
Gak kerasa waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam dan gue masih berkeliaran di Kodam bersama Kava serta kedua adiknya. Ceritanya kita lagi nungguin pengumuman tes penerimaan calon bintara TNI AD, bareng keluarga-keluarga yang lain.
Gue juga gak ngerti kenapa mau-mau aja diajak kesini, padahal tadinya gue cuma pengen nebeng pulang, eh sama Kava malah diangkut kesini. Kalau saja mobil gak gue jual pasti gue bisa balik sendiri, sayang gue belum beli mobil karena masih banyak pertimbangan. Intinya gue melepas itu mobil dengan harga murah banget, dan jauh dari harapan gue. Tau sendiri dalaman mobil bobrok kronis, udahlah sedih banget jadi gue.
Kebetulan Kava juga gak datang di acaranya Sandi. Udah ijin dia dengan alasan harus memantau adiknya, Mizan harus melewati banyak tahapan tes terlebih dulu sebelum nanti berhasil jadi abdi negara. Semoga aja lolos dan Mizan bisa menggapai cita-citanya.
Yah meski Mizan secara terang-terangan nunjukin sikap gak suka sama gue, tapi gue tetep ngebaikin dia kok. Ini aja gue bawain martabak sebagai bentuk support.
"Ibu kenapa kesini?" Tanggapan Mizan masih aja gak ramah.
"Tanya sendiri sama Mas-mu." Gue nunjuk Kava dengan dagu.
Mizan berdecak dan memilih tidak memedulikan kehadiran gue disitu, dia lalu duduk di rerumputan bersebelahan dengan Lantang yang lagi asyik nguyah martabak.
Lantang tadi bawa motor sendiri sedangkan gue berboncengan dengan Kava, biar bisa sekalian jemput Mizan dan pulang bareng ke rumah. Kava benar-benar mikirin adiknya sampai ke hal sekecil ini, gue salut.
Kava bilang dia gak mau adiknya down sendirian kalau semisal tesnya gagal, pokok dia pengen susah dan senang harus ditanggung bareng-bareng.
Sekarang aja dia lagi sibuk membesarkan hati Mizan. "Gagal itu biasa, le. Semua orang juga mengalami. Anak laki itu jangan gampang potekan."
"Aku udah ikut tes 3 kali ini. Kalau sampai gagal lagi udah gak tau lagi aku." Tampang Mizan terlihat putus asa.
"Belum 7 kali, kan?"
"Kalau aku gak lolos gimana, mas?"
"Coba terus sampai lolos." Kava menanggapi dengan santai.
"Kalau tetap gak bisa?"
"Ya gak apa-apa, toh. Tinggal mikir habis ini mau lanjut kuliah atau mau cari kerja terserah kamu. Aku dukung asalkan kamu jadi orang bener."
Mizan nampak frustasi sampai dia harus memijat-mijat pelipisnya sendiri. "Tapi ini cita-citaku, Mas."
"Aku sebenarnya yo bercita-cita pengen punya suami TNI tapi gak di ijinin karena aku cowok. Tapi gak apa-apa punya adik jadi tentara aja udah seneng." Kava ngelawak untuk menghilangkan ketegangan, tapi cuma Lantang yang ketawa, sedangkan gue enggak, Mizan boro-boro.
Mizan tersenyum pedih, raut muka pesimis masih menghiasi mukanya. "Maaf aku belum bisa bikin bangga Mas Kava dan Lantang."
Kava menepuk pundak Mizan dengan cukup keras, "Gak jadi tentara yo tetap bisa hidup, kan?"
"Aku takut diomongin orang, Mas."
Lantang menimpali dengan geram, "Hooh loh, Mas. Kemarin ada ibu-ibu tetangga gibah gini, aku sendiri sing dengar. Mizan ituloh potongan udah tentara tapi bolak balik tes gak lolos pasti karena sogokannya kurang."
"Terus kalau beneran lolos bilangnya hasil sogokan gitu? Jahat banget sih mulutnya?" Gue ikutan kesel. "Kalo gak suka ya udah gak suka aja, sih. Gak usah segitunya mengomentari hidup orang, cukup ignore aja kan beres."
