Step On Me

Step On Me
Pendaftaran Cowok Simpanan



Gue beneran benci sama genderuwo berwujud cowok tengil ini, seenaknya culik gue tanpa gue tau mau dibawa kemana. Katanya mau nganter pulang tapi gue diputer-puterin dulu sampai sejam lebih gak nyampe-nyampe. Padahal jarak tower kantor sama gedung apartemen gue gak jauh-jauh amat.


Iya kalau naik mobil gue bisa duduk nyaman, ini udah motornya butut, bising suara knalpotnya sampai bisa bangunin mayat. Seumur-umur gue naik sepeda motor itu bisa dihitung pake jari, dan ini yang paling parah.


Bayangin gue dilewatin area kuburan yang gelap, gang-gang sempit yang bau, dan diajak menyusuri jalan-jalan tikus yang gak mungkin nongol di google map. *****, ya, kenapa sih gue mau-mau aja diboncengin dia?


Demi ini demi, mempertahankan jabatan gue yang baru seumur jagung. Gue udah kebayang gimana puasnya Gea kalau bisa gantiin posisi gue. Bener kita emang temanan baik, tapi tetap ada yang namanya persaingan secara sehat


Gue rada kaget sewaktu motornya berhenti di depan warung makan. "Ngapain kesini?"


Kava lepas helm sambil ngomong. "Bentar ya, bu. Saya mau beli makan buat adik-adik saya dirumah."


Tanpa menunggu persetujuan gue, Kava ngeloyor masuk ke dalam warung dan memesan nasi rames sebanyak 3 bungkus. Sambil menunggu dilayani, Kava mengobrol akrab dengan emak penjualnya. "Lantang jadi masuk SMA mana?"


"SMA negeri deket-deket sini aja, kok, mak. Biar gak keluyuran mulu anaknya."


"Ho oh, bener. Itu anak main mulu kerjaannya. Beda banget sama Mizal." Mak penjual menyerahkan kresek hitam berisi bungkusan nasi. "Ambil sendiri krupuknya, gratis."


"Weh makasih ya, Mak." Kava mengambil beberapa kerupuk berwadah plastik itu tanpa tahu malu. "Aku bayarnya besok sekalian, ya, mak. Biasa, nunggu gajian."


"Iye, gampang." Kata emaknya, mauan aja ini orang diutangin.


"Balik dulu, Mak. Jangan malam-malam tutupnya, hawanya lagi gak enak." Pesan Kava waktu pamitan.


"Ya, kamu juga ati-ati." Jawab si emak. Pasti Kava udah langganan disini, makanya baik gitu.


"Nih, bu. Saya bagi satu buat camilan di jalan." Kava menyorongkan seplastik kerupuk rambak ditangan gue.


"Apaan, sih!" Langsung gue buang itu krupuk. Sorry, gak doyan.


"Gak suka rambak?" Kava nunduk buat ngambil lagi itu kerupuk yang gue jatohin ke tanah. "Sayang, ah, belum lima menit."


"Aku mau pulang, mana KTP kamu?" Hardik gue gak sabar.


"Nanti habis saya anter nasi, ayo naik, bu." Kava menaiki motornya, sambil nunggu gue duduk di jok motornya dia make lagi helmnya. "Udah, bu?"


Gue gak jawab, abis dia nanya mulu emang gak liat apa gue udah nangkring di belakang. Please ya, badan gue gerah banget pengen mandi air anget terus tidur. Besok gue ada jadwal walking interview di JExpo sementara kandidat yang ngelamar pasti membludak, gue kudu berangkat pagi buat ngecek persiapannya.


Sepanjang Kava ngendarain motornya, gue samasekali gak bersuara sampai kendaraan roda dua itu kembali berhenti di sebuah rumah petak kecil yang terletak di persimpangan gang. Mau dibawa kemana lagi, sih, gue? Pikir gue capek.


