
Paginya, gue sengaja berangkat ke kantor lebih awal. Biar gak keduluan Kava sehubungan gue belum siap ditagih masalah nasi goreng. Lagiam gue ogah ya tiap hari disuruh naik motor butut, kena polusi, habis itu diliatin sama sejuta karyawan. Mending gue berangkat lebih awal sebelum batang hidung Kava nongol di gerbang apartemen.
Hari ini gue udah dandan dan pakai baju pilihan Kava. Sekretaris gue, Moniq, sampai terbelalak liat penampakan baru gue.
"Kok ibu stylenya kayak gitu?"
"Kenapa? Gak cocok ya?" Gue insyekur sendiri.
Dia buru-buru geleng kepala. "Enggak, Bu. Cuma ehm gak biasanya." Sebelum gue tanggepin balik, Moniq udah ngacir keluar ruangan.
Oke, waktunya persiapan. Gue perlu ngaca sebentar, semprot parfum sana-sini, benerin poni dan nambahin gincu di bibir. Karena jam delapan tepat biasanya Sandi udah dateng. Setelah memastikan poni gue gak alay kayak dora, gue bela-belain lagi turun ke lobby sambil nenteng tas. Pura-puranya gue juga baru dateng gitu, biar bisa satu lift bareng Sandi.
Gak, gue gak deg-degan. Cuma berharap Pak Bos bakal ngasih atensi yang lebih pada diri gue. Please... notice gue Pak! Notice effort gue dan lo gak bakalan rugi.
Tuh orangnya, berjalan melewati lobby dengan wujudnya yang gagah dan berwibawa. Dengan handphone menempel di telinga, dia melambai sekenanya pada orang-orang yang membungkuk hormat padanya. Sandi bahkan gak menggubris sapaan menjilat dari Cahyo.
Sesampainya di depan lift, Sandi masih sibuk dengan teleponnya. Samasekali gak menyadari sosok gue yang berdiri disebelahnya. "Ehm..ehm..." Gue pura-pura batuk kecil.
Padahal gue udah ngikutin sarannya Kava, tapi kok Pak Sandi biasa aja? Apa ada yang salah sama penampilan gue? Lipstik gue terlalu mencolok kah? Rambut gue masih bau salon kah? Atau rok gue kurang pendek? Gue sok sibuk ngaca di dinding lift, padahal sudut mata gue fokus mengawasi Pak Bos.
"I told you, don't block my call." Gue dengar Sandi mendesis. "What? Cowok kamu yang nyuruh? Are you kidding me?"
Raut mukanya nampak kesal. Wah alamat buruk, nih. Kalau pagi-pagi Sandi udah bad mood mending jangan bikin perkara dengannya.
"Who's that guy? No, I will kill him!" Tuh kan, mukanya sampai merah gitu. Takut hamba. Mana lawan bicaranya tau-tau mutusin telepon, ya makin ngamuklah Sandi. "Anjing, ditutup!"
Gue yang merasakan tanda bahaya segera menggeser kaki sesenti demi sesenti. Berusaha menjauh dari jangkauan Pak Bos yang lagi labil emosinya. Tapi baru melipir selangkah tiba-tiba Sandi manggil gue. "Nama kamu siapa? Karin...?"
"Kinan, Pak?" Gue langsung pasang senyum lebar sambil mamerin rambut baru.
"HRD kan? Setengah jam lagi anter laporan ke ruangan saya."
"Baik, Pak. Saya pasti gak akan mengecewakan anda." Yes! Gue diundang ke ruangannya gaes. Kan bener feeling gue, Pak Sandi terpukau dengan penampilan baru gue. Terus dia cari-cari alasan buat berduaan sama gue. Di ruangan dia, cuma berdua, terus.. terus...
"Liftnya," Pak Sandi membuyarkan lamunan gue.
"Eh, iy-iya Pak." Gue gelagapan sendiri.
"Liftnya udah kebuka. Sampai kapan kamu mau berdiri di situ?" Pak Sandi menunjuk ke arah pintu lift dengan dagunya.
Gue langsung ngasih senyum, memberi hormat dan melangkah masuk kedalam lift terdekat.
"Ya, Pak?" Gue buru-buru menahan pintu buat Pak Bos yang tengah kembali berkutat dengan ponselnya.
Tanpa menatap gue, Sandi berkata. "Kamu bisa pake lift lain."
Gue melongo. Sandi seperti gak sabar ketika menjelaskan. "Lift khusus karyawan disebelah sana. Ini punya saya."
**
Gue goblok sih, masa bisa kelupaan kalau Sandi memiliki akses lift sendiri menuju ruangannya di lantai paling atas. Tapi ya udahlah, gue gak ada waktu buat meratapi rasa malu, berhubung setelah ini gue harus menghadap atas perintah Pak Bos sendiri.
"Mon, list pegawai outsourcing mana?" Gue teriak kesetanan. Kertas-kertas gue di laci meja berhamburan ke sana kemari saking paniknya. "Sama laporan pph-nya udah, belom?"
"Kan udah saya taruh meja ibu kemarin. Tinggal ibu teken aja." kepala Moniq muncul dari balik komputernya.
"Data fingerprint?"
"Sudah disitu." Moniq nunjuk map biru yang tergelak didepan gue.
"Buka aplikasi HR, saya mau kamu print data terbaru sampai hari ini jam..." Gue melirik jam tangan warna jambon cerah yang melingkar di pergelangan. Today, I am all pink. So cute and gemesable. "Delapan lebih dua puluh tiga menit."
"Baik, bu."
"Moniq!" Gue sambil cek lagi berkas-berkasnya.
"Apa lagi, bu."
"Kutek gue bagus gak?" Gue tunjukin kuku baru yang berhiaskan karakter hello kitty. Hasil nail art bikinan Jelly neh, lumayan cakep untuk ukuran gratis.
Moniq memiringkan kepala, dia seperti ragu sebelum mengangguk. "Ibu pinky banget, tumben."
Gue mengangkat bahu, gak ada perlunya gue jelasin misi kelas kakap ini pada orang lain. Cukup gue dan Kava aja yang mengetahui rencana ini, ya gue gak mau dong nambah saingan. Jaga-jaga siapa tau Moniq juga kepengen mengejar karir sebagai calon istri pewaris perusahaan ini.
Sambil nandatanganin berkas, gue monyong-monyongin bibir. Maksud gue olahraga mulut biar nanti lancar waktu merayu Pak Bos.
"Bu, Ibu sehat?" Moniq sampai kedap-kedip sendiri liat kelakuan gue.
Gue langsung bersikap biasa, ambil laporan, sibak rambut, lalu jalan ke lift yang menuju ruangan Sandi.