"Ibu dulu juga gak suka sama saya." Kava melempar senyum usil.
"Sekarang aja masih!" Jawab gue sengit.
"Aku harus gimana, mas? Aku gak siap jadi bahan cibiran orang." Mizan makin insecure begitu Lantang memberi tahu jika ada tetangga yang membicarakan jelek tentangnya.
"Jangan menjelaskan siapa dirimu kepada siapapun, karena yang menyukaimu gak butuh itu. Dan yang membencimu gak percaya itu." Dia kalau ngomong tuh ngena banget
"Semutnya banyak disini." Lantang sontak berdiri gara-gara kakinya dikerubutin semut. "Minggir kamu. Hussh hussh pergi kau semut jangan ganggu, aku memang manis tapi bukan untukmu."
"Kamu ngapain, sih, Lan?" Gue nahan ketawa liat polahnya. "Tinggal kamu nyari tempat lain yang gak ada semutnya kan beres."
"Kalau aku biasanya ajak ngobrol baik-baik dulu semutnya, biar kita sama-sama paham." Kegesrekan Kava sepertinya menular pada Lantang, cuma Mizan yang terbilang cukup waras diantara mereka bertiga.
Gak lama terdengar suara sirine kencang yang menandakan seluruh calon bintara untuk segera berbaris rapi di lapangan sesuai nomor urut dada yang dikenakan. Dalam hitungan sepuluh mereka sudah harus berada di tempat, Mizan pun segera bergegas ke lapangan. Namun sebelum Mizan berlari menuju barisannya, Kava memberikan pesan singkat pada adiknya itu.
"Mau gagal mau berhasil yang penting kita udah usaha dengan cara kita sendiri dan gak ngerugiin orang." Ya ampun Kava kalau lagi bener gini damage-nya sampai ke depok.
****
Gue girang banget sampai ikut lonjak-lonjak bareng Lantang, kita pegangan tangan gitu sambil muter-muter seperti anak tk lagi main.
Mizan lolos dan berhak mengikuti tes selanjutnya, dari seribu lebih peserta cuma diambil 500 dan Mizan salah satunya. Sebenarnya masih jauh dari hasil akhir tapi gak apa-apa, karena perjuangan itu gak ada yang instan.
"Tinggal tiga lagi...tinggal tiga lagi...." Kita berdua masih aja jingkrak-jingkrak gak jelas sementara Kava lagi berpelukan sama Mizan.
"Makasih ya, Mas. Udah dukung aku, udah doain aku."
Kava menjawab dengan suara sengau. "Enak ya punya cita-cita kesampean, aku dulu cita citanya pengin jadi dokter eh malah kesampeannya jadi pasien."
"Belum, Mas. Masih 3 tes lagi." Mizan memberi tahu sambil tersenyum.
"Kamu tinggal usaha dua kali, aku sekali. Semangat yo, le!" Kava mengacak-acak kepala plontos Mizan.
Gue gak sempat ngomentari ucapan Kava, karena ponsel gue berdering nyaring dan dilayarnya terpampang nomor Gea. "Ya, Ge?"
"Kenapa sih, Ge?"
"Si ****** itu ilang!!!"
"Hah?"
"Sumpah gue gak ngerti otaknya....udah gue bilang jangan kemana-mana eh tinggal nengok bentar udah gak ada!!" Gea cerita membabi buta sampai ngos-ngosan. "Gue cari kemana-mana, ke parkiran, ke toilet tapi gak ada, gue kudu gimana ini? Perlu gak sih gue lapor polisi, aduh Kin, gimana kalau ternyata adik lo diculik?"
"Udah lo telepon hapenya?" Gue tanggepin dengan tenang. Bukannya gue gak khawatir, tapi Jelly itu udah bukan anak-anak lagi, asli orang sini dan dia terakhir terlihat berada di hotel mewah yang pastinya dipasang cctv dimana-mana.
Gea diam sepersekian detik. "Eh iya, ya. Kenapa gak gue telepon, sih?"
