
Malamnya baru gue nyesel, gara-gara kebanyakan kopi dan nyeprusin cabe gak pake itungan. Perut gue melilit gak karuan, sakitnya udah kayak mau meninggal aja.
Gue emang punya magh dari kecil, ditambah pola makan gue yang gak teratur membuat kondisinya menjadi semakin parah. Ampun, gak lagi-lagi gue makan cabe atau apapun yang pedas.
Dengan susah payah gue menggapai meja nakas untuk mengambil handphone, tadinya gue mau nelepon Sultan tapi niat langsung gue urungkan mengingat responnya yang gak mengenakan tadi sore.
Nelepon nyak babe juga gak mungkin karena posisi mereka lagi di Serang, kakak gue satu-satunya tinggal di seberang lautan. Gea lagi gak ada, Naira dateng-dateng langsung ngunci kamarnya....satu-satunya harapan gue cuma Jelita. "Jel, Jelly!!"
Percuma gue panggil-panggil sampai suara habis itu, nyatanya anak baru nongol setelah pintu kamarnya gue gedor-gedor. "Kenapa kak?"
"Perut gue...." Gue meringis sambil ngusap-ngusap area perut.
"Kakak keguguran?" Jelita bertanya dengan panik. "Ya ampun, terus gimana ini, kak? Aku panggilin ambulan, ya? Apa aku teleponin Uwa aja biar Uwa kesini?"
"Gak usah, Jel. Minta tolong bikinin teh anget aja. Aku mau pesen obat dulu." Sakit tapi sengsara banget rasanya.
"Beli online aja, sih, kak." Setelah gue kasih anggukan kecil, baru Jelita beranjak ke dapur.
Handphone masih gue pegangin, selama beberapa saat gue cuma scroll-scroll layarnya tanpa arah. Gue bisa aja konsultasi dengan halodoc atau langsung pesen obat lewat go-medicine, tapi gue justru nelepon nomor lain.
Gue juga gak ngerti alasan kenapa gue harus keinget dia disaat-saat seperti ini. "Kava?"
"Iya, bu?"
"Perut saya sakit."
"Sebentar saya kesitu."
Gak lama kemudian Kava beneran datang dengan membawa obat dan minyak kayu putih, waktu gue turun ke lobby baru sadar kalau saat ini hujan sedang turun dengan derasnya. Kava nunggu diteras dengan helm dikepala dan jas hujan yang basah kuyup.
"Aduh sakit," Gue terus megangin perut karena gak kuat lagi nahan perihnya.
"Lain kali kalau dibilangin calon suami yang nurut bu." Ucap Kava dengan muka khawatir.
*****
Sekarang gantian gue dibikin pusing sama ulah Jelita, udah bikin video roomtour di apartemen orang tanpa ijin, sekarang nambah masalah baru lagi. Entah ngapain aja dia semalam sampai bikin lantai dapur gue kebanjiran. "Ini masih subuh, Jel. Kamu bikin apa, sih?"
"Aku lagi bikin tutorial tadi, tuh. Eh gak taunya kerannya lepas sendiri..." Keluh Jelita dengan tampang memelas.
Gue gak tega marahin, jadinya gue diemin. Sambil gue telepon bagian pemeliharaan apartemen, tapi apesnya mereka bilang baru bisa dibenerin paling cepat besok siang. Gak bisa gitu, dong. Kalau kerannya gak segera dibenerin, otomatis pompanya harus gue matiin. Gak bisa make sewaktu-waktu padahal air itu kebutuhan prioritas, apalagi lagi musim kuman penyakit bertebaran, gak kebayang aja gue sejam gak bersentuhan dengan air.
"Kak Kin, Kak Kin. Subscriber aku nambah banyak dong gara-gara postingan kemarin. Kayaknya penontonku pada penasaran deh aku tinggal disini sama siapa aja. Boleh ya kapan-kapan aku mengekspose Kak Kin, Kak Gea dan Kak Nay?" Jelita mengoceh tanpa merasa bersalah bikin hari libur gue berantakan. Niat pengen ngorok sampai siang jadi kebangun karena adik sepupu menciptakan huru-hara di hari minggu pagi yang cerah ini.
Gue cuekin, lebih penting urusan keran air daripada subscriber Jelita. Sambil menunggu panggilan tersambung ke nomor tujuan, gue ngelap-ngelap meja dengan handphone nempel ke telinga.
"Assalamualaikum." Suaranya terdengar mengantuk.
"Kamu bisa benerin keran aer gak?" Tanya gue to the point.
"Bisa, bu."
