
Aku pernah dengar, banyak orang akan lebih antusias pada kisah percintaan. Tapi aku tidak pernah menyadari hal itu masih terjadi. Aku duduk di meja makan, memegang sebuah gelas berisi air putih memperhatikan Senior Wonbin berdiri di tengah ruangan dengan wajah kesal.
"Tidak... Aku tidak akan melakukannya." jawab Senior Wonbin di telepon. "Tidak! Itu ceritaku! Aku tidak akan memberikan ijin untuk di film-kan!" tegasnya, "Sekian!" ia menarik ponsel dari telinga dan memutuskan telepon.
Tontonanku juga berakhir. Aku meneguk air di gelas, sembari melirik pria tampanku itu duduk di depanku.
"Apa yang mereka pikirkan." gumam Senior Wonbin sendiri.
Aku meletakkan gelas di meja, memajukan tubuhku sedikit untuk memandangnya. "Dari agensimu lagi?" tanyaku.
Senior Wonbin mengangguk membenarkan.
Aku juga ikut mengangguk, "Kau tidak ingin karyamu di film-kan?" tanyaku hati-hati.
Senior Wonbin menjilat bibir bawahnya, mengelus belakang kepala dengan tangan. "Bukan seperti itu.." ucapnya, "Mereka tidak mau syarat untuk tidak mengubah jalan cerita atau detail ceritanya masuk ke dalam kontrak." jelasnya, ia menghembuskan nafas kesal. "Aku tidak ingin mereka mengubahnya sesuka mereka. Itu adalah karyaku."
Hmm.. susah juga jika sudah menyangkut tentang karya. "Hmm..." gumamku mengerti.
Senior Wonbin masih terlihat kesal, "Kau memberikan ide untuk kisah itu, itu seharusnya fokus pada kisah pembunuhan dan kriminalnya. Tapi mereka ingin mengubah fokus ke kisah percintaannya."
Kepalaku mengangguk mengerti, tanganku terulur ke tangannya di atas meja. "Ya aku mengerti.."
Senior Wonbin menghela nafas dalam, tangannya yang lain mengelus belakang tanganku di tangannya. "Maaf.. Aku jadi marah-marah begini."
Bibirku membentuk senyuman, "Tidak apa-apa, kau terlihat imut saat marah." ucapku.
Senior Wonbin berusaha menahan senyuman, "Maaf... aku tidak akan mengijinkan mereka menggunakan idemu untuk menjadi sebuah film." ucapnya lagi.
"Hmm.. kau sudah membayar fee untuk ide itu berbulan-bulan lalu. Jadi kau berhak atas karyamu itu." ucapku, mengingat aku tiba-tiba mendapat transferan puluhan juta beberapa bulan lalu.
Senior Wonbin menatapku lucu, "Sudah.. lupakan tentang ini." ucapnya, ia meremas tanganku. "Sudah tahun terakhirmu, apa yang akan kau lakukan setelah ini?"
Benar, tidak menyangka sudah sampai di tahun terakhir kuliahku. "Aku akan mulai mencari tempat magang, lalu menyelesaikan ujianku, wisuda, mmm..." aku memikirkan yang lain.
Senior Wonbin tersenyum lucu, "Perusahaan ayahku sangat bagus untuk portofoliomu, kau ingin mencobanya?" tanyanya.
Aku menatapnya serius, tidak perlu kata-kata untuk kuucapkan mengenai itu.
Senior Wonbin cengengesan, "Maaf.."
"Aku akan magang di perusahaan pilihanku, dengan usahaku." ucapku padanya.
Senior Wonbin mengangguk mengerti, ia memegang kedua tanganku dan menatapku bangga. "Aku sangat bangga pada istriku yang selalu berjuang dan berusaha keras.."
Bibirku membentuk senyuman, lalu mengangguk penuh percaya diri. "Benar.. walaupun aku tidak sehebat suamiku, tapi aku akan berusaha sekeras mungkin untuk diriku sendiri!"
Senior Wonbin menahan senyuman, ia mengelus tanganku dengan ibu jarinya. "Ya ampun.. manis sekali." ucapnya gemas, ia menarik tanganku dan mengecup punggung tanganku.
Kupikir tidak ada hal lain yang perlu kukhawatirkan selama mencari tempat magang selain kuliah dan pria yang sudah tinggal bersamaku selama beberapa tahun. Hingga suatu hari ketika di kampus ponselku berbunyi.
Aku mengeluarkan ponsel dari saku dan tertegun nama siapa yang muncul disana.
Ibu
Haruskah aku mengangkatnya? Atau kuabaikan saja? Aku bisa berpura-pura sibuk dengan kuliah kan?
