Step On Me

Step On Me
How to Seduce Your Boss



Setiap laki-laki pasti punya fantasi sendiri. Terutama soal cewek. Sebut saja Pak Tian, manager keuangan. Orangnya perfeksionis, pekerja keras, dan family man. Gak heran kalau dia sempat mengalami jadi bujang tua sebelum bisa mempersunting istrinya sekarang. Pengacara muda yang nggak cuma cantik, tapi otaknya juga melejit. Atau Wenny, anak magang yang super kalem dan pendiem tapi dapet pacar Rengga, si biang onar nan petakilan. Di kasus lain, ada Doni, bagian pemasaran. Badan boleh bongsor, tapi kecanduan anime sama susu bebelac kardusan. Kriteria idamannya adalah wanita yang cantik, lemah lembut, berjembut lebat, dan keibuan.


Darimana gue bisa tau? Gampang. Karena kerjaan gue tiap hari adalah membaca orang. Bekerja sebagai HRD, gue selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Orang mana yang pantes direkrut perusahaan, bagaimana potensi orang itu ke depannya, dan apa yang harus kami lakukan untuk makin mengembangkan potensi mereka. Itu adalah PR yang saban hari gue lakonin. Psikologi orang itu bisa dibaca. Dari cara mereka ngomong, membawa diri, faktor kebiasaan dan juga hobi. Mana bisa gue berada di posisi sekarang kalau gue nggak jago nebak orang?


Tapi sayang, teori gue nggak bisa diaplikasikan pada Pak Sandi. Si Bos keren dengan latar belakang yang mumpuni dan nominal rekening bank yang gak bisa dianggap remeh. Raut wajahnya datar, pelit senyum, gak ketebak, bahkan caranya membawa diri juga sulit diartikan. Layaknya sebuah kertas, dia semacam lembaran kosong kertas HVS. Gue gak bisa membaca apa-apa, cuma putih doang.


Kasarnya Sandi itu ibarat karakter cowok idaman pembaca *******, CEO ganteng yang dingin-dingin nyebelin minta dikremus. Sementara gue 'seharusnya' jadi heroine yang sanggup menaklukkan hatinya. Cuma ya, kedua mbak author yang lagi ngegarap cerita gue sekarang seakan gak ridho gitu gue berpasangan dengan Sandi. Tapi gak apa-apa, meski gak dapat restu gue akan tetap maju pantang mundur. Kita lihat saja, drama extraordinary you versi gue bakal digelar disini.


Gue nekat begini karena udah pernah dikecewakan sekali, impian gue dapat suami idaman digagalkan dengan plot twist kalau Sultan ternyata cowok gay, jangan harap gue bakal kecolongan lagi.


Nih, gue udah siap tempur dengan sejuta perencanaan matang. Ibarat orang mau maju perang, bakalan mati konyol kalau gue gak bisa atur siasat dan strategi. Mengenal medan musuh dan menganalisis setiap kemungkinan-kemungkinan. Makanya itu gue butuh data yang akurat dan terpercaya sebelum ngegas demi memperjuangkan masa depan. Gue gak punya banyak waktu lagi. Sebelum tambah tua dan expired, gue kudu bisa jadi Nyonya Sandi, harus.


Seperti yang gue bilang sebelumnya, setiap lelaki -yang normal- pasti punya kriteria cewek idaman. Dari apa yang gue amati dan resapi, kriteria cewek idaman itu berasaskan pada satu hal, law of attraction. Seperti halnya orang padang pasir yang ingin merasakan hidup di negara empat musim, atau orang negara empat musin yang ingin merasakan kehidupan di khatulistiwa, manusia itu serakah, mereka selalu menginginkan apa yang tidak mereka punya. Layaknya jodoh. Kita cenderung tertarik pada orang yang memiliki apa yang tidak kita punyai.


Karena sebenarnya kita merasa kosong. Kita itu berharap nanti akan ada orang yang mengisi kekosongan tersebut. Seperti potongan puzzle, ketika kita sudah menemukan yang tepat dan sesuai dengan kekosongan kita, maka klik... dua insan pun dipersatukan. Kan pinter ya gue? Maklum, lagi persiapan jadi calon istri pak boss.


Ehem jadi untuk itu, demi bisa berjodoh dengan Pak Sandi anaknya Pak Santoso, gue harus tau kriteria wanita idamannya. Gue juga harus tau apa yang dicari Bos besar itu pada diri seorang wanita. Kalau gue bisa jadi potongan puzzle yang tepat untuk melengkapi kekosongannya, tinggal sat set sat set deketin, bikin kebetulan-kebetulan yang disengaja, dan byaaar... tahun depan gue udah naik pelaminan. Oke Kinan, semangat! Demi masa depan yang lebih baik, lo cosplay dulu jadi puzzle.


"Pak Sandi gak main puzzle, bu." Kava nanggepin ocehan gue ditelepon dengan begonya.


"Susah emang ngomong sama lulusan SMK, kamu mana ngerti yang aku maksud?" Gue muter mata.


"Ibu mau kasih Pak Sandi hadiah, kan?" Kava lanjut bicara. "Saran saya kasih hadiah yang bisa dipake, kayak waktu ibu ngasih saya sepatu kemarin."


Gue menimbang saran Kava. Sepatu? Tapi ukurannya? Njir, gue pusing.


"Saya liat kemarin Pak Sandi pake sepatu beda sebelah, kasian kenapa sepatu kanan kirinya beda sih, kek ospek aja."


"Memang begitu modelnya 2 sisi bagian sepatu beda. Sepatu mahal itu kamu gak akan mampu beli." Gue hina aja sekalian.


"Loh saya punya tiga pasang punya di rumah. Sebelum jadi trend, saya udah pakai dari dulu."


