Season Of You

Season Of You
— 18 —



Langit sudah gelap saat aku duduk di taman dekat sekolah dasarku dulu. Dari tempatku, rumah ayah hanya beberapa blok saja. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Apakah aku harus pulang saja? Atau tetap disana. Kemarahanku sudah mereda, aku jadi merasa bersalah pada Ibu karena membentaknya tadi. Bagaimana caraku meminta maaf? Apakah setelah ini aku akan di ijinkan kuliah di Seoul? Aissh... aku meremas rambutku frustasi.


Seseorang berlari di sekitaran taman, "Yun Dojin!"


Aku tersentak kaget dan memandang orang yang memanggil namaku. Aissh... membuatku jadi kesal lagi.


Eunwoo yang ngos-ngosan berlari lagi menghampiriku, "Kemana saja kau?! Kenapa tidak membawa ponselmu?!" serunya.


Aku menghembuskan nafas kesal, lalu bergerak bangkit. "Apa pedulimu?!" balasku, lalu berjalan pergi.


Eunwoo menarik lenganku dan menatapku marah, "Kau benar-benar!"


Aku menepis tangannya, "Urus saja dirimu sendiri!!" seruku marah, lalu berjalan pergi.


"Ibumu mencarimu kemana-mana!!" serunya di belakangku.


"Aku tidak peduli!!" jawabku kesal, bahuku ditarik dari belakang membuatku berbalik.


Eunwoo menatapku marah, "Kau..." ucapanya terhenti, tapi aku bisa melihat mulutnya akan mengatakan sesuatu.


"Apa? Menjijikkan?" tanyaku sedikit menantang. Aku mendorong tangannya dari bahuku, "Jangan menyentuhku..." ucapku pelan dan berbalik pergi.


"Yun Dojin..." panggil Eunwoo di belakangku.


"Dojin!"


Langkahku terhenti mendengar seseorang lain memanggil namaku, terdengar familiar. Mataku membesar melihat Senior Wonbin berlari dari jalan setapak lain berlari kearahku. "Senior Wonbin?"


Senior Wonbin, dengan penampilan tampan dan tubuh tingginya, berlari menghampiriku dengan wajah cemasnya. "Dojin!" kedua tangan itu langsung memeluk tubuhku erat.


Tubuhku terpaku merasakan tangan itu mendekap tubuhku.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Senior Wonbin. Ia melepaskan pelukannya, lalu memeriksa kedua sisi tubuhku, wajahku, juga kepalaku. "Kau tidak terluka kan? Kau tidak terjatuh?"


Mataku berkedip-kedip bingung, "Ya! Aku baik-baik saja!" jawabku sembari menahan kedua tangannya.


Senior Wonbin tampak cemas, "Kau serius? Lalu kenapa kau disini?" tanyanya.


Dahiku berkerut, "Bukankah itu seharusnya pertanyaanku?" tanyaku heran.


"Apa?" tanya Senior Wonbin.


"Kenapa kau ada disini?" tanyaku padanya.


Senior Wonbin mengedipkan mata bingung, "Karena kau tidak membalas pesanku, aku menghubungi ponselmu. Ibumu menjawabnya sambil menangis, berkata kau pergi begitu saja dari rumah."


Aku tertegun mendengarnya. Apakah Ibu akan sangat marah padaku?


Senior Wonbin menghembuskan nafas dalam, memegang kedua bahuku dan menatap mataku lekat, "Kau tidak tau bagaimana risaunya aku ketika mengendarai kemari..."


Rasa bersalah di dadaku semakin besar, perlu waktu tiga jam untuk tiba di kota ini dari Seoul. Dia langsung bergegas kemari begitu mendengar ibuku menjawab telepon?


Senior Wonbin memegang tengkukku, "Yang penting kau tidak apa-apa..." ucapnya.


Kepalaku mengangguk dengan pandangan ke bawah.


Senior Wonbin memandang ke arah belakangku, dahinya berkerut.


Aku menyadari ia tidak mengatakan apa pun, lalu memandangnya. Kenapa dia menatap ke belakang dengan tatapan seperti itu? Kepalaku menoleh ke belakang, tertegun menyadari Eunwoo masih disana.


Senior Wonbin memandangku, "Kenapa dia disini?"


Aku membuka mulut untuk menjawab, pegangan di satu tangan membuatku menoleh.


Eunwoo  memegang lenganku dari belakang dan memandangku, "Ibumu akan semakin khawatir, ayo pulang." ajaknya dan menarikku pergi.


"Hm... tunggu..." Aku menatap Senior Wonbin, belum ingin berpisah darinya.


Senior Wonbin memegang tanganku. "Tunggu sebentar..." pintanya.


Eunwoo menatapku Senior Wonbin tegas, "Ibunya memintaku mencarinya untuk segera di bawa pulang!" ia menarik lenganku lagi.


"Sebentar!" tegas Senior Wonbin sembari menahan tangan Eunwoo yang menarik lenganku.


Aku memandang Senior Wonbin.


Senior Wonbin menatapku lekat, "Aku akan bermalam disini sebelum kembali ke Seoul, bisakah kita bertemu besok?"


