsung majuin badan. "Sandi suka cewek yang bisa masak ya?"
Kava terlihat menghembuskan kasar. Dia memundurkan kursinya lalu berdiri. "Belajar di google, Bu. Nasi goreng udang pake telor setengah matang. Oke? Saya tunggu buat bekal makan besok ya."
Sebelum gue bisa menanggapi, Kava udah hilang di balik pintu sambil mamerin cengiran khas yang menghiasi pipi.
Haruskah gue masak beneran buat Kava? Kuku-kuku gue gimana coba? Bye bye kitty kita gak jadi hello.
Terus gue ngide. Aha, kan gue bisa beli terus pura-pura masak sendiri. Kan emang otak gue cemerlang banget dalam urusan akal mengakali.
Satu pesan masuk.
Kava Marketing : Saya pasti tau kalau ibu gak masak sendiri
Kava Marketing : Ketahuan beli perjanjian kita batal.
Lah, gimana caranya itu bocah udik baca pikiran gue?
Gue : Dari mana kamu tau?
Kava Marketing : Saya kan punya indra keenam.
Gue : Indra keenam gundulmu.
Kava Marketing : Kok ibu bisa tau kepala saya gundul?
Gue : Bacot sekali lagi aku block!
Kava Marketing : Oh kepala bawah maksudnya, Bu?
Gue : You number has been blocked
Biarin, nanti juga nyariin kesini kalau butuh. Kava sialan. Hhh... ngalamat masak beneran deh gue!