Season Of You

Season Of You
— 27 —



"Kau harus kembali ke rumah! Semakin lama kau di Seoul, kau akan semakin menyimpang!!" seru Ayah.


Aku menghela nafas dalam, "Aku tidak akan pulang.."


Ayah menatapku marah, "Apa kau bilang?!"


Aku menghela nafas dalam dan menatap ayahku, "Aku sudah cukup dewasa untuk menentukan apa yang ingin kulaukan, Yah! Aku tidak perlu ijin darimu atau ibu untuk melakukan apa pun. Dan bukankah sudah terlambat untuk bersikap seperti kalian peduli padaku?!" tanyaku tak mengerti.


Ayah melipat kedua tangan di dada, "Bukankah ucapanmu terlalu tidak masuk akal? Orang tua mana yang ingin punya anak menyimpang?! Apa yang akan di contoh adik-adikmu jika mengetahui tentang itu?!"


"Tidak perlu mengatakan apa pun tentangku pada mereka!!" seruku, "Untuk apa?! Lagi pula ayah dan ibu sudah punya keluarga kalian masing-masing! Kalian lebih peduli pada keluarga kalian daripada aku!"


Ayah mengangkat tinggi tangannya, bersiap memukulku lagi.


"PUKUL SAJA!!" seruku menantang sembari menyodorkan wajahku ke depan wajahnya.


Ayah melotot menatapku, seperti ia akan memakanku saat itu juga. Tangannya bergerak turun, "Kau akan menjadi apa jika hidup bersama pria seperti itu?! Seharusnya kau menjadi lebih gagah dan menghidupi wanitamu!" serunya, "Bukannya menjadi lemah seperti ini dan membiarkan pria lain mengurusmu!"


Aku menatap ayah kecewa mendengar ucapan itu, "Jika ayah sekali saja... menghargaiku seperti bagaimana aku. Menurutmu aku akan jadi seperti ini?" tanyaku padaku.


Kemarahan berlipat ganda di wajah Ayah. Tangannya mencengkeram rahangku, "Kau menyalahkan ayahmu?! Kau yang tidak pernah bisa seperti anak laki-laki lain! Dan kau menyalahkan ayah?! Kau bahkan tidak pernah mencoba menjadi seperti anak laki-laki lain!"


Aku memegang tangan ayah di rahangku, meringis menahan sakit sambil mendorong tangannya sekeras yang kubisa.


Ayah terdorong ke samping sedikit saat aku melepaskan tangannya dari rahangku.


"Ayah yang tidak pernah melihat usahaku! Aku berusaha keras untuk menjadi anak laki-laki normal!" tegasku, kedua mataku mulai di penuhi air. "Ayah memperlakukanku seperti anak lemah! Dan sekarang aku tumbuh menjadi anak yang lemah! Dan kau menyalahkanku?!" bulir air berjatuhan ke pipiku. "Kenapa tidak bunuh saja aku?!"


Ayah menghela nafas kasar, tangannya terangkat lagi. Aku sudah siap menerimanya, apa pun yang akan dia lakukan. Bahkan jika dia membunuhku saat itu, mungkin akan lebih baik dari pada mereka terus-terusan menyakitiku. Sebelum tangan ayah benar-benar mengenai wajahku, sebuah tangan menangkap tangannya.


Aku terkejut dan menoleh.


Senior Wonbin yang biasanya tenang dan berwajah cerah di depanku terlihat marah. Ia menatap ayahku tegas.


Ayah menatap Senior Wonbin marah, ia menarik tangannya namun pria itu tidak melepaskannya.


"Hanya karena anda seorang ayah, bukan berarti anda berhak memukuli putra anda seperti ini." ucap Senior Wonbin pada ayah.


"Apa kau bilang?!" seru Ayah marah, ia kembali hendak menarik tangannya namun Senior Wonbin tidak melepaskannya.


"Kenapa memangnya jika putra anda terlahir lemah? Dia tidak bisa menjadi seorang putra hanya karena dia lemah?" tanya Senior Wonbin, "Lalu kenapa tidak melahirkan putri saja?"


Ayah mendengus kesal, ia menarik tangannya sekali lagi hingga terlepas.


Tanganku bergerak memegang perut, rasa mualnya tidak tertahan lagi. Rasa tidak nyaman di perutku akhir-akhir itu jadi semakin sering datang. "Hhhgggg!" Aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Aku segera berbalik, tapi belum sempat berjalan pergi aku sudah memuntahkan makanan yang sebenarnya tidak banyak yang masuk hari itu.


