Step On Me

Step On Me
Gelay



Waktu gue nyusul dengan sepiring nasi ditangan, Kava sedang video call dengan kedua adiknya. Mereka lagi laporan kalau masih di Bandung, belum bisa balik karena ketinggalan kereta yang sore.


"Oke, kalau gak ada duit bilang aja?"


"Mas mau kirimin kita duit?" Lantang yang paling keranjingan.


"Gak, nanti kita nangis bareng-bareng." Kava dengan entengnya.


Goblok gue ngakak.


"Kita mau cari makan dulu, Mas. Nanti aku kabarin lagi kalau udah dapat kereta." Sahut Mizan.


"Ati-ati, jangan lupa sholat."


"Nih makan!" Gue sodorin begitu Kava menutup panggilan teleponnya.


"Enaknya, nugget hasil gorengan saya sendiri!" Gak mau repot-repot pake sendok, Kava niupin lauk yang masih panas itu lalu dimasukin ke mulut cuma pake tangan.


Gue begidik. "Jorok banget kamu!"


Omongan gue gak ngaruh. Dia tetep makan dengan nikmatnya. "Lebih nikmat pake tangan, Bu. Lagian tangan saya higienis. Ibu mau coba makan pake tangan saya?" Dia nyodorin nasi pake tangannya.


Gue langsung mengernyit. "Gak usah aneh-aneh. Buruan ceritain tentang Pak Sandi!" Gue gak sabar.


"Sabar toh, Buk. Gak liat saya lagi makan?" Dia ngedumel dengan mulut penuh nasi.


Terpaksa, gue nungguin Kava sampai selesai makan. Begitu kelar, masih aja dia minta diambilin air putih dan tissue. Apa gak makin kurang ajar?


"Spill ke aku sekarang juga semua tentang Sandi!" Gue habis sabar.


Kava melempar bekas tissue ke tempat sampah kayak ngelempar bola basket ke ring. "Yes, masuk!" Dia bersorak sendiri.


Gue bersedekap dada di depan Kava yang lagi sibuk bersihin sela-sela giginya pake kuku jari. "Sampai kapan kamu mau ngebersihin jigong, perlu aku bawain sekop biar keangkat semua tuh kotoran yang keselip sekalian sama dosa-dosa kamu!"


Lelaki itu memperbaiki posisi duduknya. "Ibu mau tau apa?"


Pandangan mata gue memincing. "Semuanya. Semunya tentang Sandi."


"Sandi..." lelaki itu memangut-mangutkan kepalanya. "Nama panjang Sandi Morse. Tinggi seratus delapan puluh tiga. Golongan darah O. Aset kekayaan..."


"Bukan itu, Kava. Kalau itu mah cari di google juga ada. Aku mau data yang lebih pribadi. Misalnya kriteria cewek idaman, dia lagi deket sama cewek apa enggak, terus hal-hal yang dia sukai dan tidak dia sukai. Oh iya satu lagi. Nama panjangnya bukan Sandi Morse! Kamu pikir dia anak pramuka!" Lubang hidung gue kembang kempis saking keselnya.


Kava nyengir. "Oh, bilang dong dari tadi, Buk. Kirain saya disuruh jadi petugas sendus. Emm... tipe cewek idaman ya?" dia mikir. "Pertama, cantik."


Kalau itu mah gue udah pasti masuk kriteria.


"Kedua. Bos Sandi itu gak suka cewek galak."


"Gue enggak."


"Cewek manja, imut-imut."


"Nah, gue banget, tuh." Gue tepuk tangan sekali. "Terus apa lagi?"


"Yang manis."


"Kamu pernah lihat gula dikasih nyawa gak? Itu aku." Gue nunjuk diri sendiri.


Kava tertawa menanggapi ucapan gue barusan. "Ibu kan emang mami gula saya."


"Lanjutin tentang Sandi." Gue jadi ogah bahas gula-gula sama Kava.


"Umur ibu berapa?"


"Yang jelas aku lebih muda dari kamu!" Sebel gue, udah tau pakai nanya segala.


"Berarti kita seumuran, sekarang waktunya kita buat seumur hidup. Gimana, bu?" Kava menaik turunkan alisnya. "Seumuran kan udah, nih, tinggal serumah aja yang belum."


