Step On Me

Step On Me
Pikir Dua Kali



Gue : Gimana?


Kava Marketing : Gimana apanya, Bu?


Gue : Nasi goreng buatanku.


Gue : Enakan mana sama masakananya onoh?


Kava Marketing : Onoh siapa?


Gue : Itu!


Kava Marketing : Itu siapa?


Gue : Yang suka masakin kamu.


Kava Marketing : Simbok warteg?


Gue : si ondel-ondel anaknya simbok warteg


Kava Marketing : Namanya Tasya.


Kava Marketing : Te-a-es-ye-a


Gue : Te-a-es-ye-a kan dibaca anjing


Kava Marketing : Bacanya Dek Tasya


Gue : Cie dek?


Kava Marketing : Panggil Mas aja. Saya kan lebih tua dari Ibu.


Gue : Your number has been blocked!


Kava Marketing : Alhamdulillah diblock cewek cakep


Kava Marketing : Lumayan bu nasi gorengnya.


Kava Marketing : Besok masakin opor ayam kemangi ya, Bu.


Gue : Ogah.


Kava Marketing : Eh lusa aja. Besok saya ke Semarang sama Pak Bos.


Kava Marketing : Tapi tenang nanti pulang tetap saya anter pulang.


Gue : Ya


Kava Marketing : Bu, doain saya besok ganteng, ya? Amin.


Idih, ini orang pedenya gak ilang-ilang.


"Apa, Mon?"


Suara agak berisik terdengar. Mungkin Moniq lagi antri periksa ke dokter. "Saya cuma mau ngingetin nanti Ibu ada rapat jam dua."


Oh iya. Bisa-bisanya gue hampir lupa. Berkas-berkas gue mana ini?


"Filenya udah saya print, Bu. Tapi masih di meja kerja saya. Ditumpukan map-map kuning ya, Bu." Tanpa disuruh, Moniq tau apa yang gue butuhin.


Gue buru-buru ngecek. "Yang satu bendel ini, kan?"


"Iya, Bu. Udah saya jadiin satu semua di situ."


Keren banget kan kerjaan sekretaris gue? Sakit pun masih ingat tanggung jawab.


"Oke, makasih ya Mon. Istirahat gih kamu!"


"Iya Bu, makasih." Kamipun menutup sambungan.


Rapat siang ini penting banget. Evaluasi kinerja masing-masing divisi akan dievaluasi. Apalagi per-enam bulan, yang mengevaluasi gak hanya Pak Direktur, tapi seluruh jajaran dewan dan direksi. Gue sebagai pimpinan divisi HRD harus mampu menujukkan kelihaian dan kemampuan gue menduduki posisi ini. Kalau kinerja gue bagus, bukan gak mungkin gue bakalan naik jabatan lagi tahun depan. Eh, tahun depan kan gue bakalan jadi Nyonya Sandi. Berarti gak cuma di depan dewan direksi aja gue harus unjuk gigi. Di depan Pak Sandi pun gue harus bisa menunjukkan bahwa gue itu wife material banget.


"Bu Kinan dari divisi HRD!"


Tibalah giliran gue yang jadi pusat perhatian. Pak Sandi ada di meja paling ujung, memincingkan matanya di depan layar komputer yang menampilkan grafik hasil penjualan beberapa bulan terakhir.


"Ya, saya Pak." Gue jawab dengan tegas. Sedikit takut sih aslinya. Barusan, manager marketing kena semprot habis-habisan. Penjualan empat bulan terakhir jatuh dengan sangat signifikan. Kondisi ekonomi global emang rada nggak sehat. Krisis monoter menggerogoti hampir semua aspek bisnis. Nilai rupiah jatuh, pasar modal merangsek, aktivitas ekomoni lumpuh. Sebenernya bukan salah karyawan juga, tapi nasib jadi budak korporat ya gini. Kalau perusahaan untung kita cuma kecipratan sisa-sisa perak, tapi kalau rugi bandar kita yang dimarahin habis-habisan. Makanya cita-cita gue gak cuma mau jadi karyawan, tapi jadi yang punya perusahaan. Untuk meraih itu, Pak Sandi adalah jalan pintas gue.


"Berdasarkan data yang masuk ke saya, selama kamu menjabat, banyak karyawan yang kinerjanya menurun. Pencapaian mereka semakin menyusut. Sinergi dan semangat kerjanya pun amburadul. Kita banyak sekali kehilangan sumber daya mumpuni. Mereka memilih mengundurkan diri dan bergabung dengan perusahaan lain. Jika begini terus, kita bisa kehilangan tenaga-tenaga ahli! Dari ribuan pelamar yang kalian rekrut juga kinerjanya belum terlihat. Sebenernya, kamu sanggup tidak bekerja pada posisi itu!"


Gue menelan ludah. Sumpah, Pak Sandi serem banget. Dia emang ganteng sih. Tapi tetep aja, bos gak akan jadi bos kalau gak bisa menunjukkan taringnya di depan publik.


"Iya, Pak. Saya minta maaf. Saya akan memperbaiki kinerja saya, Pak." Gue gak sanggup menatap langsung wajah Pak Sandi. Padahal tadi gue udah dandan mati-matian. Sambil mencoba jurus tatapan seribu rayu pula di depan cermin. Tapi begitu taringnya keluar, gue langsung mlingsep.


"Saya gak butuh maaf kamu. Saya butuh bukti. Bagaimana kamu bisa memperbaiki situasi ini?"


Pertanyaan tajam Pak Sandi langsung bisa bikin tenggorokan gue kering.


"Saya akan mengkaji lebih jauh lagi dan memperbaiki sistem ketenagakerjaan, Pak. Kami dari HRD juga akan menindaklanjuti dengan program-program pelatihan dan peningkatan kinerja karyawan."


"Cahyo!" Pak Sandi memanggil manager marketing.


"I-iya, Pak?" Suaranya sampai tergagap-gagap, padahal itungannya Cahyo ini manusia paling pede seantero jagat. Sandi emang paling bisa bikin anak buahnya ngeper berjamaah.


"Sebagai manager marketing tentu Anda tau jika divisi marketing adalah ujung tombak perusahaan kita. Saya mau Anda menugaskan satu orang untuk bekerja sama dengan divisi HRD menyiapkan program dalam rangka peningkatan mutu marketing kita. Silahkan lakukan apa saja. Pelatihan, gathering, kompetisi, semua biayanya akan ditanggung perusahaan. Yang saya mau, akhir tahun ini, grafik kita harus sudah ada peningkatan dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Mengerti?"


"Ya, Pak. Kami mengerti." Gak ada gunanya membantah, langsung diiyakan aja kalau mau selamat.


Rapat ditutup dengan raut wajah Pak Sandi yang membesengut. Kalau serem gitu kan, gue jadi mikir dua kali buat jadi Nyonya Sandi.