Step On Me

Step On Me
Kopinang Kau dengan Bismillah



Gue masih dongkol sampai besok paginya, tapi gimana gue masih butuh nanyain kekurangan data pribadinya. Terpaksa gue, deh, chat orangnya.


Me : Kava, jangan lupa KTP dan NPWP dibawa.


Me : BPJS, KK.


Me : Fotocopian juga gak apa-apa


Gue gak ngarep dapat balasan, kan niatnya cuma ingetin biar Kava gak pura-pura lupa lagi.


Kava Marketing : Siap mama gulaku


Kava Marketing : Maksud saya Bu Okta


Kava Marketing : Saya perlu setor pas foto gak, bu?


Me : Iya


Me : Kalau ada sekalian


Kava Marketing : Buat dipajang di buku nikah kita, ya?


Me : ��


Gak ngerti lagi gue sama orang ini, beneran minta digiles pake buldozer.


Kava : Hehe, Lantang bilang makasih Bu Okta cakep.


Gue gak bales, nanti makin keranjingan kalau gue tanggepin. Mending gue bikin toast buat sarapan.


Kava Marketing : Lantang cuma bilang makasih, tapi saya tambahin cakep. Biar kayak pantun.


Meski gue lagi sibuk pegangin pan diatas kompor yang nyala, mata gue gak bisa lepas dari layar handphone.


Kava Marketing : Yah, cuma diread.


Bodo amat, gue celup-celup roti ke susu campur butter, setelah itu gue panggang di penggorengan yang sudah dipanasin.


Kava Marketing : Met Sarapan, bu. Jangan mikirin saya mulu. Biar saya aja yang mikirin ibu.


Dih, najis amat.


"Kin! Ada tamu, nih." Suara berisik Gea yang baru balik dari jogging pagi mengalihkan perhatian gue.


"Siapa?" Gue mendongak dan melihat Gea datang bersama seseorang cewek berusia sekitar 19 tahun yang gue kenal dengan baik. "Hai spup! Tumben pagi-pagi kesini?"


"Kak Kin, huhuuu." Belum-belum udah menghambur kepelukan gue sambil nangis.


"Eh kenapa?" Gue tanya sambil gue amatin keadaannya. "Bertengkar lagi sama mama tiri kamu?"


Dia menggeleng, masih sesenggukan dengan muka ditempelin piyama gue.


"Jelly kenapa lagi, tuh?" Gea nanya sambil neguk minuman langsung dari botol.


Gue angkat bahu. Jelly itu nama panggilan Jelita, kebetulan anak ini sepupu gue. Almarhum nyokap ini anak adik kandung emak gue, sejak bokapnya nikah lagi dia sering banget kabur dan nyasarnya pasti kesini.


"Dimarahin Om?" Maksud gue bokap kandung Jelita. Gak tau kenapa hubungan ayah dan anak diantara mereka gak pernah berjalan baik, apalagi sejak Jelita punya dua kakak tiri yang dibawa oleh istri baru bokapnya. Perhatian dan kasih sayang dari Om Rahman seakan terbagi ke mereka semua. Jelita merasa tersisihkan meski berada di rumahnya sendiri, gue paham bener sih perasaan ini anak, menjadi anak kandung yang gak dianggap.


"Enggak." Katanya sambil terisak.


"Terus kenapa?"


"Jeffry selingkuhin aku." Suaranya teredam oleh isak tangisnya.


Ealah, gue pikir apaan. Pagi-pagi bikin orang panik aja.


"Kamu gak kuliah?"


"Aku gak mau kuliah kalau ada Jeffry disana! Aku gak mau ketemu dia lagi, gak mau pokoknya aku mau berhenti kuliah aja."


"Bentar-bentar, gue matiin kompor." Setelah itu, gue seret dia ke mini bar biar lebih enak ngobrolnya. "Duduk sini."


"Aku mau tinggal disini aja sama kakak." Jelita menyuarakan dengan penuh tekat.


