Step On Me

Step On Me
Anak Baru Bikin Ulah



Keparatnya, gue sepanjang siang itu malah sibuk sendiri bongkar-bongkar file di lemari kabinet demi nyariin surat lamaran Kava yang kapan dulu itu gue lampar entah kemana. Shit, gue taruh mana, sih!


"Mon, Moniq!!" Gue teriak manggil sekretaris gue.


"Ya, bu?" Moniq buru-buru datengin gue, padahal ada telepon tapi gak tau gue lebih demen aja teriak-teriak.


"Surat lamaran anak baru mana?"


"Anak baru siapa, bu?"


"Ituloh yang dari marketing?"


"Namanya?" Moniq **** banget, pengen gue sumpel otaknya pake kapas.


"Pokok orangnya Sandi, masuk sini dibawa Sandi," Gue ogah banget nyebutin nama jahanam itu.


"Pak Sandi dirut kita, bu?" Moniq nanya mulu bukannya bantu nyariin.


"Emang ada Sandi yang lain di perusahaan ini?" Gue pakai nada ngegas.


"Oh iya?" Moniq garuk-garuk kepala sampai dia ingat. "Mas Kava, ya, bu?"


"Nah iya, kamu taruh mana filenya?"


"Kan ibu yang pegang, katanya gak usah dites cukup interview sama ibu dan Pak Sandi---" Omongan Moniq gue potong.


"Kali aja kamu simpan diluar sepengetahuanku." Gue sambil nyari dikolong meja yang jelas-jelas bersih dari sampah karena setiap hari dibersihkan.


"Ndak, bu." Moniq menggeleng.


"Jarang-jarang soalnya kita dapat surat lamaran pake kertas....masa dibuang Udin, sih?" Gue mikirnya pasti udah diberesin sama OB.


"Sudah 3 bulan kan, bu? Pasti udah ilang."


"Berarti dia belum ke input di data karyawan, dong? Kok kamu diem aja, sih, Mon?" Bisa-bisanya gue bikin kesalahan sefatal ini.


"Mana saya tau, bu."


"Dia 3 bulan gak terima gaji, dong? Aduh Moniq!" Mau nyalahin siapa, secara secara keteledoran ada di gue. ****** aja kalau sampai Sandi tau bisa-bisa sedivisi HRD kena amukannya.


"Lo ngapain sih teriak-teriak mulu dari tadi?" Gea, rekan kerja dan staf kepercayaan gue datang menghampiri. Mungkin kupingnya risih denger gue ngomong pake nada tinggi mulu.


"Ge," Gue mencebik. "Gimana ini? Bisa-bisa gue dicopot jabatan kalau sampai ketahuan."


"Kenapa, sih?" Gea menyimak cerita gue, gak lupa gue juga disyukurin. Biadab emang, mentang-mentang gue kalahin waktu assesment jadi manajer. "Parah lo, makanya kalau di tempat kerja buang itu semua sentimen pribadi. Lo boleh lebih pinter dari gue, tapi kerja itu gak melulu saklek pake logika karena kadang kita juga harus pale hati."


"Lo ceramah mulu, ah, bantuin mikir jalan keluarnya napa, sih?" Gue ngedumel.


"Minta maaf sana, terus mintain lagi datanya." Kata Gea dengan gampangnya. "Lo bikin surat pernyataan kalau kesalahan ada di elo, terus minta tanda tangan Sandi sebelum lo forward ke bagian keuangan biar gajinya bisa dirapel."


"Gue tau mekanismenya, lo gak usah sok ngajarin gue, deh. Masalahnya gue gak pengen Sandi tau, Ge. Gue baru megang jabatan ini 6 bulan masa kudu lengser, sih?" Ratap gue.


"Gak bisa gitu, Bu Kin. Lo mau nembusin bagian keuangan pake apa kalau surat lo gak diteken Sandi? Pantes aja Bian beberapa bulan ini rempong bisa-bisanya ada penambahan orang tapi gak ada absensi dan reimbusement-nya, ini lo sama aja kayak masukin orang di kantor secara ilegal tau gak?" Kadang kesel Gea kalau ngomong sama gue gak ada hormat-hormatnya.


"Terus gue musti gimana?" Gue merengek, kapok gue mandang kerjaan sebelah mata. Okelah gue emang gak demen sama orangnya, tapi setidaknya gue harus tetap melakukan kewajiban gue sebagai personalia yang mengurus hak-hak karyawan. Kenapa juga waktu itu berkasnya Kava gak segera gue kasih ke Gea atau staff yang lain untuk diurus, malah gue hempaskan ke lantai dengan semena-mena.