Aissh.. aku menggaruk kepala tidak nyaman. Akhirnya jariku menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinga, "Ya, Bu.." jawabku pelan.
"Dojin.." sapa Ibu. Sudah lama sekali aku tidak mendengar suaranya.
"Ya Bu.." jawabku pelan.
"Sayang, ibu sedang berada di Seoul. Bisakah kita bertemu?" tanya Ibu di seberang.
Tentu saja aku tidak mau. Tapi tidak mungkin aku mengatakan itu kan.
Sebuah Kafe dekat kampus tempat sebelumnya aku bekerja paruh waktu.
Wanita yang sudah melahirkanku itu terlihat sedikit lebih tua, sepertinya ia kehilangan berat badannya.
Kerutan di bawah matanya semakin terlihat ketika ia tersenyum, "Ibu benar-benar pangling melihatmu, kau terlihat tampan." ucapnya.
Bibirku membentuk senyuman tipis, "Hmm.." gumamku.
Ibu menatapku kagum, "Bagaimana kuliahmu? Kau senang tinggal di Seoul?"
Bahkan obrolan ringan itu terlalu canggung untukku jawab. "Aku sedang mencari tempat magang.." jawabku pelan.
Ibu diam sejenak menatapku, "Kau membenci Ibu?" tanyanya.
Aku diam cukup lama karena pertanyaan itu, akhirnya kepalaku menggeleng pelan.
"Kenapa kau tidak pernah menghubungi ibu tiga tahun ini?" tanya Ibu ingin tau.
Aku menghela nafas dalam, memikirkan kalimatku dulu. Mataku bergerak turun ke bawah, tanganku mengelus pegangan cangkir di meja. "Kupikir ibu tidak penasaran tentang kabarku." jawabku pelan.
"Apa maksudmu?" tanya Ibu tak mengerti, "Ibu selalu ingin tau tentang keadaanmu."
"Lalu kenapa Ibu tidak menghubungiku?" tanyaku pelan.
Ibu tercekat mendengar pertanyaanku.
Jujur saja aku langsung merasa berasalah mengatakannya. Mungkin seharusnya tidak kukatakan. Aku menghela nafas dalam dan bergerak bangkit, "Aku harus bertemu profesor.." ucapku pelan.
"Dojin.." panggil Ibu.
Aku berhenti dan memandangnya.
Ibu menatapku sedih, "Kau tidak akan melupakan ibu kan?"
Aku menghela nafas dalam, "Aku pergi.." ucapku, lalu berbalik dan berjalan pergi. Seperti tokoh jahat di drama, aku hanya terus berjalan tanpa memandang ke belakang.
Kedatangan Ibu membuat pikiranku kacau. Seharusnya aku fokus pada mencari tempat magang, tapi malah kepikiran tentangnya. Aku keluar dari lamunanku merasakan elusan di belakang kepalaku, kepalaku menoleh ke arah orang yang melakukannya.
Senior Wonbin menatapku serius, "Memikirkan apa?"
"Mmm... Ohh... hanya..." kenapa aku tidak bisa mengatakan padanya?
"Masalah magang?" tanya Senior Wonbin menebak.
Senior Wonbin mengelus belakang kepalaku lembut, "Jangan terlalu dipikirkan.. Kau akan mendapatkannya."
Ucapan itu benar-benar menghiburku. Aku bisa menghembuskan nafas lebih tenang setelah mendengarnya.
Senior Wonbin tersenyum hangat, mengelus kepalaku pelan. "Tidak perlu terlalu khawatir istriku, suamimu akan menanggung bagian sulitnya. kau nikmati saja hidupmu.." ucapnya.
Akhirnya otot pipiku bergerak ketika senyuman muncul di pipiku.
Senior Wonbin mengangguk melihatku tersenyum, "Merasa lebih baik?" tanyanya.
Kepalaku mengangguk.
"Boleh kita ke tempat tidur? jadi aku bisa membuka ini?" tanyanya sembari menyentuh baju kausku.
Aku nyaris tertawa mendengar itu, "Kau ingin sekarang?" tanyaku lucu.
"Sebenarnya dari tadi..." Senior Wonbin menarik tanganku ke selangkangannya dengan wajah manja.
Aku menahan tawa merasakan sesuatu menonjol di dalam celananya, "Ooohh... maaf, suamiku sedang ingin
tapi istrimu ini malah sibuk sendiri." ucapku gemas sembari mengelus pipinya dengan tanganku yang lain.
Senior Wonbin mengangguk manja.
Aku bergerak bangkit dari kursi meja makan tempatku berkutat sejak tadi, memeluk lehernya dan mencium bibirnya.