"Dojin!" aku bisa merasakan keberadaan Senior Wonbin di sisiku, kedua tangannya memegang lenganku dari belakang.


Tanganku berusaha mendorongnya menjauh, karena aku masih akan terus muntah.


"Tidak apa-apa... Muntahkan saja.." ucap Senior Wonbin, lalu elusan tangannya terasa di punggungku.


Ternyata itu masih sangat ajaib di tubuhku. Berkat elusan hangat itu aku perutku terasa lebih nyaman.


+++


Terlahir lemah akan membuatmu lemah sampai kau dewasa. Itulah yang terjadi padaku. Berkat apa yang dilakukan oleh kedua orangtuaku, aku tidak bisa bangkit dari tempat tidur, bahkan tidak bisa makan karena perutku terus saja mual.


Dan disinilah aku, terbaring di salah satu ruang perawatan rumah sakit dengan selang infus terhubung ke tanganku. Karena kondisiku, aku harus mundur dari kegiatan magang dan harus mengambil cuti dari kampus. Itu berarti jadwal lulusku juga akan tertunda.


Senior Wonbin duduk di sebelah tempat tidur, memandangku hangat dengan mangkuk bubur di tangannya. "Makan sedikit lagi.." pintanya.


Hidungku berkerut , "Sudah cukup." jawabku.


"Kau hanya makan dua sendok." ucap Senior Wonbin.


Aku mengelus perutku dengan wajah memelas.


Senior Wonbin menghela nafas dalam, lalu mengangguk pelan. Ia meletakkan mangkuk di meja. "Katakan saja jika ingin lagi."


"Hmm.." gumamku pelan.


Senior Wonbin bangkit untuk merapikan makanan yang tadi ia beli sembari menuju rumah sakit.


"Senior.." panggilku.


Senior Wonbin menoleh, "Hm?"


"Aku ingin pulang." ucapku pelan.


Tatapan Senior Wonbin berubah serius, lalu kembali duduk. "Dokter berkata kau masih harus di rawat beberapa hari lagi."


"Tapi aku sudah baik-baik saja.." jawabku meyakinkan.


Senior Wonbin menghela nafas dalam, "Kau sudah baik-baik saja setelah bisa menghabiskan makananmu." ucapnya.


Ucapannya benar juga.


"Tadi saja kau hanya makan dua sendok. Itu bukan hal baik." ucap Senior Wonbin memberitau.


Aku menghela nafas dalam, "Tapi bukankah biayanya terlalu mahal?"


"Ck... fokus pada kesehatanmu saja. Biaya itu urusanku." jawab Senior Wonbin sebal.


Senior Wonbin menahan senyuman, "Boleh seperti itu." ucapnya.


Bibirku menahan senyuman.


Tangan Senior Wonbin terulur ke kepalaku dan mengelusnya lembut, juga memajukan wajahnya untuk menatapku lebih dekat. "Aku akan lebih tenang selama kau mendapat pengobatan dan akan segera sehat, oke?"


Ucapan itu membuatku merasa bersalah. Kepalaku mengangguk mengerti.


Dan malamnya. Aku terbangun mendengar suara keyboard. Mataku terbuka dan mencari asal suara itu.


Senior Wonbin duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya. Telinganya terpasang earphone. Wajahnya sangat serius menatap layar laptop. Melihatnya seperti itu membuatku lebih merasa bersalah. Dia harus tetap menyelesaikan cerita untuk novel online-nya, disaat bersamaan juga masih harus mengurusiku. Tapi jika kupikir-pikir, sudah sangat lama aku tidak menatap wajahnya selama ini. Apa aku terlalu sibuk? Aku sempat lupa wajah tampannya yang dulu membuatku terpesona. Matanya berpindah dari layar laptop kearahku. "Oh.. sudah bangun?" Ia menutup laptop dan meletakkannya ke samping, juga bangkit untuk menghampiri kursi di sebelah tempat tidur.


Tanganku terulur ke arahnya.


Senior Wonbin tersenyum dan memegang tanganku, "Ingin makan sesuatu?"


Pertanyaan itu membuatku menghela nafas dalam.


"Tadi ketika kau tidur Kak Wonyoung sempat mampir mengantarkan bubur buatan Ibu." Ucap Senior Wonbin memberitau, ia melirik termos di meja.


