Season Of You

Season Of You
— 37 —



Aku mengerti. Hal tersulit dari menjalin hubungan adalah tetap percaya pada pasanganmu. Sangat sulit mempertahankan kepercayaan itu. Hal itu membuatku merasa cemas. Apakah aku melakukan hal yang benar? Apakah aku hanya terlalu mendramatisir?


Tuk.


Aku keluar dari lamunanku ketika gelas di letakkan di meja di depanku.


Kak Wonyoung duduk di sebelahku, "Minum obatmu."


Kepalaku memandang ke bawah dan mengangguk sopan, tanganku mengambil obat di dalam mangkuk dan gelas. Juga meneguknya.


Kak Wonyoung menyandarkan punggungnya memperhatikanku.


Aku menghabiskan air di gelas dan meletakkannya ke meja. Mataku meliriknya canggung, "Maaf, kakak jadi repot." ucapku menyesal.


Kak Wonyoung menghela nafas dalam, "Karena itu... segeralah baikan.." protesnya.


Aku memandang ke bawah menyesal. Sudah beberapa hari Senior Wonbin kembali ke rumah keluarganya, ia tidak ingin aku pergi meninggalkan apartemen karena marah padanya. Sebagai gantinya dia meminta Kak


Wonyoung yang memastikan aku makan dan minum obat menggantikannya.


Kak Wonyoung menghembuskan nafas sebal, "Bukankah aku sudah terlalu tua untuk jadi penengah kalian?" tanyanya.


"Maaf, kak.." ucapku menyesal.


Kak Wonyoung diam sejenak, lalu memandangku. "Kau masih marah pada Wonbin?" tanyanya.


Pertanyaan sulit. Aku tidak tau cara menjawabnya.


"Wajar saja kau marah.." ucap Kak Wonyoung, "Kakak mengerti.." ucapnya, "Di sisi lain, kakak juga mengerti


kenapa Wonbin tidak memberitaumu tentang seniornya itu. Siapa namanya?"


"Pyo Taejo." ucapku memberitau.


"Lihat.. aku saja tidak ingat namanya.. Berarti anak itu tidak penting, jika pria itu sangat penting Wonbin pasti meracau setiap hari tentang anak itu." ucap Kak Wonyoung menegaskan.


Aku tidak tau harus berkomentar apa. Bagaimana pun mereka kakak adik kan?


"Aku juga melakukan itu pada kekasihku.." Kak Wonyoung melanjutkan, "Ketika ternyata aku bertemu dengan gadis yang dulu kukencani, aku tidak mungkin berkata pada kekasihku bahwa itu mantanku."


Aku memandang Kak Wonyoung tak mengerti, "Kenapa?"


"Karena mantan itu lebih dulu bersamaku dari pada kekasihku." jelas Kak Wonyoung, "Jika dia tau gadis itu adalah mantanku, yang ada dia akan berspekulasi macam-macam. Siapa ciuman yang paling kau suka? Siapa yang paling mahir dandan? Siapa yang lebih pintar masak? Siapa yang lebih pintar di tempat tidur?" ia geleng-geleng kepala, "Merepotkan!"


Dahiku berkerut, "Kenapa merepotkan? Kan tinggal dijawab saja." jawabku tidak setuju.


Kak Wonyoung menatapku aneh, "Jika ternyata ciuman mantanku lebih enak, apa yang harus kujawab? JIka mantanku lebih pintar di ranjang, apa yang harus kujawab?" tanyanya.


Hmm.. benar juga. "Kan ada yang dinamakan white lies. Berbohong demi kebaikan.."


Kak Wonoyoung menatapku tidak setuju, "Menurutmu, apa pun jawabanku. Kekasihku akan senang mendengarnya?"


Oke! Sangat masuk akal.


"Apa pun jawabanku.. Dia sudah sangat kesal mengetahui itu mantanku." jelas kak Wonyoung.


Aku diam sejenak, Tiba-tiba jadi malu sendiri, "Tapi.. apa kakak pernah.. mmm.. merasa ingin berhubungan lagi dengan mantanmu?"