"Gak usah ngibul kamu."


"Beneran, bu. Punya saya kanan sama kiri juga beda kayak gitu. Bedanya kalo Pak Sandi sepatu, saya sandal jepit buat dipake ke WC."


"Omongan kamu gak bermutu." Gue capek aslian. Mending gue mulai searching outlet-outlet resmi brand bermerek buat cari referensi. Ceritanya gue sok-sokan ngide pengen kasih 'late birthday gift' yang terspecial buat Sandi, cuma masalahnya gue gak ada klue mengenai barang-barang spesifik yang menjadi kesukaan bos gue itu.


Serius, gue aslinya gak tahu sama sekali tentang kehidupan pribadi Sandi. Jangankan baca tipe idel seorang Sandi Santoso yang tiap berangkat kerja mukanya selalu datar tanpa emosi, nebak warna kesukaannya aja gue kesulitan.


Gue nanya Nayra juga percuma, meski udah lama jadi sekretaris tapi dia cuma tau sebatas makanan dan minuman yang biasa dikonsumsi Sandi, untuk urusan yang lebih pribadi Pak Bos sangat tertutup.


Setau gue, Sandi gak punya akun media sosial atau mungkin punya tapi diprivat dan cuma circle terdekatnya aja yang bisa mengakses. Gue lumayan tau deretan mantan Sandi yang rata-rata artis dan model terkenal tanah air, tapi track record dan citra yang ditayangkan di media gak jauh beda dengan kesehariannya kantor.


Gak ada info pasti yang bisa gue jadiin pegangan selain nama bapak dan tanggal lahir. Gak kurang dan nggak lebih. Bekal yang sangat cukup buat nyantet orang, tapi begitu minimalis untuk memulai pendekatan.


"Kav, gimana kalau...." Lah sialan dia matiin telepon gue. Padahal gue belum selesai ngomong.


Gue tekan tombol dial di handphone dengan kesal, tapi meski gue hubungin berkali-kali tetap gak diangkat.


"Mon! Moniq!" gue teriakin sekretaris gue.


"Panggil Kava ke ruangan saya!"


"Kav-Kava anak marketing itu, Bu?" Tau banget mood gue lagi jelek, Moniq jawab dengan hati-hati.


"Emang ada Kava lain di kantor ini?" suara gue agak meninggi.


"Oh iya."


"Cepetan!!" Gue sampai mendelik gini.


"Ba-baik, bu." Moniq pun terbirit-birit kembali ke meja kerjanya.


Namun sampai sore hari menjelang waktu pulang, Kava belum juga menghadap gue, keterlaluan.


"Kava mana?" Begitu gue tanya, Moniq langsung mengkeret.


"Udah kamu cari belum?"


"U-udah, bu."


"Terus mana anaknya gak nongol-nongol?" Bukannya gue galak ya, jangan salah paham. Ya walaupun delapan puluh enam persen bawahan gue bakalan bilang kalau gue galak, tapi semua itu diperlukan demi kewibawaan gue sebagai pemegang jabatan.


Dia kedip-kedip bentar. Menanti semburan gue berhenti dulu baru ngejawab, "Anu Bu... itu.. em.."


"Anu.. anu.. apaan?" gue gak sabar.


Moniq mendesis kecil. Dia mengigit bibir bawahnya. Kebiasaan yang selalu sekretaris gue lakukan kalau lagi grogi. "Itu, Bu. Katanya kalau ada perlu, Ibu disuruh kesana sendiri." Perempuan itu mengamati perubahan ekspresi di wajah gue. Dia lagi bersiap-siap kali aja gue meledak lagi.


"Jadi dia gak gubris perintah saya?" Belagu bener, baru beberapa bulan kerja, udah semena-mena. Biarpun kita beda divisi tapi jabatan gue lebih tinggi. Mentang-mentang orangnya Pak Bos, kelakuan seenak udel tetangga.


Ngomongin soal udel, kenapa gue jadi bernostalgia sama lubang udelnya Kava yang membulat kece di antara petakan sawah siap cangkul itu ya?


Amit-amit jabang bayi! Lo mikirin apa sih Kin. Nyebut.. nyebut.. Masa keteguhan hati gue pada cowok berduit selama bertahun-tahun auto runtuh hanya karena udel.


"Saya gak tau, Bu. Saya cuma menyampaikan seperti yang dibilang Pak Kava." Muka Moniq udah memelas minta dikasihani.


"Ya udah. Kamu selesain dulu kerjaan kamu terus pulang, jangan kemalaman kayak kemarin." Gue gini-gini juga perhatian sama anak buah, Moniq punya asma dan suka kambuh kalo keseringan kena udara malam.


"Baik, Bu." Moniq kembali menghadap komputernya.


Setelah menghembuskan nafas kasar, gue buka bedak gue lalu touch up sana touch up sini. Gak lupa lipstik merah merona yang bikin wajah gue makin seger dipoles lagi di bibir. Oh iya, parfum! Jadi cewek harus wangi, cantik, dan kinclonk. Ini gue ngomongin wajah lo ya, bukan dudukan toilet yang baru dibersihin.


Kalau aja bukan karena gue yang butuh, amit-amit gue nyamperin Kava duluan kayak gini. Habis cuma dia satu-satunya orang di perusahaan ini yang deket sama Pak Sandi, dan cuma dia satu-satunya akses VIP yang bisa gue pakai untuk mewujudkan mimpi gue jadi Nyonya Sandi tahun depan.


Oke, gue udah cantik! Saatnya berburu Kava.


Eh, bentar. Kenapa mau ketemu Kava aja gue harus dandan duluan?


Ralat, berburu Pak Bos.