
Beberapa hari kemudian, Senior Pyo dan kekasihnya datang ke apartemen kami.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Dokter Jang setelah memeriksaku. Ia sampai bawa tas peralatan medisnya.
"Mmm.. sudah lebih baik." jawabku pelan. Kami berada di kamar, sementara Senior Wonbin dan Senior Pyo di luar menghidangkan makanan yang mereka bawa.
Dokter Jang melepaskan stetoskop dari lehernya dan menggulungnya, "Perutmu bagaimana?"
Spontan tanganku memegang perut, "Mmm.. sekarang sudah bisa makan yang lebih padat." jawabku.
Dokter Jang mengangguk mengerti, ia memasukkan barang-barangnya lagi ke dalam tas. "Kalian menggunakan ******?"
Hm? ******? Kenapa membahas itu?
Dokter Jang menatapku karena tidak menjawab. Dia selalu berwajah serius, aku jadi sangat canggung.
"Maaf?" tanyaku tidak yakin.
"Kailan menggunakan ******?" ulang Dokter Jang, matanya melirik ke bawah.
Sedetik kemudian aku mengerti, "Ahh.. Ya.. kami.. menggunakan ******." jawabku.
"Hmm.." gumam Dokter jang mengerti, "Sesekali tidak menggunakannya tidak apa-apa, tapi pastikan selalu menggunakannya. Terutama saat kau memiliki tubuh yang tidak begitu sehat."
Ucapan itu benar-benar menusukku. Kenapa dia sangat terus terang sih? Darimana dia tau aku yang berada di bawah? Oh.. jika sudah melihat kekasihku siapa yang tidak akan tau?
Dokter Jang masih menatapku serius, "Aku berkata seperti ini agar kau tidak terlena. Bertubuh lemah dan seorang akan membuatmu mati terkena HIV/AIDS."
Tubuhku bergidik mendengar ucapannya. "Mmm.. Y-Ya.." jawabku, kenapa dia sangat kejam sih? Apakah tidak ada pengecualian untuk pasien sepertiku?
Dokter Jang menutup tas peralatan medisnya, lalu bergerak bangkit. "Ayo.. yang lain sudah menunggu." ucapnya dan berjalan keluar.
"Ya.." jawabku. Aku menghela nafas dalam sembari mengelus dadaku. Berbicara dengannya justru membuatku lebih sakit.
Senior Pyo tersenyum melihatku dan kekasihnya keluar dari kamar. "Sudah selesai?" tanyanya.
Senior Wonbin tampak antusias, "Apakah dia baik-baik saja, Dokter Jang?" tanyanya.
Dokter Jang mengangguk, "Ya.. hanya perlu istirahat lebih banyak." ucapnya, ia meletakkan tasnya di dekat meja dan menghampiri kekasihnya.
Senior Wonbin menyambutku dan merangkulku. Tatapannya terlihat khawatir.
Senior Pyo tersenyum menatap kekasihnya, "Kau tidak mengatakan sesuatu yang membuatnya takut kan?
kenapa wajahnya lebih pucat dari sebelum kau memeriksanya?"
Hm! Benar! Dia melakukan itu!! Namun aku langsung memandang ke bawah ketika mereka menoleh ke arahku.
"Aku hanya memberitaunya cara merawat dirinya sendiri." jawab Dokter Jang membela diri.
Senior Pyo tertawa kecil, lalu memandangku. "Dojin, jangan terlalu di ambil hati ya. Jang Woo yang terlihat mengerikan ini sebenarnya sangat baik. Ia tidak banyak berbicara sebanyak ketika d tempat tidur." candanya.
Aku dan Senior Wonbin tertegun memandang kedua pria yang lebih dewasa itu.
Dokter Jang menatap kekasihnya sebal, "Hei..." hardiknya.
Senior Pyo tertawa gemas sembari menepuk pipi kekasihnya, "Hanya bercanda.." ucapnya, lalu memandangku. "Dokter Jang sendiri yang memilih makanan ini untuk kesehatan lambungmu."
Mataku melirik Dokter Jang, ia memalingkan wajah.
Senior Wonbin tersenyum lucu, "Ayo duduk.." ajaknya sembari menarik kursi untukku.
Malamnya.
Karena mendengar ucapan tajam Dokter Jang tadi siang, aku jadi merasa sedikit khawatir. Aku membuka laci dan menghitung sisa ****** yang memiliki warna yang berwarna-warni disana. Botol pelumas juga di simpan disana.
"Sedang apa?"
Aku tersentak kaget mendengar suara Senior Wonbin, lalu menoleh. Ia berdiri di belakangku sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Kau sedang apa?" tanya Senior Wonbin heran.
Tanganku menutup laci, "Tidak apa-apa.." jawabku, lalu pindah ke sisi tempat tidurku.
