
Kafe Rumah Sakit.
Aku duduk canggung berhadapan dengan Dokter Jang. Memikirkan apa yang akan ia sampaikan membuatku sangat canggung.
"Aku minta maaf." Ucap Dokter Jang.
Aku tertegun mendengar ucapan tiba-tiba itu. "Hm?"
Dokter Jang diam sejenak, "Aku tau apa yang aku dan Taejo lakukan berlebihan."
Apa aku kurang memahami informasi yang ia sampaikan? Kenapa aku bingung?
Dokter Jang menghela nafas dalam, "Kami tidak bermaksud untuk membuat kalian ribut dan hampir putus.."
Oke, ini sangat membingungkan. "Apakah ini tentang masalah sebelumnya?"
Dokter Jang diam sejenak mendengar ucapanku, kepalanya berat ke satu sisi. "Penulis Hong tidak memberitaumu?"
Mendengar sebutan itu untuk kekasihku membuatku menahan senyuman, baru pertama kali aku mendengar namanya di panggil seperti itu. Tapi juga bingung di waktu yang bersamaan, "Apa maksudmu?"
Dokter Jang diam lagi, lalu sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman. "Kau tau Penulis Hong kesayanganmu itu hampir mematahkan hidung kekasihku?"
Aku tersentak kaget, dudukku yang awalnya tidak nyaman semakin tidak nyaman. "Apa maksudmu? Aku... tidak mengerti."
Dokter Jang menahan tawa, "Dia benar-benar.." ucapnya, ia mengambil gelas kopinya dan meneguknya sedikit.
Aku benar-benar bingung, "Apakah mereka bertengkar?"
Dokter Jang meletakkan cangkirnya ke piring dan memandangku, "Beberapa bulan lalu, kupikir beberapa saat setelah kalian berbaikan. Dia datang ke apartemen kami, mengkonfrontasi semua teorinya pada kami."
Aku tertegun, teori yang dia maksud... apakah yang kami bahas di bathup saat itu?
Dokter Jang tertawa kecil, "Seperti yang Taejo katakan, dia memang sangat cerdas." Pujinya, "Dan memang benar, yang terjadi malam itu memang sudah kami rencanakan." Ucapnya blak-blakkan.
HAK! Benarkan!
"Aku sudah meminta maaf.." ucap Dokter Jang menegaskan, "Kami memang menjalin hubungan, tapi secara rutin mengadakan pesta seperti itu untuk 'mencicipi' rasa baru."
Aku langsung merinding mendengarnya, tidak heran kenapa para pria disana sangat tampan dan menarik.
Dokter Jang memandang ke bawah, "Masalahnya bukan di Taejo, aku yang mengenalkanya pada dunia seperti itu."
Aku hanya bisa mendengarkan dengan seksama. Walaupun aku sangat ingin pergi, tapi aku juga penasaran apa yang akan ia katakan.
"Aku menjadi gay bukan karena keinginanku.." pembuka yang menarik, "aku terus-terusan di kucilkan dan di kata-katai karena penampilanku tidak macho seperti pria pada umumnya sejak kecil." Ucap Dokter Jang, tanpa kusadari aku bisa merasakan apa yang dia katakan. "Lalu aku bertemu seorang pria dewasa ketika aku masih berusia belasan tahun. Kupikir dia adalah belahan jiwaku, dia akan menjadi yang terbaik untukku."
Sesuatu yang berat menggantung di dadaku mendengarnya.
"Dia memperlakukanku dengan sangat buruk." Lanjut Dokter Jang, "Dulu.. aku berpikir hubungan seksual adalah caranya mencintaiku.." ia diam sejenak, lalu menggeleng. "Dia menggunakannya untuk menghukumku."
Tunggu.. Sepertinya aku mulai mengenali cerita itu. Kenapa familiar sekali?
"Saat marah padaku, marah pada orang lain, saat dia tidak merasa senang.." Dokter Jang sangat larut pada kisahnya, "Dia akan menelanjangiku, memperkosaku dengan kasar, memukulku.." ia tampak berat menjelaskannya, "Juga memanggil beberapa orang untuk memperkosaku dengan ia menyaksikan sambil masturbasi."
Ya Tuhan... Aku sangat menyesal. Dia menjalani hidup jauh lebih berat dariku. Bagaimana cara dia melaluinya?
Dokter Jang memandangku. Hebat sekali, ia bahkan tidak menangis. Tapi aku yang ingin menangis mendengarnya, "Setelahnya aku menjadi seperti ini.." ucapnya, "Aku menjalani hubungan, tapi seksual bukan hanya tentang memiliki perasan pada pasanganmu. Itu hanya tentang hasrat dan rasa yang berbeda."
