Step On Me

Step On Me
Tutorial Memasak



Setelah acara belanja bahan selesai, gue diculik Kava ke rumahnya. Canda culik. Enggak, emang sedari awal gue aja yang pengen ngungsi ke rumahnya gara-gara kamar gue dipake naruh balon-balon.


"Ibu kok ngintilin saya pulang? Mau liat sawah lagi ya, Bu?" ucap Kava sembari membukakan pintu.


Ini gara-gara gue pernah kelepasan nyebut sawah 6 petak waktu gelitikin perutnya. Kava jadi kesenengan dikit-dikit menyinggung hal itu.


"Aku mau eksperimen bikin nasi goreng. Dapur aku kebagusan buat masakin kamu, mending praktek di sini kalaupun meledak kan aku gak rugi-rugi amat!" Gue main nyelonong aja masuk ke dalam kontrakan Kava.


"Kok sepi? Adek-adek kamu mana?" Biasanya kalau liat penampakan gue disini, Mizan langsung sensitif. Kerjaannya batuk mulu. Gue ngapain dikit, batuk. Gak ngapa-ngapain juga batuk-batuk. Bilang aja pengen ngusir gue. Sebaliknya dengan si bungsu yang hobi nyengir itu, kalau gue dateng pasti yang dicari pasti makanannya dulu.


"Pada maen layangan kali," jawab Kava sembari mengganti kemejanya dengan kaos. Emang gak tau adat itu laki. Udah tau ada gue disini, main lepas baju gitu aja.


Enggak ya! Gue gak sempat observasi petakan sawah karena Kava munggungin gue.


Sebelum pikiran gue traveling, gue langsung balik badan terus menuju dapur.


Gue emang pernah bilang ogah ke dapurnya Kava. Ya gimana, gue kan takut kecoa. Gue yakin Kava pelihara makhluk biadab itu di sini. Tapi ternyata itu cuma prejudice gue doang. Dapur Kava masih dikategorikan layak lah buat masak-memasak. Seenggaknya hari ini, kompor dan perlatannya lumayan kinclong.


"Kamu habis renovasi dapur?" Tanya gue melihat-lihat sekitar.


"Dikit. Mumpung minggu kemarin, Lantang sama Mizan lagi dirumah. Kita kerja bakti. Mereka sakit hati dapurnya dihina sama Ibu." Ya bagus deh. Ada gunanya kan mulut pedes gue.


"Bertiga aja gak manggil tukang?"


"Iya. Eh dek Tasya juga bantuin." Celutukan Kava bikin kuping berdenging.


"Siapa yang undang Tasya ondel-ondel itu kesini?" Suara gue agak nyentak bikin Kava berjingkat ke belakang.


"Ibu sama gledek gak ada bedanya ya?" Lelaki itu mengelus-elus dadanya sendiri.


"Ngapain itu ondel-ondel ngerusuh di rumah orang?" Gue yakin, lengkingan suara gue bikin tikus yang ngumpet di balik tabung gas auto bunuh diri, kecoa dehidrasi, dan cicak kembali menghadap Illahi.


"Bantu bersin-bersih, Bu. Kok ngerusuh, sih?"


"Oh kamu belain dia?" Gue berkacak pinggang.


"Dia kesini anterin sop iga bikinan emaknya, terus liat kita sibuk pengen ikut bantuin. Namanya juga bertetangga, bu. Harus saling tolong menolong." Kava sok bijak.


"Mana sop iganya, sini aku jejelin ke mulut kamu." Gue gak butuh penjelasan.


"Tinggal tulangnya. Mau?"


Gue berdecih. "Kamaruk amat kamu sama makanan, mau-maunya kamu dipepet sama ondel-ondel pake sogokan tulang iga."


"Kalau makan iga mungkin gak bisa sampe ke tulang, tapi kalo sama ibu, yang gak bertulang pun bisa tegang."


"Hidup jangan kebanyakan becanda. Bae-bae kamu dibecandain sama malaikat maut." Kava sampai merem-merem kena semprot dari gue. "Udah buruan siapin bahan buat masak nasi goreng!"