"Pertama temui Kava, minta lagi datanya. Lo gak punya, kan?"


Gue menggeleng dengan lemas, padahal tau sendiri hal terakhir yang pangen gue lakuin di dunia itu berurusan dengan Kava. "Mon, tolong lo sekarang ke bagian Marketing cari Kava, bilang aja dia suruh kesini. Cepat!"


Tapi sebelum Moniq beranjak, Gea keburu marahin gue. "Bagus, ya? Bu Kinan udah belagak kayak bos? Emang lo yang punya perusahaan ini kok seenaknya main perintah? Meski gue anak buah lo, tapi gue berhak ingetin lo kalau emang lo salah. Jangan mentang-mentang sekarang lo udah jadi atasan bisa berbuat semau lo. Coba selesaikan sendiri urusan lo. Moniq tetep disini, lo yang kesana. Ini masalah terjadi karena kelalaian lo sendiri, bukan Moniq ataupun gue."


Kalau Gea udah keluar sungutnya begini, gue takut juga, sih. Apalagi sebelum gue jadi atasannya, kita pernah kerja bareng bertahun-tahun, Gea tau semua track record gue. Kalau dia emang berniat jahat pasti sekarang gue udah dilaporin ke direksi.


"Oke, Ge. Oke." Gue terpaksa mencari Kava sendiri, apes bener gue hari ini.


Ternyata ava gak ada di ruangannya, divisi marketing lagi sepi penghuni, cuma ada beberapa admin yang lagi kerjain laporan. Terus gue inget kalau sekarang Kava lagi meeting sama Sandi, mesti gitu gue samperin ke atas?


Gue gak ada pilihan lain, sebelum Gea atau Kava sendiri yang ngelaporin hal ini, gue kudu bertindak duluan. Sesampainya di lantai dimana ruangan para direksi berada, gue atur nafas dulu sebelum gue nemuin sekretaris Sandi untuk menanyakan keadaan didalam sana. "Nay? Didalam ada siapa aja?"


"Anak marketing. Lo mau ketemu Pak Sandi?" Naira ngeliatin gue yang berdiri gugup.


"Kava ada?"


"Ada. Anak baru itu, kan?"


"Panggilin, dong, Nay." Gue mohon-mohon. "Please?"


"Penting banget, ya?"


"Aposeh ini anak ribet banget." Meski heran begitu, Naira tetap beranjak untuk manggil Kava.


"Jangan sampai Sandi tau." Bisik gue sebelum Naira menghilang dibalik pintu.


Gak lama gitu, Naira keluar bersama lelaki tinggi berkulit sawo matang yang gak lain gak bukan sosok yang selama ini bikin gue antipati. "Cari saya, bu?"


"Iya...ehm, jadi gini Kava....saya boleh minta data kamu? KTP, CV, Foto? Atau sementara saya pinjem KTP kamu dulu, lainnya bisa menyusul besok." Gue todong langsung tanpa basa-basi.


"Gak boleh."


"Kenapa gak boleh?"


"Sudah dikasih sekali masa minta lagi?" Mana nyengir lagi anaknya, kurang ajar.


"Kamu mau digaji, gak?" Gue berusaha gak terpengaruh. "Kalau gak mau ya sudah, kekepin aja itu KTP kamu!"


"Saya mau kekepin ibu aja." Kava menjawab santai sembari memasukan kedua tangannya di saku celana.


"Jangan kurang ajar, ya! Saya minta baik-baik tapi respon kamu..." Gue gak nerusin omongan, keburu ngeri ngeliat bos gue jalan keluar dari ruangannya dan menghampiri posisi kita berdiri.


"Ada apa kamu manggil Kava?" ****** gue, sepertinya Sandi lagi gak bisa diajak kompromi. "Sepenting apa urusannya sampai kamu berani ganggu meeting saya?"


Gue cuma bercanda soal ngegebet Sandi, gaes. Sumpah gak ada niatan serius jadiin dia cadangan atau suami beneran, gue cabut semua pemikiran sembrono tadi. Amit-amit, dah. Udah mukanya datar kayak tembok, mood-nya juga sulit banget ditebak. Bener dia most wanted bujangan abad ini, bener irit omong tapi sekali keluar galaknya udah kayak bom nuklir. Susah pokok menyelami personality bos gue satu ini.


