Step On Me

Step On Me
Tertangkap Basah



Saking enaknya tidur sambil nyender, gue sampai gak sadar kalau partner duduk di bis gue udah ganti orangnya.


"Nyenyak banget boboknya? Sampai ngiler gitu..." Ada yang berbisik di dekat telinga gue. Suaranya lembut banget ya rabb kayak selimut bulu abis di laundry, kan gue jadi tambah nyaman.


Makin pules, makin susah meleknya. Sampai kemudian gue ngerasa pipi gue dicolek-colek. "Bangun dong cantik, kita udah sampai."


"Hah?" Gue langsung sigrak membuka mata. Ternyata bener, bus udah berhenti di tempat tujuan. Penumpangnya juga sudah pada turun. Tinggal gue yang baru bangun dari molor, Kava yang menyediakan bahunya untuk gue pake bantalan, dan abang-abang sopir yang lagi ngerokok santai.


"Siapa yang suruh kamu duduk disini?" Gue dorong badan Kava menjauh. Bisa-bisanya dia ambil kesempatan ketika gue lemah tak berdaya dalam kepeloran.


"Gak disuruh tapi saya mau sendiri."


Gue mendelik kesal, ingetin gue marahin Moniq. Mau-maunya aja dia diajakin tukeran tempat sama monyet bianglala ini.


"Bisa turun sendiri atau masih butuh sandaran bahu saya?" Lagi-lagi dengan ekspresi minta dicukil matanya itu, Kava ngegoda gue.


"Ogah, najis!" Gue buru-buru berdiri, nyingkirin Kava biar gak menghalangi jalan, tanpa nengok kebelakang gue melangkah sampai turun dari bus.


Hmm, seger banget udaranya. Gue tarik nafas dalam-dalam sambil liat sekitar. Mobil Pak Bos belum keliatan, berarti dia belum nyampe. Gue sedikit bernafas lega. Seengaknya, Pak Bos gak bakalan tau kalau gue hampir melalaikan tugas karena sepanjang perjalanan molor mulu.


"Nih Bu," Kava nongol lagi. Pake acara nyodorin tissue segala. Emangnya gue penuh kuman, apa?


"Ngapain ngasih tissue?" Gue galakin mode on.


"Itu, Bu." Tangan Kava noel-noel sudut bibirnya sendiri seolah mengisyaratkan ada sesuatu di sudut bibir gue. "Buat elapin noda lipstik, kalau bekasnya di lengan baju saya sih gak apa-apa, buat kenang-kenangan. Itu belepotan di bibir bawah sebelah kiri."


Gue meringis sambil ngaca di spion mobil punya orang. Beneran nempel, dong. Ini gara-gara gue nyolong lipstik Jelly. Katanya branded kok dipake ngebekas sana sini. Jangan-jangan barang KW, nih. Itu anak gak bisa bedain barang asli atau palsu, duh si goblok!


"Keliatan banget itu bekas bibir gue, nanti orang mikirnya kita ngapain aja di bus. Enggak, enggak, kamu ganti baju sekarang juga!" Perintah gue sambil ngelapin bibir dengan tissue, mending gue gincuan ulang pake lipstik sendiri.


"Oke, Bu." Dengan santainya Kava lepas baju.


Gue hampir teriak. "Ngapain buka di sini?"


"Lah katanya suruh ganti baju?" Kava tuh semacam punya dua kepribadian, kalau serius suka bikin kepincut, kalau lagi sengklek sampai bikin gue capek.


"Jangan di sini juga kali! Bego bener sih. Aish!" Gue raup mukanya pake lima tangan saking gemes ehm keselnya.


***


Setelah acara pembukaan, gue bisa sedikit santai dan curi-curi waktu istirahat. Para peserta sudah masuk ke kamar masing-masing untuk personal time sebelum persiapan acara berikutnya. Tapi bukannya ngikutin peserta lain, Kava malah ngintilin gue sambil nyeret kopernya. Bete gak jadi gue?


"Apalagi sih kamu?" Sembur gue.


"Itu Bu... anu.." Dia garuk-garuk kepala. Kutuan apa gimana? Gorak-garuk kepala mulu.


"Anu apa?" Gue makin nyolot. Udah capek, anu-anuan lagi.


"Anu.. itu loh.."


"Apa? Anu lo minta ditonjok?" Gue sadis. "Mau minta ganti uang laundry buat baju lo tadi?"


Eh tumben anaknya ngambekan, gue jadi gak enak sendiri. "Enggak gitu, Kav. Kamu gak langsung ngomong, sih. Aku jadi kesel, kan?"


"Mau nanya kamar saya dimana? Kok nama saya gak ada di list pembagian kamar. Semua kamar juga udah penuh. Ibu lupa gak ngeploting saya?" Kava menjabarkan alasannya.


Gue kedip-kedip bentar. Terus buru-buru ngecek daftar pembagian kamar di tablet.


****! Kenapa gue bisa lupa masukin nama Kava?


Kava ikut ngelirik ke catetan gue.


"Tuh kan gak ada nama saya," Dia protes. "Ya udah gak apa-apa. Saya ngemper di parkiran aja, sekalian nyedekahin stok darah buat nyamuk-nyamuk kelaparan."