Memang terdengar mengerikan, tapi aku tidak bisa menyalahkannya. Mendengar cerita itu, aku jadi sangat mengerti mengapa senior Wonbin tidak ingin ceritanya di ubah hanya karena akan di film-kan.
"Karena itu, aku minta maaf. Aku berpikir kau mungkin akan sangat memuaskan." Ucap Dokter Jang berterus terang.
Aku bergidik, tanpa sadar langsung memutar tubuh ke arah lain.
Spontan aku tertawa canggung, "Ti-tidak, terima kasih." Tolakku sopan.
Dokter Jang tersenyum, "Pastikan kau tidak minum alkohol atau minuman bersoda.." ia kembali menjadi
dirinya yang mengerikan.
Tapi aku tidak lagi takut, aku malah tertawa. "Ya.. Terima kasih, Dokter."
+++
Hal pertama yang kulihat begitu tiba di rumah, adalah Senior Wonbin yang tersenyum lebar menyambutku dari rumah.
"Pas sekali! Ganti bajumu dan duduk disini.." Ucap Senior Wonbin, ia berbalik untuk merapikan dapurnya.
Aku berdiri di tempatku dulu, menatap punggungnya. Kakiku melangkah ke arah dapur dan memeluknya dari belakang.
Tubuh Senior Wonbin membeku, "Ada apa?" Tanyanya.
Aku menempelkan pipi ke punggungnya, "Aku rindu padamu." Ucapku.
Senior Wonbin menahan tawa, lalu mengelus tanganku yang memeluk pinggangnya. "Apakah perjalanan dari rumah sakit terlalu jauh?"
"Hmm.." jawabku manja. Mataku menatap pundaknya, apakah ini rasanya memiliki seseorang yang selalu bisa di andalkan?
Senior Wonbin melepaskan tanganku di pinggangnya, berbalik menghadapku. "Ganti baju sana.." pintanya pelan.
Aku tersenyum lebar, lalu memeluk pinggangnya lagi.
Senior Wonbin mengelus pipiku gemas, "Hmm.. Kenapa hari ini kau nakal sekali?" Godanya.
"Hyung..." aku udah sangat terbiasa dengan pangilan itu padanya. "..aku penasaran, kenapa dulu kau tertarik padaku?"
Senior Wonbin tersenyum lucu, "Kenapa tiba-tiba?"
"Di perjalanan tadi aku melihat banyak pasangan bersama, tiba-tiba jadi penasaran.." jawabku, "Mantanmu saja setampan Senior Pyo.."
Senyuman Senior Wonbin langsung hilang mendengar nama itu, "Kita sudah sepakat untuk tidak membahas tentangnya lagi." Ucapnya mengingatkan.
Aku cengengesan, "Bukan tentang dia.. Aku ingin tau tentangku.." jelasku, "Secara fisik kami sangat berbeda. Dari karater juga.."
"Ck.." Senior Wonbin mencubit pipiku gemas, "Ya tentu saja.." ucapnya, "Hubungan kami dilandasi karena dia menyukaiku, hubungan kita di landasi karena aku menyukaimu." Jelasnya, "Jadi sudah pasti berbeda kan?"
Aku mencerna ucapannya dulu, "Jadi maksudmu.. Senior Pyo yang melakukan pendekatan terlebih dulu?"
"Ya.. Dia mendekatiku terus-menerus. Kau tau? Menjadi gay di tengah-tengah orang normal itu sangat sulit.
Karena itu aku setuju untuk berpacaran dengannya, karena ada seseorang yang memperhatikanku dan membantuku disaat berat seperti itu." Jelasnya, "Jadi saat dia lulus, kami sudah tau bahwa hubungan kami juga akan berakhir."
Ahh.. karena itu Kak Wonyoung berkata ia tidak sering mendengar nama Senior Pyo.
"Tapi kau berbeda.." Senior Wonbin melanjutkan, ia mengelus rambutku dengan ujung jarinya. "Kau sangat manis, aku merasa senang ketika kau di sekitarku. Aku akan merindukanmu saat kau tidak ada. Aku suka sekali melihat caramu memandangku." Ia tersenyum saat mengatakan itu.
Bibirku ikut membentuk senyuman juga.
"Aku tidak ingin hubungan kita berakhir ketika aku lulus, dan kita masih bersama kan?" Tanya Senior Wonbin senang.
"Hmm.." jawabku sembari mengangguk.
Senior Wonbin mencium bibirku dalam, "Sudah.. ganti baju dan kita makan.." pintanya mulai sebal.
Aku tertawa kecil, "Iya.. iya.." ucapku sembari berjalan ke kamar.