
Ketika gue membuka mata, gue mendapati Kava sedang komat-kamit diatas sajadahnya. Sepertinya lagi berdoa usai sholat. Gue lirik jam di layar hape, gila masih jam tiga pagi.
Kava memang rajin ibadahnya, setiap kali denger adzan langsung meluncur ke masjid. Mau serungsing apapun pekerjaannya saat itu pasti ditinggal. Katanya kalau akhirat dinomorsatukan dunia pasti mengikuti dibelakangnya.
"Sudah bangun?" Kava ngeliatin gue yang semaleman tidur mengusai kasurnya. Dia sendiri ngungsi entah kemana, ya tuan rumah emang harus ngalah gitu kan gue tamu disini.
Karena masih ngantuk gue gak nanggepin Kava, dan sebentar kemudian mata gue pun merem lagi.
"Turunkan seleranya Ya Allah, bismillah jodoh." Kava tau-tau niup ubun-ubun gue.
Gue melek lagi saking kagetnya, mana mukanya tepat berada diatas gue. "Kamu apa-apaan, sih?"
"Kebayang gak bu? Bangun tidur melek terus disebelahnya ada yang kayak saya?" Kava memandangi gue dengan tatapan dalam.
Gue gelagapan sebelum berusaha menjauhkan mukanya. "Minggir kamu."
"Jangan naksir Sandi, mending saya aja, jomblo, kece, ganteng, keren. Walau kadang sedeng tapi ngangenin."
"Sana minggir, aku mau lanjut tidur!" Gue usir dia meski ini kamarnya.
Kava cuma tersenyum sebelum meraih Al Quran mininya dan mulai membacanya di sebelah gue dengan sangat fasih. Suaranya bener-bener enak didengar, apalagi raut mukanya ketika menekuni kitab suci itu terlihat begitu adem dan menenangkan.
Damagenya busyet. Gimana gue bisa tidur lagi kalau begini caranya?
Gue beneran gak bisa memejamkan mata lagi sepanjang Kava melantunkan ayat-ayat suci itu. Sampai kemudian terdengar suara adzan subuh dari kejauhan, Kava baru mengakhirinya.
"Suara kamu bagus, cocok buat ngisi soundtrack tahu bulat." Maksud gue memuji, tapi ditambah hinaan.
"Saya kira yang lucu jokesnya eh ternyata kamu." Kava langsung mendapat tampolan guling dari gue.
"Mau ke masjid?" Gua tanya ketika Kava hendak beranjak dari sisi tempat tidur yang sejak tadi di dudukinya.
"Ikut?"
"Gak bawa mukena." Alasan bae gue.
Kava tersenyum pengertian, dan sebelum pergi, dia sempetin mengusap kepala gue. "Izin shalawatin kamu yah, maaf kalau saya lancang."
***
Dapur kontrakan Kava lagi rusuh, tentu saja karena gue penyebabnya. Meski berantakan gitu, tapi gue cukup seneng karena masakan gue akhirnya jadi, tadah!
"Nanti aja, hehe masih kenyang." Lantang seketika menolak nasi goreng buatan gue.
Ganti gue melirik Mizan yang sudah bisa ditebak reaksinya. Dengan sinis dia berkata. "Kalau pengen kita langsung mati beliin potas aja, jangan nyiksa orang dengan makanan gak jelas gini?"
"Aku mau beli pecel di Kak Tasya. Nitip gak?" Lantang nawarin tanpa beban.
Mizan dan Lantang ini kalau ikut lomba mirip-miripan setan, pasti setannya juara tiga.
Gue pengen marah aslinya, capek-capek gue masakin sarapan buat mereka tapi malah dipandang remeh. Belum sempat gue buka mulut, Kava sudah duluan jewerin kuping adik-adiknya itu dan nyuruh mereka makan tanpa banyak protes.
"Habisin, kalau sampai gak habis push up 100 kali!" Herannya Mizan dan Lantang nurut-nurut aja perintah Kava, ya meski dengan muka kesel, sih.
"Ambilin krupuk dong, Bu." Lantang seenaknya nyuruh-nyuruh gue.
"Ba Bu, Ba Bu. Emangnya babu kamu?" Gue sengit. Mereka pada makan di ruang depan yang merangkap ruang tamu dan tv, berhubung rumahnya sempit jadi gak ada meja makan.
"Mbak, krupuk! Kalau ngambilin aku makan tuh jangan nanggung. Krupuknya sekalian bawa kesini." Anak bayi yang hobi main layangan ini bener-bener minta dipites.