Kava udah mau cabut tapi gue keburu megangin tangannya. "Eh eh bentar." Gue muter otak. Gue gak setega itu bikin Kava jadi tumbal logistik serangga haus darah.


"Kamu sama... Sandi. Gak apa-apa, kan?"


"Saya sih gak apa-apa, Sandi nanti yang apa-apa."


"Sandi pake single room yang di gedung sebelah. Itu luas, kok. Cukup kalau mau nyungsepin kamu doang, mah. Lagian, kamu kan deket sama Sandi. Jadi gak masalah sekamar. Nanti kalau Sandi nanya, bilang aja kamu emang pengen sekamar sama dia. Oke, Kav, ya? Jangan bawa-bawa nama gue, pokok kalau ditanya kenapa kamu gak dapat kamar pake alasan tadi." Gue memuji diri sendiri karena menemukan ide cemerlang ini.


Seorang Bos itu punya previlege tersendiri. Ketika karyawan berbagai satu kamar untuk berempat, Sandi bisa nyewa satu resort untuk dirinya sendiri. Gak takut dikecengin mbak-mbak Kunti apa ya, bobok di satu bangunan besar tapi gak ada temennya? Tamannya luas, ada kolam renang pribadinya lagi. Syukur-syukur kalau Kava jadi ngungsi kesitu, gue bisa dapet pemandangan Pak Bos telanjang dada dan cuma pakai kolor renang yang super sempit kayak di tipi-tipi itu. Terus dia basah-basahan dari ujung ke ujung. Menggiurkan banget gak tuh? Duh, gue makin bersemangat melangkah ke gedung sebelah. "Ayo, Kav. Gue temenin kesana."


"Gak, ah. Ibu sendiri aja yang ngomong ke Pak Bos." Kava bergeming. "Katanya pengen punya kesempatan berduaan tanpa saya ganggu? Kenapa gak sekarang aja? Saya tunggu disini ya? Good luck, Bu Okta!"


Kava nampaknya lagi kesambet setan puncak, tumben ngambek, tumben mulutnya gak celongokan, tumben pengertian.


Mengabaikan Kava yang lagi tumben-tumbenan, dengan percaya diri gue melangkahkan kaki menuju area khusus tamu VVIP.


Tok.. tok.. tok.. Gue ketuk-ketuk pintu yang terbuat dari kayu jati yang kokoh tapi gak ada jawaban. Gue ketuk-ketuk sekali lagi dengan lebih heboh, sampai kemudian pintu yang gak tadinya kekunci itu tau-tau terbuka sendii akibat tekanan tangan gue. Jangan-jangan Sandi lagi mandi? Atau lagi buang hajat sampai gak denger gue ketuk-ketuk pintu.


Begitu masuk, gue disambut dengan ruangan luas dengan aksen skandinavian dan semi industrialis. Dindingnya didominasi warna putih sedangkan perabotannya lebih banyak menggunakan warna-warna kayu. Atapnya yang tinggi dengan hiasan lampu kristal dan LED menjadikan ruangan terasa begitu megah dan elegan. Jendela-jendelanya lebar dengan kaca bersih dan transparan menambah efek luas ruangan. Gue terus melongok ke kiri dan ke kanan, menebak-nebak pintu mana yang harus gue pilih untuk menemukan Pak Bos. Kaki gue melangkah begitu saja mengikuti intuisi. Hingga akhirnya, mendekati pintu keluar menuju private pool, gue mendengar kikikan kecil. Sandi?


Tapi tunggu. Suara cekikan itu begitu feminin untuk ukuran lelaki semacho Sandi. Gue jadi was-was. Apalagi tawa alay itu lambat laun berubah menjadi *******. Semakin gue melangkah mendekat semakin terdengar jelas. Suara *******, diiringi geraman, kemudian percikan air dan...


"Om... ahh.. ahh.. Omh Sandi ihh enak disitu..."


Gue membatu di depan mereka. Meskipun tubuh mereka terbenam air hingga sebatas dada, tapi gue gak cukup bodoh untuk tidak mengetahui apa yang sedang dilakukan sepasang lelaki dan perempuan itu di dalam kolam renang.


Posisi Sandi membelakangi gue, sementara lawan intimnya yang hanya mengenakan bikini dengan tali sudah terlepas sana-sini bertemu mata dengan gue....anjing? Wtf! Keterkejutan tidak berhenti dan semakin menjadi-jadi. Jantung, ginjal, paru-paru, empedu, bahkan pankreas gue seketika rontok begitu melihat dengan jelas siapa gerangan cewek yang sedang kelenjotan di pelukan Sandi.


Dia kaget, sementara gue mati suri.


"J-Jelly?"


***


Ada project baruku bareng kak meccaila spin of me dari step on you dengan judul step on me, available Only in K-a-r-y-a-k-a-r-s-a ya, gak baca gak apa-apa soalnya tokoh utamanya bukan Kava dan Kinan tapi mereka nyempil dikit-dikit disana. Terus kalau pengen tau gimana prennya Sandi sama Kava, boleh kok mampir ehe 🤭


O iya Step on You nyeritain kisah cintanya Jelly sama Sandi ya. Mon maaf banget kalau nama appnya nanti ke sensor, bukan kerjaan aku tapi emang dari noveltoonya disensor