"Gak bisa gitu, dong, Jel." Gue bujuk-bujuk. "Kalau cuma nginep sehari dua atau paling lqmq seminggu, sih, gak apa-apa. Tapi kalau terus menetap aku yang gak enak sama Om Rahman. Dipikirnya nanti kakak yang nyembunyiin kamu."


"Bilang aja kakak keberatan nampung aku." Jelita keliatan sakit hati.


"Bukan gitu, Jel."


"Kak Gea sama Kak Nay aja boleh numpang tinggal disini, masa aku enggak?"


"Bahasa lo gak enak banget, numpang, numpang. Siapa noh yang numpang?" Gea gak terima. "Apartemen ini kita sewa bareng-bareng, bege. Gue disini bayar bukan numpang gratis sama sepupu lo."


"Udahlah, Ge. Namanya juga anak kecil mana ngerti begituan."


"Urusin sendiri tuh bocah, gue mau mandi." Gea ngeloyor masuk ke kamarnya.


"Kakak tau gak Jeffry selingkuh sama siapa?" Jelita kembali curhat.


"Siapa?"


"Rachel, anak bawaan istrinya ayah."


"Sumpah?" Gue kaget. Bisa-bisanya nikung pacar adik sendiri. Ya meski gak sekandung harusnya pake otak, dong. Macam gak ada cowok lain aja.


"Jangan suruh aku pulang ya, kak. Please aku gak tau harus kemana lagi." Jelita kembali sesenggukan.


"Ya udah, ya udah. Kamu disini dulu sampai kamu tenang, ya? Nanti aku yang ngomong sama ayah kamu."


"Percuma. Ayah gak bakal belain aku. Mau aku bener atau salah pasti aku yang dipojokin. Apapun yang aku lakuin gak pernah bener dimata mereka....aku capek diperlakuin seperti ini terus...aku pengen nyusul mama aja---"


"Heh, ngomong apa kamu!" Gue rada ngebentak. "Jangan jadi pengecut kamu, down boleh tapi ****** jangan! Ingat kamu masih punya masa depan, masih punya aku, masih ada Kak Sika, ada uwa di Serang. Kalau ada apa-apa sama kamu, apa mungkin kita bakal tutup mata?"


"Aku hopeless, kak. Aku pikir disaat aku down aku masih punya Jeffry untuk bersandar, tapi ternyata aku salah. Semua-semua punyaku udah direbut sama Rachel dan adiknya. Kakak tau gak, kamarku sekarang dipakai Alexa, katanya kamarnya yang lama panas banget bikin kulitnya bentol-bentol." Keluh Jelita.


Kebangetan banget, kapan-kapan kudu gue samperin tuh kecoa-kecoa gak tau diri. Gue kasih pelajaran bonus jambakan maut dirambut pirang bule mereka, mentang-mentang dari kecil tinggal diluar negeri kelakuan gak beradab banget.


"Kak Kin, aku gak apa-apa kok jadi pembantu. Tapi boleh ya aku tinggal disini?"


"Astaga ini anak." Yakali gue setega itu sama saudara sendiri.


"Aku lagi bikin merilis sesuatu, nanti kalau udah sukses dan menghasilkan duit aku pasti pindah cari tempat sendiri. Aku juga gak akan lupain budi baik kakak dan uwa." Jelita megang tangan gue dengan erat dan meletakkan didadanya. Mohon-mohon untuk bisa tinggal disini bareng gue.


"Emang kamu mau bikin apa?"


"Konten. Aku pengen jadi youtuber sukses. Doain ya, kak." Jelita ngoceh panjang lebar tentang impiannya menjadi selebgram atau influencer yang sukses hanya dengan berbekal akun sosial media. Anak jaman sekarang kalau punya cita-cita rada *****, maksud gue kemana ungkapan lugu 'aku pengen jadi dokter' atau 'aku pengen jadi presiden' seperti jaman gue kecil dulu. "Pokok aku mau berhenti kuliah, awkarin aja gak kuliah bisa sukses dan bikin tim manajemen sendiri. Tinggal nawarin exposure-exposure duit dateng sendiri dengan gampangnya."


