
Meja makan.
Senior Wonbin memandangku bingung karena terus-terusan menatapnya, "Ada apa?"
Bibirku membentuk senyuman, "Kau tampan sekali."
Dahi Senior Wonbin berkerut, "Kau sedang ingin atau apa? Kenapa jadi sentimental begini."
"Kenapa? Hanya kau yang boleh sentimental?" Tanyaku.
"Habiskan makananmu dulu, nanti keburu dingin." Ucapnya memberitau.
"Tidak apa-apa, hatiku sudah cukup hangat." Jawabku.
Senior Wonbin yang sudah memasukkan makanan ke mulut nyaris menyemburkannya keluar mendengar jawabanku. Ia menatapku tak mengerti, "Kau salah makan atau bagaimana sih?"
Kedua bahuku terangkat, lalu tertawa lucu.
Malamnya.
Senior Wonbin naik ke tempat tidur sembari memperhatikanku yang sedang sibuk dengan laci di sisi tempat tidurnya. "Sedang apa?" Tanyanya ingin tau.
Aku menyodorkan botol pelumas dari laci padanya dan kembali sibuk.
Senior Wonbin menerima botol itu dan memandangku bingung, "Kenapa?"
Akhirnya aku membuat keputusan, tanganku mengambil dua bungkus ****** berwarna biru dan merah.
"Ini juga.." ucapku dengan senyuman sumringah.
Senior Wonbin menampung dua benda itu dengan telapak tangannya, dahinya berkerut memandang benda itu, lalu memandang wajahku.
Aku naik ke tempat tidur dan mendorongnya berbaring.
"Tunggu... Tunggu sebentar.." pinta Senior Wonbin sembari menahanku.
Aku memandangnya bingung, "Ada apa?"
Senior Wonbin bergerak duduk, "Kau ingin behubungan seksual?"
Kepalaku mengangguk membenarkan.
Senior Wonbin menatapku takjub beberapa saat, "Sekarang kau memintanya padaku?"
Aku cemberut, "Tidak boleh?"
Senior Wonbin segera memperbaiki posisi duduknya dan memegang kedua lenganku, "Tentu saja boleh."
Jawabnya lembut, "Aku hanya terkejut dengan perubahanmu."
Bibirku membentuk senyuman, tanganku memegang kedua pipinya dan mencium bibirnya.
Senior Wonbin tersenyum dalam ciuman itu dan membalasnya. Tak lama ia menarik wajah dan menunjukkan dua bungkus ****** ditanganku, "Pilih saja yang kau inginkan.. Kenapa meletakkan dua-duanya?"
Tanyanya heran.
Aku memandang bungkus ****** di tangannya, "Aku ingin dua-duanya.." jawabku.
Senior Wonbin diam dulu, matanya menatap bungkus ****** di tangannya. Tatapannya berubah nakal ketika memandang wajahku, "Kau ingin dua kali?" Tanyanya dengan alis bergerak-gerak.
Aku menggigit bibir bawahku, menggantung kedua tangan di lehernya. "Hmmm..." gumamku manja, lalu menciumi rahang dan lehernya.
Senior Wonbin membantingku ke kasur, ia bukan lagi kekasihku yang manis semenit yang lalu. Ia melayang di atas tubuhku, menurunkan wajahnya dan menciumku seperti akan memakanku hidup-hidup.
+++
Dan hari yang kunantikan tiba. Akhirnya aku lulus dari universitas. Sesuatu yang membanggakan memang, tapi juga menyedihkan di saat bersamaan. Disaat lulusan lain dengan bangga mengenakan pakaian kelulusan mereka disambut keluarga dan teman-teman mereka, berfoto ria dan mendapatkan buket bunga. Aku menatap mereka iri, kuharap ayah dan ibu ada disana.
"Yun Dojin!"
Kepalaku menoleh, bibirku membentuk senyuman. Senior Wonbin melangkah ke arahku dengan senyuman manisnya, ia memegang sebuket bunga. Meskipun tidak ada keluarga yang mendampingiku, satu pria ini sudah sangat cukup bagiku.
"Selamat atas kelulusanmu!" Ucap Senior Wonbin sembari menyodorkan buket bunga padaku.
Aku berusaha menahan sipu malu di wajahku ketika menerimanya, mataku melirik sekitar. Orang-orang terlihat melirik kekasihku yang tampan.
Senior Wonbin merangkul bahuku, "Bagaimana rasanya sudah tidak lagi mahasiswa?" Tanyanya.
Aku tertawa kecil, "Aku sudah siap mencari uang.." jawabnya.
Senior Wonbin merangkul leherku gemas, "Kau lulus untuk itu?"
