
Gue cegat Cahyo waktu kita ketemu di Lobby pada siang hari itu. "Yo, lo mau kemana?"
"Ninjau proyek di Cibubur sekalian ketemu klien, kenapa?"
"Sama siapa?"
"Sama pak bos. Tumben lo nanyain agenda gue? Kemarin-kemarin kemana aja waktu gue belum punya bini? Bentar anak gue mau brojol eh elo baru—"
"Terus siapa lagi?" Potong gue gak sabar.
Cahyo mikir. "Dari kantor cuma kita, gak tau nanti kalau yang lain nyusul."
"Kava ikut gak?"
Cahyo menggeleng. "Dia lagi di proyek satunya."
"Dimana?"
Cahyo nyebutin salah satu daerah dekat perbatasan Jaksel dan Tangerang. Oh gue tau dimana, proyek perumahan elit setengah jadi yang di take over Sandikala Grub karena kontraktor sebelumnya bermasalah.
"Eh Kava ganti nomor ya?" Gue tanya sebelum lupa.
"Setau gue sih enggak. Ada perlu apa lo sama dia?"
"Masalah gajinya kemarin itu...Ya udah, Yo. Gue duluan, thank buat infonya." Gue bergegas balik ke mobil, sambil jalan menuju basement gue telepon Gea yang ditunjuk jadi wakil gue di divisi keuangan. "Ge, gue kayaknya gak balik kantor. Perut gue ehm kumat lagi, nih. Gimana? Iya ini gue mau periksa ke dokter...gak apa-apa nanti gue langsung balik apartemen. Tolong kabari aja kalau ada problem. Oke, makasih Ge sayang."
Setelah duduk dibelakang kemudi, gue pasang google map dan ngikutin arahannya meski sebenarnya gue tau persis dimana lokasinya. Perusahaan gue emang lagi ngegarap beberapa kawasan hunian mewah salah satunya yang akan gue tuju ini. Yah, moga-moga aja mobil gue bisa diajak kompromi, ada kali semingguan ini mogok sampai 3 kali sampai capek sendiri gue neleponin bangkel.
Dompet gue megap-megap perkara ngurusin kendaraan laknat ini, rasanya pengen gue jual aja seperti saran Kava kapan itu. Eh baru inget, dia pernah janji bakal bantuin gue jual ini mobil tapi waktu belum gue iyain karena masih mikir.
Bagus, sekarang gue jadi punya alasan buat nyariin Kava. Soalnya gue gak mau bikin dia kegeeran seperti yang dituduhkan Mizan, hell no kalau gue gak butuh beneran gak bakal gue nyamperin dia sampai kesini.
Setelah parkir mobil dan mastiin kondisi sekitar, baru gue nanya ke pos sekuriti dan mencari tahu keberadaan oknum yang gue maksud. Duh jangan sampai gue kecele, udah nyetir jauh-jauh masa zonk sih?
"Ada, bu. Kebetulan orangnya baru balik dari Jumatan." Sepertinya gue lagi beruntung, saking seringnya Kava ninjau kesini, hampir semua pegawai proyek termasuk petugas jaga pada kenal. Atau karena dia pernah nguli bareng mereka gue juga gak tau, yang jelas sekali gue nyebut namanya orang-orang disini langsung paham.
Sambil nutupi rasa seneng karena usaha gue kesini gak sia-sia, gue kembali nanya. "Sekarang orangnya dimana, pak?"
"Kayaknya lagi makan, bu. Masuk aja kedalam sampai ketemu kantin khusus buat pekerja disini, biasanya pada nongkrong disitu." Jelas sekuriti itu.
Gue mengangguk dan ngucapin terima kasih sebelum berjalan memasuki area proyek itu. Untung lagi jam istirahat jadi gue gak perlu menjangkau jauh sampai kesana-sana buat nyariin satu orang ini.
Kantin, kantin. Gue celingukan nyari tempat yang dimaksud. Ekpektasi gue, bakal nemu tempat yang layak bukannya warung reot seperti ini. Mana lagi banyak tukang pada makan disini, dan gue paling gak demen diliatin banyak manusia seperti sekarang. Mereka gak kenapa-kenapa tapi guenya risih, Kava mana, sih?
"Nyariin saya, bu?" Taunya dia udah dibelakang gue. Untung ya, gue orangnya gak kagetan.
"Dih, siapa yang nyariin kamu?" Gue berbalik dan langsung bertatap muka dengan Kava.
Kava tertawa sambil ngibasin poni setengah basahnya. Di kantor gue, aturannya pegawai laki-laki gak boleh panjangin rambut, harus kelimis dan berpotongan rapi menyesuaikan penampilan. Kan jadi pengen jambakin kayak mimpi gue semalam eh...maksud gue cowok satu ini emang gak ada takut-takutnya, gue kasih surat peringatan ****** gak dia.
"Ada yang bisa dibantu, bu?"
