
Sore itu gue dan Gea lagi meeting bareng all divisi yang dipimpin oleh Sandi sendiri, lagi bahas performa perusahaan dari banyak sisi. Dia pengen bikin terobosan baru yang belum pernah dilakukan dimasa ayahnya masih menjabat, termasuk rombak sistem beserta jajarannya.
Sandi tau resikonya besar, tapi kalau dia gak segera bikin gebrakan selamanya dia hanya akan berada dibawah bayang-bayang sang ayah. Oleh karena itu semua divisi diharuskan berbenah dan ikut berkontribusi dalam memajukan perusahaan.
Termasuk bagian HRD, yang pada meeting kali ini diwakili oleh gue dan Gea. Kita diminta mempersiapkan langkah-langkah untuk membantu kemajuan perusahaan, terutama dari sisi sumber daya manusia.
"Saran saya, kita coba dulu untuk mengembangkan potensi karyawan yang sudah kita miliki, merekrut orang baru bukan solusi yang tepat." Giliran gue yang presentasi, sembari menyaksikan tayangan slide demi slide di layar monitor, gue melanjutkan penjelasan. "Saya yakin kita punya SDM yang mumpuni dan compatible, kita hanya perlu menambah skill mereka dan memaksimalkannya."
"Apa pertimbangan kamu sampai bisa seyakin itu?"
"Karena saya sendiri yang merekrut mereka, saya tau sejauh apa kapasitas orang-orang yang masuk perusahaan ini...yah kecuali untuk beberapa orang yang masuk lewat jalur lain, saya gak ada clue karena mereka dites tanpa melewati meja saya." Mata gue sambil mengerling ke arah Kava yang sejak meeting dimulai terus-terusan pasang tampang bosen dan kadang menguap tanpa tau malu, entah dia menyimak atau enggak gue gak yakin.
Tapi sebaliknya begitu giliran gue yang maju, punggungnya langsung dibikin tegak dan berlagak seolah-olah pembahasan gue menarik banget. Terus kadang suka mecah konsentrasi gue dengan senyum-senyum sendiri kayak orang dongo.
Apalagi waktu gue nyinggung-nyinggung penerimaan pegawai jalur lain, Kava terang-terangan nunjuk dirinya sendiri biar dinotice. *******, emang sengaja dia bikin gue gak fokus dan gagal presentasi.
"Saya sebut pengecualian bukan berarti saya lepas tangan-" Kalimat gue terpotong karena Sandi menginterupsi dengan mengangkat sebelah tangannya.
"Memang ada peraturan yang bilang saya tidak boleh rekrut anak buah sendiri? Apa masalahnya kalau saya bawa orang-orang ini masuk ke perusahaan milik saya sendiri? Toh saya tidak asal comot dipinggir jalan. Saya juga punya pertimbangan sendiri kenapa saya pilih mereka." Sialan, kenapa jadi gue yang dibantai. Mana Kava seperti lagi ngeledekin lagi. Gak secara terang-terangan, sih. Tapi lihat aja dari seringainya macam paling benar aja.
"Maksud saya bukan seperti itu, Pak. Saya tidak mempertanyakan hak anda merekrut karyawan sendiri. Saya tau anda cukup objektif menyingkapi hal tersebut. Mohon maaf jika perkataan saya menyinggung anda."
"Lalu bagaimana dengan pegawai yang sudah uzur, kira-kira bisa gak mereka mengikuti ritme kerja kita yang baru?" Tanya Sandi. "Saya sebenarnya lagi mempertimbangkan untuk mengurangi karyawan usia gak produktif dan menggantinya dengan orang-orang yang lebih potensial. Mungkin kita bisa menawarkan pensiun dini dengan pesangon yang besar seperti-"
Gue potong kalimat Sandi dengan cepat. "Mereka ikut membesarkan perusahaan ini bersama ayah anda, Pak Sandi. Anda tega memecat orang-orang ini begitu saja? Apa nanti kata ayah anda kalau tahu?"
"Saya bilang lagi mempertimbangkan bukan langsung memutuskan." Sandi seperti tidak suka omongannya gue bantah. "Tidak perlu menggurui saya, kamu saja juga baru bergabung di perusahaan ini. Tahu apa kamu tentang loyalitas? Kalau misal saya memberi pesangon berupa saham, apa mungkin ayah saya keberatan?"
