
Malamnya.
Aku di tarik ke pintu samping gedung asrama oleh Eunwoo dan di dorong ke depan.
Eunwoo menatapku kesal, kedua tangannya terlipat di dada. "Kau naksir padanya kan?" Tuduhnya langsung.
Aku menatapnya tak mengerti, "Siapa?"
"Siapa lagi?! Senior Hong Wonbin!!" Tegas Eunwoo.
Mataku berkedip-kedip bingung, "Apakah sejelas itu?" Tanyaku.
Mulut Eunwoo terbuka tak percaya, "Siapa pun yang punya mata bisa melihat dari caramu menatapnya!"
Aku memandang ke bawah cemas. Jika itu benar, apakah Senior Wonbin juga menyadarinya? Apakah dia juga akan membenciku seperti Eunwoo? Aku... apa yang harus kulakukan jika itu terjadi? Bagaimana caraku melewatinya?!
"Yun Dojin!" Eunwoo menyentak kedua bahuku.
Aku keluar dari drama di kepalaku dan menatapnya.
Eunwoo menatap kedua mataku tak mengerti, "Sebenarnya apa yang salah denganmu?! Aku sudah berkata untuk tidak melakukan apa pun! Jangan lakukan itu disini! Kenapa kau tidak dengar?!"
Benar... dia memang mengatakannya. Apa yang harus kulakukan sekarang?
"Hei! Jawab aku!" Tegas Eunwoo kesal.
Bibirku mulai bergetar, "Apa yang harus kulakukan, Eunwoo?" Tanyaku.
Eunwoo tertegun mendengarnya, "Apa maksudmu?"
Kedua mataku mulai di genangi air, "Jika Senior Wonbin juga membenciku seperti kau membenciku..." ucapku pelan, bulir-bulir air berjatuhan ke pipiku. "...apa yang harus kulakukan?"
Tatapan marah Eunwoo luntur, "Apa maksudmu? Apa yang harus kau lakukan? Yang harus kau lakukan adalah menjadi normal sampai sekolah selesai!" Tegasnya.
"Aku tau..." jawabku menahan tangis, "Tapi aku tidak bisa mengendalikan perasaanku... aku... itu hanya terjadi begitu saja..." tangisku, "Maafkan aku..."
Eunwoo terdiam lama menatapku menangis, "Kau menangis karena perasaanmu pada Senior Wonbin?" Tanyanya seperti tak percaya.
"Dia satu-satunya orang yang bersikap baik padaku... aku tidak punya siapa pun lagi selain dia..." ucapku putus asa.
Eunwoo mencengkeram kedua lenganku, "Sadarlah, Yun Dojin!!" Tegasnya sembari menyentak lenganku.
Aku menatapnya kaget.
Eunwoo menatap kedua mataku lekat, "Dia bersikap seperti itu karena tidak tau siapa kau sebenarnya..." ucapnya penuh penekanan, "Jika dia tau kau menyukainya, menurutmu dia tetap akan bersikap seperti itu?"
Benar... tidak ada orang yang benar-benar menjadi favoritku hingga mereka tau aku tidak normal. Kenapa sangat tidak adil? Bulir air mataku terus berjatuhan menatap ke dalam matanya.
"Kau hanya perlu bertahan hingga lulus SMA, tidak sesulit itu kan?!" Tanya Eunwoo lagi.
Aku menatap Eunwoo terluka, "Kenapa kau sangat membenciku, Eunwoo?" Tanyaku tak mengerti.
Eunwoo tertegun mendengar pertanyaanku.
"Kenapa kau selalu ingin melukaiku?" Tanyaku.
Kedua tangan Eunwoo melepaskan lenganku, perlahan ia bergerak mundur.
"Berapa lama aku harus menderita seperti ini?" Aku benar-benar tidak mengerti lagi. Apa yang harus kulakukan. Aku masih berusia belasan tahun, tapi kenapa rasanya hidup sangat sulit?
Eunwoo menghembuskan nafas kasar, lalu memutar tubuhnya pergi.