Gue lagi asyik menilai gimana penampilan Kava kalau dinas diluar kantor. Dasi dan jasnya gak tau kemana, lengan kemeja digulung sanpai kesiku dengan kancing atas terbuka dua... terus pake sandal jepit. Beneran minta di-SP ini orang.
"Dasi kamu mana?" Tanya gue galak.
Kava merogoh saku dan mengeluarkan seutas dasi yang digulung sembarangan.
"Kenapa dilepas?"
"Habis dari masjid." Oh iya, dia habis Jumatan, ya.
"Cepat pake, gak ada bedanya kamu sama kuli disini, berantakan!" Gue omelin. "Sepatu mana?"
"Hilang barusan." Kava sembari mengotak-atik ikatan dasinya. Gak handal banget, sih, masa pasang begituan aja pake belibetan segala.
"Kok bisa hilang?"
"Dicolong kayaknya, dituker sama swallow ijo yang udah ada tapak dakjalnya. Jingan emang maling jaman sekarang gak ada akhlaknya." Gregetan sendiri gue liat Kava masih berkutat dengan dasinya.
"Bukan gitu masangnya...." Gue tarik aja dasinya terus gue bantu iketin, habis gak kelar-kelar kan emosi gue liatnya.
"Makasih, bu. Saya kudu liat tutorial di youtube dulu kalau mau pake dasi." Kava berterus terang.
"Handphone kamu kemana?" Tandas gue.
"Rusak, bu."
"Katanya udah diservice? Tetep gak bisa dipake?"
"Ibu kok tau saya habis service hp?" Kava nyengir.
"Ya kan kalau rusak pasti diservice, masa mau disimpen di kulkas?" Gue alesan.
Kava terkekeh. "Gak bisa dibenerin, bu. Udah parah rusaknya."
"Kok bisa jatuh gimana ceritanya?"
"Kapan saya bilang handphone saya jatuh? Wah ibu cenayang, ya? Pinter banget nebaknya."
"Gak usah banyak omong kamu, ya!" Hardik gue kesal.
"Mizan udah cerita ibu kerumah nyariin saya, kangen apa gimana?" Kava naikin sudut bibirnya.
"Kebetulan lewat, kok. Ehm emang Mizan omong apa?"
"Dikasih nasi sama Ibu Okta."
"Bukan itu," Gue bingung menjabarkan pesan Mizan agar gue menjauhi abangnya. Tapi, ya udahlah lupakan saja. "Berarti kamu lagi gak ada handphone dong? Kalau Sandi atau orang kantor nyariin gimana?"
"Kayak ibu gini, ya, nyariin saya?"
"Jawab pertanyaan saya, kamu sekarang gak pegang handphone samasekali?"
"Ada, ini saya pake punya Lantang." Kava mungkin handphone merk Oppo milik adiknya. Masih lumayan bagus dibanding milik Kava yang udah bocel sana-sini, ada bagusnya juga itu handphone jatuh biar segera diganti sama yang punya.
"Kok aku hubungin gak bisa-bisa? Kamu ganti nomor?"
"Ibu gak hubungin saya. Silahkan dicek, gak ada panggilan dari nomor ibu yang masuk."
Eh iya, waktu gue miscall-miscall kan pinjem hp punya orang buka pake iphone gue sendiri. Gue berdehem kecil sebelum lanjut omong. "Terus Lantang pake apa kalau handphonenya kamu pakai?"
"Gantian, atai kadang dia pake laptop kalau mau chat tinggal disambungin ke whassap web." Jelas Kava.
"Kok kamu gak beli baru aja, sih? Kan Lantang juga butuh buat sekolah?"
"Nanti, bu. Nunggu bonusan bulan depan."
"Emang gaji kamu bulan ini dikemanain? Nunggu bulan depan keburu jadi apa kamu?" Gue gak percaya masa dia bawaannya bokek mulu, sih. Maksud gue ponsel itu kan barang penting, kontak-kontak klien dan kerjaan dia disitu semua.
"Mizan lolos tes psikotes, bu. Doain semua lancar, ya." Kava menyiratkan kalau adik keduanya lebih butuh support financial dibanding kebutuhannya sendiri.
"Mizan daftar apa, sih? Kuliah?"
"Tentara, bu." Kava terlihat bangga menceritakan perjalanan adiknya mengikuti tes seleksi TNI AD.
"Emang gitu-gitu pake duit ya?"
"Gak tau, bu." Kava nyengir. "Moga-moga aja gak, kalaupun harus pake semoga aja gak banyak biar saya masih bisa nyariin."
"Mizan teges anaknya. Panteslah jadi tentara." Gue
"Cita-citanya dari kecil, bu. Saya saranin kuliah gak mau, jadi ya udah saya usahain aja biar Mizan jadi orang yang berhasil. Biar nanti hidupnya gak susah kayak abangnya ini."
Gue tersentuh mendengar Kava seperti berniat dengan sungguh-sungguh agar adik-adiknya berhasil. "Kav, ikut saya."
"Kemana, bu?"
"Udah ikut aja." Kata gue.
"Gak mau nanti saya diculik, takut." Kava masih sempet ngeselin.