Season Of You

Season Of You
— 01 —



"Aku baik-baik saja..."


Adalah mantra yang selalu kuucapkan pada diriku sendiri. Disaat semua hal tidak berjalan sesuai rencana. Maksudku... benar-benar semua hal yang membuatku seperti hidup di neraka. Masa SMA mungkin adalah masa yang menyenangkan dan penuh romansa bagi remaja lain, tapi bagiku, aku hanya ingin semuanya segera berakhir. Atau... mungkin sebaiknya aku saja yang berakhir?


Berjalan di lorong tempat loker berada adalah hal mengerikan yang harus kulalui setiap harinya. Karena senior pria yang sangat suka mengusiliku pasti sudah menunggu.


"Dojin..." bisik salah seorang senior di belakang telingaku.


Aku tersentak kaget, kepalaku hanya memandang ke bawah. Kedua tanganku mulai bergetar hebat, aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Aku merasa mual. Bahuku di tarik keras ke belakang dan sedetik kemudian punggungku membentur loker.


BRAK!


"Dojin, kenapa tidak asik hari ini?" Tanya senior yang lain sembari mengelus pipiku dengan punggung tangannya.


Aku semakin menunduk, menjadi pria yang feminin di sekolah khusus pria itu adalah mimpi buruk. Seharusnya aku tidak masuk kesana. Tapi aku tidak punya pilihan karena ini satu-satunya sekolah yang di temukan orang tuaku memiliki asrama dengan harga yang terjangkau. Ya.. mereka sudah berpisah dan memiliki keluarganya masing-masing, dimana aku bukan lagi anggota keluarga mereka.


"Yun Dojin, kau dengar kan?" Tanya senior lain yang mengelilingiku.


Aku bisa muntah kapan saja karena desakan semua orang disana, mereka menyentuh wajahku dan memanggilku seperti aku adalah seorang perempuan lemah. Sebuah tangan mengangkat daguku, memaksaku menatap wajah mereka. Dan saat itu, aku melihat seseorang yang dulu, dulu sekali, pernah peduli padaku. Tatapanku dan tatapan seorang pria berwarna jutek bertemu beberapa detik sembari ia berlalu di belakang para senior itu, lalu ia memalingkan wajah tidak peduli. Aku bisa merasakannya, sesuatu yang panas menekan dadaku. Kedua mataku mulai berair, kepalaku berputar, "Huuwweeeek!!" Aku nyaris memuntahkan isi perutku.


"Yaikkkss!!!" Seru para senior itu panik.


Aku menutup mulut dengan tangan, rasa mual itu semakin menjadi-jadi. Aku bergegas berlari ke toilet untuk muntah. Kondisi kamar mandi cukup ramai, aku membuka sebuah bilik toilet dan memuntahkan isi perutnya ke toilet. Aku tidak makan banyak pagi tadi, namun rasanya yang keluar lebih banyak dari yang masuk. Tubuhku terasa tidak nyaman, aku merasa sangat-sangat sakit. Aku duduk bersandar di lantai sembari memegang perutku, rasa dingin di wajahku memberitauku keringat pasti memenuhinya. Pandanganku berkunang-kunang, aku bisa mendengar pintu terbuka di sisiku, kepalaku menoleh sedikit kesamping, tidak ada yang kulihat selain sepasang kaki.


"Kau baik-baik saja?" Suara berat itu menggema di telingaku.


"Ya.." bahkan aku tidak perlu berpikir untuk menjawabnya, mulutku akan bergerak sendiri. Aku melihat si pemilik kaki itu berlutut di depanku, namun mataku terasa berat sekali dan semuanya gelap.


+++


Aku terbangun di ruang kesehatan, tidak tau berapa lama aku terbaring disana. Aku bergerak duduk sembari memijat pundakku.


"Kau pingsan lagi, Yun Dojin.."


Aku bisa langsung mengenali suara itu, suara wanita tegas yang sekarang sudah berdiri tak jauh dari tempat tidur dengan kedua tangan terlipat di dada. Menatapku mengintimidasi.


Dia adalah Dokter Kim, Dokter yang bertugas di ruang kesehatan sekolahku. Ia menarik kursi dan duduk di sebelahku, menatapku serius. "Kau di rundung siapa?" Tanyanya.


Pertanyaan itu membuatku gugup, "Ti-tidak... Tidak Dok.." jawabku sembari menggeleng pelan.


Dokter Kim menghembuskan nafas panjang, "Ayolah, Dojin. Tidak ada orang yang keracunan makanan setiap hari."


Aku memandang ke bawah, "Saya... mmm... tapi saya memang...." Aku tidak bisa menemukan alasan lain lagi. Tapi jika Dokter Kim mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, mungkin ayah dan ibuku akan di panggil, aku bisa saja di kirim ke sekolah lain yang lebih aneh dari ini.


Dokter Kim menghela nafas, "Ya sudah.." ucapnya mengalah, "Aku akan memberikanmu obat dan surat agar kau bisa beristirahat beberapa hari di asrama."