Apakah aku akan merasakan rasa sakit seperti ini terus-terusan sampai aku lulus SMA? Bagaimana jika aku tidak sanggup menahannya? Kenapa aku harus menahannya? Tapi Eunwoo benar, bagaimana pun Senior Wonbin juga akan berubah menjadi seperti Eunwoo atau bisa saja lebih buruk ketika tau apa yang sebenarnya kurasakan untuknya. Malam itu aku langsung datang ke kantor penyelia di asrama, aku harus menghubungi ibuku.
"Hallo?" Terdengar suara ibuku di seberang, terdengar mengantuk.
Aku tidak bisa menahan tangisku, "Ibu..." ucapku terisak-isak.
Petugas penyelia disana menatapku kaget karena langsung menangis.
"Dojin? Itu kau?" Tanya ibu terdengar khawatir, "Kau baik-baik saja?"
"Ibu... aku tidak sanggup lagi... Bisakah menjemputku?" Tanyaku sambil menangis.
"Sayang? Apa yang terjadi? Kau kenapa?" Tanya Ibu.
"Tolong jemput aku sekarang.." pintaku memohon.
"Sayang... kau baru mulai semester baru, pasti terasa sangat sulit kan? Tahanlah sedikit lagi... Kau bisa pulang saat liburan sekolah tiba..." ucap Ibu membujuk.
Mataku terpejam erat, aku tau tidak ada gunanya menghubungi ibu. Tidak akan ada yang mengeluarkanku dari situasi ini. Aku benar-benar sendiri...
+++
"Kau tidak akan masuk kelas?"
Aku sudah mengenakan seragamku, namun masih terduduk di pinggir tempat tidur. Lamunanku keluar saat mendengar suara rekan sekamarku. Aku hanya menoleh tanpa mengatakan apa pun.
Rekan sekamarku mengerutkan dahi, lalu berjalan keluar tidak peduli.
Jika aku di lahirkan berbeda, bukankah seharusnya terasa normal? Tapi kenapa tidak? Aku tidak pernah mengerti bagaimana caranya bertahan. Aku terus berkata pada diriku aku akan baik-baik saja, kenapa aku tidak bisa benar-benar baik-baik saja? Aku ingin pergi. Sebentar saja. Tidak, selamanya juga tidak apa-apa.
Tidak tau berapa lama aku berjalan, udara sekitarku terasa panas. Tenggorokanku kering sekali. Pandanganku mulai buram.
"Hei!! Kau butuh bantuan?" Terdengar suara lembut seorang wanita dari kejauhan.
Langkahku terhenti, kepalaku menoleh ke arah suara itu. Mataku tidak melihat dengan jelas, seorang wanita cantik berdiri di sebelah mobil menatapku.
"Nak..." panggilnya lagi. Dari caranya memanggilku, sepertinya dia jauh lebih tua.
Mulutku terbuka untuk berbicara, namun tidak ada yang keluar. Kenapa sulit sekali?
"Nak?" Wanita itu berjalan ke arahku.
Sekitarku terasa bergoyang, kedua kakiku tidak lagi bisa menopang tubuhku dan jatuh tak sadarkan diri ke bawah.
+++
Tubuhku rasanya lelah sekali. Cahaya yang silau masuk ke celah mataku. Dahiku berkerut sedikit dan membuka mata perlahan. "Hmmm..." tanpa sadar aku bergumam karena terlalu silau.
"Kau sudah sadar?" Terdengar suara pria yang familiar. Aneh sekali.
Perlu waktu untuk mengumpulkan kesadaranku, terasa sentuhan di kepalaku.
"Dojin.." panggil suara itu lagi.
Bayangan wajah seseorang masuk ke mataku, pandanganku masih buram.
"Yun Dojin..." suara itu semakin lembut.
"Dia sudah sadar?" Terdengar suara wanita lembut juga sedikit lebih jauh.
Pria di depanku menoleh, "Sepertinya..."
Pandanganku semakin jelas, rahang tajam itu. Sepertinya aku mengenalinya.
Pria berahang tajam itu kembali menoleh padaku, menatapku khawatir. "Kau dengar aku?"
Senior Wonbin? Kenapa dia ada di depan wajahku? Dimana ini? Mataku memperhatikan sekitar tak mengerti. Ada tiang dengan sebuah botol infus tergantung di sebelah kepala Senior Wonbin.
