Season Of You

Season Of You
— 19 —



Tapi sebenarnya aku juga belum tau apa yang ingin kulakukan. Jadinya aku duduk di depan sebuah mini market bersama koperku. Rasanya aneh sekali. Seperti kabur dari rumah. Kepalaku menoleh mendengar seseorang duduk di sebelahku.


Eunwoo duduk dengan wajah juteknya seperti biasa, "Pacarmu tidak datang menjemput?" tanyanya.


Aku memandang ke bawah, "Mungkin nanti..."


Eunwoo menghela nafas dalam, "Kenapa kabur dari rumah sih? Seperti anak kecil."


Aku diam dulu, "Bukan urusanmu..." ucapku pelan.


Eunwoo menoleh ke arahku, "Lalu... apa rencanamu sekarang? Pergi ke rumah ayahmu?"


Tanganku menggaruk leher bingung, "Aku akan kembali ke asrama."


"Jam segini?" tanya Eunwoo heran.


"Pergilah..." ucapku.


Eunwoo mendengus kesal, lalu bergerak bangkit. "Ke rumahku saja.." Ucapnya sembari hendak menarik koperku.


Aku terkejut dan spontan menahan kuperku, "Hei!"


Eunwoo memandangku, "Lalu kau akan tidur di jalanan?"


"Aku...." ucapanku terputus karena suara ponsel, tanganku terjulur ke saku dan mengeluarkan ponsel. Wow! kenapa pas sekali?!


Eunwoo berhenti dengan pandangan ke ponselku.


Mataku melirik Eunwoo yang tampak tak sabaran. Jariku menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinga, "Senior..." sapaku pelan.


"Kenapa tidak membalas pesanku lagi?" tanya Senior Wonbin di seberang. "Kau dimana?"


Aku menghela nafas dalam, "Mmm... di..." aku melirik Eunwoo yang sekarang menatapku seperti akan memukulku saat itu juga.


"Dimana? Sesuatu terjadi?" suara Senior Wonbin terdengar mulai khawatir.


"Sebenarnya..." Aku berencana memberitaunya nanti karena aku masih ingin sendirian, tapi sekarang aku tidak punya pilihan selain menceritakan apa yang terjadi sebelumnya.


"Dimana kau sekarang?" tanyanya, "Aku akan segera kesana, jangan kemana-mana!"


Aku bergerak bangkit, tanganku menarik koperku dari tangan Eunwoo. "Ya.." jawabku di telepon, lalu menariknya dari telinga.


Eunwoo menghembuskan nafas panjang, "Pacarmu akan datang?" tanyanya, terdengar tidak senang.


"Hmm.." gumamku pelan.


Eunwoo diam cukup lama di tempatnya.


"Kenapa masih disini?" tanyaku tidak sabaran.


Eunwoo menatapku aneh, "Aku hanya ingin berdiri disini!" jawabnya dan memalingkan wajah.


Aku hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Lalu hanya membiarkannya saja, paling nanti dia pergi sendiri. Tapi setelah hampir 10 menit tetap tidak pergi juga.


Eunwoo melirik wajahku, namun langsung memalingkan wajahnya lagi.


Aku memandangnya aneh. Sorot lampu mobil menarik perhatianku, kepalaku menoleh dan mengenal mobil sedan putih itu.


Eunwoo bergeser sedikit agar tidak terlalu dekat dengan jalanan. Ia menghembuskan nadas pajang dan langsung berjalan pergi begitu saja,


Aku melirik Eunwoo yang pergi begitu saja. Sebelum sempat aku memikirkan pria aneh itu, perhatianku tertuju pada Senior Wonbin yang tergesa-gesa turun dari mobil.


"Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?" tanya Senior Wonbin.


Aku menghela nafas dalam, "Mmm..."


Mata Senior Wonbin membesar dan memegang daguku, memutarnya ke arah kanan. Terasa sedikit nyeri di pipiku saat otot wajahku tertarik seperti itu. "Apa yang terjadi padamu?!"


Aku menarik tangannya dari daguku, "Sudah tidak apa-apa sekarang..." jawabku.