Aku sangat lega mendengarnya, kepalaku mengangguk dengan bibir menahan senyuman. Beristirahat di asrama berarti aku tidak perlu kemana-mana, itu berarti aku tidak perlu bertemu para senior itu.


Aku sekamar dengan seorang pria dari kelas lain yang sama sekali tidak peduli padaku. Ia hanya tertarik pada dunianya, ia biasanya berkumpul dengan anak-anak keren di sekolah. Dan biasanya dia akan menghilang di akhir pekan untuk berpesta bersama mereka. Paling tidak aku bisa sedikit beruntung di bidang itu.


Setelah berbaring seharian, akhirnya aku bergerak duduk sembari mengelus tengkukku yang terasa penat. Mataku menoleh ke meja samping dan tertegun melihat sebuah bungkusan makanan disana. Aneh sekali... aku memandang sekitar, tidak terlihat siapa pun.


Groowwwwlll...


Aku memegang perut, kakiku keluar dari bawah selimut, menggeser sedikit dudukku ke meja. Ada pesan di atas bungkusan itu, tanganku terulur ke sana untuk membacanya.


Makan sebelum minum obat.


Dahiku berkerut. Siapa yang melakukannya? Mataku memandang ke sisi kamar yang lain, apakah teman sekamarku? Orang lain masuk ke pikiranku, Eunwoo? Bibirku membentuk senyuman sendiri, lalu mengulurkan tangan ke bungkusan itu dan mulai makan.


Keesokan harinya. Setelah merasa lebih baik, aku keluar dari kamar untuk mengambil minuman di pantri asrama. Sembari berjalan mataku melihat seseorang yang familiar berjalan ke pintu samping. Aku melirik ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada yang memperhatikan. Lalu mengikuti pria itu, pintu samping adalah tempat favorit para penyelundup yang ingin merokok.


Pria itu, Eunwoo, bertubuh tinggi dan berbahu lebar, bersandar ke dinding sembari merokok. Ia berdiri di sebelah lampu agar tidak begitu terlihat. Ia sedikit kaget saat mendengar seseorang mendekat.


Aku juga terkejut karena ia tersentak kaget.


Wajah jutek Eunwoo semakin ganas ketika melihatku, "Apa maumu?!" Tanyanya.


Hatiku mencelos mendengar nada bicaranya, mataku memandang ke bawah. "Hanya... mmm... aku ingin..."


Eunwoo menghembuskan nafas kesal, melempar sisa rokok yang masih setengah ke bawah dan menginjaknya agar mati. "Merusak mood saja." Gerutunya dan berjalan cepat melewatiku.


Aku hanya berdiri disana dengan kepala semakin menunduk. 'Bukan dia'. Batinku. Ya... lagi pula sudah sangat lama sejak terakhir ia bersikap seperti ia peduli padaku. Sekarang aku hanya sesuatu yang menjijikkan di matanya. Aku menghela nafas dalam, berbalik dan kembali masuk ke asrama. Aku memang sangat tenggelam dengan pikiranku hingga tidak menyadari aku hanya terus berjalan hingga menubruk seseorang di depan mesin makanan kecil. Aku tersentak kaget dan menatap orang itu, lebih kaget lagi menyadari dia adalah senior! "OH! Ma-maaf! Maafkan aku!" Ucapnya sembari membungkuk berkali-kali.


Senior berkulit putih, bertubuh tinggi sedikit kurus itu menatapku tanpa mengatakan apa pun.


TOSSS!!


Perhatianku teralih pada mesin makanan ringan yang menjatuhkan sesuatu di dalam tempat mengambil makanannya. Senior itu membungkuk dan mengambil apa yang dia beli, lalu berjalan pergi dengan santai. Aku hanya bisa menghembuskan nafas sebal, aku bisa mendapatkan masalah lain dari senior itu. Tanganku menepuk dahi dan kembali berjalan ke kamar. Sampai lupa tadi aku ingin mengambil minum.


Rekan sekamarku sudah ada disana ketika aku tiba. Ia hanya melirikku sekilas dan kembali asik dengan komik ditangannya.


Aku berjalan ke tempat tidur dan duduk di sana dengan wajah lesu, mataku melirik ke meja samping. Dimana makanan tadi siang berada. Mataku memandang rekan sekamarku tadi, walaupun akan mendapat hardikan, aku hanya ingin memastikan. "Mmm.. Yohan.." panggilku.


Wajah pria bernama Yohan itu berubah sebal, terlihat jelas aku mengganggunya.


"Mmm.. ketika bangun tadi ada makanan di mejaku.." ucapku sembari menunjuk meja disamping tempat tidurku, "Kau yang meletakkannya?"


Wajah Yohan memperlihatkan rasa jijik, "Kenapa kau berpikir seperti itu?"


Benar juga. Aku hanya memandang ke bawah dan memutar tubuhku ke arah lain. Jika bukan Yohan atau Eunwoo, siapa yang melakukannya? Dokter Kim?