Step On Me

Step On Me
Cowok Susah ke Laut Ajah



Mari kita berpikiran logis, gue dibesarkan dari keluarga yang serba berkecukupan. Bukan konglomerat juga, sih, tapi paling gak sedari kecil gue bisa mendapatkan apapun yang gue mau dengan gampang. Bukannya sombong, kebetulan aja bokap sanggup menghidupi anak istrinya dengan sangat baik.


Terus ya, setelah bokap-nyokap mati-matian membahagiakan gue masa iya gue mau-mau aja sama cowok yang dateng-dateng cuma ngajak hidup susah? Duh maaf, mending lo cari yang lain aja.


Gue bukan matre tapi realistis, standar cowok emang harus gue pasang tinggi karena kualitas hidup gue juga gak sembarangan.


Ketahuilah bokap gue mantan petinggi di Pertamina, nyokap gue sampai detik ini masih eksis mengelola katering yang terbilang gede untuk kategori usaha rumahan, kakak gue lulusan sekolah desainer di luar negeri, sedangkan gue lulusan S2 dan karir gue bisa dibilang cemerlang untuk umur gue yang baru menginjak 28 tahun. Sejak awal tahun kemarin, gue naik jabatan menjadi manajer personalia di Sandikala Grub, sebuah perusahaan developer real estate yang membangun proyek hunian-hunian mewah dan kompleks komersial seperti properti perumahan, mall, apartemen, serta pergudangan.


Karir gue disini termasuk cepat karena itungannya gue baru gabung sekitar 3 tahun yang lalu, sebelumnya gue sempat kerja di bank milik pemerintah lewat jalur fast track yang dikader sebagai calon pimpinan, tapi ternyata gue gak cocok kerja di BUMN seperti halnya bokap. Setelah 2 tahun disana, gue memutuskan hengkang dan pindah bekerja di sektor swasta dengan gaji yang berlipat-lipat lebih tinggi.


Gue cerdas dan punya pemikiran yang maju, buktinya gue dikasih kesempatan naik ke jenjang karir yang lebih tinggi. Cuma ngasih tau aja, sih, buat cowok-cowok yang pengen deketin gue, tolong ngaca dulu. Kalau gak ada duit buat beli kaca, gue pinjemin spion mobil C-Class yang gue beli cash pake duit sendiri.


Tambah satu lagi biar itu cowok-cowok mikir dua kali, gue udah ada cowok. Orang kaya pastinya, gak hanya background keluarganya yang keren, tapi doi sendiri juga punya karir yang bisa dibanggakan.


Sultan itu pacar goals banget, pokoknya sesuai banget antara orang sama namanya. Udah pengusaha muda, ganteng pulak. Yah meski kita kudu LDR-an karena dia sering keluar negeri untuk urusan bisnis, tapi gue gak masalah secara bokap dulu kerjanya juga lintas pulau dan jarang pulang. Baru pensiun ini aja beliau ngedekem dirumah sambil ngurusin burung-burung piaraannya, itupun kalau gak keburu diteriakin nyokap suruh beli daging ke pasar.


Ngomongin soal Sultan lagi, dia itu lelaki yang mateng secara usia dan finansial, selisih umurnya aja 7 tahun lebih tua dari gue. Harusnya sih dia udah siap membina sebuah keluarga, tapi entah kenapa sampai setahun kita pacaran belum ada omongan kesana....ya gue sebenarnya siap aja kalau seumpama dia ngajak nikah sekarang.


Gak ngebet, ya, duh. Jangan salah persepsi, gue cuma bilang seumpama, kalau emang arahnya belum kesana, ya gak apa-apa gue tungguin. Lagian Sultan worth it banget jadi calon suami, kalau gue ngelepas tangkapan besar ini kan yang rugi gue sendiri.


Sultan juga baik banget, meski waktunya buat gue gak banyak tapi dia selalu nyempetin kasih kabar. Dia sering bawain gua oleh-oleh yang mahal, ngajak kencan di tempat yang mewah...yah pokok begitulah, pacar gue idaman banget. Gak seperti laki-laki didepan gue sekarang, udah anak baru tapi...shitlah, mau apa sih dia nyariin gue?


"Permisi, Bu Kinan?"


Gue gak bisa pura-pura budeg secara dia berdiri di pintu ruangan gue terbuka dan menunggu dipersilahkan masuk. Setan, sekretaris gue kemana, sih? Bisa-bisanya ngebiarin ini orang nyelonong sampai sini. "Ada perlu apa?"


"Saya diminta Pak Cahyo serahin berkas-berkas ini pada ibu." Ucapnya dengan seutas senyum. Ditangannya terdapat map murahan warna kuning kumel dan rada lecek, hari gini masih ada yang jualan map jelek gitu?


"Taruh situ." Kata gue sebelum kembali menekuni layar komputer, gue lagi ngecek email lamaran yang masuk. Di jaman serba digital kayak gini, surat lamaran gak kudu dicetak atau dikirim lewat pos, cukup apply lewat linkend atau aplikasi job id. Kuno betul kalau masih pake cara jadul, buang-buang kertas aja noh hutan nangis digunduli mulu.


Gue jadi gak susah nyortirnya, kalau lamaran yang masuk gak sesuai dengan job description tinggal didelete aja. Gak usah buang energi ngebales satu persatu, kata anak buah sih gue rada kejem orangnya ya mau gimana lagi, daripada kerjaan gue gak kelar-kelar.