Gue sampai juling saking banternya gue muterin mata. Gara-gara Jelita, sepagian ini gue udah ngucap astaga sampai berkali-kali.


"Aku gak mau ngomong apa lagi, Jel." Gue gedeg-gedeg. "Tapi kamu udah dewasa, aku anggap kamu udah bisa bertanggung jawab sama hidup kamu."


"Pasti, dong." Sambil gue benerin rambutnya yang berantakan. Kalau lagi senyum lebar gini, Jelita mirip banget sama ibunya. Jadi kangen sama Tante Duwi, gak kerasa sudah tiga tahun beliau berpulang. Jelita dulu manja banget sama mamanya, maklum anak tunggal, sampai sekarang kebiasaan itu masih kebawa. Kalau ketemu gue, Kak Sika atau nyokap masih suka gelendotan seperti anak kecil.


"Boleh tinggal disini?"


"Hm," Gue mikir, karena disini gue gak tinggal sendirian. Selain Gea, Naira juga tinggal disini. Gue harus minta pendapat mereka dulu sebelum ambil keputusan.


Untungnya kedua roomate gue cukup pengertian, mereka gak masalah Jelita pindah kesini untuk sementara waktu. Mereka ikut bersimpati dengan keadaan Jelita dan permasalahan yang menimpanya, jadi urusannya sekarang tinggal pembagian kamar.


"Gue aja yang sekamar sama Nay." Gea mengusulkan.


"Gak apa-apa, Ge." Gue gak enak gitu.


"Daripada sama lo mending Nay, tidurnya anteng gak kayak lo. Kaki dimana, kepala dimana, belum lagi kalau ngigau, serem kayak kuntilanak diperkosa."


"Sialan lo!" Gue toyor aja kepalanya.


"Alasan aja tuh, Kin. Aslinya Gea takut tidur sendiri, ngaku gak lo?" Naira berseloroh.


"Pantes aja dia relain kamarnya dipake Jelly, ternyata eh ternyata Gea takut bobok sandiri, toh?" Ledekan gue dibales Gea dengan bibir manyun.


"Gue duluan, ya." Setelah menggigit potongan toast terakhirnya, Naira beranjak berdiri sambil mencangklong tasnya. "Sandi nyuruh nyiapin sarapan dikantor, gue belum beli pesanannya...kan taek itu bos lo. Kenapa gak makan dirumah aja, sih?"


"Gak ada yang nyiapin kali, Nay. Elo sebagai sekretaris yang baik harusnya pengertian dong."


"Pengertian, sih, pengertian. Tapi hidup gue kan gak melulu buat ngurusin dia. Sandi kapan punya bininya, sih? Cewek banyak tapi diboboin doang, sekali-kali kek suruh bikinin sarapan." Naira bukannya buru-buru berangkat malah julidin bosnya.


"Udah sono lo berangkat, telat dikit apa gak disembur lo."


"Sudah biasa saya, mah." Naira ketawa sebelum melambaikan tangan.


"Bu Kin, kayaknya lo gak bisa nebeng gue, deh." Gea dengan ponsel menyala ditangan langsung berdiri dengan buru-buru.


"Lah gimana?"


"Gue mau langsung ke JExpo." Jelas Gea. "Kelamaan kalau gue kudu nganter lo dulu. Gak apa-apa, kan?"


"Oke, deh. Lagian gue masih ada urusan di kantor, nanti jam sembilanan baru gue bisa nyusul." Gue ngeliat jam yang tergantung di dinding, mesti berangkat sekarang biar semua kekejar.


"Eh bilangin Jelly nanti ada mbak-mbak cleaning service kesini, mintain tolong bersihin kamar gue kalau emang mau dia pake...." Selama Gea kasih intruksi, perhatian gue terbagi ke layar handphone.


