Step On Me

Step On Me
Diguna-Guna



Kebetulan salonnya berada di Mall, dan toko-tokonya juga belum tutup. Masih pukul 9, bisalah belanja sejaman.


"Ini saya mau dibawa kemana lagi, Bu?" Sengaja gue taruh Kava jalan di belakang. Habis make over, dia terlalu shining, shimmering, splendid. Silau sendiri gue liatnya.


"Cari baju," Gue jawab ketus. "Kamu harus plihin aku baju yang sesuai seleranya Pak Sandi. Ngerti?"


Gak ada jawaban.


Gue ulangi lagi. "Ngerti nggak?"


Masih gak ada jawaban, gue nengok ke belakang.


Lah, kok ilang.


Kampret, kenapa dia malah foto-foto sama cece-cece.


Melihat wajah gue siap nerkam orang, Kava buru-buru undur diri. "Eh, Bu Okta." Dia langsung dadah-dadah sama cece-cece yang barusan minta foto bareng dia. Dua cece-cece itu masih histeris macam liat Oppa Korea versi low budget.


 


Ya gak murah juga, sih. Gue lumayan merogoh kocek yang cukup dalam buat permakin dia sampai seglowing ini. Menurut gue semua cowok itu ganteng, tergantung ditangan siapa.


"Maaf, Bu. Tadi mbaknya ngajak foto," terang Kava.


"Terus kamu mau-mau aja gitu?" Gue menyilangkan tangan di depan dada.


"Jangan cemberut gitu dong, Bu. Ibu juga boleh foto sama saya pake background biru. Buat syarat ke KUA."


Gue berdecih. "Mending aku foto di Ragunan bareng monyet-monyet kutuan daripada sama kamu!"


"Bu Okta imut banget pake poni, jadi pengen  kantongin bawa pulang." Senyum Kava bikin gue salah tingkah.


Buru-buru gue balik badan. Ada apa sih sama jantung gue?


Undercut sialan! Gue jadi gak bisa lama-lama natap Kava dengan gaya rambut terkutuk itu. Lutut gue jadi slime.


"Yang ini, gimana?" Gue nyobain satu stel Pansuit berwarna pastel dan memamerkannya di depan Kava.


"Aneh, bu." komentarnya.


Gue mengernyit. "Aneh gimana?"


"Pantat ibu jadi kurang bahenol. Jadi aneh." Kan emang mulutnya gak pernah dididik.


Gue ganti tunjukin yang lain. Kali ini Blazer dengan belahan dada rendah.


Lagi-lagi Kava mengernyit. "Ibu mau kerja atau murel?"


"Maksudnya?"


"Gak usah pake beha sekalian, Bu. Nanggung."


Gue kepalin tangan ke depan mukanya.


Oke, ini udah outfit ke lima yang gue coba.


"Pak Sandi gak suka warna itu, bu. "


Gue menggeram. "Ya udah kamu pilihin sana!" Gantian gue yang duduk-duduk di sofa sambil nyeruputin starbuck.


Mata gue yang sedang melihat-lihat ruangan sekitar tiba-tiba berhenti pada satu kloset berisi kemeja-kemeja pria. Tangan gue gatel pengen nyomot satu dan nyuruh Kava pake. Yang itu tuh, warna abu-abu, pasti pas banget sama gaya rambut Kava yang baru.


"Ini, bu." Kava menyodorkan setelan blazer kotak-kotak warna merah jambu. Bukan yang ngejreng tapi lebih ke soft pastel.


"Gak, ya, Kav." Ngeri sendiri ngebayangin gue pake warna feminin itu, bukan gue banget.


"Pak Sandi suka pink."


"Kamu yakin?" Gue minta kepastian.


Dia ngangguk penuh semangat.


"Ya udah bungkus!" Gak mau ambil pusing, gue langsung bawa pulang aja baju pilihan Kava itu tanpa dicoba lebih dulu.


***


"Saya pulang dulu ya, Bu," pamit Kava begitu nganterin gue balik.


"Eh, tunggu dulu!" Gue nahan lengannya. "Nih buat kamu!" Gue sodorin setelan kemeja yang tadi sempet gue lirik.


Gosah nanya, gue juga gak tau kenapa tangan gue jalan sendiri ngambil kemeja yang gue nilai paling sesuai dengan tampilan baru Kava. Sumpah, gue juga gak tahu kenapa. Kayak ada kekuatan lain yang bikin otak gue gak berfungsi. Ingetin gue buat rukiyah ke Pak Ustadz besok.


"Apa ini, Bu?" Kava memandangi tas belanja yang gue sodorin itu.


"Udah diterima aja!" Gue maksa.


"Wah, Bu. Saya gak enak. Udah dibayarin salon, dikasih kemeja lagi. Ibu lagi demen cosplay jadi mami gula saya, ya?"


Bibir gue mendesis. "Udah ini ambil aja. Tangan gue pegel, nih!"


Kava menolak. "Makasih, Bu. Tapi itu kemahalan buat saya. Mending ditabung aja buat kita modal berumah tangga."


"Ishh bacot. Udah pulang sana! Aku engep lihat kamu. Bye!"


Gue taruh tas itu di motor bututnya terus gue tinggal masuk ke apartemen. Sempat gue lihat bayangan Kava yang terpantul dari kaca pintu masuk bangunan sepuluh lantai ini.


"Jam setengah delapan ya, Bu!"


Gue noleh. "Ngapain?"


"Besok saya jemput." Iyalah, percuma ganteng doang, kalau jemput cewek lain tapi bukan gue.


Kava ngasih kiss bye sebelum melajukan motornya.


Jangan senyum Kinan, jangan senyum!


Ini kenapa bibir gue gak bisa diperintah sih? Fix, ini gue diguna-guna.


Kedua orang tua Kava asli orang Banyuwangi, sedangkan gue dari Banten, kalau adu dukun entah kuatan mana gue gak tau, serem amat ya bahas goib-goib gini.