"Tentu saja." jawab Kak Wonyoung tanpa berpikir.


Aku menatapnya kaget.


Kak Wonyoung juga kaget dengan tatapanku, "Hei.. jangan munafik, semua orang pasti merasakannya!"


Pandanganku turun ke bawah.


"Pasti ada saat dimana kau merasa ingin momen itu terulang lagi." ucap kak Wonyoung, "Tapi apakah itu berarti kau ingin kembali bersama?"


Aku menatapnya penasaran.


"Tentu saja tidak." jawab kak Wonyoung sendiri.


Mataku berkedip-kedip tak mengerti, "Kenapa?"


"Selalu ada alasan untuk putus kan?" ucap Kak Wonyoung, kepalaku mengangguk membenarkan. "Lalu juga ada alasan untuk bersama orang yang baru."


Kepalaku mengangguk lagi.


"Jadi kenapa harus kembali ke hal yang sudah kau tinggalkan?" tanya kak Wonyoung.


Masuk akal. "Mungkin... sebenarnya kau hanya mencari pelarian.."


"Pffft... kau pikir aku pria seperti apa?" tanya Kak Wonyoung, "Aku dan semua pria di keluargaku bermartabat. Kami mungkin tidak sempurna, tapi kami tidak akan menggunakan cinta untuk pelarian."


Wow.. ucapan yang sangat keren.


Kak Wonyoung menatapku serius, "Selama kalian bersama, apa kau pernah merasa adikku tidak mencintaimu?"


Pertanyaan itu membuatku berpikir.


"Dia itu bodoh sekali mengenai percintaan!!" ucap Kak Wonyoung, "Jika kau meminta bulan, dia mungkin akan bergabung dengan NASA!"


Ucapan itu membuatku menahan senyuman, kepalaku mengangguk setuju.


Aku tertegun. Sudah hampir 6 tahun bersama, tapi aku tidak pernah tau alasannya. "Karena dia menyukainya.." jawabku.


Kak Wonyoung tertawa sinis, "Yang benar saja?!"


Mataku berkedip-kedip bingung.


"Dia itu paling takut putus cinta!" jawab Kak Wonyoung berapi-api. "Daripada membayangkan orang yang ia cintai meninggalkannya, dia lebih memilih membayangkan orang lain membunuh orang lain! Benar-benar gila!"


Penjelasan itu membuatku tertegun. Aku tidak pernah mengetahuinya. Kenapa aku tidak pernah bertanya padanya? Aku tau senior Wonbin sangat sentimental, tapi aku tidak menyangka sampai sedalam itu.


Kak Wonyoung memandang jam tangan, "Oh! Aku harus kembali ke kantor!" ucapnya, lalu bergegas bangkit. "Nanti pulang kantor aku akan mampir lagi!" jawabnya sembari berjalan ke pintu.


Aku bergerak bangkit untuk membungkuk sopan padanya, "Hati-hati kak.." ucapku.


Setelahnya aku masih duduk di sofa menonton TV, namun pikiranku tidak disana. Aku merasa sangat bersalah pada Senior Wonbin. Apakah aku sudah berlebihan? Jika benar yang Kak Wonyoung katakan, berarti aku sudah mendramatisirnya. Ya tuhan.. kenapa sulit sekali?


Mataku melirik ponselku di meja. Menimbang-nimbang beberapa saat, lalu mengambil benda itu. Haruskah aku menghubunginya? Atau mengirim pesan saja? Tapi... aku juga ingin mendengar suaranya. Apakah dia baik-baik saja? Setelah pertimbangan lebih lama, aku memanggil nomornya dan menempelkan ponsel ke telinga.


"Hallo..." bahkan belum sedetik berdering sudah diangkat.


Aku terkejut dia akan menjawab panggilanku secepat itu, seolah-olah dia memang menunggu.


"Dojin.." panggil Senior Wonbin lagi, mendengar suaranya setelah beberapa hari membuat kedua mataku di genangi air. "Dojin, kau baik-baik saja?" Tanyanya lagi.