Senior Wonbin tampak bingung, ia membuka laci di sisi tempat tidurnya lagi dan memperhatikan ke dalam.
Tak lama bibirnya membentuk senyuman nakal, matanya melirik ke arahku. "Kau ingin memilih ******?" godanya.
Wajahku terasa panas, "Bu-bukan begitu.." jawabku, lalu berbaring membelakanginya. Aissh.. kenapa rasanya malu sekali?
PLETAK!
Aku menoleh ke belakang sebal, ia baru saja memukul pantatku dengan handuk kecilnya.
Senior Wonbin melempar handuk ke lantai, lalu merangkak naik ke tempat tidur. "Kau ingin rasa apa malam ini?" tanyanya.
"Bukan tentang ituu..." ucapku malu.
"Humm.. bukan? jadi tentang apa?" goda Senior Wonbin lagi, ia merayap sampai ke atas tubuhku dan mencium-ciumi pipi dan leherku.
Tanganku mendorong bahunya, "Tidak tau." jawabku sebal.
Senior Wonbin tertawa gemas, "Oh yaaaa?" godanya lagi. Ia memajukan wajahnya untuk menciumku.
"Senior.." pintaku malu sembari mendorong bahunya.
"Kenapa?" goda Senior Wonbin, semakin bersemangat menggodaku.
Aku tidak bisa menahan senyumanku, lalu memandangnya. Tanganku terulur ke wajahnya, mencubit pipinya gemas.
Senior Wonbin tersenyum hangat, ia mendorongku berbaring dengan punggungku. "Kenapa kau melihat ke dalam laciku tadi?" tanyanya.
Aku mengulum bibirku, "Menghitung ******." jawabku.
Jawabanku membuat Senior Wonbin mengerukan dahi. "Hm? Menghitung ******?"
Kepalaku mengangguk pelan.
Wajahnya tampak kebingungan, "Untuk apa?" tanyanya.
Aku menghela nafas dalam, jariku memainkan poninya. "Tadi siang.. Dokter Jang memperingatkan untuk menggunakan ****** ketika berhubungan." ucapku memberitau.
Senior Wonbin mengerutkan dahi lagi, "Hm? Kenapa dia membahas itu?" tanyanya ingin tau.
"Hanya... mmm..." aku memilih kalimatku dulu, "Aku bertubuh lemah dan seharusnya lebih berhati-hati dengan tubuhku."
Senior Wonbin diam dulu. Matanya memperhatikan tubuhku di bawahnya.
Aku ikut memandang tubuhku juga, "Ada apa?"
Senior Wonbin memandang wajahku lagi. "Aku akan berhati-hati.." ucapnya.
Sekarang dahiku yang berkerut, "Hm?" Aku terkejut celanaku di tarik paksa turun ke bawah, "Senior!" Jeritku.
Sembari tersenyum nakal Senior Wonbin bergerak turun ke bagian bawah tubuhku.
Aku tertawa kecil sembari berusaha menahannya, tapi jujur saja aku justru lebih menunggu apa yang akan ia lakukan di bawah sana.
+++
"Duduk disini dulu, aku akan mengurus administrasi." ucap Senior Wonbin setelah aku bertemu dokter untuk check-up mingguanku. Karena kejadian terakhir aku harus memeriksakan diri tiap minggu. Melelahkan memang, tapi Senior Wonbin justru menyukai ide itu agar kondisiku tetap terpantau.
"Hmm.." gumamku dan bergerak duduk di bangku tunggu. Aku memberhatikan Senior Wonbin menghampiri bagian administrasi.
"Yun Dojin.."
Kepalaku menoleh mendengar namaku.
Dokter Jang dengan jubah dokternya menghampiriku, ia terlihat sangat cocok dengan jubah itu. Kecuali ketika ia membuka mulutnya.
Aku bergerak bangkit sembari mengangguk sopan.
Dokter Jang berhenti di depanku. Kenapa pria-pria berperawakan tampan seperti mereka bertubuh tinggi? Ia memperhatikan wajahku, "Kau sudah jauh lebih baik." ucapnya.
"Ya.." jawabku hati-hati, "Mmm.. aku menjaga diriku seperti yang anda sarankan." ucapku pelan.
Dokter Jang mengangguk mengerti. "Sampai nanti." ucapnya, lalu berjalan pergi begitu saja.
Mataku berkedip-kedip bingung memperhatikannya pergi.
"Itu Dokter Jang?" tanya Senior Wonbin yang baru kembali.
Aku menoleh mendengar suaranya, "Ya.." jawabku.
"Hmm.." gumam Senior Wonbin mengerti, lalu merangkulku. "Ayo.." ajaknya dan berjalan menuju pintu keluar.