"Kok, Ibu merintah saya?"


Sentakan gue makin kenceng, "Gak mau ya sudah, saya gak jadi masak!"


Sebelum gue benar-benar berubah pikiran, Kava segera mengeluarkan satu persatu item belanjaan dari kantongnya. Sambil gue nyalain Youtube dan mempelajari sekali lagi step by step merubah bahan-bahan yang gue beli tadi menjadi makanan layak makan.


Sementara Kava mencuci udang dan sayuran, gue menggulung lengan baju. Dengan pisau di tangan kanan dan HP di kanan kiri, mata gue masih terpaku pada tayangan di benda persegi panjang itu. "Ibu mau masak atau lagi nonton tutorial membunuh orang? Pegang satu aja, Bu. HP-nya taruh situ!"


"Sstt diem! Gue lagi konsentrasi!"


Menggelengkan kepala, lelaki itu ngambil HP dan pisau di tangan gue terus nyuruh gue cuci tangan. "Aturan pertama dalam memasak, cuci tangan biar higienis,"


Tangan gue main diambil terus dibawa ke bak cuci piring, habis diguyur pake air keran dan disabunin pake sunlight. "Aku bisa cuci tangan sendi—."


Kava ngulum senyum dan lanjut ngelapin tangan gue pake serbet bersih. Ayo nolak dong Ki, nolak. Kinan! Lo dengerin gak sih? Nolak, jangan cuma cengo gitu. Ya tapi gimana dong, diperlakukan seperti ini tuh rasanya ajajim ajajim.


"Nih, ibu pegang!" Kava ngasih pisau ke genggaman gue. "Ati-ati. Tajem ini pisaunya meski kecil begini, nanti ada saatnya ibu saya kasih pegangan yang lebih gede."


"Segede apa emang?" Gue mikirnya pisau-pisau yang suka dipake koki masakan China gitu.


Mata gue menangkap sebilah parang diantara cangkul dan gergaji. "Kamu kira saya mau gorok kebo?"


Gue mulai mengupas bawang sementara Kava mengawasi di sebelah gue. Selesai kupas-kupas, Kava ngulurin talenan. Inilah saatnya gue menggeprek lalu cacah-mencacah segala jenis siung-siuangan ini. Gitu sih kata tante-tante di Youtube tadi.


"Gak diuleg aja bumbunya?" Kava kasih saran.


Gue menggeleng. Masih bersikukuh dengan pakem cara memasak di Youtube.


"Enakan diuleg bu,"


"Diem, kayak kamu bisa masak nasi goreng enak aja."


"Lah kerjaan saya setiap hari juga begini sebenarnya, tapi gak boleh sambat nanti sangarnya ilang." Ujar Kava.


"Hari ini kita masak pake caraku, titik." Gue sok tau. Selesai ngurusin bawang, ganti gue motong-motong sawi, wortel dan kubis. Gue memutuskan bikin nasi goreng dengan banyak sayuran biar Kava dan adik-adiknya makin rajin mengembek.


Eh kurang ajarnya, Kava malah cekikan ngeliatin aksi gue iris mengiris. Emang salah ya?


"Ngapain ketawa?" Gue ketus.


"Kalau ibu motongnya kayak gitu, bukan wortelnya yang kepotong tapi tangan ibu." Ledeknya sebelum menempatkan diri di belakang gue. "Nih ya Bu, kalau mau ngiris ujung jarinya ditekuk sedikit. Megangnya seperti ini. Waktu pisaunya jalan jarinya ikut mundur." Kava membimbing gue cara mengiris sayuran yang baik dan benar. Badannya yang bongsor itu menaungi tubuh gue dari belakang. Dua tangannya memegangi tangan gue, sambil pelan-pelan dia mendemonstrasikan cara mudah memotong bahan masakan tanpa melukai tangan.