Mataku memandang ke meja. Entah kenapa memikirkan masakan Ibunya Senior Wonbin membuat air liurku berkumpul di mulut.


"Ingin coba makan?" Tanya Senior Wonbin membujuk.


Bibirku membentuk senyuman, dia selalu berusaha membujukku.


Senior Wonbin melepaskan tanganku, berdiri untuk membuka termos dan menuang bubur di dalamnya yang masih hangat ke mangkuk.


Hidungku sudah mencium aroma enak dari bubur itu. Seperti aku sudah bisa mengecapnya di mulutku.


Senior Wonbin duduk lagi di kursi sembari mengaduk bubur dengan sendok, "Aku memberitau Ibuku kau masih sulit makan, jadi dia membuatkan bubur dengan ginseng merah. Ibu berkata ini sangat baik untuk meningkatkan kesehatan." Ceritanya.


"Aku jadi menyusahkan Ibumu." Ucapku menyesal.


Senior Wonbin tersenyum lucu, lalu menyodorkan sendok ke mulutku. "Buka mulut..." pintanya.


Mulutku terbuka menerima sendok. Seperti pertahanan spontan setiap makanan masuk ke mulutku, dahiku akan berkerut dan aku bisa merasakan otot-otot perutku menegang.


Senior Wonbin menatapku khawatir.


Mulutku mencerna makanan di dalamnya beberapa saat. Awalnya terasa hanya hangat saja di lidahku, lalu perlahan rasa dari makanan muncul.


"Bagaimana?" Tanya Senior Wonbin ingin penasaran.


Aku menelan makanan di mulutku, "Masakan Ibumu tidak pernah mengecewakan." Jawabku.


Senior Wonbin tersenyum, lalu menyendokkan lagi bubur ke mulutku.


Dan itu kali pertama aku bisa menghabiskan satu mangkuk bubur setelah sakit.


"Hmmm.. manis sekali.. kau menghabiskan semuanya." Ucap Senior Wonbin senang.


Aku bahkan tidak menyadarinya. Aku mengecap rasa dimulutku.


Senior Wonbin meletakkan mangkuk kosong ke meja, lalu mengambil obat yang harusku minum setelah makan. "Nah.. minum ini."


Aku menarima obat dan memasukkan ke mulut, juga menerima air dan meneguknya.


Senior Wonbin memperhatikanku dengan senyuman di wajahnya.


Tanganku menyodorkan gelas, "Kenapa tersenyum begitu?" Tanyaku.


Senior Wonbin meletakkan gelas ke meja, "Jika tau kau bisa makan jika masakan ibuku, aku akan meminta ibuku membuatkanmu sejak awal." Ucapnya.


Aku menahan senyuman, "Jangan seperti itu.." ucapku.


Senior Wonbin melipat kedua tangan di pinggir kasur untuk menatapku lekat, "Kau lebih menyukai masakan ibuku? Aku memasakkan banyak bubur untukmu." Ucapnya memprotes.


Ucapan itu membuatku menahan tawa, "Tidak seperti itu." Jawabku, "Hanya..." aku tidak bisa menahan senyuman memikirkan wanita yang sudah melahirkan dan membesarkan pria didepanku itu, "..memikirkan ibumu yang memasaknya membuatku senang."


Mata Senior Wonbin menyipit, "Jadi masakanku tidak membuatmu senang?" Protesnya.


Aku tertawa kecil, "Bukan begitu.." jawabku sembari mengelus pipinya gemas.


Senior Wonbin cemberut sembari menarik tanganku di pipi dan menggenggamnya.


Aku tertawa kecil, "Aku tidak pernah mendapatkan perhatian seperti itu dari ibuku, biarkan aku merasakannya sedikit." Jelasku.


Senior Wonbin masih cemberut.


"Hei.. Lagipula ibumu memasakkan bubur kan karena dia khawatir kau akan sangat khawatir padaku." Ucapku lagi.


"Wuah... hanya karena makan bubur ibuku kau sudah bisa berbicara banyak." Senior Wonbin meneruskan kecemburuannya.


Aku berusaha menahan tawa mendengar itu, "Berkat kasih sayang dan ginseng dari ibumu.." jawabku.


"Jadi kasih sayangku tidak cukup?" Komentar Senior Wonbin lagi.


Aku benar-benar tidak bisa menahan tawa karena kecemburuannya.