Ada notif pesan masuk dari Kava, gak pengen gue buka aslinya tapi, kok, tangan gue gatel ya....


Kava Marketing : Saya tunggu di depan, bu.


Kava Marketing : Tenang, sudah saya bawakan helm standar SNI.


Kava Marketing : Sama kopi


Kava Marketing: Kopinang kau dengan bismillah.


Masa jokes bapak-bapak dikasih ke gue, sih. Gak danta ini orang, masa baru jam segini udah bikin gue nyengir.


"Ngapa lo senyum-senyum?" Gea mergokin gue.


"Enggak, kok." Gue ngeles. Sebelum Gea ngeliat Kava nunggu gue di bawah, mending gue turun duluan. "Gue duluan, Ge. Nanti kalau udah sampai lokasi lo kabarin aja."


"Naik apa lo?"


"Ojek!" Gue setengah berlari waktu menuju pintu keluar.


"Tumben?" Gea mengernyit heran. Tau banget kebiasaan gue yang anti dengan segala kendaraan roda dua. Apalagi disaat mau berangkat kerja begini, apa gak sayang sama rambut dan make up?


Gue bersyukur Gea gak ketemu Kava di bawah, soalnya ini laki-laki...masih sama mengecewakannya seperti kemarin-kemarin. Dalam segi penampilan terutama, gimana ya gue gak enak mau jelasin, takut nanti dia tersinggung.


"Kamu ngapain kesini?" Gue samperin Kava yang lagi jongkok di trotoar. Sepeda motornya terparkir dipinggir jalan raya, gak peduli meski rambu dilarang berhenti berdiri tepat didepannya.


"Jemput, ibu." Setelah melihat gue, Kava kemudian berdiri. Cowok ini termasuk tinggi untuk ukuran produk lokal, kulitnya sedikit gelap dengan postur tubuh bidang.


"Siapa suruh kamu jemput saya?" Perasaan sentimen gue kembali naik ke permukaan.


"Saya gak enak mau ninggalin ibu. Gara-gara saya kan mobil ibu harus ditinggal dikantor." Kava memberikan alasan.


"Terus? Kamu pikir saya mau naik motor butut itu lagi?" Gue menunjuk kendaraan tua itu dengan angkuh.


"Ya...kalau ibu mau, sih. Kalau gak mau juga gak apa-apa."


"Gak sudi saya."


"Saya gak ada maksud apa-apa selain membalas budi baik, ibu." Kava tersenyum tipis.


"Kamu gak usah ge er, saya baik ke semua orang, gak cuma kamu aja. Tolong camkan itu!"


"Iya, bu. Maaf." Kava menunggu beberapa saat namun tidak kunjung mendapat tanggapan dari gue. "Saya permisi dulu, bu."


"Enak aja. Kamu tunggu disini sampai saya dapat mobil jemputan." Gue sambil otak-atik aplikasi transportasi online.


"Siap, saya tungguin."


"Mana kopinya? Katanya tadi kamu bawa kopi buat saya?"


"Lah tadi saya cuma bercanda, bu." Kava nyengir tanpa merasa bersalah.


"Gimana, sih?" Gue cemberut.


"Mau beli gak, bu?" Tawar Kava kemudian. "


"Saya gak minum kopi murahan, ya?"


"Enggak, enggak. Saya jamin kopinya enak cap mahal."


"Ya udah, mana helmnya?" Gue masukin handphone ke dalam tas, untuk orderan sempat gue cancel.


Kava cengar-cengir waktu makein helm dikepala gue.


"Kenapa senyum-senyum?" Gue galakin. "Ada yang salah dengan muka saya?"


"Saya boleh jujur?"


"Eh beneran ada cemong, dimana?" Gue udah panik, kirain wajah gue ketemplokan sesuatu. Waktu gue raba-raba pipi, taunya Kava ngomong gini.


"Ibu cantik banget pagi ini."


***


Gimana-gimana? Asyik kan? Jangan lupa ya mampir ke akunnya kak meccaila. 


Cheers!