"Maaf, pak. Saya kurang bijak memotong ucapan anda."
Sandi melipat kedua tangannya didada setelah mengisyaratkan gue untuk melanjutkan presentasi. "Sebelum pembahasan kita makin melebar, saya ulangi poin awal yang tadi. Pertama saya menjamin semua karyawan yang kita miliki saat ini mampu mengikuti perubahan sistem kerja seperti yang manajemen inginkan. Kenapa saya berani mengatakan demikian, ya karena saya memegang penilaian performa mereka. Mungkin ada beberapa yang kurang memenuhi indikator tapi masih bisa dalam batas wajar. Kedua, jika memungkinkan kita bisa mengirim mereka untuk mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh pihak yang lebih ahli. Untuk opsi yang lebih fleksibel dan praktis, kita bisa mendaftarkan karyawan untuk mengikuti kelas online atau webinar yang ada di internet. Biaya bisa jauh lebih murah jika dibanding mendatangkan orangnya langsung."
"Efektif gak cara seperti itu?"
"Sangat efektif." Gue jawab dengan penuh keyakinan. "Apalagi kalau kita memotivasi mereka dengan kenaikan gaji, bonus, atau jenjang karir yang jelas, saya yakin mereka juga akan memberikan kontribusi yang sepadan. Atau kalau anda mengijinkan saya ingin menyarankan beberapa opsi mengenai reward dan intensif, boleh saya buka disini?"
"Kirim besok ke meja saya." Kata Sandi dengan datar.
"Baik, saya siapkan dulu filenya." Gue lanjut menyelesaikan bagian gue dan setelah itu ganti Cahyo yang maju untuk memaparkan target dari divisinya.
Gue menghembuskan nafas lega, gak sanggup gue kalau kelamaan ngadepin Sandi si manusia batu, takut ah orangnya modelan senggol bacok gitu.
Baru saja pantat gue nempel kursi, tau-tau Gea nyorongin gue secarik kertas dengan tulisan kecil-kecil.
Berani bener lo bangunin gerandong lagi tidur?
Gue angkat alis sambil natap Gea, lalu gue berbisik. "Keceplosan."
Gea muter mata, dan nulis lagi dikertas yang sama.
Jangan lupa kita diundang gerandong ke party-nya. Ntar lo mau pake baju apa? Gue dong pake gaunnya Tex Saverio.
Gue nyibir, Gea semangat bener. Tau dia kalau Cahyo bakal datang sendirian ke pesta itu berhubung bininya lagi hamil gede. Pasti mau caper, dasar otak pelakor.
Gue malas komunikasi pake tuker-tukeran kertas, jadi gue ngomong langsung pake suara yang pelan banget. "Gue gak datang."
"Kenapa?" Bibir Gea terkatup untuk meredam suara.
"Ada urusan penting."
"Adalah pokoknya."
Gea yang gak terima langsung nyolot. "Terus gue nanti sama siapa? Nay pasti ngajak lakinya, gue ogah jadi obat nyamuk!"
"Ssh!" Buru-buru gue sikut, cablak banget itu mulut. Apa gak runyam kalau Sandi liat kita ngobrol sendiri ditengah meeting penting ini.
Gea menunduk dan menulis sesuatu diagendanya dengan huruf besar-besar.
KEMARIN KATANYA BISA DATENG KOK TAU-TAU NGEBATALIN GITU AJA? JANGAN BILANG LO MAU KENCAN SAMA SULTAN??! STORY IG-NYA LAGI DI HONGKONG LO GOSAH BOONGIN GUE YA!
Buset dah Gea kalau ngegas. Gue jawab sekenanya aja biar dia makin kesal. "Bodo amat pokok gue gak datang. Lo gak liat gue barusan dibantai bos busuk lo itu? Males gak lo kalau jadi gue?"
"Tapi gue gak mau sendirian!" Gea bersikukuh. "Ah lo tega banget sama gue..."
"Lo ajakin Jelita. Kasian tuh anak gabut banget di apartemen."
Gea cemberut. "Gue mau party bukan ngemong bocah!!"
"Jagain baik-baik spup gue ya, Ge. Have fun kalian." Gue tepuk pipi Gea sekali sebelum kembali fokus pada layar monitor.