Wajah seorang wanita keibuan yang terlihat super duper cantik muncul di sebelah Senior Wonbin, juga menatapku khawatir. "Kau baik-baik saja, nak?" Tanyanya. Suaranya lembut sekali seperti seorang dewi.
Setelahnya.
Aku tidak pernah tau niatku untuk pergi akan membawaku ke rasa malu yang tidak bisa kujelaskan. Aku duduk diatas tempat tidur sebuah rumah sakit dengan kepala menunduk ke bawah. Ternyata yang menemukanku adalah orang tua Senior Wonbin yang datang berkunjung. Wanita bersuara lembut seperti seorang dewi itu adalah ibunya Senior Wonbin.
Ibunya Senior Wonbin menatapku khawatir, "Kau sudah baik-baik saja?" Tanyanya.
Kepalaku mengangguk pelan dengan kepala masih tertunduk.
Bibir Ibunya Senior Wonbin membentuk senyuman, tangannya terulur untuk menggapai tanganku. Aku bisa merasakan kulit tangannya yang lembut.
Mataku terangkat memandang wajahnya, tatapannya terasa sangat hangat.
"Tidak apa-apa.." ucapnya pelan, "Pasti terasa berat kan? Tinggal sangat jauh dari rumah..."
Apakah semuanya benar-benar terpapar jelas di wajahku?
Ibunya Senior Wonbin menatapku lekat, tangannya terangkat mengelus kepalaku. "Wonbin kami juga punya tatapan seperti itu di tahun pertamanya..."
Aku tertegun mendengar ucapan itu, "Senior Wonbin?" Tanyaku.
Ibunya Senior Wonbin mengangguk membenarkan, "Dia akan menelepon setiap hari, meminta di jemput karena tidak betah." Lanjutnya menahan senyuman, "Tapi seiring berjalannya waktu, setelah ia menemukan hal yang menyenangkan di sekolah. Dia tidak lagi melakukannya..."
Aku terdiam mendengar itu.
Ibunya Senior Wonbin mengelus punggung tanganku, "Dia berkata kau adalah adik kelas favoritnya, kau yang membantunya menyunting tulisannya kan?"
Hm? Adik kelas favoritnya? Aku? Entah mengapa itu membuatku merasa senang sedikit, "Sa-saya adik kelas favoritnya?"
Ibunya Senior Wonbin mengangguk lagi, "Dia membicarakanmu terus ketika kembali ke rumah, juga beberapa waktu lalu meminta di kirimkan makanan dari rumah karena katanya kau sedang sakit."
Aku berusaha mencerna ucapannya, makanan dari rumah? Ketika aku sakit?
"Dokter berkata kau tidak punya gangguan apa pun di tubuhmu, sepertinya yang kau rasakan sakit disini..." Ibunya Senior Wonbin meletakkan telapak tangannya di dadaku.
Aku memandang tangannya di dadaku, lalu kembali memandang wajah cantiknya.
"Tidak apa-apa, jika kau merasa terlalu berat. Kau bisa mengatakannya pada Wonbin. Dia pasti sangat khawatir karena kau terus-terusan sakit." Ucap Ibunya Senior Wonbin.
Entah mengapa ucapan itu membuatku merasa berasalah. Mengingat bagaimana ia merawatku ketika aku sakit. Bukan hanya sekali.
"Kau masih muda, banyak waktu yang kau butuhkan untuk mengerti." Ucap Ibunya Senior Wonbin, "Jadi pelan-pelan saja..."
Mendengar ucapan hangat itu membuatku mulai di balut emosi, aku berharap ucapan itu keluar dari mulut ibuku sendiri. Tapi aku tau ibuku tidak akan mengatakan hal seperti itu.
Ibunya Senior Wonbin tersenyum dan mengusap kedua pipiku, "Tidak apa-apa, menangislah jika kau ingin menangis.."
Dengan ijin itu, aku mulai menangis tersedu-sedu. Kedua tangan lembut itu menarik kepalaku ke dadanya dan mengelus kepalaku lembut.
"Hmmm.. tidak apa-apa... Kau tidak sendiri, lepaskan saja..." ucap Ibunya Senior Wonbin lembut.