Tapi gue gak bisa fokus garap kerjaan, gak bakal selama dia masih celingukan disitu, semacam bingung karena gak ada tempat yang proper untuk meletakan berkas. Mau melangkah masuk juga ragu mengingat sambutan gue gak ramah samasekali.


Habis gimana gue emang gak suka sama anak baru satu ini, dari awal gue interview sampai dia keterima kerja bawaannya bikin gue senewen mulu. Daripada gue sebel gak jelas sama ini orang jadi sebisa mungkin gue menghindari berurusan dengannya. Aslinya, gue gak rekomen dia masuk perusahaan ini, tapi apa daya kalau dia masuknya lewat orang dalam.


Emang gak ada otaknya, surat lamaran dan CV-nya langsung gue lempar begitu tau dia ada yang bawa, ngapain juga gue pelajari kalau hasil akhirnya diluar kuasa gue.


Gak, maksud gue begini. Gue bukannya skeptis atau sewot tanpa alasan, ada gitu qualifikasi pekerjaan tertentu yang butuh keahlian khusus, gak bisa sembarangan comot orang dari luar. Apalagi untuk jabatan manajerial, ini perusahaan gede btw, minimal cari lulusan sarjana teknik atau apalah, lah ini...SMK Bangunan? Pengalaman mandor proyek? Tolong deh, ya.


Kayak gue memandang remeh gitu, ya? Peduli amat dibilang sentimen. Karena menurut pandangan gue selain pengalaman kerja, background pendidikan yang mumpuni juga dibutuhkan. Tenaga ahli tercipta sesuai ilmu spesifikasinya, gak sembarang orang bisa ngeklaim gitu aja. Lagipula gue gak liat sesuatu yang special dari diri orang ini, wajarlah kalau gua pandang rendah. "Ngapain kamu kayak orang **** disitu, bawa sini. Taruh meja saya,"


"Saya boleh masuk?"


"Ya iyalah, masa saya yang kamu suruh ambil kesitu?"


"Bu Okta?"


"Ya?" Meski nama panjang gue Kinanti Oktavia tapi panggilan gue sehari-hari itu Kinan, lah ngapain si kampret manggil gak seperti kebiasaan malah gue waro. *****!


Dia gak ngomong apa-apa selama gue mendongak. Dih. Masa liatin gue pake senyum-senyum, minta digampar ini orang, ya. Tapi sebelum gue semprot, dia kembali buka suara. "Kopinya sudah diminum?"


"Hah?" Gue gak paham. Kopi? Maksudnya Starbuck yang barusan gue minum? Lah, apa urusannya dia nanyain kopi gue, gak usah lancang gue gak...eh tapi gue gak pesem kopi kok tau-tau ada dimeja gue, sih, sialan. "Itu kopi dari kamu?"


Dia menggeleng sambil tetap menyunggingkan senyum, bokis banget muke lo!


"Oh, kamu mau santet saya?" Tuduh gue.


"Emang saya ada tampang orang jahat, bu?"


"Siapa tau kamu punya niat jelek sama saya!" Kata gue pedes. Ngajak tawur banget ini orang, ya.


"Ibu orang Banten, gak mungkin saya berani macam-macam."


"Loh bisa aja...." Gue jeda sebentar sambil mengernyit. "Kok kamu tau saya orang Banten?"


"Tau gak ya?" Senyumnya semakin lebar.


Mata gue menyipit curiga. "Kamu mata-matain saya?"


"Saya dituduh terus sama ibu, tapi gak apa-apa saya terima dengan ikhlas." Katanya pasrah.


"Kamu jangan main-main sama saya, kalau mau saya bisa pecat kamu kapanpun---" Kalimat gue gak selesai keburu dia pamitan dengan sopan.


"Kita ngobrolnya kapan-kapan aja, bu. Saya ditunggu meeting sama Pak Sandi, permisi dulu, bu." Dia membungkuk sekali sebelum berbalik pergi. Asem, ancaman gue mental kalau nama pewaris tunggal perusahaan ini dibawa-bawa.


"Kava? Saya belum selesai bicara, kok kamu malah pergi?" Gak terima gue. Enak banget ngajak ribut terus main ninggal gitu aja.


"Saya sibuk, bu. Lain kali saja saya ladenin ibu sampai puas." Dia mengerling sekilas sebelum bener-bener ninggalin ruangan gue.


"Kava!!" Karena gak digubris gue teriakin lagi. "Bilangin Cahyo, lain kali suruh orang lain yang anterin berkas kesini, siapa aja boleh pokok jangan kamu!"


Gue udah tahan itu semua omongan pedas di tenggorokan. Gitu-gitu Kava kaki tangannya Sandi, bos besar sekaligus laki-laki yang gue incar menjadi calon suami masa depan kalau seandainya Sultan gak segera melamar.


Gue harus mempersiapkan cadangan, karena perempuan bijak itu harus pandai-pandai memilih jodoh yang tepat. Yah, minimal pendidikannya harus setara kayak gue, terus mapan, dan punya perusahaan sendiri. Intinya, gue paling males berurusan sama cowok susah.


***


Hi genks... aku kembali dengan cerita romantic comedy yang dijamin bakalan bikin orang gila tambah gila. Nah, di kesempatan kali ini aku beruntung banget bisa duet koclok dengan author favorit aku. Yang belum main, main yuk ke cerita kak mecailla. Cari aja di kolom pencarian 'meccaila'. Awas overdosis kalau baca-baca mahakarya. Ada ganjanya soalnya. Bikin nagih!