Aku mendorong tangannya, "Heii..." Aku memperbaiki posisi togaku yang nyaris jatuh.
Aku hampir tertawa mendengar ucapannya, "Disebut photo keluarga saat hanya ada kita berdua?" Tanyaku.
Senior Wonbin menatapku aneh, "Apa maksudmu?"
Aku juga menatapnya aneh, "Apa maksudmu?" Tanyaku balik.
"KAK DOJIIIIIIN\~\~"
Kepalaku spontan menoleh, sedetik kemudian aku tertegun melihat Wonhee yang berpenampilan manis dengan dress selututnya berlari menghampiriku. Rambut panjangnya di jalin sangat indah di kedua bahunya. Aku menyambutnya dengan pelukanku, "Tuan putri?" Ucapku bingung.
Wonhee mendongak dengan senyuman cerahnya, "Selamat kak!!" Ucapnya manis.
"Ya.. Terima kasih.." ucapku sembari mengelus rambutnya, lalu memandang Senior Wonbin yang tersenyum lebar padaku.
"Tuan Putr!! Ya Tuhan! Kau bisa celaka!" Sorak seseorang yang sudah pasti Kak Wonyoung.
Aku tertegun melihat kak Wonyoung, juga ada orang tua mereka mengikuti sembari tertawa.
Wonhee langsung berlindung di belakang tubuhku, "Aku ingin mengucapkan selamat." Ucapnya membela diri.
Kak Wonyoung menghembuskan nafas sebal sembari melotot pada adik bungsunya itu.
"Kak.. Sudahlah.." pinta senior Wonbin sembari mengelus kepala Wonhee.
"Sudah.. sudah.. kenapa ribut di hari baik ini?" Tanya Ibunya Senior Wonbin, ia tersenyum lebar sembari menghampiriku. "Dojin\~\~ Selamat atas kelulusanmu.." ucapnya dengan kedua tangan terbuka.
Aku membiarkan diriku masuk ke pelukannya, tiba-tiba aku merasa haru biru.
Ayahnya Senior Wonbin mengelus kepalaku, "Dan para pria di keluarga kita sudah siap berbisnis.."
Aku tertawa kecil mendengar ucapannya, namun aku tidak bisa menutupi rasa terharuku. Aku memandang
ke bawah, tapi air malah berjatuhan dari mataku.
"Hei... kenapa kau malah menangis?" Tanya Kak Wonyoung tak mengerti.
"Kakak kenapa?" Tanya Wonhee khawatir.
Senior Wonbin tertawa melihatku menangis, bukankah dia sangat pengertian? Hmm..
Ibunya Senior Wonbin ikut tertawa kecil.
"Hei.. hei.. kami kemari untuk membuatmu senang.." Ayahnya Senior Wonbin merangkulku.
Aku menyeka air mataku, "Maaf.. Aku..." aku berusaha mengendalikan emosiku, "..tidak menyangka akan
ada keluarga disisiku ketika lulus." ucapku penuh haru.
"Uuuuuuuuh\~\~\~" ucap mereka hampir bersamaan dan mengelus bahu atau pipiku gemas.
Wonhee dengan manis memelukku, "Kami disini untuk merayakan kelulusanmu kak.." ucapnya.
Aku mengelus kepala Wonhee gemas.
"Kau tau, nak?" Ucap Ayah Senior Wonbin, "Keluarga bukan hanya karena darah yang mengalir dalam dirimu. Terkadang keluarga adalah orang asing yang siap mendukung dan selalu ada untukmu apa pun yang
terjadi."
Pantas saja Senior Wonbin sangat sentimental seperti itu, aku tau darimana asalnya. Bibirku membentuk senyuman lebar, "Terima kasih, Yah.."
"Nah!! Ayo kita berphoto! Mari-mari!" Kak Wonyoung mengeluarkan ponselnya, mengarahkannya pada kami semua.
Senior Wonbin menghampiri sisiku, merangkulku dari sisi yang lain.
Aku tersenyum lebar merasakan kecupan di pipiku dan menoleh.
Senior Wonbin tersenyum lebar menatapku.
"Aku terjepit!" Jerit Wonhee di antara kami.
Aku tertawa sembari menggendongnya, "Nah.."
Wonhee memeluk leherku, tersenyum lebar seperti yang lainnya ke kamera.
Senior Wonbin menempelkan pipinya ke pipiku.
Klik!
Momen hari itu tersimpan selamanya dalam sebuah photo indah yang tidak pernah kubayangkan akan kumiliki. Bersama orang-orang yang kucintai dan mencintaiku.
...\=\=\=THE END\=\=\=...