"Kenapa coba?"
"Gak tau...ya karena panik gue cariin aja muter-muter hotel sampai kolam renang belakang terus terus gue-"
"Lo drama banget, Ge. Lo lagi sama siapa disitu?" Gue curiga karena gak biasanya Gea selebay itu. Dia aslinya gak sepeduli itu sama Jelly, wajar dong kalau gue mencium ke anehan.
"Gu-gue sendirian, kok."
"Oh sendirian?" Gue sangsi. "Yakin gak ada seseorang yag nemenin waktu lo panik nyariin Jelly?
"Oh Jelly udah dirumah? Mabok? Pantes aja gue cari disini gak ketemu....oke, deh, Kin. Gue tutup dulu, ya, bye!" Gea langsung mutusin sambungan teleponnya begitu saja, dasar betina keparat.
Mabok gundulmu, Jelly cuma kebauan alkohol aja udah ngeluh pusing eh malah dituduh yang enggak-enggak. Akhlakless banget lo, Ge.
Gue cuma bisa gelengin kepala, dugaan gue gak jauh-jauh dari Cahyo. Gea butuh alasan buat nahan Cahyo disana, jadilah dia pake Jelly sebagai tumbal. Terus nasib sepupu gue sekarang gimana, dong?
"Belum diangkat, buk?"
"Belum." Sepanjang dibonceng Kava sambil gue terus hubungin Jelly via call, dan baru panggilan yang kesepuluh itu telepon diangkat...tapi sama cowok.
"Hm?"
"Loh, kok?"
"Siapa?"
"Jelly? Ini nomornya Jelly kan?" Gue pelototin layar ponsel gue untuk memastikan gue gak salah pencet, bener kok yang tertera disitu nomor Jelly yang biasanya.
"Halo, kamu Jeffry bukan? Lantang?" Gue sebutin semua laki-laki yang dekat sama Jelly dan gue kenal.
"Jelly sudah tidur. Jangan telepon lagi, handphone-nya mau saya matikan, berisik." Sudah, setelah itu telepon gue diputus secara sepihak, gak ada sopan-sopannya setan.
Oh gue tau, nih. Asumsi gue ada tiga diantara banyak kemungkinan. Satu, Jelly ketemu cowok asing yang baru dikenalnya di pesta itu. Dua, Jelly diajakin main congklak sampai dia capek terus ketiduran.
Gue lagi positif thinking, gak usah kompor ya kalian!!
"Udah dapat mobilnya belum, buk?"
"Belum, katanya lo mau bantu nyariin?"
"Pake punya saya aja, buk."
"Lo punya mobil?" Gue nanya heran. Kalau emang punya mobil ngapain juga tiap hari naiknya motor butut ini.
"Aslinya mobil saya banyak, bu. Dapat hadiah dari nomer gak dikenal...selamat anda mendapatkan mobil tapi gak saya ambil." Cara Kava ngomong seperti orang serius padahal isinya ampas. "Kalau ibu mau pake besok saya ambilin satu."
"Bisa gak sih lo serius dikit?" Nih, gue hadiahin cubitan-cubitan kecil dipinggang biar kapok.
"Duh duh jangan digituin, buk. Nanti dedeknya pusing." Kava ngomong gini sambil mengaduh kesakitan.
"Apasih?"
"Dedenya pusing dikasih paramex gak mempan."
"Lo berani omong jorok sama gue? Minta ditabok lo?" Bodo ah, gue kesel makanya punggung Kava gue aniaya.
"Ganas banget sih ibu ini. Habis makan orok, ya?"
Sekarang ganti gue tarik-tarik kaos bagian belakangnya sampai melar, sampai gue bisa liat roti sobek dibaliknya.
"Bu, bu. Jangan ditarik nanti kaosnya jadi daster."
"Suka-suka gue lah, kan gue yang beli." Ada kali baju-baju dia selemari pemberian gue semua.
"Ya udah, bu. Silahkan dilanjut, saya demen kok diganasin." Kava nengok ke belakang sambil cengengesan.