Kedua tangan Senior Wonbin menggerayangi punggungku, turun terus ke pantatku dan meremasnya pelan.
Dengan mudah ia mengangkatku ke udara.
Kedua kakiku memeluk pinggangnya, walaupun sibuk berciuman aku bisa merasakan arah tubuh kami menuju kamar.
Keesokan harinya.
Aku duduk di taman kampus seorang diri, menatap ponselku ragu-ragu. Aku menghela nafas dalam, ibu jariku memanggil nomor Ibu dan menempelkannya ke telinga.
Tut... tut.. tut...
"Dojin..." terdengar Ibu menjawabnya seperti tergesa-gesa.
Aku memandang ke bawah tidak nyaman, "Bu.." ucapku pelan.
"Ada apa?" Tanya Ibu, dia terdengar penasaran.
"Aku..." kenapa sulit sekali mengatakannya, "...maaf kemarin aku kasar padamu." ucapku akhirnya.
"Kau pasti kecewa pada Ibu.." ucap Ibu pelan, "Ibu mengerti."
"Ibu masih di Seoul?" tanyaku.
"Ya.. Ibu akan kembali nanti sore." jawab Ibu, "Oh.. kau ada waktu siang ini? Ingin makan siang bersama ibu?"
Seulas senyum muncul di bibirku, "Ya.."
"Baiklah, sampai nanti sayang." ucap Ibu dan panggilan berakhir.
Aku menarik ponsel dari telinga, perasaanku sedikit lebih nyaman setelah berbicara dengan Ibu.
Sebuah Restauran.
Rasanya sangat lama sekali aku bisa makan satu meja bersama Ibu tanpa gangguan seperti ini. Kami bisa mengobrol dengan santai sambil makan.
Ibu menatapku ingin tau, "Apakah anak Ibu yang semakin tampan ini sudah punya pacar?" godanya.
Bibirku tersenyum tipis, apakah menjawab jujur tidak akan memberikanku masalah lain?
"Pasti kau menjadi idola? Banyak gadis naksir padamu?" tanya Ibu lagi.
Senyumanku hampir luntur mendengar pertanyaan itu. Entah mengapa aku jadi takut membayangkan ketika
Ibu tau aku tidak pernah tertarik pada 'gadis'.
Ibu tertawa kecil, "Kau pasti sedang sibuk dengan kegiatan kampus ya?"
Kepalaku mengangguk membenarkan.
Ibu mengulurkan tangannya ke tanganku, menatapku lekat. "Tidak apa-apa.. kau pasti akan melewati masa kuliahmu dengan baik. Setelahnya kau akan mendapatkan pekerjaan yang baik juga untukmu.."
Bibirku membentuk senyuman lebar karena ucapannya, hingga ia kembali meneruskan.
"...setelahnya kak Dojin bisa memberikan jajan pada adik-adiknya yang cantik." lanjut Ibu.
Dan senyuman itu luntur. Ahh... mengerti sekarang kenapa dia tiba-tiba menghubungiku. Karena sebentar lagi aku lulus kuliah. Mendapatkan pekerjaan sama saja dengan uang masuk. Aku menarik tanganku dari pegangannya.
Wajah Ibu berubah bingung memandang tanganku, lalu memandang wajahku.
"Karena itu Ibu datang?" tanyaku pelan.
Ibu mengedip-kedipkan matanya bingung, "Hm?"
Aku memandang ke bawah, senyuman kecut mengembang di bibirku. "Aku nyaris berpikir Ibu datang karena peduli padaku." ucapku sendiri.
"Apa maksudmu, Dojin?" tanya Ibu tak mengerti.
Dengan hati yang kembali terluka, atau sebenarnya hanya luka lama yang terbuka lagi. Aku memandang wajah Ibu, "Aku tidak tau apakah aku akan langsung mendapat pekerjaan setelah lulus, tapi jika aku mendapatkannya. Aku akan mengirimkan uang pada Ibu. Jadi tidak perlu menghubungiku lagi." ucapku.
Ibu tertegun mendengar ucapanku.
"Aku akan membayar makanan hari ini." ucapku, lalu bergerak bangkit bersama tasku. Lalu berjalan melewati meja yang tadinya kami duduki.
"Dojin.." Ibu menarik tanganku.
Aku berhenti dan memandangnya.
Ibu menatapku sedih, "Kenapa kau berpikir seperti itu?"
"Jika tidak ingin aku berpikir seperti itu, kenapa bersikap seperti itu?" tanyaku kecewa, aku menarik tanganku perlahan. Lalu berjalan pergi.