Senior Wonbin menjilat bibir bawahnya gusar, tangannya menjangkau pegangan koperku. "Masuk ke mobil.." pintanya, ia menghampiri kursi belakang untuk memasukkan koperku.


Aku garuk-garuk belakang kepalaku dan berjalan masuk ke mobil.


+++


Aku duduk di kamar hotel yang di sewa untuk bermalam. Bagaimana mungkin dia bisa memilih kamar hotel yang cukup mahal seperti ini?


Senior Wonbin menghampiriku dan duduk di kursi di sisi lain meja bulat kecil. "Ini..." ia memberikan cangkir berisi teh hangat yang baru saja ia buatkan untukku.


Bibirku membentuk senyuman menerimanya, juga menyeruputnya sedikit.


Senior Wonbin menatapku khawatir, "Perutmu baik-baik saja?"


Aku nyaris menyemburkan teh di mulutku begitu mendengar itu, bagaimana dia tau bahwa tadi perutku sakit?


"Biasanya kau akan muntah ketika sesuatu menekanmu." ucap Senior Wonbin.


Wuah.. bahkan dia sudah mengerti tentang itu.


"Disini tidak ada sari jahe, jadi aku membuatkan teh hangat saja." ucap Senior Wonbin lagi, "Kuharap itu akan membuat perutmu nyaman."


Apakah ini waktu yang tepat untuk terharu? Aku menatapnya dalam, tidak menyangka ia akan terdengar sangat khawatir. Ternyata aku membutuhkan itu disaat seperti ini.


Senior Wonbin menatapku aneh, "Kenapa bengong begitu?"


Senyuman muncul di bibirku dan menggeleng, lalu meneguk teh di tanganku lagi.


Senior Wonbin menghela nafas dalam, tangannya terulur ke kepalaku.


Senior Wonbin menatapku lekat, "Lalu sekarang apa yang akan kau lakukan?" tanyanya.


Aku berpikir sejenak, "Entahlah..." jawabku jujur.


Senior Wonbin menahan tawa mendengar ucapanku, "Dan kau pergi dari rumah begitu saja tanpa rencana?"


Aku memandang ke bawah sembari garuk-garuk kepala.


"Ya ampun..." Senior Wonbin meremas rambutku gemas, "Jika aku tidak disini, apa yang akan kau lakukan?" tanyanya.


Aku menghela nafas dalam, lalu memandang Senior Wonbin. "Sepertinya... karena tau Senior ada disini aku jadi berani." jawabku.


Senior Wonbin diam dulu, lalu tersenyum lebih lebar padaku. Ia memajukan wajahnya dan melipat kedua tangan di meja. "Aku penasaran..." ucapnya, "Sampai kapan kau akan memanggilku 'Senior'?" tanyanya.


Pertanyaan itu membuatku bingung, "Jadi aku harus memanggilmu apa?" tanyaku.


"Mmm... Sayang?" ucap Senior Wonbin.


Ucapan itu membuatku tersenyum malu.


"Atau... suami?" Senior Wonbin melanjutkan.


Aku tertawa kecil, "Jadi aku yang akan jadi istrinya?"


Senior Wonbin mencubit kedua pipiku gemas, "Kau tidak suka?"


Tanganku meletakkan cangkir ke meja, lalu menarik tangannya dari pipiku. "Hmmm..." protesku.


Senior Wonbin tertawa kecil, "Masih ada beberapa hari sebelum semester baru di mulai..." ucapnya, "Kau ingin ke tempatku dulu?" tanyanya.


Aku berpikir sejenak, tawaran yang menggiurkan. "Tapi... apa tidak melelahkan kau mengendarai mobil bolak-balik?" tanyaku sedikit khawatir.


Senior Wonbin memasang ekspresi berpikir, "Huumm... jika aku bisa memeluk dan menciummu tanpa gangguan..." ia melirikku nakal, sebelah alisnya bergerak-gerak.


Ucapannya membuatku mengulum bibir malu, "Jangan lupa..." ucapku mengingatkan, "...kau masih harus menahan diri.."


Senior Wonbin menahan tawa, "Tapi seseorang sudah akan lulus SMA.." ucapnya tidak mau kalah. Senyuman nakal mengembang di wajahnya.


"Ck... mesum." ucapku gemas.


