
Gue memutuskan untuk tetap menjaga jarak sama Kava, bersikap seprofesional mungkin dalam bekerja tanpa melibatkan hal-hal lain. Biar gimana pun, Kava adalah partner kerja gue buat nyiapin event di puncak akhir minggu ini. Gue gak mungkin bisa selamanya menghindari dia. Hal terbaik yang bisa gue lakukan adalah menghadapi kenyataan dengan betina.
Tok.. tok.. tok..
Pintu kantor gue diketuk. Gue ngelengok sebentar dari sela-sela vertical blind kaca ruangan gue. Mati gue, Kava nyamperin kesini.
Badan gue otomatis mencari tempat untuk menyembunyikan diri. Berakhirlah gue nungging cantik di kolong meja.
Tunggu! Apa yang sedang gue lakuin? Gue kan udah janji mau menghadapi Kava dengan betina.
"Permisi Bu Okta, boleh minta waktu nya seumur hidup?" Salam Kava bikin gue makin waspada Semangat Kinan, lo pasti bisa. Ngapain malu? Orang lo gak buat salah. Gue terus menyemangati diri gue sendiri hingga akhirnya dengan percaya diri keluar dari tempat persembunyian dan kembali duduk di kursi singgasana.
Gue menyibak rambut dengan penuh gaya. Dagu diangkat dikit biar keliatan angkuh, lalu kaki ditumpang-tindihin. "Ada yang bisa saya bantu?" jutek banget nada gue.
"Ibu ngapain ngumpet disitu?" dia jalan mendekat sambil celingukan ke bawah meja, curiga kalau gue ngumpetin sesuatu di sana.
"Bukan urusan kamu!" gue masih sama judesnya.
Kava berkata lirih, "Pantesan di depan ada tulisannya awas anjing galak."
Grrr... dasar Moniq! Kenapa tulisan laknat itu masih nangkring di sana!
"Kamu kalau gak ada kepentingan mending keluar aja. Aku sibuk!" geram gue sekalian ngusir.
Kava langsung naruh setumpuk berkas-berkas di atas meja gue. "Ini Bu portofolio dari divisi marketing. Katanya Ibu minta buat event akhir pekan. Ini udah direvisi Pak Sandi."
"Oke taruh situ. Kamu boleh keluar!" gue pura-pura sibuk ngetik-ngetik di depan laptop.
Tapi Kava gak beringsut. Dia malah asyik berdiri disitu sambil cengengesan.
"Kamu ngapain masih di sini?" tegur gue.
"Saya ada kepentingan, Bu. Makanya masih di sini," dia nyengir.
"Sepenting apa?"
"Penting banget," sok yakin gitu lagaknya.
"Mau gombalin aku, kan?" Gue udah hapal gelagatnya.
"Enggak, saya disini kerja ngapain gombal-gombal?" Dia cengengesan lagi. "Tapi saya punya stock gombalan yang buanyak, dijamin bisa bikin Ibu terbang-terbang."
"Kalau niat kamu cuma gangguin aku, mending keluar sana. Buang-buang waktu!"
"Ngegas mulu pantes gak ada pacar."
"Daripada kamu, miskin tapi nyarinya pacar spek bidadari!" tandas gue.
Dia senyum datar. "Ibu sombongnya kayak gak napak bumi,"
Langsung gue tangkis, "Ya memang. Makanya please educate your self. Kamu tau gak apa yang lebih tinggi dari Burj khalifa? Ya betul, harapan kamu macarin aku."
"Enak aja alam barzah, maksud kamu apa ngomong kayak gitu?" alis gue keangkat satu.
"Habis omongan ibu udah kek almarhum, kurang meninggalnya aja."
"Udah belum ngaconya?"
Kafa terkekeh sebelum lanjut bicara. "Saya nunggu itu loh yang di bawah portofolio ada proposalnya. Butuh diteken Ibu."
Muka langsung gue tekuk, buru-buru gue ambil proposal di tumpukan paling bawah dan langsung gue tanda-tanganin tanpa gue baca dulu. "Nih udah!"
"Mau makan siang bareng gak, bu?" ucap Kava seraya ngambil proposal yang udah gue tanda-tanganin.
"Gak sudi!"
"Gak pengen nitip dibawain sesuatu? Saya mau makan di warteg kayak biasanya." dia nyengir lagi.
"Kamu pikir aku doyan makan di warteg. Menunya berminyak semua, sayur gak ada rasanya. Aku bisa gendut dan jerawatan!" komentar gue agak sadis dikit. "Kenapa gak makan di kantin aja, sih? Kenapa ke warteg itu mulu? Lo mau makan siang atau ngecengin anaknya mak warung?"
"Kantin mahal, saya lagi gak ada duit. Ibu sih, gak bawain bekal jadi susah sendiri saya."
"Aku bukan babu kamu, ya! Enak aja minta dibawain bekal tiap hari, kamu sakit aja gak ngasih tau aku!"
"Oh, minta dikasih tau?"
"Udah sono nyingkir dihadapan saya, bodo amat kamu makan di warteg, mau makan di selokan, aku gak peduli." tangkas gue mengibaskan tangan di depan muka menyuruh Kava segera pergi.
"Ke warteg aja, ah. Baik lagi Ibu wartegnya. Suka ngasih saya lauk tambahan. Coba kalau makan di restauran. Apa ada chef yang ngasih makan gratis? Semua diukur pake duit, Bu. Mereka masak dengan dollar, bukan dengan hati. Hidup warteg, jayalah warteg Indonesia!" Sempet-sempetnya Kava pidato tujuh belasan.
"Ya iyalah, kan anaknya emak warung suka sama kamu. Makanya dikasih gratis!" Gak tanggung-tanggung gue nyindirnya.
Dia malah senyam-senyum sendiri. "Jangan cemburu gitu dong, Bu. Dek Tasya kan cuma adek. Kalau Ibu..." Kavi gak ngelanjutin kalimatnya.
"Kalau aku apa?"
"Mami gula kesayangan dan satu-satunya dalam hidup saya,"
"Kesayangan gundulmu!" gak nyadar gue ngumpat.
"Gitu-gitu gundul saya udah pernah ngebolang di hutan khatulistiwanya ibu, loh." Kava kasih gue kedipan genit.
Anjing malah ngebahas itu.
Mendapat tatapan maut dari gue, Kava menaik-turunkan alisnya sambil berjalan mundur ke arah pintu. "Maaf bu, anda terlalu aktif untuk saya yang nolep. Besok-besok kalau mau nerkam saya, minimal kasih peringatan dulu biar saya bisa persiapan."
Emosi gue meledak saat itu juga. "Kavaaaaa! "
Sambil cekakan, itu cowok langsung lari tunggang-langgang keluar dari ruangan gue. Dateng-dateng cuma bikin gue murka aja, tolong suruh dia daftar ke notaris ppat buat beli tanah 2 meter persegi terus langsung kubur aja gak usah disholatin