Kali ini Kava gak mau repot-repot minta izin gue, dia turun sendiri sambil nenteng kresek hitamnya.


Gue tengok kanan dan kiri untuk mengamati situasi sekitar. Disini banyak dijumpai bangunan sejenis rumah kontrakan atau kos-kosan untuk keluarga kecil. Gua gak tau sebutan yang tepat, tapi tempat tinggal semacam ini memang sengaja disewakan dengan harga murah. Tipikal bangunannya dibuat berderet memanjang, dengan pintu yang seragam dan tembok saling menempel. Saking sempitnya akses jalan menuju kesini, mobil gak mungkin bisa masuk. Kendaraan roda dua milik penghuninya terparkir sembarangan di teras mungil yang terdapat di masing-masing rumah. Bukan termasuk lingkungan kumuh, tapi tetap saja terlihat semrawut.


"Kamu tinggal disini?" Gue tanya karena penasaran.


"Iya." Kava meraih handle pintu yang ternyata terkunci dari dalam. "Lan? Zal?"


Gue tebak Kava sedang memanggil adik-adiknya, tadinya gue kira itu cuma alasan dia aja. Gak sampai semenit ngetok-ngetok, pintu itu kemudian terbuka dan menampilkan sesosok anak muda yang cengengesan. "Asyik makan."


"Bawa masuk, aku masih ada perlu." Kava menyorongkan bawaannya yang langsung diterima anak itu dengan senang hati. "Mizal mana?"


"Tuh tidur." Anak itu kembali bertanya.


"Gimana tadi tesnya?"


"Lolos pemberkasan, katanya minggu depan baru tes fisik." Adiknya menyambung dengan pertanyaan. "Mas mau kemana lagi? Aku habis ini mau mabar ke rumah temenku."


"Gak, dirumah aja. Cucian jangan lupa diangkat, aku mau keluar sebentar nganter bu bos." Kava berbalik sebelum adiknya bisa mengajukan protes. "Jangan kemana-mana, awas aja kalau aku balik kamu gak ada!"


"Weh siapa tuh mas? Kakak ipar?" Ini anak cengengesan mulu kerjaannya.


"Kakak ipar gundulmu, udah sana masuk. Habis makan piringnya dicuci." Pesan Kava sebelum kembali ke motornya dimana gue menunggu sambil bersedekap.


"Itu adikmu?"


"Iya, yang paling kecil." Kava memasukan kunci.


"Emang ada berapa?"


"Dua."


"Cowok semua?"


"Iya. Satunya udah lulus, satunya baru masuk SMA tahun ini."


"Gue gak nanya sekolah adek lo." Tanpa sadar gue naik motor sambil pegangan punggung Kava. "Eh siniin dulu KTP-mu?"


"Nanti saja nyampe ditempat ibu saya kasih." Cuek aja Kava hidupin motornya.


"Saya gak mau mampir-mampir lagi, kita langsung pulang ke tempat saya." Perintah gue.


"Gak sabaran banget, bu. Udah kebelet ya?"


"Besok saya kerja!" Kata gue galak.


"Wah sama, dong. Saya besok juga kerja, mau bareng gak, bu?" Sahut Kava dengan entengnya.


"Ck." Gue berdecak, ogah banget ngeladenin obrolan gak mutu ini.


"Ibu gak laper?"


"Apa urusannya sama kamu saya lapar atau gak?"


"Nanya doang, elah. Galak banget." Sahutnya.


"Orang tua kamu juga tinggal disitu?" Gak lama gitu gue nanya lagi.


"Udah meninggal." Jawab Kava tanpa melepaskan pandangannya dari jalanan.


"Dua-duanya?"


"Betul." Kava seperti tidak terbebani dengan pertanyaan sensitif ini.


"Meninggalnya udah lama?"


"Bapak meninggal waktu adik-adik saya masih kecil, setahun kemudiam ibu saya nyusul." Ternyata jodoh sehidup semati itu nyata adanya, kirain cuma di sinetron aja.