Kupu-kupu kembali berterbangan di perutku. Bibirku membentuk senyuman dan mengangguk.


Senior Wonbin tersenyum menatapku.


Perjalanan kembali ke rumah.


Aku berjalan di sebelah Eunwoo dalam diam. Pikiranku tidak ada disana, tapi sudah bersama Senior Wonbin yang sangat manis menyusul kemari.


"Kau yang menyuruhnya datang kemari?" tanya Eunwoo sembari berjalan.


Aku melirik Eunwoo sedikit, "Tidak.." jawabku pelan.


Eunwoo menatapku curiga, "Agar kau bisa menyelinap keluar dan pergi berpacaran?" sindirnya.


Aku menghela nafas dalam dan memalingkan wajah, "Siapa yang tadi siang hampir menciumku.." gerutuku sebal.


Eunwoo melipat kedua tangannya di dada, berdehem tidak nyaman. "Tadi aku terpeleset.." ucapnya memberi alasan.


Aku menatapnya aneh, "Kau bilang aku menjijikkan, kenapa sok peduli?"


Eunwoo menatapku sebal, "Siapa yang ingin peduli? Jika bukan Ibumu yang memintanya, aku tidak akan lakukan!" ucapnya sebal, lalu berjalan cepat.


Aku menatap punggungnya sebal, sama sekali tidak mengejar langkahnya. Biarkan saja... Aku juga tidak peduli.


+++


PLAK!!


Wajahku menghadap ke satu sisi, suami Ibu baru saja menampar wajahku.


"Sayang... jangan keras begitu padanya.." ucap Ibu memenangkan suaminya.


Pria itu menatapku marah, menunjuk wajahku dengan jarinya. "Kau harus mengikuti peraturan di rumah ini selama kau masih ingin tinggal disini!" tegasnya.


Aku masih berusaha mencerna apa yang terjadi. Untuk pertama kalinya, aku mendapatkan hal seperti itu di rumahku sendiri. Tidak... aku kan tidak punya rumah. Tanganku bergerak memegang pipi, lalu mengangkat wajah menatap suami ibuku itu.


Pria itu tampak semakin marah, "Apa yang kau lihat?!" serunya, ia mengangkat tangannya lagi.


Ibu menangkap tangan suaminya, "Sayang! Kumohon berhenti!"


Pria itu berbalik sembari mengusap wajahnya frustasi.


Ibu menghampiriku dengan air mata bercucuran, "Dojin, katakan sesuatu. Katakan kau bersalah..." pintanya.


Aku tidak bisa mengatakan apa pun. Apakah ini normal? Tapi perutku kembali merasakan apa yang sudah lama tidak kurasakan. Rasa mual itu kembali, terlalu tiba-tiba hingga terasa nyeri. Aku memegang perutku.


"Dojin.. Katakan pada ayah kau menyesal.." pinta Ibu lagi.


Aku menatap Ibu, tak mengerti mengapa aku selalu harus meminta maaf pada suaminya walaupun aku tidak melakukan apa pun. "Aku akan kembali ke asrama.." ucapku pelan.


Ibu tertegun, "Dojin..."


Aku berbalik dan berjalan cepat ke kamar.


Suami Ibu berbalik menatapku tak percaya, "Lihat! Lihat! Anak tidak tau berterima kasih!" serunya.


Aku tidak mengeluarkan banyak barangku, jadi aku bisa langsung membawa koper keluar dari kamar. Aku sempat hampir berhenti karena hampir muntah, namun sekuat tenaga kutahan. Aku tidak ingin muntah atau lebih lama disana.


"Dojin..." Ibu menarik pegangan koperku di depan rumah.


Aku berhenti sejenak dan memandang Ibu.


"Sayang, kau akan kemana malam-malam begini?" tanya Ibu.


"Aku akan ke asrama.." jawabku.


"Ibu akan menghubungi ayahmu untuk menjemput." Ucap Ibu.


Ucapan itu membuatku semakin sakit, "AKU TIDAK INGIN AYAH MENJEMPUTKU!" jeritku penuh emosi.


Ibu terpaku mendengar nada bicaraku.


Aku menatap Ibu kecewa, "Kenapa kalian selalu seperti itu? Jika kalian tidak menginginkanku, aku tidak akan muncul lagi." Ucapku.


"Dojin..." ucap Ibu terbata-bata.


Sial! Sekarang aku merasa bersalah karena membuat Ibu menangis. Tanganku terulur ke arahnya, namun suami Ibu muncul dari pintu dengan wajah marahnya.


"Sudah!!" Suami Ibu menarik tangan Ibu menjauh dariku, "Biarkan saja anak tidak tau diri itu pergi!" tegasnya sembari menunjuk wajahku dengan tangan.


Aku menghela nafas dalam, tanganku memegang pegangan koper dan menariknya pergi. Walaupun merasa bersalah meninggalkan ibu seperti itu, tapi aku tetap akan pergi. Ayah dan Ibuku, mereka selalu kewalahan tentang pernikahan mereka dan aku. Lebih baik seperti ini.