"Sekarang bisa?" Gue perjelas. "Kamu kesini ya sekarang, cepat saya tunggu!"
Dia terdiam sebentar, seperti sedang mengecek sesuatu. Gue seperti denger dia gradak-gruduk membangunkan kedua adik-adiknya untuk segera bergegas ke masjid sebelum kembali menanggapi telepon gue. "Tapi saya subuhan dulu ya, bu?"
"Oke." Gue langsung tutup telepon itu.
"Minta tolong siapa, kak?"
"Tukang keran." Jawab gue seadanya.
Untung Gita masih pulang kampung, sedangkan Naira ngungsi dikosan lakinya sejak Jumat kemarin. Makanya gue berani manggil itu cowok kesini. Jelita mah gampang, itu bocah gak bisa bedain mana tukang beneran mana yang bukan.
Gak ada setengah jam kemudian, Kava dateng sama adiknya yang paling bontot. Mungkin dipikirnya gue tinggal sendirian disini, makanya ngajak temen biar gak cuma berduaan sama gue di ruangan tertutup. Diluar mulut ampas yang suka modus itu, Kava sebenarnya sosok yang baik dan gak tegaan.
Dia gak segan-segan nolongin gue di beberapa kesempatan, seperti ambilin mobil gue dibengkel sampai beliin gue obat sakit perut kapan hari itu.
Karena gue baik, sering gue kasih ongkos lebih sebagai imbalan jasanya. Gak mungkin juga gue nyuruh-nyuruh orang dengan gratisan, gak etis masa iya gue tega memanfaatkan cowok kere kayak dia.
"Bisa dibenerin?" Tanya gue sembari mengamati Kava bekerja.
"Bisa, bu."
"Kenapa gak ganti baru aja?"
"Masih bisa saya akalin." Perhatian Kava terpaku pada keran air yang rusak. Dia datang kemari dengan membawa alat pertukangan yang lumayan lengkap.
"Nanti kalau rusak lagi gimana?"
"Ya ibu tinggal panggil saya lagi, biar kita sering-sering ketemu." Jawab Kava dengan enteng.
"Jangan lama-lama benerinnya, saya mau tidur lagi habis ini." Gue menoleh ke ruang tengah dimana Jelita dan Lantang sedang bikin video tiktik joged-joged. Mereka cepat sekali akrabnya, mungkin karena pembawaan Lantang yang rame membuat Jelita gak ragu untuk mengajaknya berteman.
"Kata orang jaman dulu, habis subuh anak gadis gak boleh tidur lagi takut jodohnya dipatok ayam." Kava menanggapi ucapan gue barusan.
"Percaya kamu sama mitos?"
"Percaya. Makanya saya suka bangun pagi, apalagi bangun rumah tangga bersama ibu."
"Saya gampar mau?"
"Tau mitos benci jadi cinta gak, bu? Tiap hari itu saya aminin."
"Maksudnya?" Gue ngernyit gak paham.
Kava cuma ngebales dengan cengiran, dasar cowok gak jelas. Sambil Kava ngerjain tugasnya, gue nyalain kompor buat merebus air dan nyeduh kopi untuk diri sendiri.
"Jangan kebanyakan ngopi, bu. Sakit lagi nanti perutnya." Kava ngeliatin gue nuang bubuk warna hitam kedalam cangkir kesayangan bermotif kepala bebek.
"Siapa kamu ngelarang-larang saya?"
"Gak inget siapa yang beliin ibu obat, tengah malam hujan-hujan nelepon pake nangis-nangis, kirain kenapa eh ternyata ada yang pengen dimanja."
"Jaga omongan kamu, jangan sampai orang lain denger terus bikin mereka salah paham!" Entah apa yang merasuki gue waktu itu, bukannya langsung nelepon dokter malah kepikiran Kava, kapan-kapan gue emang perlu diruqyah. "Udah dibilang waktu itu saya salah sambung, saya tadinya mau nelepon Gea, taunya keliru nomor kamu."
"Denger ibu ngomel pagi-pagi gini saya udah bahagia. Saya mau membiasakan diri biar nanti gak kaget kalau udah serumah."
Gue julingin mata. Ogah banget gue nanggapin ocehannya yang gak mutu itu. "Kamu kok bisa nukang-nukang gitu, sih? Pernah ikut pelatihan dimana?"
"Belajar otodidak, bu. Kerja sekalian diambil ilmunya, saya pernah kerja di reparasi, di bengkel juga pernah."