"Dimana krupuknya?" Meski ngomel tetep aja gue ambilin. Gue kasih tau, girl boss energy gue beneran gak kepake di tempat ini.
"Di kaleng yatim." Tunjuk Kava dengan dagunya.
"Toples yatim karena gak punya bapak." Kava nuding kaleng khong guan yang isinya keseringan ngeprank.
Gue puter mata denger humor garing Kava, setelah naruh kaleng krupuk di depan Lantang terus gue lanjut nanya dengan nada mengancam. "Gimana masakanku? Coba bilang gak enak?"
"Enak sampai bikin meninggoy. Susu coklatku mana, Mas?" Baru dapat krupuknya, Lantang minta diambilin yang lain. Ini anak tiap hari sajennya kudu lengkap 4 sehat lima sempurna, kalau gak gitu seharian bisa uring-uringan.
"Dimana tadi?" Kava nanya gue.
"Kamu sendiri yang naruh, kok nanya aku?" Yakan tadi gue sibuk masak, sementara Kava kebagian bikin minuman buat adik-adiknya.
"Masa beli susu buat Lantang, seminggu udah abis padahal di kemasannya ada tulisan untuk 2 tahun." Kava curhat sambil nunjukin kardus bebelac yang hampir kosong.
Berbeda dengan Lantang yang masih minta diladenin kayak bocah, Mizan beranjak sendiri ke kulkas untuk mengambil air dingin.
"Hari ini mau kemana, Zan?" Kava sendiri samasekali belum nyentuh makanannya.
"Kursus Jepang, Mas." Cita-cita Mizan kalau tidak keterima tentara, dia mau merantau ke negeri sakura dan menjadi TKI disana.
"Nanti sore bisa anterin Lantang les ke gurunya, gak?"
"Aku gak mau les!" Lantang merajuk. Ini anak terlihat bongsor mengenakan baju SMA-nya. Tingginya aja sudah mengalahkan kedua abangnya.
"Kenapa gak mau?" Kava berkacak pinggang .
"Males, ah."
"Tinggal dateng aja ogah-ogahan. Mau jadi apa kamu males-malesan gitu?" Kava gak mau dibantah.
"Nilaiku loh bagus-bagus. Buat apa les lagi? Buang-buang duit aja." Ketika berhasil membantah abangnya, Lantang serasa menang debat pilpres
"Sombong amat. Mentang-mentang lahirnya sesar sendiri." Kava berdecak. "Gak, tetep berangkat pokoknya!"
"Kav, ayo! Udah jam 7, nih." Gue narik-narik lengannya. Gue sendiri udah siap dengan mencangklong tas dan bawa tentengan berisi bekal makan siang.
Kava segera merogoh saku celananya dan memberikan 2 lembar limapuluh ribuan kepada Mizan.
"Mas tuker motor, ya?" Mizan bertanya sembari mengantongi uang pemberian Kava.
"Kenapa motor kamu?" Mizan biasanya pake motor mega pro, peleknya tinggi banget gue bakal susah naiknya.
"Tadi Kak Tasya whassap katanya mau pinjem motor buat nganter abahnya ke puskesmas. Motor dia lagi di bengkel." Jelas Mizan. "Dia tadi ngechat Mas, tapi gak Mas bales."
"Aku mau naik beat!" Gue menyela. Siap debat dengan Mizan kalau anaknya gak terima.
Mana mau gue ngalah,
Males sebenarnya gue ngompreng motor bututnya Kava yang memekakkan telinga itu. Ditambah asepnya itu loh, bikin sesak nafas. Ingetin gue buat beliin motor baru buat Kava. Buar Jakarta gak makin beracun diasepin mulu sama kaleng rombeng itu.
Tapi kan tetep, gue ogah ngalah sama Tasya modus doang itu ondel-ondel penempatan.
"Belom tau aja rasanya naek mega pro, joknya licin beuuhh srepet srepet jedot2an helm." Kava naik turunin alis.
"Pokoknya kita pake beat!" Gue bersikeras.
Mizan mendesah dan mengangkat kedua tangan. "Angel wes angel."
***
Ciamik nggak? Aku kebagian corat coret kasar doang, habis itu dipoles sama kak @meccaila jadi ciamik gini. Huhuhu terharu. Mon maap ya lama...
Yong yang belum ke lapak kak meccaila buruan ke sono. Lebih banyak cerita ciamiknya. Apalagi yang di aplikasi oren. O iya, udah nerbitin banyak ebook pula di google playbook. Yang pastinya ceritanya sedeeeep mak nyus.