"Senior.." panggilku dengan suara bergetar.


"Ada apa?! Kau sakit lagi?! Kakakku masih disana?!" Tanya Senior Wonbin cemas.


"Aku merindukanmu.." ucap mulutku tanpa komando, bulir-bulir air berjatuhan ke pipiku.


Hening...


Aku bingung tidak mendengar suara apa pun. "Senior?"


"Boleh aku pulang?" Kembali terdengar suara Senior Wonbin.


"Cepat pulang.." pintaku.


Terdengar grasak-grusuk di seberang, "Aku pulang sekarang!"


Bibirku menahan senyuman, dia benar-benar...


Setelahnya.


Aku bergerak bangkit saat pintu apartemen terbuka.


Masuk Senior Wonbin dengan nafas terengah-engah. Ia berhenti sejenak ketika pandangan kami bertemu.


Dia masih tampan sejak terakhir aku melihatnya. Hanya terlihat lelah saja. "Senior..." aku ingin mengatakan sesuatu terlebih dulu, tapi dia melangkah maju memegang kedua pipiku dan menutup mulutku dengan ciuman. Mataku terpejam merasakan ciuman itu. Lidahnya menjilati bibirku, memaksa membentuk celah.


Bibirku terbuka sedikit, lidahnya masuk ke mulutku dan ********** seperti dia akan memakanku. Tapi aku dengan senang hati menjadi makananya saat itu.


Aku tidak mengira pertemuan setelah bertengkar hebat itu akan berubah menjadi nafsu menggebu-gebu.


Ruang tamu berantakan dengan pakaian dimana-mana, celana dalamku dan ****** ******** entah dimana.


Senior Wonbin duduk di karpet bersandar ke sofa tanpa sehelai benang pun di tubuhnya. Kepalanya bersandar ke punggungku yang menelungkup di atas sofa juga tanpa mengenakan apa pun.


Mataku terpejam. Nafasku masih terengah-engah. Aku tidak ingat apakah kami pernah melakukan hubungan intim sepenuh hasrat seperti hari itu. Seperti rasa rindu, rasa bersalah dan kesedihan itu berubah menjadi gairah yang liar. Mataku terbuka merasakan elusan di puncak kepalaku.


Senior Wonbin menatapku dalam.


Aku tidak tau apa yang kurasakan ini. Tapi menatap wajahnya seperti ini... aku ingin berhubungan intim lagi.


Senior Wonbin mendekati wajahku, "Aku mencintaimu, Dojin.." bisiknya, lalu menyentuh bibirku dengan bibirnya.


Aku memutar tubuhku kearahnya, memeluk lehernya untuk ******* bibirnya.


Senior Wonbin membuka mulut, mengikutsertakan lidahnya dalam ciuman panas itu. Sepertinya bukan hanya aku yang menginginkan ronde selanjutnya.


Langit sudah mulai gelap diluar, tapi kami masih dibalut gairah membara. Kedua tanganku bertumpu pada dada berototnya, tubuhku naik turun diatas pinggangnya. Mulutku tak bisa berhenti mendesah.


Klek...


"Dojin, ini..." Kak Wonyoung yang sudah melangkah masuk terpaku menyaksikan tontonan erotis di ruang


TV. Ditangannya memegang bungkusan plastik, sepertinya makanan.


Tubuhku membeku, aku sama sekali tidak teringat kakak iparku itu akan datang lagi."Kak!" Protes Senior Wonbin.


Kak Wonyoung memalingkan wajah, "Mengirimkan pesan padaku kan tidak bayar!" Ucapnya kesal, ia meletakkan bungkusan di lantai dan berbalik pergi.


Aku sangat malu! Aku menutup wajah dengan tangan dan menelungkup di dada Senior Wonbin. "Hmmm..." gumamku malu.


"Nanti saja malunya!" Protes Senior Wonbin frustasi.


Aku memandangnya menahan senyuman.


Senior Wonbin mencium bibirku, ia meneruskan penetrasi dengan bergerak dari bawah.


"Hmmmmm..." gumamku di dalam ciuman itu.