"Aku sama Sandi yang seumuran!" Gue tangkis.


"Tapi Sandi lebih suka daun muda, nih saya kasih bocoran karena gak semua orang tau sifat aslinya sebaik saya mengenal Sandi." Kalimat Kava bikin gue potek. "Waktu sama tunangannya kemarin, dia pas lagi apes aja. Aslinya mah gak gitu."


"Masa sih?" Gue gak yakin


"Aslinya om-om yang suka slepet-slepet abg gemes."


"Kok serem?" Gue gak percaya. "Ya kalo om-omnya kayak Sandi masih bisa dibicarakan baik-baik. Info lain, dong, Kav. Yang lebih berbobot."


"Coba ibu nanya nanti saya jawab."


"Makanan kesukaan?"


"Tanya Mbak Nay tau."


Gue muter mata, iya sih. Kata Nay untuk urusan perut, Sandi rewel banget. Untuk amannya, sih, Nay mending order di restauran berlabel Michelin yang udah terjamin rasa dan kualitasnya.


"Sering makan Steak di Wolfgang. Dia jarang main di tempat yang rame, lebih suka yang private dan ekslusif." Kava nambahin. "Pernah dia nyewa satu bioskop buat nonton berdua sama ceweknya, booking restauran buat dipake sendiri. Kapan itu malah sewa lapangan golf cuma buat main gundu sama saya."


"Kalau ajeb-ajeb, demen gak dia main ke tempat kayak gitu?"


"Kalau lagi pacaran sering bawa ceweknya kemana?" Gue pernah dengar desas-desus, Sandi punya parkiran helikopter di atap penhousenya. Kebayang aja gue adegan Mr Grey dan Anna di FSOG, diajak keliling-keliling kota naik heli sambil mesra-mesraan.


"Gak tau, saya gak pernah pacaran sama Sandi. Mungkin dibawa ke tempat-tempat yang mewah, bu. Pak Sandi kan gitu orangnya. Makanya pacar-pacarnya pada gak mau diputusin, terlanjur nyaman sama fasilitas yang disediakan."


"Emangnya kamu, ngajak jalan cewek cuma dijajanin teh rio sama ciki?" Samber gue.


"Kalo jalan sama ibu, saya usahakan dapat cilok dan neo coffe cobain kuy."


"Dih kayak aku mau jalan sama kamu aja, mundur sayang kamu miskin." Kata gue sadis. "Menurut lo, seperti apa gue dimata Sandi? Menarik gak?"


"Gak tau. Tapi kalau dimata saya, ibu dari anak-anak kita."


"Kava!" Gue mulai kehilangan kesabaran.


"Oh ya, bu. Besok belajar cara buat kopi tubruk, ya."


"Buat Sandi? Gue udah bisa, kok." Kan gue punya mesin otomatisnya, gampanglah diatur.


"Buat saya, lah. Tapi maunya kayak beli di warkop."


"Aku nanya Sandi bukan kamu!"


Kava melirik gue dari ekor matanya. "Kalau mau info lebih, ibu harus baik-baikin saya dulu. Contohnya masakin lagi kayak barusan."


Kampret! Gue dimanfaatin. Dia niat ngebantu tapi ujung-ujungnya gue yang diekploitasi.


"Kamu kira bisa manfaatin saya. Mentang-mentang saya butuh bantuan kamu, terus kamu bisa seenaknya gitu?" Gue pasang wajah sengak.


Kava mengambil jaketnya lalu berdiri. "Ya udah. Makasih makanannya, Bu. Good luck buat usahanya deketin Pak Bos."


Loh.. loh.. loh.. dia beneran mau stop ngebantuin gue?


"Eh eh eh!" gue tarik ujung bajunya. Kava berbalik. "Oke, saya mesti ngapain?"


Kava bales cengiran gue. "Besok sarapan nasi goreng, pake cabe iris yang banyak."


Selamat tinggal kuku-kuku cantik hasil meni pedi. Huhuhu.


Demi apa, cuma dapat info secuil tapi harga diri gue rendahin. Tapi yang dijabarkan Kava cukup membantu gue selangkah lebih maju, sih. Untuk urusan fisik, gue percaya diri. Minus gue cuma kelebihan umur aja, sih.


