
"Kav, ayo!" Kemarin gue pulang kampung bawa kendaraan sendiri, sementara Kava pulangnya nebeng mobil gue. Dia tuh selalu aja nemu cara buat nyusahin gue.
"Saya pamit dulu, Pak." Kave menyalami Papi gue.
"Wahh beban keluarga kita sudah mau pulang, ya? Hati-hati dijalan ya beban keluarga, saya nitip anak saya tolong dijaga baik-baik." Papi menepuk-nepuk bahu Kava dengan gaya sok akrab.
Gue juga ikutan pamitan ke Papi dan Mami, keduanya mengantar kita sampai masuk ke dalam mobil. "Dadah, Pi, Mi. Nanti Kalau sudah sampai aku telepon. Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam." Mami balas lambaian tangan gue.
"Mari Bu, Pak." Kava yang duduk di bangku kemudi mulai melajukan mobil yang dikendarai, sengaja dia membuka kaca depan separo agar gue bisa dadah-dadah sama mami dan papi.
"Ati-ati Mas Kava! Kinarnya dipepet terus, sampe sayang. Semangat!" Pesan Mami pada Kava, membuat oknum yang meresahkan itu mesem-mesem, berasa dapat lampu hijau dia.
"Apa kamu cengar-cengir?" Hardik gue ketika mobil sudah jauh dari pandangan. "Ngapain kamu sok jadi badut gitu didepan orang tuaku? Niat kamu apa, sih?"
"Gak apa-apa dong jadi badut, cuman buat lucu-lucuan sekalian bikin calon mertua ketawa, ya daripada ngebadut nemenin dia yang entah hatinya untuk siapa." Jawab Kava sekenanya.
"Bisa gak orang kayak kamu kalo meninggal kubur diri sendiri?" Gue mendesis kesal.
"Definisi marah-marah tapi tetap sayang." Kava berbicara tanpa menoleh ke arah gue. "Coba tadi ibu tanya ayahnya sopan gak bikin orang sayang sembarangan?"
Mending gue siap-siap mau tidur, cape gue ngadepin Kava. Tapi baru saja gue memposisikan diri, Kava udah ngajak ngomong lagi.
"Kita pulangnya lewat puncak, ya?"
"Ngapain ke Puncak?"
"Rencana kemarin mau saya ceritakan tadi gak jadi karena ibu keburu mudik." Dia lalu memberitahu gue mengenai kegiatan kantor mendatang.
"Training and gathering?" Gue dengan seksama mendengarkan penjelasan Kava akan rencana pembinaan akhir tahun ketenagakerjaan. Sebenernya hal-hal seperti ini udah sering dilakukan perusahaan. Hanya saja dengan skala yang berbeda.
"Yang namanya otak manusia itu perlu direhat, Bu. Kalau suruh kerja terus ya stress, gak bisa menghasilkan dengan optimal. Makanya kita perlu jeda. Gak usah jauh-jauh. Ke puncak juga bisa. Nah, sekalian liburan, sekalian kita training. Selain memperdalam ilmu dan kecakapan, juga menyambung tali persaudaraan antar karyawan. Yang namanya liburan tuh bisa bikin makin kompak loh, Bu. Dengan begitu, sekali siul, dua tiga cewek tergauli."
"Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui goblok!" Gue membenarkan. Lemes banget mulutnya bikin peribahasa sendiri.
"Gak enak Bu ngedayung pulau, mending ngedayung cewek." Alisnya Kava naik turun.
"Kamu baru sunat sekali jangan sok-sokan jadi fakboy ya!" Gue toyor kepalanya.
"Ampun Bu, kalau cemburu bilang aja." Ini orang bisa percaya diri banget gini, sehari minum tramadol berapa strip coba.
"Najis!" Gue mengernyit. "Balik yang tadi, emang apa kata Pak Sandi tentang rencana kamu?"
"Laksanakan!" Kava menirukan raut dan suara Pak Sandi saat memberi perintah. Gue terkikik kecil mendapati tingkah kecil Kava yang terlihat lucu itu.