"Berarti kamu ngurus adik-adik kamu sendirian?"


"Lah ini kan udah di belakang apartemen gue?" Gue kaget, ternyata tempat tinggal kita berada di lokasi yang sama. Bedanya apartemen gue berada di jalan utama bareng bangunan-bangunan pencakar lain yang memblokir area perkampungan itu dari pandangan.


"Emang iya."


"Terus ngapain tadi muter-muter sampai kesana-sana? Kalau deket gini kan mending lewat jalan gede." Tambah gue sewot.


Padahal jelas-jelas membentang tepat di belakang apartemen gue. Ini gue yang buta arah atau emang gak peduli sama lingkungan sekitar. Tapi maklum lah, gue aja baru pindah dua tahun yang lalu, lagian ngapain juga gue blusukan ke kampung-kampung gitu, kayak kurang kerjaan aja.


"Tau gitu saya naik mobil sendiri." Kesel gue diajak mondar-mandir macam setrikaan.


"Enak gini, kapan lagi saya ngojekin ibu pulang."


"Jangan kesenengan dulu kamu. Ini buat yang pertama dan terakhir." Gue langsung minta diturunin didepan pos satpam begitu motor Kava mencapai gate masuk menuju apartemen gue.


"Kirain saya mau diajak mampir,"


Gak gue gubris, tangan gue langsung nodong buat nagih janjinya. "KTP?"


"Saya lupa ngasih tau ibu. KTP saya ilang." Posisi Kava masih duduk di motornya, sementara gue berdiri di sebelahnya sambil tetap menjaga jarak.


"Kamu jangan bercanda!" Kesabaran gue udah habis.


"Sumpah." Dua jarinya membentuk V-sign.


"Mau kamu apa, sih? Ini bukan urusan sepele!" Matian-matian banget ini gue nahan emosi.


"Sabar, bu. Besok saya cari lagi dirumah, kali aja ketemu." Kava menambahkan seakan-akan ini bukan masalah besar. "Atau biar gak lupa, tolong besok pagi saya diingetin ngurus KTP di kelurahan."


"Ya kamu inget-inget sendiri. Itu kan tanggung jawab kamu!" Sanggah gue.


"Tanggung jawab ibu juga, gara-gara siapa saya tiga bulan gak dapat gaji?"


"Salah sendiri kamu diem aja." Gue nyolot. "Coba kamu segera protes pasti urusannya gak sepanjang ini."


"Saya sudah coba menemui ibu berkali-kali, tapi ibu melengos mulu. Bilangnya lagi sibuk, baru mau ngomong ibu udah ngebentak nyuruh keluar karena gak mau diganggu, mana saya berani maju kalau ibu sendiri saja gak mau bertatap muka dengan saya." Kava berkata jujur. Karena memang begitulah perlakuan gue ke dia selama ini, shit, ternyata sikap gue seburuk itu.


"Oh kamu nyalahin saya?"


"Enggak bu, saya cuma ngomong apa adanya. Gak apa-apa kalau ibu mau benci saya, tapi tolong saya dibantu mencairkan gaji saya yang kepending, tabungan saya sudah habis buat biaya sekolah kedua adik saya." Sebelum gue sela, Kava nambahin. "Besok saya bawain fotocopi KTP saya, janji kalau ini nanti saya usahakan."


"Sebenarnya saya butuh data kamu sekarang, besok udah tanggal 20, biasanya tanggal segitu bagian keuangan minta rekapan biar gaji semua karyawan bisa cair tanggal 27. Kalau kepending bisa-bisa bulan depan kamu baru terima gaji." Jelas gue.


"Loh jangan, bu. Nanti seragam adik saya gimana? Belum saya beliin padahal minggu depan udah masuk sekolah." Keluhnya.


Gue mendesah, iba juga gue dengernya. "Kasih sini nama lengkap kamu, alamat, sama, tanggal lahir."