Gea masih penasaran sebenarnya gue mau kemana sampai dibela-belain absen di acaranya Sandi. Padahal pestanya gak main-main, keluarga bos gerandong gue itu sampai nyewa ballroom hotel mewah demi merayakan haul dari pewaris tunggal Sandikala Grub. Kayak anak kecil aja ulang tahun mesti dirayain, sekalian aja kasih badut dan tukang sulap biar makin meriah.
Gak gini loh, gue pernah sekali datang ke pesta pertunangan Sandi dengan ceweknya yang merupakan anak pengusaha batu bara dari kalimantan, terus acaranya kaku dan membosankan karena harus mengikuti protokoler. Iya, kalau Sandi bisa jadi tuan rumah yang nyenengin, dengan senang hati gue mejeng disana sampai pagi.
"Kava ngeliatin kesini mulu, kenapa sih?" Gumam Gea.
Gue langsung nengok sampai urat leher terkilir. "Siapa liatin elo?"
"Gue lagi curi-curi pandang ke Cahyo eh malah dia yang kegeeran." Gea mendengus.
"Elo kali yang kegeeran." Jelas-jelas daritadi Kava merhatiin gue, orang gue presentasi aja dikedipin biar buyar konsetrasi, kan emang laknat dia.
"Kalau diliat-liat, Kava makin kesini makin oke, ya?"
"Maksudnya?" Alis gue bertaut.
"Makin cakep. Lo liat deh penampilannya sekarang, bandingkan sama kemarin-kemarin." Gea membuat gestur menilai dengan tangannya. "Kemejanya rapi, dan lumayan bermerk kalau gue liat-liat, sepatunya kinclong, terus rambutnya kelimis kayak habis diguyur minyak."
Iya dong, jelas. Siapa dulu sponsornya kalau bukan gue? Duit gue habis banyak buat make over Kava. Sampai tiap pagi harus gue chek penampilan via wa untuk memastikan dia menjalankan amanat gue. Tapi masalah gel rambut...kayaknya dia makenya kebanyakan, deh. Oke, masukin catatan.
Tapi gue seneng kok merogoh kocek dalam-dalam buat dia, soalnya Kava nurut gitu sama gue. Apapun yang gue suruh pasti langsung dikerjain, berhubung gue demen segala sesuatu yang gercep dan berjalan seperti kemauan gue, jadi gue berniat untuk pertahanin Kava sampai gue bosan.
"Emang ya semua orang akan glowing pada waktunya, tergantung niat dan dananya." Gea nambahin komentarnya.
"Eh lo mending teguhkan niat pelakorin Cahyo deh, Ge. Gue yakin dia bentar lagi cere ama bininya. Gue dukung lo pokoknya, jangan gampang berpaling dulu, kan sayang kalau pengorbanan lo selama ini sia-sia." Gue ngoceh buat meyakinkan Gea, sampai gak sadar kalau lagi ditarget Sandi karena gue gak memperhatikan dia ngomong.
"Sepertinya anda punya sesuatu yang menarik disana. Silahkan maju ke depan. Sampaikan ide-ide anda biar kami semua bisa dengar." Fix, Sandi punya dendam pribadi sama gue, help.
Gue auto kicep dan suasana langsung berubah tegang, mati gue tadi Sandi lagi ngebahas apaan coba.
"Bos. Selamat ulang tahun!" Tau-tau Kava berdiri sambil tepuk tangan. Untungnya yang lain juga mengikuti Kava bertepuk tangan dan memberikan ucapan dengan riuh. "Hapi besde tuyu, hapi besde tuyu, hepi besday pak bos hapi besde pak bos tuyu tuyu!!"
"Apa ini?" Sandi pura-pura kaget dan tertawa sewaktu mereka semua menyalaminya secara bergantian. "Oke. Oke makasih semuanya. Nanti malam jangan lupa datang."
"Ayo potong kuenya, Mbak Nay kuenya mana?" Teriak Kava lantang, dan gak lama kemudian sekretaris Sandi masuk kedalam ruangan dengan kotak berisi kue ulang tahun lengkap dengan lilin yang menyala.
Nyawa gue terselamatkan, gak jadi dibantai bos killer. Makasih ya kamu.