"Pak Santoso juga mendukung penuh ide itu. Katanya, yang namanya karyawan itu adalah nyawa perusahaan. Kita harus memperlakukan mereka dengan baik. Jangan cuma diperas aja keringetnya. Dan acara gathering ini adalah momen yang pas biar mereka makin berdedikasi sama perusahaan."
Gue mangut-mangut. Jujur, Pak Santoso itu bukan bos yang semena-mena macam peran antagonis di TV-TV. Beliau adalah Bos yang mengedepankan humanisasi bagi orang-orang yang bekerja di bawahnya. Nggak heran kalau orang-orang beliau banyak yang royal. Setelah perusahaan dipegang sama Pak Sandi, emang agak oleng sedikit treatmentnya. Ya namanya juga anak muda yang masih menimba pengalaman. Mungkin, ini termasuk salah satu cara Pak Santoso mendidik anaknya agar lebih bijaksana dan berkharisma menjadi seorang bos.
"Program sama trainernya nanti Pak Sandi yang milihin. Pokoknya kita terima beres. Kita cuma butuh cari tempat dan mengkoordinir acaranya aja," Lanjut Kava menjelaskan.
"Emang kamu yakin ini bakalan mengatasi masalah penjualan kita?" Tanya gue.
Gue kasih anggukan tanda setuju.
"Lagian masalah pasar itu urusan tim marketing. Urusan Ibu hanya bagaimana mengoptimalkan sumber daya manusianya. Bener gak, Bu?"
"Sumpah ini kamu yang ngomong? Anak lulusan SMK yang pengalamannya cuma jadi tumbal proyek?" Perkataan gue keluar tanpa disaring.
"Kagum ya, Bu. Lihat kepintaran saya? Anak STM IPA, Bu. Maklumin aja kalo pinter."
"Anak IPA emang pinter tapi aslinya mereka orang lapangan dan anak IPS yang jadi bos mereka." Gue gak mau kalah.
"Ya udah ibu bener, saya mah ngalah aja sama calon bini." Kava dan kepercayaan dirinya yang setinggi kutukan Fir'aun.
"Jadi kapan ini gatheringnya?"
"Kata Pak Sandi akhir minggu ini," Ucapnya dengan enteng.
Gue gelagapan. "What? Akhir minggu ini!" Mata gue hampir copot rasanya.
"Emang kenapa, Bu? Kan masih lima hari?"
Ini bocah tolol apa goblok sih?
"Sewa tempat, cari katering, dan ***** bengeknya kamu pikir bisa selesai lima hari? Kenapa nggak ngomong dari tadi sih!"
Pak Sandi juga, bikin acara mepet banget. Kalau gak beres kan gue ikutan yang salah.
"Lah ini kita lagi otw ke puncak, survey lokasi sekalian pacaran."
"Gila ya kamu, jam segini ngajak survey. Ini udah sore, jam berapa kita sampai puncak? Belum juga macetnya. Bisa-bisa tahun malem baru kita baru menemukan jalan pulang. "Bisa gak sih, kalau bikin plan tuh preparenya dari jauh-jauh hari?"
"Ya udah kalau gak mau. Saya besok survey sendiri juga gak apa-apa. Tapi bukan salah saya ya kalo Pak Sandi ngamuk-" omongan Kava gue potong.
"Oke, oke! Males aku debat sama kamu!"
"Udah Ibu tenang aja. Kan saya yang bawa mobil. Ibu cuma duduk pasrah aja. Tiduran juga boleh sih. Kalau saya yang nyetir dijamin enak dan bikin nagih!"
Bahu Kava kena gamparan gue. "Mingkem atau aku gelundungin di Tol Jagorawi!"
"Ibu mah sukanya sadomasokis gitu!" Kava masih saja berulah. "Gimana kalau sebelum office gathering kita coba buffalo gathering dulu, Bu?"
Tunggu tunggu otak gue ngebug gak nangkep, buffalo gathering? Kumpul kebo maksudnya?
"Dasar kakek sugiono kawe, sebelum ngomong benerin dulu kek otak lo yang mesle itu!" Maki gue.
"Bukan kawe, versi lite nya saya mah."
"Kava diem gak, aku mau tidur!"
"Iya Bu, ini mingkem."