Senior Wonbin menahan tawa, ia mengambil satu tanganku dan mengelus punggung tanganku dengan tangan yang lain.


Malam itu.


Lampu sudah padam, namun aku masih belum bisa terlelap. Aku berbaring miring di tempat tidur membelakangi Senior Wonbin, dia sudah terlelap di belakangku. Kedua tangannya memeluk tubuhku dari belakang, Aku bisa merasakan dahinya di punggungku. Mataku melirik ke bawah, satu tangan sedang meraba area payudaraku dari luar baju. Bibirku menahan senyuman dan menahan tangan itu. "Senior..."


"Hmmm... kau belum tidur.." ucap Senior Wonbin mengantuk.


"Pfffhh... kau sering meraba-raba tubuhku disaat aku tidur?" tanyaku lucu.


"Sesekali." jawabnya.


Aku menahan tawa, "Itu pelecehan.."


Senior Wonbin tertawa kecil, ia bergerak naik. Aku bisa merasakan sesuatu yang hangat di punggungku. Pelukan di pinggangku terasa lebih erat. Pipinya menempel di pipiku. "Memikirkan apa?" tanyanya.


Aku diam sejenak, "Hanya..." aku diam sejenak, "...aku akan kuliah di Seoul." ucapku tanpa ragu.


Hening beberapa saat.


Mataku melirik ke wajah di sebelah wajahku, "Kau tidur?" tanyaku.


"Kau akan kuliah di Seoul?" Senior Wonbin kembali barsuara.


"Hmm.." jawabku, "Tidak peduli apa kampusnya, aku akan kuliah di Seoul. Aku akan mendapatkan beasiswa dan bekerja paruh waktu untuk biaya hidupku." aku bertekad.


Senior Wonbin menjadikan satu tangannya topangan tubuh untuk memandang wajahku lebih jelas, "Kau yakin?"


Kepalaku mengangguk membenarkan.


Senior Wonbin menatapku lekat, "Tinggal bersamaku kan?" tanyanya memastikan.


Aku mengerutkan hidung, "Tentu saja.."


Senyuman mengembang di wajah Senior Wonbin, "Keputusan tepat." ucapnya, ia memajukan wajah dan mencium bibirku.


Aku tertawa kecil, memutar tubuh sedikit ke arahnya. Tanganku menggapai pundaknya dan berciuman lebih dalam dengannya. Tubuh Senior Wonbin bergerak perlahan, aku bisa merasakan sesuatu yang berat meniban tubuhku. Entah karena sudah terbiasa atau memang menikmati kegiatan intim kami. Kedua kakiku secara spontan akan melebar dan menahan tubuhnya di antara kedua kakiku.


Senior Wonbin menurunkan ciumannya ke dagu dan rahangku.


Aku bisa merasakan sesuatu yang panas mulai mengembang di perut bawahku, itu adalah alarm bahwa kami harus berhenti. Tanganku dengan lembut mendorong bahunya.


Senior Wonbin menarik wajahnya dan menatapku sembari menggigir bibir bawahnya. Ia terlihat enggan berhenti. "Sedikit lagi.." bisiknya dengan suara berat, lalu kembali menciumi leherku.


Mataku terpejam, kepalaku mendongak merasakan sentuhan di kulit leherku.


Satu tangan Senior Wonbin menarik kerah baju kaus yang kukenakan ke satu sisi, aku bisa merasakan ujung jarinya di permukaan kulit dadaku.


Tubuhku memberikan reaksi keras, aku tau jika tidak berhenti kami akan berakhir melakukan hubungan seksual. Aku... belum siap untuk itu. Tanganku lebih keras mendorong bahunya, "Senior." bisikku, aku tidak bisa mengeluarkan suara.


Senior Wonbin menarik wajahnya dan bertatapan denganku.


"Kurasa kita harus berhenti.." ucapku pelan.


Senior Wonbin menghela nafas dalam dan mengangguk pelan. Ia mengecup pipiku sekali lagi dan berpindah ke sebelahku. "Selamat tidur, sayang.." bisiknya sembari menarik tubuhku ke arahnya.


Bibirku membentuk senyuman dan memejamkan mata.