"Oh iya?" Perhatian gue gak lepas dari Kava yang lagi jongkok untuk ngecek pipa saluran air, kali aja kebuntetan sesuatu. "Kemarin bilangnya lama kerja di proyek?"
"Sama mah kerja apa aja, bu, yang penting duitnya halal. Jadi tukang parkir sambil nyambi jadi kuli pasar aja pernah saya lakoni." Kava bercerita tanpa beban.
"Susah ya hidup kamu? Tiap hari kepanasan...pantes aja kamu item," Gak maksud body shamming, tapi beneran waktu pertama kali interview sama Kava, ini laki buluk banget. Sekarang lebih mendingan karena kerja lebih banyak didalam ruangan terus kemana-mana naik kendaraan roda empat yang difasilitasi kantor.
"Ibu tau buah manggis, gak?"
"Saya gak doyan." Emang gue gak demen buah-buahan lokal, macam riweuh aja makannya.
"Tau gak?" Kava berdecak.
"Buah manggis yang ada ekstraknya itu, kan?" Gue niruin tagline iklan.
"Pede banget jadi orang!" Gue masukin dua sendok gula ke dalam kopi hitam yang barusan gue seduh.
"Emang muka saya kayak orang susah ya, bu?" Sambung Kava lagi. "Susah dilupain maksudnya."
"Terserah!" Gue ketusin.
"Eh ibu suka nasi biryani gak? Saya pernah kerja di restauran punya orang arab. Kapan-kapan deh saya masakin buat ibu."
"Saya lagi mengurangi makan nasi." Tolak gue.
"Kalau saya lagi mengurangi makan hati, bu."
"Siapa yang nanya?" Balas gue.
"Cuma ngasih tau."
"Kamu jangan ngomong mulu. Gak selesai-selesai nanti." Kata gue galak.
"Kan Ibu yang ngajak ngobrol duluan." Bisa aja ini orang ngebales omongan gue.
"Terusin sana." Gue ambil cangkir dan bersiap pergi ninggalin dapur. "Eh iya Kav, mobil saya waktu dipanasin suaranya kok aneh, ya?"
"Tuh kan diajak omong lagi, kapan selesainya coba?" Sialan ini orang. Benernya emang gak usah ditemenin, biar fokus kerjanya.
Setelah meletakan cangkir dimeja, gue duduk disebelah Jelita yang lagi heboh ngebahas rencana bikin daily Vlog bareng adiknya Kava. "Lan, kakak kamu masih suka ngutang di warung gak?"
"Kayaknya masih, biarin aja gak usah dibayar orang Mas Kava mau dijodohin sama anaknya yang punya warung." Kelakar anak itu.
"Maksud saya, utang yang kemarin-kemarin udah dibayar, belum?" Gue perjelas lagi pertanyaan gue.
"Gak tau saya. Coba nanti ibu tanya sendiri."
"Saya kasih duit nanti kamu yang bayar, ya? Tujuh ratus ribu cukup gak?" Gue bilang gitu. "Kalau sebulan makan disitu biasanya habis berapa?"
"Ibu beneran baik ya ternyata, kirain selama ini Mas Kava boong."
"Boong apa?"
"Boong soal dia punya mami gula yang cantik dan loyal." Kata Lantang tanpa berpikir panjang
"Heh, sembarangan kalau omong!"
"Mas Kava sendiri kok yang cerita. Ibu kan sering ngasih Mas Kava duit, berarti bener ibu ini mami gulanya Mas Kava." Bisa-bisanya Kava bikin rumor seperti itu, beneran minta dilaknat.
"Kamu jangan kemakan omongan halu kakak kamu, ya. Ngarang semua itu isinya." Gua sengakin aja.
"Apasih mami gula?" Jelita yang bertanya.
"Sugar mami ituloh, Kak Jel. Lainnya sugar daddy tapi perempuan. Tapi gak yang beneran, itu cuma bercandaannya Mas Kava doang."
"Tauan aja kamu istilah begituan? Hayo suka nontonin film yang gak bener ya?" Tuduh Jelita.
"Aku tau dari Mas Kava, kok." Elaknya. "Lagian Mas Mava gak nyebut mama gula aja, kadang bu Okta juga dipanggil ibu peri, kok. Bercandaan doang dibilangin."
"Alesan tuh aslinya kamu juga pengen sugar-sugaran....yaudah kamu jadi brondongku aja, gimana?" Malah dibercandain sama Jelita.
"Gak, ah. Paling cuma dijadiin konten."
Gue gak ngikutin obrolan gak berbobot dua bocah ini, lebih mikirin hal lain yang cukup bikin gue penasaran. "Kava cerita banyak tentang saya?"