"Gak sekalian nomor telepon saya biar kita bisa chattingan?"


"Saya gak lagi bercanda." Gue kasih pelototan sebelum gue ubek-ubek tas buat ambil handphone. Gue buka aplikasi note dan siap mencatat data diri laki-laki yang menyebalkan ini.


"Nama Kava Januardi, lahir 14 Januari. Alamat sudah saya tunjukan tadi, anggota keluarga saya cuma dua. Lantang Zuardi, dan Mizal Permadi, tanggal lahir mereka perlu juga, gak?"


"Tulis sendiri!" Gue suruh ketik sendiri di handphone punya gue, sekalian gue suruh nambahin latar pendidikannya secara singkat mulai dari SD sampai SMA.


"Habis lulus SMA kamu ngapain aja?"


"Kerja, toh."


"La iya, kerja dimana?"


"Panjang kalau diceritain satu-satu. Nanti aja saya bikinin CV versi lebih lengkap biar ibu gak penasaran lagi sama saya?"


"Buat data kantor bukan buat saya, gak usah kepedean kamu." Bales gue judes.


"Namanya juga usaha, bu."


"Cepetan nulisnya!"


"Sudah, bu. Ini aja?" Tanyanya sambil ngembalikan handphone itu.


"Kamu udah punya bpjs? Ada nomor NPWP?"


"Ada kalau bpjs dari kerjaan yang lama, emang kantor kita juga pake bpjs, bu?"


"Pake 2 asuransi, bpjs sama sandlife. Adik-adik kamu udah ikut bpjs belum?" Gue kasih tahu, nih. Sandikala Grub punya banyak anak perusahaan yang bergerak dibanyak bidang usaha termasuk asuransi, perbankan, finance dan lain sebagainya.


"Belum, bu."


"Yaudah ini aja, kebetulan kantor ngasih pertanggungan asuransi buat keluarga inti karyawan, bisa istri atau anak, jatahnya buat 3 orang."


"Saya gak punya istri, masih narget tahun depan kalau ibu mau sama saya."


"Jatahnya tiga orang termasuk kamu, mau masukin adik-adik kamu juga boleh!" Gue gak ada waktu buat menanggapi omong kosongnya. "Gak kamu ambil juga gak apa-apa, tinggal dikosongin nanti kolomnya."


"Buat adik-adik aja, bu."


"Oke." Gue kembali ngerogoh tas dan mengeluarkan dompet channel gue untuk mengambil sepuluh lembar seratus ribuan. "Ini buat kamu, sebagai permintaan maaf saya."


Kava tertegun sepersekian detik. "Gak perlu seperti ini, saya udah maafin ibu dari kemarin."


"Iya, tapi uangnya tetep buat kamu." Gue maksa.


"Kenapa ibu ngasih saya uang? Harusnya kan saya yang menafkahi ibu." Masih aja bercanda padahal gue lagi serius.


"Tanggal 27 masih lama, kasian adik kamu kalau sekolah gak pake seragam." Gue beneran gak tega begitu ngeliat sendiri gimana kehidupannya. "Besok-besok jangan ngutang di warung, masa nasi udah jadi *** belum kebayar sampai bulan depan."


"Gak usah, bu. Saya dibantu ngurus pendingan gaji aja sudah makasih banget." Tolaknya.


Setelah gue lipat jadi dua, uang itu gue selipkan ke kantung jaketnya. Gue lalu buru-buru pergi sebelum Kava menyadari perbuatan gue.


"Bu Okta, tunggu!"


Gue kira Kava bakal ngejar untuk ngembaliin duit itu, makanya langkah kaki gue percepat.


"Kalau ibu pengen cari simpanan, silahkan hubungin saya. Mau kok saya jadi cowok bayaran kalau ibu yang booking." Teriaknya dengan lantang sampai satpam yang berjaga di portal ikut kedengeran.


"Minggat kamu dari hadapan saya!"