Step On Me

Step On Me
Make Over



Salah satu salon andalan gue buka sampai malem asalkan bikin janji terlebih dulu. Gue pengen ganti gaya rambut sekaligus ganti warna. Biar sesuai sama seleranya Pak Bos.


"Pak Sandi suka yang mana? Black brown? Medium Brown? Burgundy?" gue tunjukin satu-satu palet warna cat rambutnya.


Kava mikir. "Emm... kayaknya semua cocok deh buat ibu."


Ya iyalah!


"Buruan pilih!" Gue sodorin lebih dekat.


Kava memincingkan mata. Dia terlihat sedang bergelut dengan pikirannya. "Emm... yang ini!"


"Oke. Nce.. pake warna yang ini!" gue ngomong ke hairstylish gue.


"Siap Bu Bos. Eh Bu Bos, itu cowok ngana, ye?" Mince, si biang gosip mulai beraksi. "Cakep loh, jomblo gak pacarnya?"


"Kerjain yang bener rambut, gue. Gosah gibah lo!" Gue galak. Kava nih bahaya banget, gara-gara tampilannya yang makin kesini makin oke jadi banyak gitu yang ngelirik, ih gue kudu waspada mulai dari sekarang.


"Cuma nanya, galak banget." Eh makin digodain gue. "Yakan kali aja udah bosen, akikah mau take over."


Gue langsung berdesis dan melotot tajam.


"Canda Bu Bos. Tegang banget sih kayak ***** diformalin." Mince cekikikan.


Setengah jam berlalu. Kava mulai bosan dan gak segan-segan menguap lebar.


"Bu, masih lama ya?" Lelaki itu berpangku tangan.


"Iya." Gue masih asyik membolak-balikkan majalah.


"Saya bosen nih, Bu."


Gue menutup majalah di tangan gue lalu melirik ke samping. "Kava mau main biar gak bosen?" Gue pun nyengir karena sebuah ide gila tiba-tiba melintas di otak gue yang cantik.


Tau ada yang gak beres dengan kalimat gue, Kava mulai pasang kuda-kuda. "Apaan nih, Bu? Jangan aneh-aneh."


"Mince," Gue panggil hairstylist gue yang kemasannya batang tapi melambai itu. "Ada yang mau dimainin, nih." Kava langsung gelagapan. Gue nyuruh Mince nunduk terus gue bisikin sesuatu.


Mince menepuk tangannya memanggil salah satu anak buahnya yang sama-sama melambai. "Esmeralda... Yuhuu... Sini dong!"


Kava langsung begidik ngeri. Baru mau kabur, badannya udah diringkus sama Mince. Dia tersudut sampai gak berkutik. "Kamu urus yang ini ya? Terus balikin lagi ke gue, kudu lebih ganteng dari ini, gak mau tau." dia kasih kedipan ke cowok setengah mateng bernama Esmeralda tadi.


"Bu Okta tega..." Kava sebelum digiring ke kursi pesakitan.


"Semangat ya?" Tangan gue mengepal di udara.


***


Jangan suudzon. Kava masih utuh dan selamat. Paling cuma digrepe-grepe dikit. Gak maksud gue, potong rambut dan pangkas jenggot biar rapi.


Gue kan baik nyuruh Mince make over dia. Harusnya dia makasih dapet treatment dari salon mahal dengan cuma-cuma. Kapan lagi coba mukanya yang jamet itu sedikit tertolong? Calon Nyonya Sandi harus dermawan dan welas asih ke orang yang membutuhkan.


Gue udah selesai. Lagi berlenggak-lenggok ria di depan cermin sambil ngobrol sama Mince outfit apa yang cucok dengan gaya rambut gue yang baru. Rambut sebahu dengan poni diatas alis, gue cute banget asli.


Belum kelar gue mengagumi diri sendiri.  Tiba-tiba ada suara-suara ghoib memanggil.


"Ssstt.. Bu.. Bu Okta." Kepala Kava nongol dari balik gorden. Cuma wajahnya aja yang keliatan. Dia kedip-kedip kayak orang bego.


"Udah selesai?" Tanya gue.


"Saya diapain ini, Bu. Jadi aneh gini rambut saya dikasih jalan kutu," Kava ngadu.


Gue nahan tawa liat komuk Kava. "Sini keluar," Gue gerakin satu jari gue, mengisyaratkan Kava buat menampakkan diri.


Kava masih bimbang. Dia gak pede sama penampilan barunya.


"Tunggu apa lagi? Sini keluar!" perintah gue.


Kava wanti-wanti. "Nanti ibu shock, ganteng saya jadi kebangetan soalnya."


"Buruan keluar." Gue capek nanggepin.


"Ya, ini keluar."


Dug! Gue pegangan ke meja samping saking shocknya. Bentar-bentar, ini beneran Kava? Jongos kumel yang gak jelas itu?


Rambutnya dipotong rapi dengan gaya undercut dengan sedikit line up di atas telinga, membuat garis tegas rahangnya terlihat lebih menonjol. Facial mahal yang baru saja diaplikasikan ke mukanya membuat kulit wajah Kava lebih bersih dan cerah. Meskipun lelaki itu hanya mengenakan kaos putih dan celana hitam, tapi feromon maskulinitasnya menguar-nguar gak terbendung lagi. Gue sampai lupa caranya nafas. Kenapa Kava yang kucel bisa berubah jadi model Gucci hanya dalam sekali treatment?


"Halo Bu Okta?" Kava menggerak-gerakkan tangannya di depan muka gue.


"Ha?" Gue gelagapan sendiri.


"Ibu butuh nafas buatan?"


Gue langsung berdehem dan membenahi posisi berdiri. "Aku bayar ke kasir dulu." Hilang arah, gue kejedot kaca waktu jalan mau ke kasir. Sumpah, malu-maluin!