"Lumayan, bu. Mas Kava jarang terbuka masalah pribadinya, dan baru sekali ini gelonya gak ketulungan....sampai Mas Mizal bilang tumben ini orang ngomongin cewek mulu gak ada abisnya, biasanya kan diotak dia cuma mikir gimana cari duit gimana besok bisa makan, gitu aja terus sampai naruto naik haji."
Shit, gue seperti merasakan sinyal tanda bahaya. Oke, mulai sekarang gue kudu jaga jarak, gue gak mau niat baik gue disalah artikan. Apalagi ini Kava yang diomongin, gue musti ketok-ketok meja sambil bilang amit-amit.
"Kalau dilihat sepintas Bu Okta ini mirip artis korea, ya?" Lantang bertanya pada Jelita alih-alih gue yang menjadi topik pembicaraan.
"Siapa?"
"Ituloh yang pernah main drakor sama lee min ho, yang jadi teteh-teteh rempong."
"Gak mirip, ah?" Jelita gak sependapat.
"Emang gak. Kan Bu Okta mirip jodohku." Kava nyeletuk begitu keluar dari dapur.
"Kamu udah se--" Kalimat gue tercekat di tenggorokan waktu mendapati Kava muncul didepan gue sambil bertelanjang dada sementara kaos putihnya tersampir sembarangan pundak. Masalahnya, gue gak nyangka kalau Kava punya bentuk badan sekurang ajar itu, gak cuma bagus tapi juga enak dilihat. Kan kesel gue pengen nonjok.
"Saya sudah selesai, bu. Ada lagi yang mau dibenerin?"
"Ka-kamu kenapa gak pake baju?!" Gue pelototin sosok berbadan atletis dengan otot lengan yang kekar serta perut kotak-kotak seksi ala roti sobek itu.
"Basah." Dia nunjukin kaos putihnya yang terkena cipratan air. "Sudah saya pel dapurnya, tinggal nunggu kering. Saya disuruh ngerjain apa lagi?"
Ngerjain gue, otak gue ngelantur. Duh, kayaknya gue beneran kesambet setan najis.
"Gue eh mobil. Maksud gue mobil." Gue gelagapan sendiri. "Ehm gak usah aja, deh. Kamu pulang aja."
"Beneran ini saya disuruh pulang?"
"Ya kamu ngapain disini lama-lama?" Tatapan mata gue muter kemana aja asal gak tertuju pada badan Kava.
"Mumpung saya disini, kali aja ibu masih butuh sesuatu."
"Saya cuma butuh kamu nyingkir dari hadapan saya, secepatnya!" Gue butuh pertahanan diri, gak boleh lemah, gak boleh. "Kamu disini ganggu saya banget tau, gak?"
"Emang saya ngapain?"
"Bikin saya sebel!"
"Kenapa sebel?"
"Gak usah nanya-nanya!" Gue bentak aja daripada kalimat gue makin gak terkontrol.
"Kenapa ibu jadi marah-marah sama saya? Saya salah apa?"
"Siapa yang marah? Kamu jangan sok tau!" Buru-buru gue ambil dompet dan menyorong sejumlah uang ke tangannya. Gak ya, gue gak liat apa-apa, cuma ngelirik sedikit sambil ngitungin jumlah petak sawah diperutnya.
"Salah terus saya dimata ibu, besok-besok saya pindah kehidung aja." Kava mendesah pelan.
"Udah sana kamu pulang, saya gak butuh kamu lagi!" Gue usir dia.
"Kak Kin jahat gitu mulutnya." Jelita yang keberatan.
"Orang dia udah biasa gue usir." Gue bela diri.
"Ayo balik Lan, jaketku tadi mana?" Kava berbicara dengan adiknya.
"Di motor." Lantang berpamitan pada gue dan Jelita dengan sopan. "Pulang dulu Kak Jel, mari Bu Okta."
"Ya." Balas gue singkat. Keliatannya aja gue cuek, padahal sudut mata gue terus mengikuti pergerakan Kava sampai dia selesai mengemasi alat-alatnya.
"Kapan-kapan main kesini lagi ya, Lan?" Sahut Jelita dengan nada ceria, kayak gak punya salah aja habis ngehancurin dapur gue.
Gue masih menunggu giliran Kava mengucapkan sesuatu sebelum beranjak pergi, namun hal tersebut gak kunjung dia lakukan. Cowok itu langsung ngeloyor keluar tanpa berpamitan dengan gue. Kok gitu sih?