Tapi gue bisa kok danda ala ala remaja, berlagak imut dan manja gemoy. Tinggal poles sana poles sini sesuai keinginan Pak Sandi dan taraaa... gue bakalan muncul besok pagi di depannya bak bidadari baru puber.


"Kava! Udah selesai belom sholatnya?" gue nyelonong masuk ke kamar. Kava lagi ngelipet sajadah yang baru dia pakai untuk sholat magrib di kamar gue. Sengaja dia gue tahan di sini.


Habis ini, gue mau make over di salon. Rubah gaya rambut biar sesuai sama kriteria Pak Sandi. Kava gue suruh nemenin. Dia yang bakal menilai apakah penampilan gue nanti sudah sesuai kriteria apa belum. Kayaknya gue pengen coba pake poni, biar terkesan lebih muda gitu.


"Ibu minta diimamin ya? Yah bu, saya baru aja selesai." Kava menunjukkan ekspresi sok bersalahnya. Dia udah mandi tadi. Pake kaos gue buat ganti. Untung gue kalau beli kaos kadang cari yang size cowok. Enak aja gitu buat gegoleran kalau lagi weekend.


"Nggak usah banyak bacot! Buruan anterin aku!" Gue ngegas.


Belum selesai gue ngomel, beban hidup gue yang satu lagi nongol. "Mas Kava, Lantang aku ajakin bikin konten, ya?"


"Konten apa?" Kava waspada.


"Pacaran settingan gitu." Jelly kasih penjelasan. "Lumayan, Mas. Kalau engagementnya bagus bisa dapat adsense."


"Halah, paling lo mau bikin Jeffry cemburu, kan?" Tuduh gue.


"Itu juga, sih. Sama satu lagi, biar cowok yang kemarin ngejar-ngejar aku mundur, kak. Habis dia neror aku terus, aku risih, kan?"


"Kenapa kamu gak lapor polisi aja, sih?" Gue udah diceritain, sih, sama Jelly mengenai sosok penculiknya. Semingguan lebih Jelly disekap di apartemennya, sampai akhirnya bisa kabur waktu doi lengah. "Kamu juga dilecehin sama dia, udah lapor aja."


"Gak dilecehin juga, sih, kak. Kan kita tadinya cuma ONS-an, sama-sama khilaf."


"ONS itu semalam doang khilafnya, lo malah sampai seminggu, sehat arwah ngana?" Kata gue, sih, sama aja dengan penculikan. Cowok itu terobsesi kebangetan sama Jelly sampai segitunya nyekap ini anak di apartemennya. "Tapi asli, Jel. Freak banget mending kamu cut dari sekarang, deh."


"Udah aku cut, kak. Tapi dia gak mau  makanya itu aku butuh pacar settingan," Jelly kembali beralih pada Kava. "Boleh ya Mas, Lantang aku pinjem?"


"Lantang masih kecil jangan diapa-apain." Alis Kava bertaut.


"Ya Allah, cuma konten, Mas. Paling pegangan tangan doang." Jelly memohon-mohon sampai akhirnya Kava mengiyakan dengan terpaksa.


"Sama aku aja gimana?" Tawar Kava.


"Heh!" Gue mendelik.


"Gak bisa dapet kakaknya, sepupunya juga bisa, bismillah pelet." Bisa-bisanya Kava ngomong gitu, gak pake mikir langsung gue tarik kupingnya. Pengen gue jewer biar gak tuman genitnya.


Tapi sebelum kesampean, tangan gue keburu dipindahin Kava ke pipinya. Terus gue malah salah fokus sama dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu tipis. "Ehm, kayaknya kamu perlu cukur, deh."


"Maaf aku gak bisa melihat keuwuan ini. Aku pamit." Jelly malah cengar-cengar liatin kita.


Gue buru-buru narik tangan gue. "Kamu keluar, Kav. Aku eh mau ganti baju."


"Jangan Kava, Jel. Mending sama Mizan. Lebih garang gitu perawakannya. Lantang boleh juga, sih. Tapi dia bisanya cengengesan doang." Bisik gue setelah Kava keluar dari kamar.


"Mizan? Gak mau, gak suka, gelay!"