Disaat gue lagi nyari-nyari alasan, taunya Kava duluan yang ngasih penjelasan. "Bu Okta nganterin dompet saya yang ketinggalan di kantornya."


"Okta siapa lagi?"


"Ibu Kinan Oktavia." Kava nunjuk gue. Seenak udel gitu dia ganti panggilan orang.


"Emang kamu ngapain sama dia sampai dompet kececer disana?" Dahi Sandi berkerut


Gue kira Kava bakal ngaduin gue, gak nyangka dia justru bikin alasan untuk menutupi kesalahan gue. Spechless gue jadinya.


"Mau tau aja, bos." Gak ada takut-takutnya ini orang kalau ngomong suka sembarangan.


"G-gak ada, Pak. Beneran, ki-kita gak ngapa-ngapain, kok." Gue kenapa, sih, jelasin begini aja sampai gelagapan.


"Saya gak mentolerir skandal apapun di kantor ini, kamu orang personalia harusnya tau itu!" Sandi ngehardik gue, kenapa gue yang kena semprot bukannya Kava sialan itu.


"Memang gak ada skandal, pak." Gue beraniin ngomong untuk membela diri. "Silahkan periksa cctv kantor saya kalau tidak percaya."


*****, serem banget pelototan Sandi, gimana bisa gue ngaku kalau belum ngegaji anak buah kesayangannya.


"Wes bos sing tenang. Anda masuk dulu, lanjut aja meetingnya tanpa saya. Cuma sebentar ini, saya sama Bu Okta mau ngurus bisnis kecil-kecilan buat modal nikah." Kava menepuk pundak bosnya dan herannya Sandi nurut aja diperintah begitu.


Ganti gue yang mendelik, bocah sampah kalau ngomong gak dipikir dulu. Begitu Sandi kembali ke ruangannya, gue langsung nyap-nyap. "Ngomong apa kamu barusan?"


Tapi Kava gak ngegubris gue, dia malah ngajuin syarat prasyarat secara sepihak. "Saya kasih pinjem KTP tapi nanti sore, sekalian saya antar ibu pulang. Gimana?"


"Gak bisa gitu, dong!"


"Bisa, kalau saya bilang bisa, pasti bisa."


"Kamu pikir pegawai rendahan kayak kamu bisa modusin saya? Mau tau gak berapa gaji kamu? Cukup gak buat beli bedak saya?" Gue paling gak suka cowok kurang, muka standar nasional aja sok kepedean,


"Waduh." Raut muka Kava terkejut. Gue bilang juga apa, males banget gue ngeladenin jamet kuproy kayak dia. Udah miskin, nyusahin aja bisanya.


Dipikirnya dengan deket sama bos bisa dapat fasilitas lebih, diatas Sandi masih ada bapaknya, diatasnya lagi ada dewan direksi dan pemegang saham. Lah dia cuma karyawan masa percobaan, gosah belagu.


"Denger ya, bocah. Kamu mau kasih data atau gak itu terserah kamu, yang kerja kamu, yang gak dapat gaji juga kamu---" Gue bilang juga apa, males banget gue ngeladenin jamet kuproy kayak dia. Udah miskin, nyusahin aja bisanya.


"Jangan, bu. Nanti saya gak bisa makan, kasihani saya." Mukanya berubah memelas.


"Makanya jangan macam-macam, saya cuma butuh kerjasama kamu biar sama-sama enak." Gue tahan emosi karena pengen terlihat profesional


"Ya udah saya ikut ibu aja, mau kok saya dienakin" Dia ngomong sambil manyunin bibirnya.


Kalau gak inget lagi di kantor udah gue maki-maki sekebon binatang. "Lancang banget mulut kamu, pantes aja orang kamu gak gak pernah ngeyam bangku kuliahan?  Apasih yang dibanggakan dari kamu yang tadinya kuli proyek terus naik pangkat jadi mandor? Seneng ya sekarang kerja pake dasi?"


Kava cuma ketawa denger bacotan pedas gue, "Ati-ati, bu. Saya bisa bikin ibu cinta mati sama saya."


"Mimpi ketinggian itu gak bagus, apalagi disiang bolong begini." Balas gue sinis.


"Mas Kava, dipanggil bapak." Naira menyela pembicaraan kita.


"Saya tunggu diparkiran motor, kalau ibu gak nyamperin saya, berarti saya yang jemput ibu." Kava mengedipkan mata sebelum berlalu pergi dari hadapan gue.