Gak kok, gue gak salting. Gue biasa aja. Gak ngaruh sama sekali meski dadanya yang sekokoh benteng Takeshi itu nemplok-nemplok manja di punggung gue.


Cuma gue gak bisa mencegah sebagian diri gue bersandar pada tubuhnya. Bikin gue merasa lebih terlindungi dan....


"Nyaman ya, Bu?"


Gue terkesiap. "Apanya yang nyaman?"


"Cara pegang pisaunya lah, masa hatinya?" Suara tawa yang meledek itupun membuyarkan lamunan gue dalam sekejap.


"Cerewet." Tanpa sadar gue ngucek mata yang kemudian gue sesali. Karena sedetik kemudian gue merasakan perih-perih di mata.


"Kav.. Kava! Ini mataku kenapa pedes?" Gue heboh sendiri.


"Ya gitu kalau tangan bekas ngiris bawang celamitan kemana-mana." Kava menghentikan aktivitasnya. Dia lalu membalikkan badan gue.


"Ih gak bisa melek gimana ini?"


"Waduh, gimana ya Bu?" Kava berlaga ikutan panik.


"Gimana ini ilanginnya? Kamu bisa gak, aduh aduh pedesnya bikin nangis." Gue meraung-raung.


"Sst jangan nangis. Nanti saya sedih" Sekate-kate Kava kalau ngomong.


"Sakit banget ini!" Baru gue mau ngucek mata lagi, tangan gue buru-buru ditangkep sama Kava.


"Jangan, bu!" Dia memperingatkan.


"Terus gimana ini? Perih banget," Gue sampai banjir air mata. Ternyata pedihnya ngiris bawang lebih menyakitkan daripada kehilangan pacar.


Kava ambil serbet lalu dikasih air sebelum ditotol-totolin ke kedua mata gue. Rasanya dingin-dingin sejuk ketika Kava mengusap area pesakitan gue hingga beberapa kali, lembut gitu perlakuannya sampai akhirnya rasa perih itu berangsur hilang dan gue pun bisa buka mata lagi.


Pertama kali yang gue lihat tentu wajah Kava yang hanya berjarak beberapa centi dari muka gue. Karena dia menunduk untuk mengimbangi tinggi badan gue, membuat bibirnya yang tebal tepat berada di atas hidung gue.


Pertanyaan gue. Sejak kapan Kava menjadi semenarik ini? Ya Allah, makhluk-Mu yang gue urus dengan setengah hati ini sekarang minta banget disayang, apalagi didukung dengan wajah gantengnya yang minta dikelonin itu.


"Udah gak sakit kan, bu?" Suaranya sopan banget ditelinga, wanginya juga lewat dengan santun di hidung gue.


Otak gue serasa ngeblank, sebelum akal sehat mengusai pikiran dan batin gue. Wajah Kava langsung gue tarik hingga bibir kami saling bersentuhan. Di luar dugaan, Kava membalas ajakan gue. Seperti ada aliran listrik yang begitu mendebarkan jantung saat bibir Kava bergerak ******* bibir gue. Tangannya yang kekar membelai punggung gue, dan menarik pinggang gue makin mendekat ke tubuhnya. Gue refleks merangkul leher Kava dan mengimbangi lumatannya. Nafas kami beradu. Kava mepet tubuh gue ke counter. Dia semakin liar mengigiti bibir bawah gue. Gue melenguh, membuka sedikit mulut agar mempermudah lidah Kava untuk bergerilya masuk. Di dalam sana, kami saling bertukar saliva. Lidah kami bergelut. Bibir kami memangut satu sama lain. Di saat gue kehabisan oksigen, otak gue disadarkan oleh teriakan dua orang dari arah luar.


"Mas Kava! Udah pulang ya?" Suara grubak-grubuk kedua adik Kava ketika memasuki rumah seketika membuat gue kaget dan reflek mendorong tubuh Kava ke belakang. Punggungnya yang lebar sampai menabrak lemari, ditambah bonus sebuah wajan seukuran telapak kaki Yeti jatuh menghantam kepalanya. Yah benjol.